LANJUTAN 37

1791 Words
Krisna saat itu merasa dirinya seperti bukan di rumah, suasana yang asing di tambah dengan lingkungan yang sangat berbeda membuat Krisna sedikit kurang nyaman, keadaan rumah pun seperti tidak terurus, Rumah Krisna saat itu sangat dingin dan lembap, debu di mana – mana, dan lantai seperti banyak tanah beserta pasir halus, Tapi sayangnya Bu Eni seperti tidak menyadari hal itu.   Bu Eni adalah orang yang sangat rewel terhadap kebersihan, biasanya setiap hari Bu Eni selalu membersihkan rumah dengan sangat telaten, hal itu besar kecilnya menjadikan pertanyaan untuk Krisna, dengan Gelagat Bu Eni yang seperti biasa dengan keadaan rumah saat itu.   “ Bu, bisa ke ruang tamu sebentar.” Sahut Krisna.   “ Kenapa Kris, ini Ibu Lagi buat minum.” Ujar Bu Eni.   “ Jangan Bu, nanti Krisna ambil sendiri saja, Krisna bukan tamu Bu.” Sahut Krisna.   “ Ia memang bukan, tapi kan Kamu cape, sudah duduk, terus minum.” Ujar Bu Eni Sambil memberikan Krisna minuman.   “ kenapa Kris?” Tanya Ibu Eni.   “ Ibu selama ini merasakan ada yang aneh gak?’’ Tanya Krisna.   “ Aneh?, Maksudnya?” Tanya Bu Eni.   “ Ia Bu, Ibu tidak merasa jika suasana di sini jadi pengap, banyak debu, dan banyak tanah dan pasir berserakan.” Ujar Krisna.   “ Oh, Ibu juga aneh Kris, setiap hari ibu bersihkan, tapi setiap subuh dan Ibu keluar kamar pasti saja kondisi di seluruh rumah seperti ini.” Ujar Bu Eni.   “ Ada apa ya Bu?” Tanya Krisna.   “ Ibu juga kurang tahu Kris, ya sudah tunggu sebentar, Ibu bersihkan dulu.” Ujar Bu Eni.   “ Sudah jangan Bu, Ibu istirahat saja, biar Krisna saja yang sapu, Ibu Jangan cape- cape.” Ujar Krisna.   Krisna langsung ke dapur mengambil sapu, di saat itu juga Krisna merasa ada sosok yang memperhatikannya, Krisna hanya terdiam dan terpaku melihat sosok itu, Krisna bergegas mengambil mengambi sapu dan segera pergi dan berpura pura seakan tidak melihatnya.   “  Kenapa jadi banyak sekali makhluk di sini, dulu saat Aku kecil gak pernah ada hal yang seperti ini.” Ujar Krisna menggerutu.   “ kenapa lama sekali Kris?” Tanya Bu Eni.   “ Ia Bu, Krisna terlalu lama tidak pulang, jadi saja posisi tempat sapu di simpan lupa.” Ujar Krisna berbohong.   “ ya Sudah Ibu mau masak dulu ya, kalau sudah sapu – sapunya langsung istirahat.” Ujar Bu Eni sambil meninggalkan Krisna.   “ ia Bu.” Ujar Krisna.   Krisna membersihkan setiap sudut rumah, setiap ruangan sampai ke teras rumah, dan saat itu pula Krisna melihat jika Pak Dadang pulang di temani Pak Sugeng, seketika Pula Krisna masuk ke dalam dan bersembunyi di kamarnya sambil membuka pintu kamar, agar bisa sambil mendengarkan pembicaraan Pak Dadang dan Pak Sugeng.   “ Kita Ngobrol di dalam Pak.” Ujar Pak Dadang kepada pak Sugeng.   “ Sudah di sini saja.” Ujar Pak Sugeng.   “ Bu, Ibu, Minta minum.” Sahut Pak Dadang kepada Bu Eni.   “ Ia Pak sebentar.” Sahut balas Bu Eni.   Bu Eni langsung menyiapkan dua cangkir teh panas dan mengantarkannya ke luar, saat Bu Eni melewati Kamar Krisna, Krisna langsung memanggil Bu Eni.   “ Bu, sebentar.” Ujar Krisna.   “ Kenapa Lagi Kris?” Tanya Bu Eni sambil membawa nampan berisi minuman.   “ Bu jangan bilang Krisna di sini ya.” Ujar Krisna berbisik.   “ Memangnya kenapa?” Tanya Bu Eni.   “ Gak Papa Bu, Krisna mau buat kejutan saja untuk Bapak.” Ujar Krisna.   “ Ya sudah, Ibu ke Depan dulu.” Ujar Bu Eni sambil meninggalkan Krisna.   Krisna terus memperhatikan pembicaraan pak Dadang dan Pak Sugeng.   “ Dang, bagaimana anak angkatmu Itu, apa Kamu sudah membuatnya tersesat di hutan?” Tanya Pak Sugeng.   “ Ijam?, dia sudah tidak ada di kampung ini.” Ujar Pak Dadang sambil menundukkan wajahnya.   “ Bagus Dang, Biar dia tahu rasa, Dia harus tahu sedang berurusan dengan siapa.” Ujar Pak Sugeng.   “ Ia Pak, Tapi bagaimana Obat yang Bapak janjikan untuk kesembuhan Ki Amin.” Ujar Pak Dadang.   “ Obat itu akan ku berikan jika semua pekerjaanmu sudah selesai.” Ujar Pak Sugeng.   “ Memangnya belum selesai Pak?” Tanya Pak Dadang.   “ Masih, satu persatu warga di sini sudah mulai berubah, sudah sulit di pengaruhi lagi, gara – gara kedatangan anak angkatmu si Ijam itu, tapi Aku tidak habis akal, Aku ada rencana untuk menghancurkan usaha mereka, agar mereka kembali membutuhkan seorang Pak Sugeng.” Ujar Pak Sugeng.   Pak Dadang hanya terdiam, tidak mengiakan, tidak juga menolak.   “ Aku tidak suka jika ada orang yang menghalangi pekerjaanku, jadi sebaiknya Kita harus lebih jeli, jangan sampai kita kecolongan lagi.” Ujar pak Sugeng.   “ Ia Pak.’’ Ujar Pak Dadang.   “ Ya sudah sampaikan salamku untuk Ki Amin, Ingat Selesaikan pekerjaanmu jika ingin Bapak Mu sembuh.” Ujar Pak Sugeng sambil meninggalkan Pak Dadang.   Pak Dadang menarik nafas panjang, dan menggelengkan kepalanya, tangannya tidak lepas dari kepala, menandakan Jika Pak Dadang sedang terintimidasi oleh Pak Sugeng. Terlihat wajah lelah bercampur beban pikiran yang sedang di rasakan oleh Pak Dadang, Krisna melihat semua keangkuhan Pak Sugeng, dendam terhadap Pak Sugeng yang telah memperlakukan Pak Dadang seperti b***k semakin menggebu, rasa marah yang di rasakan Krisna tidak bisa terlampiaskan.   Sesekali Krisna menarik nafas yang dalam, hingga tidak terasa air mata Krisna menetes perlahan, Dalam hati Krisna terbesit untuk segera pergi dan meninggalkan kampung.   “ sebaknya Aku segera membawa mereka keluar dari kampung ini.” Ujar krisna.   Krisna tanpa pikir panjang langsung menemui Pak Dadang yang masih duduk di teras rumah.   “ Pak.” Ujar Krisna dari belakang sambil duduk di samping pak Dadang.   “ Krisna.” Ujar Pak Dadang terkejut.   “ Ia Pak, Krisna baru sampai tadi.” Ujar Krisna.   “ kamu Kenapa di sini.” Ujar Pak Dadang sambil menoleh membalikkan wajahnya dari Krisna.   “ Tolong lah Pak, jangan seperti ini terus, Krisna ke sini ingin membawa Ki Amin berobat, membawa Bapak sama ibu ke kota.” Ujar Krisna.   “ Tidak Usah, di sini Ada Pak Sugeng yang akan mengobati Ki Amin.” Ujar Pak Dadang.   “ Kapan Pak, Bapak masih percaya dengan orang seperti itu.” Ujar Krisna.   “ Bapak ini aneh, dari dulu bersikap seperti ini kepada Krisna kenapa?, Krisna ini anak Bapak, Dari dulu Bapak tidak pernah percaya terhadap Krisna, selalu melarang hal – hal yang Krisna suka, Dan lebih percaya terhadap orang lain dari pada diri sendiri.” Ujar Krisna marah.   “ Memang hal yang kamu suka itu di larang oleh Pak Sugeng.” Ujar Pak Dadang.   “ Pak Sugeng lagi, memangnya dia siapa?, Bapak semenjak dekat dengan orang itu selalu berperilaku seperti ini, dan menjadi jauh dengan sang pencipta, Memangnya Bapak dapat apa dari Dia?” Tanya Krisna.   “ Dia dulu yang membantu Bapak membiayai sekolahmu, Apa kamu tidak berpikir ke sana, Dia banyak berjasa untuk keluarga kita.” Ujar Pak Dadang.   “ berjasa dari mananya Pak?, jika dia berjasa mungkin ki Amin juga sudah di obati, itu pun jika Dia bisa, buktinya mana, Dia hanya memanfaatkan Bapak, apa Bapak tidak sadar selama ini hanya di manfaatkan, dan di jadikan pesuruh.” Ujar Krisna.   “ Krisna sakit hati Pak, keluarga Krisna menjadi seperti ini, Pokoknya Mau tidak Mau, Bapak dan semuanya harus ikut ke kota bersama Krisna.” Ujar Krisna.   “ Jika Kamu mau tinggal di kota, tinggal lah sendiri, jangan ajak – ajak Ibu mu apa lagi Kakekmu, karena Bapak tidak akan mengizinkan mereka keluar satu langkah pun.” Ujar Pak Dadang.   “ Bapak benar – benar sudah di racuni oleh orang Itu sampai tega membuat Ijam hilang di hutan.” Ujar Krisna.   “ siapa yang kau sebut tega, Bapak melakukan semua ini demi kalian, demi keselamatan kalian, dan harus Kamu tahu, Bapak juga terpaksa.” Ujar Pak Dadang sambil menundukkan kepalanya pertanda penyesalan.   “ Keselamatan apanya Pak?, Apa Ijam yang tersesat di hutan itu di sebut selamat, Apa karena Ijam itu bukan anak kandung Bapak, jadi Bapak merasa telah menyelamatkan Kami.” Ujar Krisna.   Pak Dadang hanya tertunduk hingga meneteskan air Mata.   “ harusnya Bapak berpikir logis, jangan mementingkan pak Sugeng terus, Apa Bapak mau bertanggung jawab atas hilangnya Ijam, hati nurani Bapak di Mana?, hati Bapak sudah tertutup , tidak bisa membedakan mana yang baik dan buruk.” Ujar Krisna.   “ Bapak juga menyesal Kris.” Ujar Pak Dadang sambil tertunduk.   “ Lalu Sekarang bagaimana?, Bapak sudah Puas, Ijam sudah tidak ada, Krisna pulang pun seakan di usir, kalau itu yang Bapak Mau, sekalian saja Krisna Bapak ajak ke hutan terus Bapak tinggalkan Krisna di sana, Jadi bapak pun tidak punya anak.” Ujar Krisna.   “ Sudah, sudah, kamu ingin membuat Bapak stres.” Ujar Pak Dadang.   “ Krisna hanya ingin membuat Bapak sadar, pikirkan ini pak, Ijam sekarang sudah tidak ada, lalu aPa yang akan Bapak lakukan.” Ujar Krisna.   “ Bapak menyesal, Bapak sudah menganggap Ijam anak sendiri dari dulu.” Ujar Pak Dadang.   “ Tolong lah pak, sekali ini saja Ikuti perkataan Krisna, Krisna ingin Ki Amin sembuh, Jadi tolong untuk sekali ini Ikut Krisna Ke kota, Kita obati Ki Amin di sana, Kita Berangkat malam, jangan sampai ada orang yang tahu.” Ujar Krisna.   “ Lalu jika Kita di sana, Di sini bagai mana, banyak orang yang mempertanyakan kepergian Kita." Ujar Pak Dadang.   “ Jadi Bapak Mau ikut?” Tanya Krisna tegas.   “ Ia Kris, Untuk sekali ini Bapak Ikut, maafkan Semua kesalahan Bapak.” Ujar Pak Dadang.   “ Syukurlah, sudah pak Krisna juga minta maaf, yang penting kita pergi dulu dari sini, dan jangan sampai orang lain tahu.” Ujar Krisna.   “ ya sudah, Kita pergi tengah malam saja, nanti lampu rumah jangan di hidupkan, dan jendela kamar Bapak Akan Bapak buka, biar warga tidak banyak curiga, dan menganggap kita ada di rumah.” Ujar Pak Dadang.   “ tapi lama- lama Banyak warga yang datang ke rumah.” Ujar Krisna.   “ Biarkan saja, mudah – mudahan warga tidak terlalu cepat curiga, dan semoga saja Ki Amin cepat sembuh, agar kita juga bisa cepat kembali.” Ujar Pak Dadang.   “ ya Sudah, Krisna Ikut rencana Bapak.” Ujar Krisna.   Krisna dan seluruh keluarga Pak Dadang termasuk Ki Amin bersiap dengan membawa koper pakaian, dan keperluan yang cukup untuk tinggal di kota, hingga akhirnya malam pun tiba, mereka semua mengendap – endap melewati kebun untuk menuju ke jalan raya, Ki Amin di gendong oleh Krisna di punggungnya, sedangkan Pak Dadang sebagai penunjuk jalan.   Perjalan mereka pun bisa di bilang lancar, tidak ada satu pun warga yang melihat kepergian mereka, dan saat di bis pun, semuanya tampak normal, Krisna merasa lega dengan keadaan saat itu, Krisna merasa rencananya untuk membawa Pak Dadang berhasil, tapi saat Krisna menoreh ke belakang bis, sosok yang ada di sekitar rumah Pak Dadang pun ternyata ikut dan duduk di kursi belakang bis yang kosong, Krisna pun terkejut tapi Dia tidak bisa apa – apa dan berusaha acuh dan tetap fokus pada perjalanannya.  
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD