Sometimes you love people
in language they cannot understand.
-George Alexander Martin-
****
Valeri berjalan mengendap-ngendap ke dapurnya sambil memegang handphonenya erat. Ia mengintip dari balik tembok dengan hati-hati sembari menahan napasnya. Matanya memicing sembari mengedarkan pandangan ke dapurnya yang berukuran kecil, tapi syukurnya ia tak mendapati siapapun disana.
'Mungkin aku terlalu paranoid.' batin Valeri sambil menghela napas lega. Ia hendak berbalik kembali menuju sofa saat wajah George tiba-tiba terpampang di depan Valeri, membuat matanya membulat sepurna,
AHHHHHHH!" pekik Valeri terkejut.
George hanya terkekeh kecil melihat Valeri terkejut sekaligus ketakutan ketika melihatnya. Well, rasanya sudah lama sekali sejak George bertemu dengan Valeri, dan hatinya hangat saat melihat wanita ini berteriak ketakutan karenannya. Sungguh lucu,
"Se-sedang apa kau disini?!" tanya Valeri sambil beringsut mundur perlahan menjauhi George.
"Hai sayang. Apa kau merindukanku? Aku sangat merindukanmu meski baru tadi pagi kita teleponan," ujar George dengan nada rendah.
Valeri menggeleng cepat, ia terus mundur namun lelaki itu terus maju mendekatinya.
"G-George," gumam Valeri kecil. Ia berharap lelaki itu akan sadar saat Valeri memanggil nama itu.
Karena dahalu George bukanlah psikopat gila seperti sekarang. Lelaki itu adalah lelaki dengan senyum hangat. Ia selalu ada saat Valeri merasa sedih. Ia selalu ada saat Valeri butuh bantuan. George, lelaki yang selalu dapat menahan emosinya ketika Valeri memanggil namanya. George, lelaki yang menciptakan ribuan kenangan manis di hidup Valeri.
Setelah kematian adiknya, George menggila, mentalnya terguncang, ia menjadi terobsesi dengan Valeri. Tak ada lagi senyum hangat, yang ada seringaian mengerikan. George mengawasinya 24 jam. Mengikutinya kemana saja. Menghajar semua orang yang mendekati Valeri.
Valeri hampir gila dibuatnya. Billy mendapati perbuatan George dan melaporkan lelaki itu ke polisi. Namun George kira, Valerilah yang melaporkannya.
Valeri meneguk salivanya dengan susah payah, ia membelak ketika lelaki itu mulai berjalan mendekatinya.
"Tidak! Jangan mendekat!" teriak Valeri histeris.
Namun terlambat, langkah kaki lelaki itu terlalu besar. Ia bisa mendekati Valeri hanya dengan beberapa langkah. Ia mencengkram pergelangan Valeri erat. Namun gadis itu terus meronta. Handphone yang sedari tadi Valeri pegang pun terlempar ke lantai.
"Tenanglah sayang, ini aku pacarmu, George," bisik George lirih membuat Valeri merinding.
Valeri menangis. Tidak, bukan karena ia sedih mengingat kenangannya dengan George, melainkan ia ketakutan. Lelaki ini bukanlah lelaki yang dulu mencintainya. Lelaki ini berbeda. Ada aura membunuh yang mengintimidasi Valeri.
Valeri memejamkan mata sejenak, mengumpulkan keberaniannya untuk melawan George, "Aku.. Bukan.. Pacarmu.. George," ucap Valeri parau namun penuh keyakinan.
George tampak tertegun untuk sejenak, namun lelaki itu kembali tersenyum jahat sedetik kemudian, "Bukan pacarku?" ucap George sambil mengelus pipi Valeri. Valeri memejamkan matanya ketakutan, tangan George begitu dingin, menyentuh kulit Valeri yang begitu hangat.
"Kau itu milikku, Valeri," bisik George tepat ditelinga Valeri. Gadis itu menelan salivanya dengan susah payah sebelum mendongak, membalas tatapan mata George yang terasa asing,
"Tidak," cela Valeri cepat, "Aku tak lagi mencintaimu. Aku mencintai orang lain," ucap Valeri pelan.
George menatap Valeri sejenak kemudian terkekeh, "Pembohong."
"Aku tidak berbohong," ucap Valeri lagi. Ia melirik ke arah George yang tampak marah di sampingnya.
"Kau berbohong, Valeri," ucap George lagi sambil menatap Valeri tajam.
Namun gadis itu tak menyerah begitu saja, ia memaksakan dirinya untuk tersenyum sambil menatap George, "Aku tidak berbohong," ulang Valeri lagi.
George tampak menghela napas sejenak, lalu sesaat kemudian ia menjambak rambutnya frustasi dan mulai berteriak.
"KAU BOHONGKAN VALERI? BAGAIMANA BISA KAU MENCINTAI ORANG LAIN? KAU PASTI BERBOHONG" teriak George seperti orang gila.
Lelaki itu mengguncang-guncang tubuh Valeri dengan keras, lalu menghempaskannya ke tembok. Valeri meringis kesakitan ketika kepalanya terbentur. Namun ia sudah terlanjur membuat George marah. Ia tidak bisa berhenti sampai disini saja.
"Aku tidak pernah berbohong padamu," ucap Valeri berusaha setenang mungkin, berusaha untuk bersikap meyakinkan.
Lelaki itu tampak seperti orang kerasukan. Ia menghantam tembok di samping Valeri dengan keras. Valeri memejamkan matanya ketika George memukul tembok yang berada sangat dekat dari telinganya.
George tampak terengah-engah namun tatapannya kembali menyala, ia kembali mencengkram bahu Valeri dengan erat hingga terasa sangat sakit, "TIDAK, AKU TAHU KAU PASTI BERBOHONG, KAU TIDA MUNGKIN MENCINTAI ORANG LA--"
BUK!
Valeri terlonjak ketika mendapati suara pukulan yang begitu keras itu, George terlihat membelak terkejut, cengkramannya perlahan-lahan terlepas dari tangan Valeri. Lalu lelaki itu kehilangan kesadarannya dalam beberapa detik. Badannya ambruk tepat di depan Valeri, dan Valeri terdaim saat melihat Jason tengah berdiri di depannya saat ini.
Hah? Tunggu, Jason?
"Kau tak apa-apa?" tanya Jason panik, ia membuang tongkat golf yang ia bawa dari rumah itu ke sembarang tempat sembari berjalan mendekati Valeri.
Valeri diam saja, ia mengerjapkan matanya beberapa kali karena ia pikir ia mulai berhalusinasi, tapi kalau benar ini halusinasi, kenapa bayangan lelaki ini tak kunjung hilang?
"Valeri apa kau terluka?" ucap Jason lagi, kali ini lelaki itu mengguncang tubuhnya dengan cukup keras dan sentuhannya ... terasa nyata.
berarti ia tak bermimpi?
"Boss?"gumam Valeri tak percaya dengan apa yang ia lihat.
Jason? Bagaimana bisa ia kemari?
"Iya ini aku, apa kau terluka?" tanya Jason sambil mengecek kondisi tubuh Valeri, Valeri menahan tangan Jason yang terlihat panik. Gadis itu berusaha tersenyum agar Jason tak terlalu khawatir padanya, "Aku tak apa-apa, Boss."
Jason tertegun melihat senyuman Valeri, senyuman yang begitu dipaksakan, "Aku akan telepon polisi," ucap Jason tiba-tiba sambil mengeluarkan ponselnya. Namun Valeri langsung menariknya.
"Jangan," ucap Valeri sambil menggelengkan kepalanya.
Jason mengernyit binggung, "Kenapa tidak? Kau bisa berada dalam bahaya jika dia terus ada di sekitarmu."
Valeri kembali menggeleng, "Kumohon jangan, aku tak mau membuat kedua orangtua ku khawatir lagi," ucap Valeri sambil menggengam tangan Jason erat.
Jason menghela napas, "Kalau begitu dimana kau akan tinggal sekarang? Apa kau punya tempat tujuan?"
Valeri menggeleng kecil, "Aku mungkin akan tinggal di hotel," gumamnya asal.
"Kau tak bisa terus tinggal di hotel, b******n ini bisa menemukanmu dengan mudah," ucap Jason memperingati. Sebenarnya ia tak rela jika lelaki b******k ini harus dilepas begitu saja. Namun ia tak bisa memenjarakan George begitu saja. Tak ada bukti yang bisa membuktikan bahwa lelaki itu bersalah.
"Aku tak apa, lagipula aku tak memiliki pilihan lain," ujar Valeri sambil menghela napas pelan.
Jason tercenung, ia terlihat berpikir keras untuk sejenak dan ia langsung mendapatkan ide yang sedikit gila, "Tentu saja kau punya, kau bisa tinggal di rumahku" ucap Jason santai.
Valeri membelakan matanya, "APA?"
