You know you really love someone
when you can't hate them
for breaking your heart
-Valeri Valentine Darron-
****
Valeri terkesima ketika masuk kedalam mansion Jason. Begitu mewah untuk ukuran lelaki yang tinggal sendirian, hanya saja mansion sebesar ini hanya memiliki beberapa perabotan di dalamnya, membuat ruangan ini tampak kopong.
"Mansion sebesar ini, hanya di tinggali olehmu sendirian boss?" tanya Valeri pelan. Matanya tak dapat lepas dari patung peri yang terpajang di dekat sofa. Sungguh dekorasi yang indah, apa lagi warna putih yang mendominasi itu sangat mendukung, membuat mansion ini jadi tampak seperti surga.
Jason mengganguk, "Ada banyak pelayan disini, jadi aku tak sepenuhnya sendirian," ucap Jason santai.
Meski sebenarnya Jason memiliki apartment kecil yang lebih sering ia tinggali, mengingat mansion ini terlalu besar untuknya seorang diri. Tapi Jason tak menceritakan itu pada Valeri karena merasa Valeri tak perlu tahu.
"Tapi boss, tadi kau kan mengirimkan aku pesan. Nah aku tak sempat membacanya. Kau tadi mengirim pesan apa?" tanya Valeri.
"Uhm, bukan apa-apa," jawab Jason cepat. Ia tak mau menggangu Valeri dulu saat ini, karena mungkin gadis itu masih shock setelah kejadian tadi. Oleh karena itu, Jason akan menunggu hari lain untuk bertanya pada Valeri.
"Oh begitu," ucap Valeri mengangguk-angguk. Kemudian tiba-tiba gadis itu berlarian kecil ketika melihat sebuah foto besar terpajang. Ternyata itu adalah foto keluarga Jason. Disana ada Ayah dan Ibu Jason, Jason, serta Alena. Tampaknya foto ini diambil tak lama setelah Alena di adopsi.
Valeri menatapi foto itu lama lalu mengalihkan pandangannya ke arah Jason, "Apa kau menyayangi Alena?" tanya Valeri tiba-tiba.
Jason terlihat terkejut dengan pertanyaan tiba-tiba itu. Ia terdiam sejenak, lalu menghela napas sebelum menjawab pertanyaan Valeri, "Dulu aku tak suka Alena. Aku yang selama 12 tahun hidup sendirian dan selalu dimanja, tiba-tiba memiliki adik perempuan. Itu sulit untuk ku terima. Tapi, Alena adalah gadis yang baik. Ia selalu memaafkanku meskipun aku sudah sangat jahat padanya. Dan saat aku berusia sekitar 15 tahun, Alena diganggu oleh teman sekelasnya. Ia menangis sambil memelukku erat. Aku waktu itu khilaf dan marah sekali, sampai-sampai aku menghajar teman Alena, meski temannya masih sangat kecil," ucap Jason panjang lebar selagi mengingat kenangan masa kecilnya.
Valeri terpana mendengar cerita Jason yang cukup panjang itu, "Boss, kau tahu? mungkin ini adalah kalimat terpanjang yang pernah kau ucapkan hari ini." canda Valeri.
Jason menaikan alisnya dan menatap Valeri aneh, "Aku bukan lelaki dingin, aku ini sebenarnya cerewet, tapi hanya pada orang yang aku kenal dekat saja," ucap Jason sambil mengendikan bahunya.
"Dan kenapa juga kau jadi cerewet padaku? Kita baru kenal satu hari, Boss," ucap Valeri lagi sambil terkikik, menggoda Jason menyenangkan ternyata.
Jason mengernyit sebal karena gadis itu terus-terusan menggodanya dan membuatnya gemas, "Aku tak perduli, kau kan sekertarisku dan juga teman Alena. Jadi tak apa kalau kita dekat," ucap Jason pelan. "Aku akan berusaha membuka diri padamu, itupun kalau kau idak keberatan sih."
Valeri tertawa, "Tentu saja, aku sama sekali tak keberatan. Pasti orang lain akan iri padaku jika aku dekat pada si tampan dan kaya dari perusahaan JYS Crop," ucap Valeri lagi dengan nada mengejek.
"Kau suka sekali mengejekku ya?" tanya Jason sambil tersenyum masam.
Valeri menggeleng, "Apa aku baru saja mengejekmu?" tanya Valeri dengan nada polosnya.
Jason menghela napas, Gadis ini ternyata benar-benar jahil, "Tidak, kau tidak mengejekku karena yang kau katakan adalah kenyataan," ucap Jason dengan pede.
Seketika raut wajah Valeri berubah menjadi jijik karenanya. Ia menirukan gaya orang yang berpura-pura mual sambil memandang Jason mengejek.
"Hei aku ini bossmu," ucap Jason memperingatkan, namun Valeri tampaknya tak perduli karena gadis itu masih saja memandanginya dengan sorot yang sama.
"Btw, boss. Kau ingat tidak kalau tadi siang kau menjauhiku seakan aku ini adalah wabah? Dan malam ini kau menyelamatkan ku dan tinggal seatap denganku," ucap Valeri pelan.
Mengingat kejadian tadi siang membuat wajah Jason bersemu merah. Ia membuang mukanya dan menarik napas dalam-dalam sebelum menghembuskannya, "Itu karena tadi siang aku kesal denganmu. Oleh karena itu aku menjauhi mu, daripada kau ku marahi kan?" elak Jason.
Valeri mengangkat sebelah alisnya, "Kau marah? bukannya kau malu ya, Boss?"
Jason terlihat terkejut lalu dengam cepat ia menetralkan ekspresinya, "Mengapa kau memanggilku Boss?" tanya Jason mengalihkan pembicaraan.
Valeri tersenyum kecil melihat tingkah Jason yang sangat lucu, "Aku tak tahu harus memanggilmu apa lagi. Lagipula kau sendiri yang bilang kalau kau benci di panggil Pak," jelas Valeri.
Jason mengangguk, ia benci di panggil 'Pak' karena kesannya yang sangat tua. Tapi ia tak melarang orang lain untuk memanggilnya begitu. Hanya saja karena Valeri adalah sekertarisnya dan pasti berinteraksi dengan Jason setiap hari, maka Jason melarang Valeri memanggilnya seperti itu karena itu mengganggunya tentu saja.
"Oh begitu," gumam Jason.
Ia melirik jam besar yang berada di samping tangga lalu kembali menatap Valeri, "Sudah malam, sebaiknya kau tidur. Lagipula besok kita akan berangkat bersama. Dan ingat, aku tak mau menunggumu," ucap Jason sebelum meninggalkan Valeri.
Valeri terdiam sejenak sebelum membelakkan matanya sempurna,
"APA?"
***