Valeri saat ini berada di mobil sport milik Jason, lelaki yang baru saja menyelamatkannya dari George. Dan ya ... jujur saja, Valeri sempat berpikir kalau ia berhalusinasi. Tapi tadi ... saat Jason menyentuhnya, sentuhannya terasa sangat nyata. Tangan Jason begitu hangat, tak seperti tangan George yang sedingin es.
Valeri tengah memperhatikan Jason yang saat ini sedang berkendara dengan serius, ia masih belum percaya, lelaki yang tadi siang baru ia kenal, lelaki yang baru saja berstatus sebagai bossnya selama satu hari, lelaki yang Valeri cium tanpa sengaja, dan juga lelaki yang menghindari Valeri seharian ini layaknya wabah karena insiden ciuman itu telah menyelamatkannya dari George.
Valeri ulangi, Menyelamatkannya. Hal itu terasa tak masuk akal, bagaimana bisa seorang Jason yang dingin nan kaku dalam satu hari bisa berubah menjadi orang menyelamatkan Valeri, dan lagi sekarang mereka dalam perjalanan kerumahnya Jason. Oh astaga! Alena pasti akan terkejut jika tahu Valeri akan tinggal bersama Jason padahal baru satu hari mereka saling mengenal.
"Matamu bisa lepas jika kau terus-terusan melihatiku seperti itu." gumam Jason pelan namun penuh makna membuat Valeri merona malu.
Jason tertawa kecil melihat Valeri yang salah tingkah, "Bagaimana bisa kau kenal b******n seperti tadi?" sambungnya.
Valeri menghela napas, "Namanya George, ia adalah mantan pacarku. Kami menjalin hubungan selama 3tahun," ucap Valeri.
Jason sedikit terkejut dengan pernyataan itu, "Wow itu bukan waktu yang singkat, bagaimana bisa kau bertahan dengan psiko seperti itu selama 3tahun?" tanya Jason lagi.
"Dahulu ia tak gila seperti itu. George dulu adalah lelaki baik. Ia selalu mengerti aku, ada saat aku membutuhkannya dan selalu tersenyum hangat. Ia selalu melindungiku dengan segenap tenaganya. Ia selalu mendukungku, dan selalu menerimaku apa adanya," ucap Valeri tersenyum mengingat masa-masa indah saat bersama George.
Jason mengernyit, "Setelah melihat kejadian tadi, ceritamu jadi sedikit tidak masuk akal," ucap Jason sambil terkekeh.
Valeri cemberut, ia mengerucutkan bibirnya sambil menatap Jason sebal, "Aku tak mengada-ngada, dia lelaki hebat dulu, sampai suatu kejadian menimpanya."
Jason menoleh menghadap Valeri sambil menaikan alisnya tertarik, "Kejadian apa?"
Valeri mendorong wajah Jason pelan agar lelaki itu kembali fokus kejalanan, "Dengarkan saja, tak perlu menoleh."
Gadis itu menarik napas pelan sebelum melanjutkan ceritanya, "George kehilangan adik yang sangat ia cintai. George begitu terpukul. Adiknya adalah satu-satunya keluarga yang ia punya. Ayah Ibunya sudah meninggal sejak ia kecil. Pamannya berusaha merebut warisan George. Bibinya yang tak pernah menyayanginya dan sepupunya yang selalu menyiksa adiknya. Hidup George begitu sulit dulu, namun lelaki itu selalu tersenyum padaku seakan tak memiliki beban hidup," ucap Valeri lagi. Ia mulai terisak jika mengingat George yang dulu. Lelaki itu begitu tabah dengan hidupnya.
"Kehilangan adiknya adalah suatu pukulan keras bagi George, adiknya meninggal karna tabrak lari. Sampai saat ini polisi tidak bisa menemukan pelaku yang menabrak adiknya itu. Tidak ada CCTV di tempat kejadian. Jadi itu sulit menemukan pelakunya. Dan sejak saat itu pula ... George menjadi begitu posesif padaku. Mungkin karna ia takut kehilanganku juga. Ia mengikutiku kemana-mana, menjauhkan orang yang dekat padaku. Sampai adik angkatku tahu kelakuannya dan menjebloskannya ke penjara," jelas Valeri panjang lebar.
Jason mengalihkan pandangannya untuk menatap Valeri sebentar. Gadis itu terlihat kehilangan. Ia kehilangan orang yang ia cintai.
"Entah bagaimana, George yang begitu hangat itu telah hilang. Lelaki itu kehilangan akalnya. Ia tak di penjara lama. Dan akhirnya ia kembali mencariku saat keluar dari penjara," ucap Valeri pelan. Napasnya tercekat, namun gadis itu tetap tersenyum.
"Kau tak apa?" tanya Jason ragu.
Valeri menghapus air matanya yang jatuh tanpa permisi sebelum tersenyum, "Aku tak apa. George sudah berubah, aku tak bisa terus-terusan berharap ia akan jadi lelaki yang dulu aku cintai. Aku harus moveon karena hidup terus berjalan."
Ada kekaguman yang terbesit di hati Jason melihat Valeri yang begitu tegar. Ada kalanya Jason merasa iri. bahkan ia yang seorang lelaki mungkin tidak akan bisa menanggung beban seberat Valeri.
Melihat orang yang kita cintai menjadi gila dan berubah menjadi seorang psikopat. Tidak, Jason tak sanggup.
"Oh ya, omong-omong bagaimana kau tahu soal George dan rumahku?" ucap Valeri setelah berhenti menangis.
Jason berdehem pelan, "Sebenarnya aku tak sengaja mendengar percakapanmu tadi pagi."
"Oh ... begitu .... Tapi tadi pagi kau bersikap seakan tak perduli, Boss," ucap Valeri menyindir Jason.
Jason berdehem lagi, "Aku memang tak perduli, tapi kau meneleponku tadi, apa kau tak sadar?" tanya Jason.
"Hah? Aku meneleponmu?" Valeri menatap Jason dengan pandangan bertanya-tanya. Ia mencari handphonenya di sakunya tapi tidak mendapati apapun disana. Dan ia baru teringat kalau tadi handphonenya terhempas kelantai karena George.
"Aku meninggalkan handphoneku," gumam Valeri.
"Kau bisa membelinya lagi besok,"
Valeri menaikan alisnya sebelah, "Dasar orang kaya," ucapnya menyindir. Namun tampaknya Jason sama sekali tak merasa tersindir.
"Terus bagaimana kau tahu apartment ku?" tanya Valeri lagi.
Jason sedikit salah tingkah mengenai itu, ia tadi bahkan membentak Alena karena terlalu panik akan keadaan Valeri, "Aku bertanya pada Alena," ucapnya singkat. Dan Jason bersyukur Valeri tak bertanya lebih lanjut, gadis itu hanya mengangguk-angguk mengerti.
Dan tak lama kemudian, mereka akhirnya sampai di mansion milik Jason.
*****