***
Sometimes you love people
in language they cannot understand.
-George Alexander Martin-
****
Valeri berjalan mengendap-ngendap ke dapurnya sambil memegang handphonenya erat. Ia mengintip dari balik tembok dengan hati-hati sembari menahan napasnya. Matanya memicing sembari mengedarkan pandangan ke dapurnya yang berukuran kecil, tapi syukurnya ia tak mendapati siapapun disana.
'Mungkin aku terlalu paranoid.' batin Valeri sambil menghela napas lega. Ia hendak berbalik kembali menuju sofa saat wajah George tiba-tiba terpampang di depan Valeri, membuat matanya membulat sepurna,
AHHHHHHH!" pekik Valeri terkejut.
George hanya terkekeh kecil melihat Valeri terkejut sekaligus ketakutan ketika melihatnya. Well, rasanya sudah lama sekali sejak George bertemu dengan Valeri, dan hatinya hangat saat melihat wanita ini berteriak ketakutan karenannya. Sungguh lucu,
"Se-sedang apa kau disini?!" tanya Valeri sambil beringsut mundur perlahan menjauhi George.
"Hai sayang. Apa kau merindukanku? Aku sangat merindukanmu meski baru tadi pagi kita teleponan," ujar George dengan nada rendah.
Valeri menggeleng cepat, ia terus mundur namun lelaki itu terus maju mendekatinya.
"G-George," gumam Valeri kecil. Ia berharap lelaki itu akan sadar saat Valeri memanggil nama itu.
Karena dahalu George bukanlah psikopat gila seperti sekarang. Lelaki itu adalah lelaki dengan senyum hangat. Ia selalu ada saat Valeri merasa sedih. Ia selalu ada saat Valeri butuh bantuan. George, lelaki yang selalu dapat menahan emosinya ketika Valeri memanggil namanya. George, lelaki yang menciptakan ribuan kenangan manis di hidup Valeri.
Setelah kematian adiknya, George menggila, mentalnya terguncang, ia menjadi terobsesi dengan Valeri. Tak ada lagi senyum hangat, yang ada seringaian mengerikan. George mengawasinya 24 jam. Mengikutinya kemana saja. Menghajar semua orang yang mendekati Valeri.
Valeri hampir gila dibuatnya. Billy mendapati perbuatan George dan melaporkan lelaki itu ke polisi. Namun George kira, Valerilah yang melaporkannya.
Valeri meneguk salivanya dengan susah payah, ia membelak ketika lelaki itu mulai berjalan mendekatinya.
"Tidak! Jangan mendekat!" teriak Valeri histeris.
Namun terlambat, langkah kaki lelaki itu terlalu besar. Ia bisa mendekati Valeri hanya dengan beberapa langkah. Ia mencengkram pergelangan Valeri erat. Namun gadis itu terus meronta. Handphone yang sedari tadi Valeri pegang pun terlempar ke lantai.
"Tenanglah sayang, ini aku pacarmu, George," bisik George lirih membuat Valeri merinding.
Valeri menangis. Tidak, bukan karena ia sedih mengingat kenangannya dengan George, melainkan ia ketakutan. Lelaki ini bukanlah lelaki yang dulu mencintainya. Lelaki ini berbeda. Ada aura membunuh yang mengintimidasi Valeri.
Valeri memejamkan mata sejenak, mengumpulkan keberaniannya untuk melawan George, "Aku.. Bukan.. Pacarmu.. George," ucap Valeri parau namun penuh keyakinan.
George tampak tertegun untuk sejenak, namun lelaki itu kembali tersenyum jahat sedetik kemudian, "Bukan pacarku?" ucap George sambil mengelus pipi Valeri. Valeri memejamkan matanya ketakutan, tangan George begitu dingin, menyentuh kulit Valeri yang begitu hangat.
"Kau itu milikku, Valeri," bisik George tepat ditelinga Valeri. Gadis itu menelan salivanya dengan susah payah sebelum mendongak, membalas tatapan mata George yang terasa asing,
"Tidak," cela Valeri cepat, "Aku tak lagi mencintaimu. Aku mencintai orang lain," ucap Valeri pelan.
George menatap Valeri sejenak kemudian terkekeh, "Pembohong."
"Aku tidak berbohong," ucap Valeri lagi. Ia melirik ke arah George yang tampak marah di sampingnya.
"Kau berbohong, Valeri," ucap George lagi sambil menatap Valeri tajam.
