Tangan kokoh itu sigap menahan Helva yang limbung. Gadis itu menangis. “Kenapa?” Daniel bertanya lembut, menyibak rambut yang menutupi wajah Helva. “Ayo pulang, Dan,” ucapnya. “Oke.” Daniel lantas mengangkat Helva ke gendongannya ala bridal. Dia melirik Gyuri. “Terima kasih,” ucapnya pelan tanpa menjelaskan alasannya lama. Andai saja Daniel tidak datang, Helva mungkin sudah ada dalam kungkungan Milo. Bagaimanapun juga, Gyuri pasti akan kalah tapi syukurlah pria itu datang tepat waktu. Sebelum berlalu dari sana, Daniel sempat melayangkan tatapan tajam pada Milo yang bergeming di tempatnya. Helva tak mengatakan apa-apa, hanya diam sepanjang jalan menuju apartemen Daniel, bahkan ketika sampai pun gadis itu tetap diam. Sepertinya, rasa sakit yang menggores permukaan kulit lututnya cu

