Ketika Ijam pulang ke kampung, Kondisi Krisna sangatlah kacau, Dia belum siap menerima semua keadaan saat itu, pandangannya semakin hari – semakin sensitif, setiap saat harus melihat hal yang berbau mistis membuatnya sangat stres, Tapi Krisna tetap menjalani hari – harinya , dan mencoba perlahan untuk beradaptasi dengan situasinya saat itu.
Bekas cukuran alis yang krisna tutupi pun menjadi pertanyaan semua orang, tidak hanya orang yang tidak sengaja berpapasan tapi orang – orang terdekatnya pun menanyakan hal yang sama
.
Krisna saat itu sedang sakit, badannya panas, terlihat wajah penuh tekanan dalam diri Krisna, Hanya Pak Yaya yang merawat , jauh dari keluarga dan orang tua membuat Pak Yaya menjadi orang tua ke dua bagi Krisna, mulai dari membawakan makanan , minuman, obat, hingga mengompres Krisna tiap satu jam sekali.
“ Mas Kris, pucat sekali, mari Bapak Antar ke dokter.” Ujar Pak Yaya.
“ Jangan Pak, Krisna di kamar saja." UJar Krisna.
" Tidak apa - apa Mas, biar cepat sembuh, tenang saja Mas, kalau Mas Krisa tidak ada uang Bapak masih ada simpanan." Ujar Pak Yaya.
“ Tidak Pak, bukan begitu, Saya lebih nyaman di sini saja.” Ujar Krisna.
Krisna berpikir jika dirinya pergi ke rumah sakit dan harus menginap di sana, yang ada matanya akan melihat sesuatu yang bukan – bukan dan malah membuat sakitnya semakin parah.
“ Ya sudah Mas, Sebentar Bapak ambilkan kompresan dulu.” Ujar Pak Yaya pergi meninggalkan Krisna.
Krisna terharu dengan perlakuan Pak Yaya yang perhatian terhadap dirinya, berbanding terbalik dengan Bapak kandungnya yang acuh dan lebih mementingkan orang lain terutama kepentingan Pak Sugeng.
“ Coba Mas Kris, tidurnya terlentang dulu.” Ujar Pak Yaya sambil memeras handuk kompres.
Krisna membalikkan badannya.
“ Mas badan kamu sangat panas, sudah mending ke dokter saja." Ujar Pak Yaya membujuk.
“ Jangan Pak, di sini saja.” Ujar Krisna menolak.
“ YA sudah Bapak kompres saja, dahi Mas Kris luka kenapa?” Tanya Pak Yaya melihat Plester luka menutupi alis Krisna.
“ Ini saat Saya luka di tempat kerja Pak, dahi saya terbentur pintu dan akhirnya luka.” Ujar Krisna.
“ Dan Bapak baru sadar, Kenapa tagan Mas Kris itu selalu di tutupi perban , sudah berbulan – bulan, jangan di biarkan Mas, takutnya infeksi.” Ujar Pak Yaya.
“ Lika di tangan saya sebentar lagi juga kering Pak, Lagi pula sudah tidak sakit.” Ujar Krisna.
“ YA sudah sekarang Mas, minum obat langsung tidur.” Ujar Pak Yaya.
“ Ia Pak.” Ujar Krisna.
“ Bapak harus ke toko sebentar, ada barang yang harus dipindahkan.” Ujar Pak Yaya.
“ Ia Pak, tapi pintu kamar Krisna jangan di tutup ya pak, Biar tidak pengap.” Ujar Krisna.
“ Ia Mas, Bapak Pamit .” Ujar Pak Yaya.
Pak Yaya pergi dan membiarkan Pintu kamar Krisna terbuka, Krisna seakan tidak akan melupakan kejadian saat dirinya melihat banyak makhluk yang lalu lalang di toko Pak Yaya, sedikit rasa khawatir terhadap Pak Yaya jika harus ke toko itu, Hanya saja jika Krisna memberitahukan apa yang di lihatnya akan banyak orang yang tidak percaya.