Namun gadis itu tak menyerah begitu saja, ia memaksakan dirinya untuk tersenyum sambil menatap George, "Aku tidak berbohong," ulang Valeri lagi.
George tampak menghela napas sejenak, lalu sesaat kemudian ia menjambak rambutnya frustasi dan mulai berteriak.
"KAU BOHONGKAN VALERI? BAGAIMANA BISA KAU MENCINTAI ORANG LAIN? KAU PASTI BERBOHONG" teriak George seperti orang gila.
Lelaki itu mengguncang-guncang tubuh Valeri dengan keras, lalu menghempaskannya ke tembok. Valeri meringis kesakitan ketika kepalanya terbentur. Namun ia sudah terlanjur membuat George marah. Ia tidak bisa berhenti sampai disini saja.
"Aku tidak pernah berbohong padamu," ucap Valeri berusaha setenang mungkin, berusaha untuk bersikap meyakinkan.
Lelaki itu tampak seperti orang kerasukan. Ia menghantam tembok di samping Valeri dengan keras. Valeri memejamkan matanya ketika George memukul tembok yang berada sangat dekat dari telinganya.
George tampak terengah-engah namun tatapannya kembali menyala, ia kembali mencengkram bahu Valeri dengan erat hingga terasa sangat sakit, "TIDAK, AKU TAHU KAU PASTI BERBOHONG, KAU TIDA MUNGKIN MENCINTAI ORANG LA--"
BUK!
Valeri terlonjak ketika mendapati suara pukulan yang begitu keras itu, George terlihat membelak terkejut, cengkramannya perlahan-lahan terlepas dari tangan Valeri. Lalu lelaki itu kehilangan kesadarannya dalam beberapa detik. Badannya ambruk tepat di depan Valeri, dan Valeri terdaim saat melihat Jason tengah berdiri di depannya saat ini.
Hah? Tunggu, Jason?
"Kau tak apa-apa?" tanya Jason panik, ia membuang tongkat golf yang ia bawa dari rumah itu ke sembarang tempat sembari berjalan mendekati Valeri.
Valeri diam saja, ia mengerjapkan matanya beberapa kali karena ia pikir ia mulai berhalusinasi, tapi kalau benar ini halusinasi, kenapa bayangan lelaki ini tak kunjung hilang?
"Valeri apa kau terluka?" ucap Jason lagi, kali ini lelaki itu mengguncang tubuhnya dengan cukup keras dan sentuhannya ... terasa nyata.
berarti ia tak bermimpi?
"Boss?"gumam Valeri tak percaya dengan apa yang ia lihat.
Jason? Bagaimana bisa ia kemari?
"Iya ini aku, apa kau terluka?" tanya Jason sambil mengecek kondisi tubuh Valeri, Valeri menahan tangan Jason yang terlihat panik. Gadis itu berusaha tersenyum agar Jason tak terlalu khawatir padanya, "Aku tak apa-apa, Boss."
Jason tertegun melihat senyuman Valeri, senyuman yang begitu dipaksakan, "Aku akan telepon polisi," ucap Jason tiba-tiba sambil mengeluarkan ponselnya. Namun Valeri langsung menariknya.
"Jangan," ucap Valeri sambil menggelengkan kepalanya.
Jason mengernyit binggung, "Kenapa tidak? Kau bisa berada dalam bahaya jika dia terus ada di sekitarmu."
Valeri kembali menggeleng, "Kumohon jangan, aku tak mau membuat kedua orangtua ku khawatir lagi," ucap Valeri sambil menggengam tangan Jason erat.
Jason menghela napas, "Kalau begitu dimana kau akan tinggal sekarang? Apa kau punya tempat tujuan?"
Valeri menggeleng kecil, "Aku mungkin akan tinggal di hotel," gumamnya asal.
"Kau tak bisa terus tinggal di hotel, b******n ini bisa menemukanmu dengan mudah," ucap Jason memperingati. Sebenarnya ia tak rela jika lelaki b******k ini harus dilepas begitu saja. Namun ia tak bisa memenjarakan George begitu saja. Tak ada bukti yang bisa membuktikan bahwa lelaki itu bersalah.
"Aku tak apa, lagipula aku tak memiliki pilihan lain," ujar Valeri sambil menghela napas pelan.
Jason tercenung, ia terlihat berpikir keras untuk sejenak dan ia langsung mendapatkan ide yang sedikit gila, "Tentu saja kau punya, kau bisa tinggal di rumahku" ucap Jason santai.
Valeri membelakan matanya, "APA?"
***