I'm much more me
when i'm with you.
-Valeri Valentine Darron-
*****
Waktu berjalan cepat dan akhir pekan pun tiba. Waktu dimana para keluarga biasanya berkumpul untuk sekedar menghabiskan waktu bersama. Yah, itu yang orang lain lakukan, karena nyatanya hal itu tidak berlaku untuk Valeri. Karena di saat orang lain senang dan berjalan-jalan, ia malah berkutat dengan pekerjaan yang seakan tak ada habisnya.
Well, sudah satu minggu lebih, sejak Valeri tinggal bersama Jason. Dan selama itu pula, mereka sering berinteraksi bersama. Baik karena pekerjaan, maupun tidak. Valeri merasa senang di dekatnya, dan ia baru tahu kalau Jason tidak sama seperti yang di katakan orang-orang.
Hum, jika orang lain bilang Jason itu dingin dan ketus, menurut Valerie, Jason itu malah konyol dan iseng. Tapi saat mereka sedang serius bekerja, Jason tetap akan menjaga profesionalitasnya sebagai CEO di hadapan Valeri. Dan ya, lelaki itu tak tanggung-tanggung dalam memberi tugas. Kepala Valeri rasanya ingin pecah karena terus menerus di suguhkan berkas-berkas perusahaan.
Ya, bisa di bilang minggu ini adalah minggu yang sibuk. Dan Valeri bersyukur si Sanna, tunangan Jason tak lagi datang. Karena Valeri sudah muak melihat wajahnya yang sangat berbeda dari sikap aslinya.
"Apa kau sudah selesai?" tanya Jason yang tiba-tiba muncul dari balik pintu.
Valeri tersentak lalu menatap Jason tajam, "Tolong ketuk pintu sebelum masuk, Boss," kata Valeri kesal dengan kebiasaan Jason.
"Ups, maaf," ucap Jason dengan nada tak bersalah membuat Valeri memutar bola matanya malas.
"Aku sudah selesai dengan laporan ini dan sudah ku kirim melalui email," terang Valeri yang membuat Jason tersenyum puas. Ia suka kinerja Valeri yang selalu tepat waktu dan teliti. Yah, setidaknya berkat gadis di depannya ini, Jason jadi punya jam untuk tidur. Tapi yang lebih lucu, mereka terkadang ketiduran bersama di ruang tamu karena bekerja sampai subuh.
"Apa sekarang aku bebas, Boss?" tanya Valeri.
Jason mendelik, "Kau bertingkah laku seperti tahanan saja."
Valeri tekekeh, "Emang benar kan? selama seminggu penuh aku disini untuk bekerja. Bahkan di hari minggu sekali pun. Aku bosan Boss, apa kau tak bosan?" tanya Valeri sembari memiringkan kepalanya .
Jason tampak terdiam karena berpikir. Yah, dia tidak punya kegiatan lain selain bekerja dan berolaraga. Jadi ia tak pernah merasa bosan.
"Tidak, aku tidak pernah bosan," ucap Jason yang langsung di balas tatapan tak percaya oleh Valeri.
"Kau sungguh orang yang membosankan, Boss!" pekik Valeri
"Huh, aku hanya tak pernah melakukan hal lain selain bekerja." Jason menggendikan bahunya, membuat Valeri terdiam dan sibuk dengan pikirannya sendiri.
"Boss, apa kau ada rencana hari ini?" tanya Valeri tiba-tiba.
Jason menggeleng, "Sepertinya tidak, memangnya kenapa?" tanya Jason binggung.
Valeri tersenyum lebar lalu menatap Jason dengan penuh harap, "Apa kau mau menemani ku pergi?"
Jason mengernyit, "Kemana?" tanya Jason binggung.
"Ke Taman Bermain," ucap Valeri dengan senyum lebarnya.
****
Billy mengernyit ketika pagi-pagi ia menemukan Sarah yang sudah terlihat rapi dan saat ini tengah duduk di sofa dengan santainya. Gadis itu menoleh dan tersenyum lebar saat melihat Billy.
"Hai sayanggg!" pekik Sarah sambil memeluk Billy erat. Billy melepaskan pelukan itu dengan risih lalu menatap Sarah binggung.
"Apa yang kau lakukan disini?" tanya Billy heran.
Sarah tersenyum lebar, "Aku kan sudah bilang kalau kita akan kencan di akhir pekan?" ucap Sarah tanpa rasa bersalah
Billy berpikir keras untuk mengingat hal itu. Kapan Sarah mengajaknya kencan? Otaknya perlu waktu lama sebelum akhirnya mengingatnya. s**t.
"Jadi karena itu kau kemari?" tanya Billy tak senang.
Sarah mengangguk antusias. Wanita ini sangat bebal dan tak tahu malu. Bagaimana bisa memasang ekspresi sesenang itu di saat Billy sudah menekuk wajahnya.
"Apa Valeri tak lagi tinggal disini?" tanya Sarah tiba-tiba sembari mengedarkan pandangannya. Billy sedikit tersentak saat Sarah menyebut nama Valeri, refleks ia langsung menoleh dan menatapi Sarah lagi.
"Ya, dia punya apartmentnya sendiri."
"Oh, baguslah kalau begitu," ucap Sarah senang. Well, ia tak suka dengan Valeri, wanita itu berbahaya karena ia bukan kakak kandung Billy. Dan dari insting Sarah, ia harus menjauhkan Billy dari Valeri. Sebab, ia takut Billy jatuh hati pada wanita sinting itu.
"Apanya yang bagus?" ucap Billy dengan nada tak senang lagi. Sarah meneguk salivanya dengan susah payah, harusnya ia tak menunjukan kesenangan saat Valeri tak lagi tinggal disini. Sebab ia tahu Billy sangat menyayangi Valeri.
"Ah tidak, aku tidak bermaksud apapun," ucap Sarah cepat. Lalu gadis itu berusaha mengganti topik pembicaraan, "Apa kau tak berniat untuk mandi?" tanya Sarah lagi.
Billy menunduk menyadari bahwa dirinya belum mandi. Ia mengalihkan pandangannya pada Sarah sambil menaikan alisnya sebelah, "Emangnya kita mau kemana?"
"Aku ingin menonton film bersama mu berdua, pergi ke taman bermain lalu ke pantai untuk menikmati sunset," ucap Sarah senang. Ya, ia akan menebus semua penolakan Billy selama ini. Dan hari ini, Billy hanya miliknya.
"Apa? Itu terlalu banyak," keluh Billy.
Sarah menggeleng, "Aku tak menerima penolakan lagi Billy. Jika kau menolak maka aku akan mengadukannya pada Daddy-ku," ucap Sarah mengancam.
Billy menggeram sambil menahan kemarahannya. Wanita ini sudah berani mengancamnya? Karena perusahaan keluarganya sedang dalam masalah dan perusahaan Sarah membantu perusahaan keluarga Billy, maka Sarah ingin menjadikan Billy sebagai bonekanya?
Sungguh tak tahu malu. Billy sangat muak dengan semua ini. Tapi Billy sama sekali tak bisa menolak meski ia tak mau. Ya, ia tak bisa menghancurkan perusahannya yang telah di bangun oleh Daddynya hanya karena emosi sesaatnya menguasai.
Billy tersenyum masam dan meninggalkan Sarah sendiri di ruang tamu. Ia pergi ke kamar nya untuk mandi dan bersiap-siap.
***
Valeri membongkar bajunya. Baju-bajunya yang ada di Apartment sudah di ambil semua, termasuk handphonenya. Jason memperintahkan anak buahnya untum mengambil semua barang Valeri yang ada di apartment. Meski Valeri pikir itu sebenarnya berlebihan, Valeri kan tidak tinggal selamanya disini?
Yah, lupakan saja. Valeri saat ini sedang sibuk untuk memikirkan itu. Karena tadi, entah mengapa Jason menyetujui ajakannya. Dan itu membuat Valeri girang setengah mati.
Setelah membongkar semua lemari bajunya, akhirnya Valeri memilih dress hitam pendek yang terlihat santai. Dress ini tampak cantik membungkus badannya.
"Apa kau sudah siap?" tanya Jason yang lagi-lagi membuka pintu kamarnya tanpa di ketuk. Valeri mendengus, lelah memperingati Jason yang sama sekali tak mendengarkan kata-katanya.
"Kau tampak cantik dengan dress itu," puji Jason sembari tersenyum, membuat Valeri merona karenanya.
'Seorang Jason baru saja memujiku?'
"Terimakasih, kau juga terlihat tampan dengan kaos itu," puji Valeri sungguh-sungguh.
Ya, ia akui Jason terlihat sangat ... tampan. Dan Valeri benar-benar terpesona saat ini.
"Aku memang tampan, semua orang tahu itu," ucap Jason dengan pedenya membuat Valeri menatapnya jijik.
"Yang benar saja Boss." Valeri memutar bola matanya kesal., membuat Jason terkekeh karenanya, "Ayo pergi."
Valeri mengangguk, mereka berdua pun keluar dari apartment scara beriringan.
***