LANJUTAN 38

1119 Words
Krisna dan keluarga perlahan tapi pasti mulai memasuki area perkotaan, tepat saat itu sudah menunjukkan waktu tengah malam, di dalam Bis pun hanya ada beberapa orang yang duduk di dalam bis itu, keadaan saat itu pun sangat sunyi, yang terdengar hanya suara alunan nyanyian dari radio yang di putar oleh Supir, Krisna melihat Ki Amin dan Pak Dadang sedang tertidur, di sebelahnya Bu Eni pun melakukan hal yang sama.   “ Nyenyak sekali mereka.” Ujar Krisna sambil tersenyum.   Krisna pun menarik nafas panjang, dan mencoba untuk tidur, perjalanan pun akan mereka lewati sekitar 4 jam, Krisna mencoba memejamkan mata, tapi suara – suara aneh mulai terdengar, suara ketukan – ketukan di kaca pun mulai terdengar samar.   “ Suara apa itu.” Ujar Krisna.   Krisna menoleh ke kursi bagian belakang, tapi sosok yang awalnya ikut dengan mereka tiba – tiba hilang, Krisna merasa lega sebab sudah tidak di ikuti makhluk itu, tapi Krisna salah besar, makhluk itu kini semakin menjadi – jadi dan mulai mengganggu Krisna di mulai dengan suara – suara aneh, hingga gangguan – gangguan fisik.   “ Suara apa lagi, mengganggu saja.” Ujar Krisna marah sambil melihat ke kanan dan ke kiri.   “ Pasti makhluk itu.” Ujar Krisna memejamkan mata dan berusaha acuh.   Terkejut Krisna mendapati jaket yang Ia simpan di pinggir kursi tiba – tiba terjatuh ke bawah, Krisna mengambil jaketnya itu , hatinya seketika ingin menengok ke arah kaca bagian kiri, dan akhirnya Krisna sangat terkejut, sosok itu terlihat sangat marah, dan hanya memandang mereka, penumpang yang lain pun tidak menyadari, hanya Krisna saja yang tahu dengan sosok itu.   Krisna pun akhirnya menutupi wajahnya dengan jaket yang ia pegang, sembari memanjatkan doa – doa agar bisa mengusir sosok itu, tubuhnya gemetar, hal itu membuat Bu Eni terbangun dari tidur lelapnya.   “ Kris kamu kenapa?” Tanya Bu Eni.   Krisna tidak menjawab.   Bu Eni seketika langsung menarik jaket Krisna dan langsung menanyakan keadaannya.   “ Kamu kenapa Kris, mabuk?” Tanya Bu Eni.   “ Bukan Bu, Krisna hanya kedinginan .” Ujar Krisna berbohong.   “ Matikan saja pendinginnya.” Ujar Bu Eni.   “ Ia Bu, Ibu lanjut tidur saja, masih lama sampainya, lumayan untuk tidur , jadi saat sampai di sana Ibu Segar bugar.” Ujar Krisna.   “ Ya sudah Kamu juga tidur, jangan begadang terus.” Ujar Bu Eni.   Krisna berusaha untuk terus menutupi setiap kejadian aneh di perjalanan mereka, Krisna tidak ingin membuat Bu Eni cemas, tapi ternyata bukan hanya Krisna yang menyadari kehadiran makhluk itu, Ki amin yang terbangun pun menyadarinya, Dia memaksakan diri untuk berbicara terhadap Krisna dan mewanti – wanti krisna agar tetap terjaga dan jangan sampai tertidur.   “ Kris, jangan sampai tidur, jika kamu tidur, kamu akan susah terbangun.” Ujar Ki Amin berbicara dengan sangat lambat dan suara berat.   " Memangnya kenapa Kek?" Tanya Krisna.   " Ada yang mengincarmu, ikuti kata Kakek.” Ujar Ki Amin dengan suara sangat berat.   Krisna mendengar arahan dari Ki Amin dan menurutinya, Krisna sangat sedih melihat kondisi ki Amin yang sangat lemah, untuk berbicara sepatah kata saja sepertinya membutuhkan tenaga yang sangat besar.   “ Kek, sabar ya, Krisna akan berusaha mencari cara agar Kakek sembuh.” Ujar Krisna.   Krisna pun kembali terduduk dan mempersiapkan dirinya untuk lebih kuat menerima godaan dari sosok itu, Krisna tidak sedikit pun memejamkan matanya dan terus fokus melihat ke arah sekitar, waktu terus berjalan , hingga akhirnya rasa lelahnya sudah sangat tidak tertahankan.   Krisna pun akhirnya tertidur, sosok itu pun tersenyum melihat Krisna tertidur, tapi sangat beruntungnya Krisna saat dia tertidur, tiba – tiba bis berhenti mendadak, dan membuat Krisna dan seluruh penumpang terbangun, Krisna melihat jam di tangannya.   “ Apa Aku tertidur, Sudah jam 3 juga, untung saja Aku terbangun, jika tidak , Aku tidak tahu harus berbuat apa.” Ujar Krisna.   Krisna melihat ke arah depan, dan melihat Supir yang sepertinya terkejut dengan sesuatu, Krisna menghampiri Supir, dan ternyata Supir itu pun tidak luput dari gangguan.   “ Kenapa berhenti.” Ujar Krisna sambil berjalan ke depan menuju Supir.   Dan begitu terkejutnya Krisna melihat di depan Bis, sosok itu sedang berdiri membelakangi bis itu, supir pun terus saja memberikan tanda berupa klakson secara terus menerus, Krisna pun tetap berdiri dekat dengan supir, dan ketika supir bis membunyikan klakson dengan sangat panjang, langsung saja sosok itu terbang, supir itu pun sepetinya tidak percaya dengan apa yang di lihatnya, Supir itu pun sepertinya panik dan menginjak pedal gas secara cepat, hingga membuat seluruh penumpang panik.   Krisna pun berusaha menenangkan supir itu.   “ Bang, sabar, jangan terlalu cepat nanti celaka.” Ujar krisna.   Tapi sayangnya supir itu seperti tidak menghiraukan Krisna dan terus melaju dengan kecepatan tinggi.   Krisna pun terpaksa menampar supir itu.   “ Bang,” sambil menampar supir bis. “ Sadar pelan saja, jika celaka bagaimana, pikir, banyak nyawa di sini yang di pertaruhkan.” Ujar Krisna marah.   Supir itu pun hanya terdiam dan mulai melambatkan laju kendaraannya, Krisna pun akhirnya diam di depan dekat dengan supir, hingga akhirnya perjalanan mereka pun sampai di terminal, Krisna pun membangun kan Bu Eni, Ki Amin dan Pak Dadang.   “ Pak, Bu, sudah sampai, Ayo turun.” Ujar Krisna.   Mereka pun turun perlahan , Ki Amin pun di tuntun perlahan turun dari bis, saat itu langit masih gelap, tapi sudah terdengar suara adzan yang menandakan jika saat itu sudah masuk waktu pagi.   “ Pak , Bu sebaiknya kita beribadah dulu, sambil nunggu matahari naik.” Ujar Krisna.   “ Bapak sama Kakek tunggu saja di sini, kasihan Kakekmu tidak bisa berjalan jauh.” Ujar Pak Dadang ketus.   Krisna sedikit kecewa dengan Pak Dadang, dan memutuskan untuk pergi dengan Ibu Eni, Krisna merasa Pak Dadang sudah sangat di racuni pikirannya oleh pak Sugeng, semua perbuatan Pak Dadang seperti sudah sangat di atur oleh pak Sugeng, Krisna harus perlahan membuat Pak Dadang kembali ke jalan yang benar, dan mencari solusi agar Pak Dadang tidak selalu ketergantungan dengan Pak Sugeng.   Dalam doanya Krisna meminta agar hati Pak Dadang lebih terbuka dan menerima semua masukan dari Krisna, Pak Dadang dari awal memang sudah sangat angkuh, di tambah pengaruh pak Sugeng, pak Dadang kini lebih sulit untuk menerima masukan – masukan yang baik, dan hanya mementingkan urusannya dengan Pak Sugeng, entah apa yang di janjikan Pak Sugeng, sehingga membuat Pak Dadang sangat begitu terikat dengan Pak Sugeng.   Setelah selesai sembahyang, Krisna begitu sangat sedih, melihat Pak Dadang yang sangat menyayangi Ki Amin, umur Ki Amin memang sudah sangat tua, tapi Pak Dadang sangat menginginkan jika Ki Amin hidup lebih lama.   Pak Dadang terus membelai kepala Ki Amin, keringatnya terus di basuh dengan lap, wajah lelah Pak Dadang pun begitu tergambar dengan jelas, mata Krisna perlahan – lahan mulai meneteskan air mata, Krisna sangat menyayangi seluruh keluarganya dan terus bertekad agar bisa membawa keluarganya keluar dari belenggu makhluk itu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD