LANJUTAN 36

1319 Words
Tepat saat itu waktu sudah menunjukkan jam 12 siang, tapi cuaca pun belum menandakan akan cerah, hujan pun semakin lebat, begitu juga dengan listrik yang asih belum menyala, yang tersisa di ruang tamu hanya Krisna , Bram dan Ijam.   Pak Yaya saat itu memutuskan untuk pergi ke toko , memaksakan diri melewati hujan gerimis yang cukup deras, sedangkan yuda pergi ke kantor untuk mengusut permasalahan yang meliputi karier Krisna.   “ Kris, kenapa kau tidak langsung masuk kerja saja?” Tanya Bram.   “ Aku Ijin dulu Bang, Aku mau membawa seluruh keluarga ku ke kota.” Ujar Krisna.   “ Kenapa sampai di bawa ke sini segala Kris, bukannya di kampung itu lebih nyaman.” Ujar Bram.   “ Keluarga Krisna mau berlibur Bang, mereka ingin tahu kota itu seperti apa.” Ujar Ijam.   “ Ia Bang, terutama kakek ku , yang ingin melihat gedung – gedung tinggi katanya.” Ujar Krisna berbohong.   “ ya sudah lah, bagus , sekalian mereka berlibur juga kan, biar tidak jenuh, hanya melihat sawah saja.” Ujar Bram.   “ Kenapa Abang tidak kembali bekerja?” Tanya Ijam.   “ Malas Aku, Kerja sendiri, ini nih kawanmu si Krisna, lama sekali mau masuk kerja juga, makan gaji buta Dia.” Ujar Bram.   “ ya kan bukan salahku Bang, Suruh siapa Aku sakit.” Ujar Krisna.   “ Aku mau tanya satu hal padamu Kris.” Ujar Bram.   “ Tanya apa Bang?” Tanya Krisna.   “ Akhir – akhir ini Kau itu seperti sering melihat ke sudut yang gak jelas, seperti melihat sesuatu, dan kadang gelagatmu menjadi aneh.” Ujar Bram.   “ Gak Papa Bang, Aku hanya melamun saja, jadi pandanganku kosong Bang.” Ujar Krisna.   “ jangan sering – sering Kau melamun, yang ada nanti kau sakit lagi.” Ujar Bram.   Perbincangan mereka sepertinya menjadi hal yang menarik untuk sosok itu, setiap mereka berbincang pasti sosok itu kembali muncul dengan tiba – tiba, hanya Krisna yang bisa melihatnya, Krisna pun sangat sudah terbiasa dengan makhluk itu, sehingga baginya makhluk itu sudah tidak ada dan tidak menyeramkan lagi.   Hingga akhirnya listrik pun menyala, Bram pun sempat tertidur di kursi ruang tengah di antara perbincangan mereka, Ijam dan Krisna meninggalkan Bram yang tertidur lelap, dan berpindah tempat duduk ke area depan sambil menatap hujan yang tidak kunjung berhenti.   “ Jam, besok Aku akan ke kampung menjemput Bapak dan semuanya, Aku minta Kamu untuk tinggal dulu di rumah Bram jika merek sudah ada di sini, Aku takut pak Dadang melihat Kamu dan rencana kita menjadi gagal.” Ujar Krisna.   “ Ia Kris, Aku ikut bagusnya saja seperti apa, Soalnya jika Aku di sini , nanti yang ada Pak Dadang malah marah.” Ujar Ijam.   Terdengar suara geraman dari dalam rumah, mereka masuk ke dalam, dan melihat Bram seperti kesulitan untuk membalikkan badan, Bram berbagai cara sudah coba untuk di bangunkan, mulai dari di percik dengan air, lalu di tepuk – tepuk pundak dan seluruh badannya, tapi Bram tanpa respon, Hingga akhirnya Ijam menyadari ada yang aneh, Ijam pun membacakan beberapa doa, dan langsung seketika Bram terbangun.   “ Bang kenapa?” Tanya Krisna.   “ Aku Kenapa Kris, bajuku basah begini.” Ujar Bram.   “ Abang ini sepertinya mimpi buruk, tidurnya lupa berdoa ya jadinya seperti itu.” Ujar Ijam.   “ ia memang aku mimpi seperti di ikat oleh tali api, sehingga aku tidak bisa bergerak.” Ujar Bram.   “ Lain kali jangan lupa berdoa saja Bang.” Ujar Krisna.   “ Ia Ia Pak Guru, Aku ikut di kamar kau ya Kris, Aku mengantuk sekali ini.” Ujar Bram sambil meninggalkan Ijam dan Krisna.   Krisna dan Ijam pun melanjutkan pembicaraannya hingga tidak terasa waktu sudah masuk sore menjelang malam.   Ke esokan harinya Krisna pun pergi dengan kendaraan bis seperti biasanya , Krisna berangkat sangat pagi, dan akhirnya sampai dengan selamat pada pukul 10 siang.   Kondisi di kampung pun memang sedikit berubah, dengan adanya arahan dan pengaruh dari Krisna, suasana di kampung kembali ramai, berbeda pada saat Krisna datang ke kampung untuk menjenguk Ki Amin.   Warga terlihat sangat sibuk, hingga tidak menyadari jika Krisna pulang, Krisna terus berjalan menyusuri jalan, dan terlihat ladang milik pak Dadang yang kini berubah menjadi tempat pembakaran gerabah, Krisna sangat bangga terhadap Ijam, yang bisa menyulap kampung yang awalnya gersang hingga akhirnya bisa kembali menggeliat dalam segi ekonomi.   Memang Ijam memiliki kemampuan untuk hal ini, sehingga sayang rasanya bakat yang di miliki Ijam , harus terhalang dengan adanya orang angkuh dan jahat seperti pak Sugeng.   Dari kejauhan terlihat Pak Dadang yang sedang mengangkut beberapa Kayu untuk di bakar, Rasa Iba nya mulai terasa, tubuh nya kini sudah renta, keriput kulitnya pun sudah mulai terlihat jelas, di tambah dengan rambut yang sudah beruban, hati Krisna merasa sedikit sedih, bukan tanpa sebab, Krisna merasa dirinya belum bisa membahagiakan kedua orang tuanya, yang dulu sudah bekerja keras tanpa henti untuk mengurus dan menyekolahkan Krisna.   Tapi saat Krisna ingin mendekati Pak Dadang sambil tersenyum, tiba – tiba raut wajahnya kembali datar ketika melihat Pak Sugeng yang datang menghampiri Pak Dadang terlebih dahulu.   “ Orang Itu ternyata masih berhubungan dengan Bapak.” Ujar Krisna.   “ Aku Harus segera membawa Bapak ke kota.” Ujar Krisna sambil pergi menuju rumahnya langsung .   Sesampainya di rumah, Krisna measakan hal yang snagat berbeda, di sana Krisna melihat banyak sekali sosok yang sedang mengepung rumah Krisna, terutama Di Kamar ki Amin.   “ Bu, Ibu , ini Krisna Bu.” Sahut Krisna dari luar.   Tidak ada jawaban dari dalam rumah, Krisna masuk ke dalam , dan melihat Ibu Eni sedang berada di dapur sedang memotong bawang.   “ Bu, kenapa Ibu menangis?’ Tanya Krisna.   “ Krisna?” Jawa Ibu Eni sambil menoleh ke belakang.   “ Ia Bu, Ini Krisna.” Ujar Krisna.   Tanpa banyak bicara Bu Eni langsung merangkul Krisna, Bu Eni memperlihatkan rasa rindu terhadap anaknya itu, perbincangan mereka pun mulai hangat.   “ Ibu kenapa menangis?” Tanya Krisna.   “ Ibu habis potong bawang merah.” Ujar Bu Eni.   “ Ibu Jangan bohong, bilang saja senang Krisna datang.” Ujar Krisna.   “ Ibu tidak bohong, itu buktinya di bawa.” Ujar Bu Eni sambil menunjuk piring penuh dengan irisan bawang merah.   “ Ibu bagai mana kabarnya?, maaf Krisna baru bisa pulang.” Ujar Krisna.   Bu Eni langsung tertunduk dan langsung menangis di hadapan Krisna.   “ Ibu kenapa menangis lagi?” Tanya Krisna.   “ Ibu Hanya sedih, saat Kamu Pulang, Ijam yang malah menghilang, Ibu mengharapkan kalian berdua ada di sini.” Ujar Ibu Eni.   “ Ia Bu, Krisna juga tahu ijam sudah pulang.” Ujar Krisna.   “ Ia Kris, Tapi Ijam tersesat di hutan.” Ujar Ibu Eni.   Krisna berpura – pura tidak tahu tentang keadaan Ijam dan mengalihkan pembicaraan, agar Bu Eni tidak terus berlarut dalam sedih.   “ Ya sudah Bu, Krisna Yakin Ijam tidak akan apa – apa, Dia kan dulu juga sering main di hutan, Jadi Krisna yakin dia tidak apa – apa.” Ujar Krisna.   “ Oh Ia Bu, maaf Krisna tidak membawa apa – apa, Krisna buru – buru.” Ujar Krisna.   “ Kenapa Bisa buru- buru segala?, Memangnya kamu tidak akan lama di sini?” Tanya Bu Eni.   “ Nanti saja Krisna jawab, Setelah Bapak pulang.” Ujar Krisna.   “ Oh Ia Bu, bagaimana kondisi Kakek?” Tanya Krisna.   Langsung saja  Bu Eni mengajak Krisna ke kamar Ki Amin, di sana Ki Amin sedang tertidur miring membelakangi Krisna, Tapi Krisna melihat Ki Amin tidak sendiri, Ki Amin sedang di kelilingi Sosok yang sama dengan yang ada di kota, Sosok yang sering mengikuti Krisna di sana.   Krisna tidak banyak bicara dan hanya melihat mereka, Krisna tidak berani membangunkan Ki Amin, Krisna sangat sedih melihat Kakeknya yang sudah sangat kurus kering, nafasnya juga terdengar sangat berat, terkadang batuk yang terlihat sangat sakit Kakek Krisna alami.   Hingga akhirnya Krisna pun hanya terdiam di kursi, sambil melihat ruangan kosong di pojokkan rumah, yang dulu belum pernah Krisna masuki.   Di sana juga terlihat beberapa Sosok yang berbeda, tapi sosok itu hanya Diam dan bahkan sepertinya tidak berani untuk keluar.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD