5

1051 Words
Old ways won't open new doors -Valeri Valentine Darron- ****   Flashback "Val gue punya tawaran buat lo," ucap Alena serius, membuat Valeri terbenggong karenanya. "Emangnya tawaran apaan?" tanya Valeri. "Hmm, gini karna lo udah tau soal perusahaan bokap angkat gue berati lo udah tahu soal Kak Jason?" Alena bertanya sembari memandang Valeri. Valeri mengangguk, tentu saja dia tahu Jason, pewaris JYS Crop yang katanya dingin dan angkuh. Banyak model terkenal berusaha menarik perhatiannya namun tak ada satupun yang berhasil. Banyak rumor yang menyebar, dan mengatakan kalau ia gay, tapi lelaki itu langsung menepis semua kabar buruk itu dan menuntut si pembuat artikel. "Jangan salah sangka dulu, kak Jason itu sebenarnya baik, dia hanya gak bisa mengekspresikan perasaannya. Dan lagi, gue bisa pastiin kak Jason gak gay, uhm, dia cuma belum naksir siapa-siapa aja sekarang," jelas Alena tanpa ditanya. Valeri hanya mengangguk-angguk tak peduli, meskipun sebenarnya ia pensaran. "Lantas kenapa dengan kakak lo itu?" tanya Valeri tak sabar. "Ehm Kak Jason sedang mengalami kesulitan saat ini," ucap Alena ambigu yang membuat Valeri menaikan sebelah alisnya. "Maksudnya? Kesulitan apa?" tanya Valeri binggung. Alena mengetuk-ngetukan jarinya pada meja, "Sekertarisnya sedang cuti, dan ia begitu sibuk tapi tak sempat mencari pengantinya. Dan aku tahu, dia tidak bisa mencari sekertaris sendiri, sebab ada banyak wanita yang melamar jadi sekertarisnya hanya untuk menggodanya saja." Valeri menatap Alena, menunggu Alena melanjutkan perkataannya, "Lo bilang mau mencari pengalaman, bagaimana kalau jadi sekertaris kakak gue?" sambung Alena. "APA?" Valeri berteriak refleks sembari membulatkan matanya. Ia sungguh beruntung memiliki sahabat seperti Alena. Perusahaan JYS Crop itu jauh lebih besar dibandingkan perusahaan keluarga Valeri, dan Valeri di minta untuk berinteraksi langsung dengan CEOnya? Sungguh kesempatan emas. Dia bisa mencari banyak pengalaman, agar setidaknya ia layak bekerja di perusahaan Daddynya. "Bagaimana? Lo tertarik?"Alena menatap Valeri dengan tatapan memohon. Well, entah kenapa Alena kasihan sekali dengan kakaknya itu. Ia takut Jason akan kelelahan karena bekerja sendiri, dan Valeri tampaknya adalah pilihan yang tepat. Bahkan Alena tak masalah sama sekali kalaupun kakaknya itu nanti jatuh cinta pada Valeri. Meski hal itu sedikit tak mungkin sih ... Valeri hanya terdiam untuk beberapa saat membuat Alena kebinggungan karnanya., "Valeri?"Alexa mengibas-ngibaskan tangannya didepan Valeri, menunggu respon dari gadis itu. "Ah, iya, apa?" tanya Valeri gelagapan. Otaknya terlalu banyak memikirkan kelebihan dan kekurangan bekerja di JYS dan setelah memikirkan semuanya masak-masak, Valeri memutuskan unutk menerima tawaran Alena. Alena tersenyum kecil, "Jadi lo mau atau enggak?" tanya Alena lagi. "Tentu saja gue mau!" pekik Valeri antusias. Alena tersenyum lebar, "Thanks, gue harap lo bisa bantu kak Jason." "Gue yang seharusnya berterimakasih., lo sudah bantu gue dapet kerjaan, Na. Tapi apa dia bakal menerima gue?" tanya Valeri ragu Alena mengangguk, "Gue akan bujuk dia, dan dia pasti mau tenang aja. Gue bakal jelaskan tugas lo di telepon nanti. Oh ya nomor lo berapa?" tanya Alena. Valeri mengeluarkan ponselnya dan memberikannya pada Alena. "Ini nomor gue, hubungi gue ya," ucap Alena setelah memberi nomornya. Valeri mengangguk mengerti. Alena melirik jam tangannya dan terbelak, "Oh astaga sudah sore, gue harus pulang. Lo pulang naik apa? Apa mau gue antar?" tanya Alena. Valeri menggeleng, "Gak apa, gue bawa mobil," Alena berdiri dan mengambil seluruh belanjaannya yang daritadi diletakan dilantai, "Yasudah gue pulang dulu ya, bye!!" Valeri mengangguk, "Oke, dadah!" *** Alunan lagu Attention yang dinyanyikan Charlie puth membuat Valeri tersadar. Ternyata daritadi dia benggong karna tak tahu harus mengerjakan apa. Rasanya Jason belum memberinya perintah apa-apa sedari tadi. Valeri mencari hpnya yang terus berbunyi itu dan akhirnya menemukannya di bawah lantai. Ia mengambil hpnya dengan susah payah dan mengernyit saat melihat penelepon itu. Unknown Dengan ragu, Valeri menekan tombol hijau itu, Yah, sebenarnya ia tak mau mengangkatnya, hanya saja ia takut kalau panggilan itu panggilan darurat. "Halo?" sahut Valeri pelan. "...." "Halo?" ucap Valeri lagi. "...." Baiklah Valeri mulai kesal sekarang, "Halo!" bentaknya dengan nada tinggi. "Ah kau sudah kesal ya sayang?" ucap seorang lelaki dengan nada tak asing. "G-george?" tanya Valeri ragu. Suara ini begitu familier di telinga Valeri, suara dari seorang lelaki yang pernah mengisi hari-harinya, dulu. "Kau mengingat suaraku? Ah! Aku terharu, sayang. Aku tahu kau pasti memang merindukanku," ucap George dengan nada percaya diri membuat Valeri merinding sendiri karenanya. "Bukannya kau ada di penjara?" tanya Valeri takut-takut. Yah, lelaki ini memang seharusnya berada di penjara, tapi entahlah, Valeri tak ingat berapa lama masa tahanannya. Atau jangan-jangan, dia sudah bebas? George tertawa terbahak-bahak mendengar perkataan Valeri yang sangat konyol di telinganya, "Apa? Penjara? Penjara katamu?" ucap George sambil tertawa. "Kau tak perlu khawatir sayang, aku sudah keluar dari tempat memuakkan itu. Aku akan segera menemuimu." Valeri membelak,"Tidak usah!" teriaknya refleks. "Hahahahaha, kenapa tidak sayang? Apa kau takut?" tanya George dengan nada lembut namun sedetik lelaki itu terdiam. "KAU TAKUT PADAKU SETELAH KAU MENJEBLOSKANKU KE PENJARA? IYA?" bentak George tiba-tiba, lalu kemudian lelaki itu tertawa lagi.. "Ah~ Kau tak tinggal di mansionmu lagi ya sayang? Jadi sekarang dimana kau tinggal?" tanya George lagi. Pertanyaan yang paling mengerikan seumur hidup Valeri. Sial, lelaki sinting yang terobsesi padanya, George ... telah kembali. Dia kembali untuk mencari Valeri, ya, pasti begitu. Valeri yakin lelaki itu dendam padanya. "Ba-bagaimana kau tahu?" tanya Valeri sedikit tergagap. "Tentu saja aku tahu, aku kan pacarmu," ucap George lagi. "Aku bukan pacarmu George," ucap Valeri dengan penekanan meski takut. "Ahahahhaa, aku pacarmu Valeri sadarlah, dan aku akan segera menemukanmu!" teriak George lagi sebelum mematikan sambungan teleponnya. "Halo? Halo! Tidak! George!! Ah sialan!" umpat Valeri kesal. Ia mengacak rambutnya frustasi karena lelaki ini mungkin akan menemukannya ... lagi. "Apa yang kau lakukan?" tanya Jason yang sudah berdiri didepan Valeri entah kapan. Valeri tersentak. Apa Jason mendengar percakapannya? "Ah, apa ada yang perlu saya bantu?" ucap Valeri refleks berdiri. Ia merapikan rambutnya dengan cepat meski Jason saat ini tengah sibuk dengan handphonenya dan tak lagi memandanginya. "Aku kan punya jadwal pertemuan jam 2, kau lupa?" tanya Jason tanpa mengalihkan pandangan. Valeri gelagapan mendengar ucapan Jason, jujur saja ia memang lupa, "Ahh tidak mungkin saya lupa," elak Valeri. Jason menatap Valeri sambil menaikan alisnya, "Oh begitu?" tanyanya seakan tak percaya. "Eh?Iya," balas Valeri binggung. "Panggil aku dengan aku-kau saja. Aku tak suka dengan sebutan saya. Itu terlalu formal. Dan jangan panggil aku Pak, aku benci itu," ucap Jason sebelum meninggalkan Valeri yang kebingungan. "Apa sih cowok itu?" gumam Valeri sambil mencari berkas untuk keperluan pertemuan lalu berlari menyusul Jason yang telah jauh. ***                    
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD