Thankyou for reminding me
what butterflies feel like.
-Jason James Heilton-
****
Jason memperlambat langkahnya ketika mendengar suara langkah kaki sayup-sayup di belakang. Dengan santai, ia mengeluarkan ponselnya dan mengecek setiap berkas yang sudah dipindahkannya ke hp.
Suara langkah itu semakin jelas, dan lama-kelamaan semakin dekat. Jason menoleh kebelakang dan ia mendapati Valeri yang tengah berlarian. Rambut gadis itu terlihat berantakan, ia juga terlihat kesulitan berlari sambil menggunakan heels meski heelsnya tidak tinggi
Jarak mereka berdua kira-kira 5meter lagi, Jason hendak kembali berbalik ketika tubuh Valeri tiba-tiba miring membuat gadis itu oleng dan kehilangan keseimbangan.
Valeri hampir saja jatuh jika Jason tak refleks maju untuk menangkapnya. Mereka berdua jatuh bersama dengan posisi tubuh Jason memeluk Valeri dan..
Cup!
Bibir mereka sempat bersentuhan meski hanya beberapa detik. Mereka berdua jatuh dengan posisi tubuh Valeri menimpa Jason. Jarak mereka berdua saat ini mungkin hanya 3cm. Posisi yang memalukan, tapi mereka tetap bergeming disana,
Keduanya saling bertatapan untuk waktu yang cukup lama. Jason yang terpesona dengan warna mata Valeri, seakan ia pernah bertemu gadis itu sebelumnya.
Dan Valeri yang terpesona dengan Jason karena Jason memang tampan apa lagi dari dekat.
Valeri merasakan deja vu dengan keadaan ini. Seperti kejadian ini pernah terjadi dalam hidupnya ... sebelumnya,
Tapi kapan?
Mereka tak sadar jika saat ini mereka berdua tengah menjadi pusat perhatian. Semua karyawan bahkan menghentikan aktivitas mereka karena melihat adegan itu,
Valeri membelakan matanya, dan mengutuk dirinya yang terpesona dengan Jason. Pipinya bersemu merah mengingat kejadian tadi.
Seakan ikut tersadar, Jason ikut terkejut dan mendorong tubuh Valeri sedikit kuat,
"K-kau tadi ngapain?!" ucap Jason seraya berdiri dari posisi memalukannya.
Valeri mengerang karena tubuhnya kembali menghantam lantai karena dorongan Jason, "Aduh ... niat gak sih Boss nyelamatin aku? masa udah diselamatin di dorong lagi," keluh Valeri sambil mengelus pantatnya.
Jason yang masih terlihat shock tidak menjawab, ia hanya terdiam membeku di tempatnya tanpa menghiraukan Valeri.
Valeri menghela nafas melihat kelakuan bossnya yang aneh bin ajaib. Lalu ia berdiri merapikan rok dan bajunya yang berantakan karena jatuh sebelum kembali memandangi Jason,
"Boss gak papa kan?" tanya Valeri.
Jason tak menjawab.
"Boooos?"
Masih tak ada jawaban.
Valeri pun memberanikan diri untuk mendekati Jason dan memanggilnya sekali lagi.
"Boss?" ulang Valeri lagi namun kali ini tepat di telinga Jason.
"APA?" bentak Jason dengan nada terkejut, lelaki itu menggeram melihat Valeri yang cekikikan karna ekspresi terkejutnya.
Ia memundurkan langkahnya dan menatap tajam pada gadis yang baru saja mencuri ciuman dari bibirnya, "Kamu!" tunjuk Jason tepat di depan hidung Valeri
"Aku?"
Jason mengangguk,
"Aku kenapa?"Tanya Valeri lagi bingung.
"Mulai sekarang kamu gak boleh deket-deket dengan aku. Batasnya adalah 5meter. Gak boleh lebih dekat dari itu," ucap Jason sebelum berbalik dan berjalan seperti biasa.
Valeri mengernyit melihat kelakuan Jason yang semakin aneh, Tampaknya lelaki itu malu, karena mereka menjadi pusat perhatian disini. Dan lagi Valeri menciumnya dihari pertamanya bekerja!
"Apa jangan-jangan ini ciuman pertamanya?" gumam Valeri kecil.
"Pasti begitu. Aku yakin sekali," lanjutnya sebelum merapikan berkas-berkas yang jatuh dan kembali berjalan dengan hati-hati karena heels sudah mencelakainya dua kali.
*****
Suasana tenang menyambut Sanna dan Sarah. Mereka berdua sudah sampai kerumah mewah yang terlihat asri dengan berbagai pohon dan tanaman.
"Selamat datang kembali sayang," sambut Helena ketika kedua putrinya sudah sampai di rumah.
Sanna melepaskan pegangannya pada kopernya dan berlari memeluk Helena, "Mom! I miss you!" teriak Sanna sambil memeluk Helena erat.
"I miss you too my little girl," ucap Helena sambil mengelus punggung Sanna. Sanna melepas pelukannya dan masuk kedalam rumah bersama Sarah dan Helena.
Mereka berkumpul diruang tamu, Sanna tersenyum mengamati dekorasi rumah yang tak pernah berubah sama sekali. Pelayan-pelayan itu menyediakan teh untuk mereka bertiga. Sanna kembali tersenyum ketika bau teh melati menyeruak.
"Bagaimana pekerjaanmu?" tanya Helena sambil menyesap tehnya.
"Ng? Pekerjaanku baik-baik saja. Aku sangat suka Paris." Sanna ikut menyesap tehnya, sekarang ia benar-benar merasa berada dirumah setelah meminum teh ini.
Selagi Sanna dan Mommynya tengah asyik mengobrol, Sarah mengambil ponselnya dari tas, ia mencari kontak Billy dan mengirimkan pesan teks pada lelaki itu.
From : Sarah Agustine
Sedang apa syg? Kakakku baru pulang dari Paris nih. Besok mau jalan gak? Aku bosan. Lagian kita udah seminggu lebih gak ketemu.
-Sarah Agustine-
Sarah mengirimkan pesan itu sambil tersenyum, tak lama kemudian hpnya bergetar. Dengan semangat ia membaca pesan dari Billy.
From: Billy❤
Aku sibuk. Lain kali saja.
-Billy-
Senyum Sarah memudar membaca pesan teks dari Billy. Meski mereka memang dijodohkan seperti Jason dan Kak Sanna. Tapi mereka berbeda kan? Dibanding Jason yang tak mau tau sama sekali dengan Sanna, Billy masih mau mendengar curahan hati Sarah kadang-kadang. Billy juga masih mau menemuinya meski terkadang ia cuek pada Sarah.
Itu berarti Billy mencintainya kan?
Bukankah begitu?
"Menurutmu bagaimana Sarah?" tanya Helena pada putri keduanya.
"Sarah?" panggil Sanna binggung karena tak ada reaksi.
"Sarah?" panggil Sanna lagi dengan nada yang lebih tinggi.
"Iya?" ucap Sarah terkejut. Helena menghela napas, "Jadi daritadi kau tak dengarkan kami ya?" ucap Helena.
Sarah menekan jari-jarinya, "Maaf Mom, tadi emang kalian membicarakan apa?" tanya Sarah.
"Hhhh, kami membicarakan pertunangan kakakmu dan Jason. Bukankah lebih baik jika semakin cepat? Itu akan bagus untuk JYS Crop dan T Company. Bukan begitu?" jelas Helena panjang lebar.
Sarah mengusap lehernya, "Ah, aku sih setuju saja asal kak Sanna bahagia," ucap Sarah sambil tersenyum.
Helena tersenyum lebar, "Baguslah, nanti akan ku diskusikan pada Harry saat ia pulang," ucap Helena sambil menyebut nama suaminya itu.
"Ah! Kapan Daddy pulang Mom?" tanya Sanna tiba-tiba. Ia merindukan Daddynya meski Daddynya sering tak punya waktu untuk mereka.
Helena mengendikan bahunya, "Entahlah, nanti aku akan menghubunginya," ucap Helena cuek.
Sanna mendelik, "Apa kau masih tak berhubungan harmonis dengan Daddy, Mom?" tanya Sarah.
Helena menghela nafas lagi, "Aku tak mengerti pada Daddymu, terkadang ia baik, tetapi ia seringkali jahat juga. Aku tak bisa mengerti dia meski kami sudah menikah selama 26tahun," ucap Helena panjang lebar.
Sanna ikut menghela nafas, "Tak apa Mom, setidaknya Daddy mencintaimu dan tak selingkuh kan?" ucap Sanna.
Helena tersenyum, "Tentu saja ia setia padaku. Ia takkan bisa punya anak lagi jika ia berani selingkuh dariku," ucap Helena serius yang membuat beberapa pelayan lelakinya bergidik ngeri.
"Tentu, jangan pernah biarkan orang lain mengambil apa yang menjadi milikmu, Mom," gumam Sanna dengan pelan, tapi penuh maksud.
***