14

1500 Words
  I didn't want to fall in love, not at all. but at some point you smiled and holy s**t i blew it. -Valeri Valentine Darron- **** Taman bermain penuh dengan manusia karena hari ini adalah akhir pekan, tapi rasa antusias Valeri sama sekali tak surut bahkan setelah ia melihat lautan manusia di depannya. Valeri tersenyum dan menarik Jason ke salah satu toko pernak-pernik di sudut taman bermain. Toko itu tampak ramai, tapi justru karena itu Valeri malah semakin antusias. Mereka memasuki toko itu, dan langsung saja Valeri berkeliling sembari melompat-lompat kecil karena ia gembira. Matanya menatapi satu persatu pernak-pernik, dan pilihannya jatuh pada bando mickey-minnie mouse yang tampak imut. Entahlah, sejak dulu Valeri memang menyukai bando minnie mouse, hanya saja akan sangat lucu jika ia memakai bando sedangkan Jason tidak, 'kan? "Boss, aku mau ini, boleh?" Valeri bertanya pada Jason yang sedari tadi hanya mengikuti langkahnya. Well, Valeri tidak membawa uang sepeser pun hari ini karena Jason. Lelaki itu bilang ia ingin mentraktir Valeri sebagai balasan atas kerja kerasnya selama satu minggu ini. Jason mengernyit saat menyadari bahwa bando itu adalah aksesoris yang biasa di pakai anak-anak, "Yaampun, berapa umurmu sebenarnya?" tanya Jason sembari menggelengkan kepalanya. "27 tahun," ucap Valeri polos namun matanya masih menatap Jason lekat dengan tatapan memohon, "Ayolah Boss. Lagipula tak akan ada yang mengenalmu," pinta Valeri sekali lagi dengan nada memelas. Ia sudah memaksimalkan wajahnya agar semelas mungkin dan berharap dalam hati semoga Jason mau merubah pikirannya. Jason menghela napasnya berat. Bayangan dia memakai bando itu terasa konyol dan memalukan. Tapi, wajah memelas Valeri di sampingnya ini sangat mengganggu. Entah kenapa, hati kecil Jason jadi tak tega untuk menolak permintaan gadis itu. "Beli ya Boss?" Valeri mengerjapkan matanya berkali-kali sembari menarik lengan Jason. Jason menghela napasnya lagi, "Baiklah, mari beli itu," ucap Jason yang akhirnya menyerah. "Yeey! Makasih Boss!"  Valeri memegang kedua sisi pipi Jason erat sembari tersenyum senang. Sedangkan Jason hampir mati kaget karena ia kira Valeri akan menciumnya, tadi, Valeri melepaskan pegangannya dan berlari ke arah kasir. Gadis itu sangat gembira seperti anak kecil yang baru saja mendapatkan hadiah natal. "Kita mau naik apa dulu, Boss?" tanya Valeri saat mereka sudah keluar dari toko. Ia berusaha untuk mengalihkan pandangannya dari Jason karena lelaki itu tampak konyol dengan bandonya. "Bagaimana kalau kesana?" Valeri menemukan wahana rollercoaster yang tampaknya menegangkan dan seru. Ia menunjuk wahana itu sembari melompat-lompat antusias, membuat Jason meneguk salivanya dengan susah payah. Jason benci sesuatu yang terlalu cepat ataupun terlalu tinggi. Jadi ia tak bisa naik rollercoaster. Tapi lagi-lagi, keantusiasan Valeri membuatnya tak tega untuk menghancurkan keinginan gadis itu. Sial, sebenarnya apa yang terjadi padaku? pikir Jason frustrasi. "Ayo kesana," ucap Jason pada akhirnya. Yah, ia yakin ia akan menyesal saat pulang nanti. Mereka berdua berjalan beriringan menuju wahana rollercoaster. Dan tanpa sengaja, Jason melirik ke tangan Valeri yang tampak kosong. Ada sebesit keinginan untuk menggengam tangan itu, tapi Jason langsung menggelengkan kepalanya saat sadar kalau hal ini sangat salah. Valeri mengeluarkan ponselnya dan mengajak Jason untuk berselfie saat mereka tengah mengantre untuk naik rollercoaster. Jason hanya tersenyum sedikit sebelum lelaki itu malu karena menjadi pusat perhatian disini. "Kita di liatin orang-orang, "ucap Jason kepada Valeri yang tampak sama sekali tak perduli. Jason sadar betul kalau bando ini sangat berperan besar, sebab tak ada satu pun lelaki disini yang memakai bando seperti ini. Hanya dia satu-satunya! "Tidak apa, tidak ada yang mengenal kita," ucap Valeri santai. Ia tersenyum melihat hasil foto mereka berdua yang tampak bagus dan Valeri berniat untuk menjadikan foto itu sebagai Wallpaper ketika pulang nanti. Antrian terus berjalan dan akhirnya Jason dan Valeri naik ke rollercoster itu. Valeri dan Jason menggenakan sabuk pengaman sebelum kemudian rollercoster itu perlahan berjalan. Jason bisa merasakan detak jantung nya yang tidak karuan ketika rollercoster itu perlahan naik, dan lama-lama bergerak dengan sangat cepat! Jason merasa kepalanya puyeng, badannya lemas rasanya ia tak bisa bergerak lagi. Ia melirik Valeri yang tampak sangat bahagia di sampingnya. Dan dengan segenap tenaga yang tersisa, Jason menggengam tangan Valeri erat. Gadis itu tampak terkejut ketika Jason menggengam tangannya. Valeri terkejut melihat Jason yang sangat pucat. Ia sama sekali tak tahu kalau laki-laki ini tidak bisa naik rollercoster. Akhirnya, Valeri pun menggengam tangan Jason erat dan Jason tampak lebih baik setelah Valeri menggengam tangannya. Penderitaan Jason berakhir setelah kurang lebih lima menit, dan sesaat setelah ia turun, ia bisa merasakan perutnya bergejolak. Jason berlari ke tempat yang cukup sepi dan kemudian memuntahkan isi perutnya yang sedari tadi sudah meronta ingin keluar. "Boss, kau tak apa-apa?" Valeri bertanya dengan napas terengah-engah karena kesulitan mengikuti langkah kaki besar milik Jason, "Jangan ... mendekat," ucap Jason sebelum kembali memuntahkan isi perutnya. Valeri sama sekali tak menggubris perkataan Jason, wanita itu mendekati bossnya dan mengelus punggungnya perlahan. "Ini menjijikan, jangan mendekat!" ulang Jason lagi. Tapi Valeri tetap bergeming, gadis itu masih setia menepuki punggung Jason sampai lelaki itu selesai dengan urusannya. "Kenapa kau tak bilang kalau kau tak bisa naik rollercoster?" omel Valeri setelah Jason selesai. "Aku tak tega, kau begitu antusias.  Aku tak tega menghancurkan keinginanmu," ucap Jason sambil mengelap bibirnya. Ada perasaan hangat yang Valeri rasakan ketika mengetahui bahwa Jason perduli dengannya, "Terimakasih Boss, aku senang bisa pergi seperti ini bersamamu," ucap Valeri sambil tersenyum lebar. Jason terhenyak melihat senyum itu, senyum yang tak pernah Valeri tampilkan sebelumnya. "Kita main komedi putar saja, bagaimana?" ajak Valeri pada Jason. Jason mengganguk, setidanya komedi putar tidak berputar terlalu cepat. Mereka berdua kembali berjalan ke tengah taman bermain yang tampak sangat ramai. Valeri sempat terbenggong saat mendengar namanya di teriaki oleh seseorang. "Valeri!" teriak orang itu. Tunggu, entah kenapa suaranya begitu familiar. Valeri menolehkan kepalanya dan mengedarkan pandangan tapi ia tak menemukan siapapun. "Valeri! Aku sudah memanggilmu daritadi!" ucap Billy yang terlihat tersengal-sengal di belakang Valeri. Valeri membelak melihat adiknya yang tiba-tiba muncul, "Billy? Kau sedang apa disini?" tanya Valeri binggung. Billy menarik napas panjang lalu ia kembali menatap Valeri, ia tersentak ketika melihat Jason yang berdiri di samping Valeri. "Oh, ini siapa Valeri?" tanya Jason pada Valeri. Valeri mengusap lehernya, merasa canggung dengan keadaan ini. Ia tidak pernah menceritakan ke Billy bahwa ia akan bekerja pada Jason. "Ini adikku Boss, namanya Billy," ucap Valeri memperkenalkan keduanya. Jason mengangkat alisnya sebelah lalu mengulurkan tangan, "Senang bertemu denganmu," "Aku juga senang bertemu denganmu," ucap Billy seraya menjabat tangan Jason. Ia tersenyum tipis meskipun Jason bisa menangkap nada yang tak begitu senang dari suara Billy. Billy melepas jabatan tangan itu lalu mengamati Jason lama. Tentu saja mengenal siapa Jason. Lelaki kaya penerus JYS Crop yang terkenal dingin dengan wanita. Tapi tadi Valeri memanggilnya siapa? Boss? Tepukan pelan di pundak Billy mengejutkannya. Astaga, ia lupa dengan Sarah. Tadi ia langsung berlari ketika matanya menangkap keberadaan Valeri. "Kau kemana saja sih! Aku menc--" ucap Sarah terpotong ketika ia melihat Valeri didepannya dan lagi ada Jason! Mata Sarah menangkap pemandangan janggal ketika melihat bando yang Valeri dan Jason pakai. Itu adalah bando couple. Dan Jason memakainya? 'Sungguh kebetulan yang tak terduga. Ia menolak Kak Sanna karena pacaran dengan Valeri' pikir Sarah. "Kak Jason," ucap Sarah terkejut, dan Jason juga sama terkejutnya melihat Sarah. "Apa yang sedang kau lakukan disini?" tanya Sarah pada Jason yang terlihat kikkuk. "Uhm aku sedang refreshing," balas Jason cepat. Valeri terkejut saat menyadari bahwa Sarah adalah adik Sanna, tunangan Jason. Sarah mengernyit, ia tahu Jason adalah workholic. Ia sering sekali menolak ajakan kakaknya untuk berkencan. Dan sekarang ia bersama dengan Valeri? Sambil memakai bando couple? Itu bukan refreshing namanya, demi apa saja mereka berdua sedang berkencan! "Kalian ... pacaran?" tanya Jason bingung. Sarah segera mengangguk, "Tentu saja kami berpacaran," ucapnya sambil melirik ke arah Billy yang sedari tadi diam. Billy terus-terusan memandangi Valeri dan Jason seakan mereka sudah berbuat sesuatu yang benar-benar salah. Tatapan Billy yang menusuk membuat Valeri merasa tak enak dan terganggu tapi ia maklum karena adiknya itu pasti sama terkejutnya dengan Sarah. "Oh begitu," gumam Jason. Ia melirik ke Valeri yang tampak sangat salah tingkah. Jason mengikuti arah pandang Valeri dan mendapati Billy tengah menatap mereka dengan tatapan ... cemburu? "Ah, kami akan naik komedi putar, kalian mau ikut?" tanya Jason tiba-tiba. Well, ia tahu kalau nanti Sanna akan mengamuk di kantornya jika Sarah menceritaan kejadian hari ini. Tapi ia tak perduli. "Ahh, tidak kami sudah memesan tiket nonton," ucap Sarah sambil tersenyum meski tak sampai matanya. Ia menarik tangan Billy paksa, "Baiklah kami pergi dulu," ucap Sarah sebelum meninggalkan Jason dan Valeri dan menarik Billy menjauh dari kedua insan itu. "Apa kau tidak apa-apa Boss?" tanya Valeri pada Jason setelah Billy dan Sarah pergi. "Emang aku kenapa?" tanya Jason cuek. "Tapi Sarah it--" "Aku tidak apa-apa. Lagipula aku tahu sebentar lagi Sanna akan mengamuk," potong Jason enteng seolah itu adalah hal kecil. Valeri menghela napas. Ya, ini adalah salahnya. Ia sama sekali tak menyangka akan bertemu Billy disini. Sarah sudah pasti akan mengadukan hal ini pada Sanna, mengingat Sarah juga membenci Valeri. "Ini bukan salahmu, sudahlah. Lebih baik kita main komedi putar itu," ucap Jason cuek. Lalu lelaki itu menarik tangan Valeri dan mereka pun mengantri untuk bermain komedi putar. ***    
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD