“Hei, Helva. Hentikan!” Bartender yang waktu itu berteriak pada Helva yang terus mengangkat gelasnya, menghabiskan cairan itu walaupun dia tahu kapasitas alkohol yang masuk lewat mulutnya itu tidak akan bisa membuat kesadarannya bertahan lama. Tapi, Helva seakan tuli. Dia tidak peduli sekalipun harus tepar di sana. Dia hanya ingin meluapkan segalanya. “Jangan hentikan aku!” Helva meracau ketika temannya itu menahan paksa gelas yang berisi alkohol itu. “Helva!” Gyuri, bartender itu menahan gelasnya lagi tapi Helva menepisnya kuat. Entah berapa gelas yang sudah tandas. Herannya, Helva masih bisa minum padahal biasanya segelas sloki saja dia sudah tak kuat. “Helva!” Gyuri tampak putus asa, cemas sekali dengan temannya itu. Dia tahu Helva mengalami hari yang buruk. Tapi biasanya dia

