“Pagi,” sapa Alby yang baru tiba. Helva mendongakkan kepalanya dan tersenyum mendapati pria itu. Di belakangnya ada Daniel. “Helva, masuk,” ujarnya tegas tak terbantahkan dan memasuki ruangannya lebih dulu. Menatap Alby, tapi pria itu hanya mengedikkan bahunya. Tidak tahu apa-apa juga dengan sikap sang bos. Tapi berhubung mood Helva sedang baik, dia akhirnya memilih menuruti Daniel saja dan masuk ke ruangan sang CEO. “Direktur ada perlu?” tanyanya. Daniel membalik badannya. Menghampiri Helva lalu dengan gerakan cepat, dia meraup bibir gadis itu. Satu tangannya menahan tengkuk Helva, satunya lagi diam-diam mengunci pintu tanpa disadari oleh Helva tentunya. “Uh! Apa yang kau lakukan?” Helva nyaris berteriak setelah mendorong tubuh Daniel sekuat tenaga. “Menciummu. Apa lagi?” D