Yuda yang saat itu siap untuk bekerja, melihat pintu Kamar Krisna terbuka, Yuda pun melihat dan mendapati Krisna tengah terbungkus selimut, dan badannya menggigil.
“ Kris, Kamu kenapa?” Tanya Yuda.
“ Ini Pak Saya sakit, saya Ijin untuk tidak masuk kerja hari ini.” Ujar Krisna.
“ Ya Sudah Istirahat saja.” Ujar Yuda.
Yuda begitu terkejutnya saat melihat di belakang Krisna , berdiri sosok bayangan hitam yang tengah menghadap ke arah Krisna, Yuda yang memiliki kemampuan itu sejak kecil pun, memperingatkan Krisna untuk tidak tidur di kamar untuk beberapa waktu.
“ Kris, kalau bisa jangan dulu tidur di sini ya.” Ujar Yuda.
“ Loh kenapa Pak?” Tanya Krisna.
“ DI sini kan nanti hanya kamu sendiri, Pak Yaya sudah pergi, saya juga di kantor, jadi mendingan kamu tidur di ruang tengah saja.” Ujar Yuda.
“ Kenapa harus di bawah Pak?” Tanya Krisna.
“ Biar Kamu mudah ambil minum , makan, jadi tidak usah turun naik tangga.” Ujar Yuda.
Krisna pun menuruti perkataan yuda, Yuda pun belum tahu jika Krisna sekarang bisa melihat sama dengan apa yang Yuda lihat, Hanya saja mental mereka berdua berbeda, Yuda yang sudah terbiasa sejak kecil sedangkan Krisna yang penakut dan terpaksa bisa melihat mereka.
“ Saya siapkan dulu kasur di bawah ya.” Ujar Yuda.
Krisna bangun dari tidurnya, dan saat melihat ke dalam cermin, terlihat bayangan hitam itu berada di belakangnya, sontak saja Krisna pun bergegas turun ke lantai bawah, dengan badan yang sangat lemas Krisna memaksakan badannya untuk turun dengan cepat, hingga di anak tangga terakhir Krisna terjatuh.
Yuda yang melihat Krisna terjatuh langsung mengangkat Krisna, Yuda sempat kesulitan mengangkat Krisna, badan Krisna yang besar membuatnya sangat berat , akhirnya Krisna sadar dan dan bisa berjalan meskipun harus di gandeng Yuda.
“ Pelan - pelan Kris, Badan kamu kan lemah.” Ujar Yuda sambil membantu Krisna untuk tidur.
“ Bapak nanti bisa kesiangan pak, Sudah bapak berangkat saja.” Ujar Krisna.
“ Gak Papa Kris, Kita ini anak rantau jika kita tidak saling merawat mau dengan siapa Kris, kita ini jauh dari keluarga dan orang tua.” Ujar Yuda.
“ Ia Pak terima kasih, Tapi bapak tadi melihat apa di atas?” Tanya Krisna.
“ Maksudnya apa Kris?” Tanya Yuda.
“ IA Bapak melihat sesuatu kan di kamar saya.” Ujar Krisna.
“ Kenapa Kamu bisa tahu Kris?” Tanya Yuda.
“ Engga Pak, Saya melihat dari mata Bapak saja, selalu melihat ke arah belakang saya, jadi saya curiga Bapak melihat sesuatu.” Ujar Krisna.
“ Sudah jangan di pikirkan , bukan apa – apa itu.” Ujar Yuda.
Yuda hanya menebak jika Krisna melihat makhluk itu, Yuda pun sempat melihat Plester menutupi alis Krisna, Yuda menerka jika Krisna sudah memotong sebagian bulu alisnya untuk bisa melihat mereka yang tak terlihat.
“ Ya sudah Kris, Saya berangkat dulu, jika ada apa – apa kabari saya , nanti saya suruh Bram pulang lebih cepat dan menemani kamu di sini.” Ujar Yuda.
“ Oh Ia Kris, temanmu Ijam ke mana?, Saya sampai lupa?” Tanya Yuda.
“ Ijam pulang dulu Pak, Ada urusan di kampung.” Ujar Krisna.
“ Ya sudah, saya berangkat dulu.” Ujar Yuda.
Yuda pun melihat ke lantai Dua, dan benar di sana ada sosok bayangan hitam yang tengah berdiri memandang Krisna, Yuda pun pergi untuk bekerja.
Sama halnya dengan Krisna, dia melihat Sosok itu sedang berdiri menatapnya, selimutnya langsung menutupi seluruh tubuhnya, hingga beberapa saat Krisna masih penasaran dan membuka selimut itu dan mengarahkan pandangannya ke atas, dan ternyata sosok itu sudah menghilang, tiba – tiba Krisna di kagetkan dengan suara telepon yang berbunyi.
“ stres Aku lama – lama seperti ini.” Ujar Krisna.
Telepon nya berdering, bertuliskan Ijam.
“ Ijam !, mudah - mudahan dia cepat kembali ke sini.” Ujar Krisna.
Krisna menerima panggilan Ijam.
“ Halo Jam.” Ujar Krisna.
“ Kris, sepertinya Aku tidak bisa cepat balik ke kota.” Ujar jam.
“ Kenapa Jam, Aku sudah stres , sekarang Aku sakit.” Ujar Krisna.
“ Warga di sini meminta Aku untuk membantu mereka, dan ternyata warga di sini pun semua tidak suka dengan Pak Sugeng, mereka hanya baik di depan Pak Sugeng, Bahkan Kaki tangannya termasuk Pak Dadang pun sekarang membelot dan sekarang saat Pak Sugeng pergi ke luar Kota, Di manfaatkan semua warga untuk belajar membuat gerabah dan setiap malam berdoa bersama pun sangat ramai oleh warga kris.” Ujar Ijam.
“ Bagus lah jam, Aku senang mendengarnya, lalu apa yang akan kamu lakukan?” Tanya Krisna.
“ Sementara Aku akan mencari orang yang bisa di percaya untuk menjalankan penjualan gerabah di sini Kris, sambil menunggu musim penghujan tiba.” Ujar Ijam.
“ Jadi Kamu tidak adan segera ke sini Jam?” Tanya Krisna.
“ Aku usahakan secepatnya Kris, Aku usahakan minggu depan sudah di sana, dan kita bisa mencari jalan keluar masalahmu bersama.” Ujar Ijam.
“ YA sudah Jam, Hati – hati di sana, Pak Sugeng orang yang licik, takutnya dia menyuruh kaki tangannya untuk membelot dan menjebak mu.” Ujar Krisna.
“ Ia Kris, aku pun hati – hati di sini.” Ujar Ijam.
“ YA sudah, Aku Mau istirahat dulu .” Ujar Krisna.
“ Ia Kris, cepat sembuh.” UJAr Ijam.
Pembicaraan mereka pun berakhir, Krisna sedikit kesal dengan Ijam , karena atas sarannya Dia menjadi seperti ini, Tapi Kondisi di kampung pun, sekarang sedang membutuhkan dedikasi dari Ijam , sehingga Ijam bisa memanfaatkan ilmu yang ia dapat ketika bersekolah di luar.
Krisna pun tertidur, rasa kantuknya sudah tidak bisa tertahan, semalaman tidak tidur dan pengaruh dari obat yang di minumnya membuat rasa kantuknya tidak tertahan.
Saat tertidur pun Krisna sampai mengigau, di dalam mimpinya dia melihat dirinya ikut terikat seperti layaknya Pak Dadang dan Ki Amin. Mimpi itu terus menerus menggambarkan kondisi Ki Amin dan Pak Dadang dan semakin aneh saat Krisna Pun ikut seperti mereka.
Tepat saat itu waktu menunjukkan pukul 1 siang, Bram yang di suruh yuda untuk pulang lebih awal datang ke rumah Kos Pak Yaya, kondisi saat itu sangat sepi, karena Krisna yang tertidur dan tidak ada siapa – siapa di rumah.
“ Sepi sekali rumah ini macam kuburan saja.” Ujar Bram saat masuk gerbang rumah.
“ Kris, kris,” sambil membuka pintu. “ tidak terkunci rupanya.” Ujarr Bram.
Bram masuk ke dalam rumah, dan terlihat Krisna yang tertidur, hanya saja sesekali Krisna mengigau, “ Pak, Pak,” Itu lah yang sering di ucapkan oleh Krisna, Bram pun membangunkan Krisna .
“ Kris, bangun Kau, Kau ini kenpa.” Ujar Bram.
Krisna terbangun dan terkaget - kaget melihat kedatangan Bram yang tengah duduk di sampingnya.
“ Bang, sedang apa di sini.” Ujar Krisna sambil terbaring.
“ Aku di suruh Pak Yuda, Kau ini kenapa?” Tanya Bram.
“ Aku sakitlah Bang, makannya Aku tidak kerja juga.” Ujar Krisna.
“ Maksudku Kau sakit Apa?” Tanya Bram.
“ Entahlah Bang, kepalaku berat.” Ujar Krisna.
“ Eh tunggu , plester lukamu itu kenapa belum di cabut.” Ujar Bram.
“ Masih sakit Bang, jadi Aku biarkan saja, sudah gak usah di bahas tidak penting juga.” Ujar Krisna.
“ Aku di suruh ke sini dan pulang lebih awal , Pak Yuda menyuruh ku untuk menemanimu Kris, sebenarnya Aku malas untuk mengurusmu, tapi lumayan juga Aku bisa istirahat di sini ." Ujar Bram.
“ Aku sudah besar Bang, tidak usah di urus, memangnya aku bayi.” Ujar Krisna sambil tersenyum.
“ Ya sudah lah, mau bagaimana Pun Kau itu sudah ku anggap seperti adik , hanya saja kau sering menyusahkan untuk seorang adik.” Ujar Bram.
“ lagi pual Aku tidak mau menjadi adik mu Bang.” Ujar Krisna tertawa.
Krisna sedikit besarnya terhibur dengan adanya Bram, selama menemani Krisna Bram selalu mengeluarkan candaan – candaan , sehingga Krisna bisa melupakan sedikit rasa sakit dan tekanan yang dia rasakan.
Hingga akhirnya magrib pun tiba, Bram pun mendapat amanat dari yuda, untuk tetap menemani Krisna sampai ada orang lain di rumah, sebab jika Krisna sendiri takutnya terjadi hal – hal yang tidak di inginkan.
“ Oh Ia Bang, Kamu mau pulang jam berapa?” Tanya Krisna.
“ Aku di suruh tunggu sampai ada yang pulang duluan , antara Pak Yaya dan Pak yuda.” Ujar Bram.
“ Enak sekali Kau Kris, di perhatikan sama orang satu rumah, Aku boro – boro Kris, sepertinya jika aku ada yang menculikpun, tidak ada yang mencariku.” Ujar Bram.
“ Ia Bang Aku bersyukur tinggal di sini, bukan hanya nyaman tapi semua orang yang ada di sini begitu saling menjaga satu sama lain.” Ujar Krisna.
“ Ya mungkin karena Kau baik, dan peduli terhadap orang lain, maka orang lain pun akan bertindak hal yang sama terhadapmu .” Ujar Bram.
“ Ia Bang, memang konsep hidup itu harus seperti itu, Karena yang namanya manusia tidak selamanya dia akan selalu sehat dan akan selalu benar, jadi jika kita tidak hidup saling tolong menolong ,ya jika salah tidak akan ada yang meluruskan dan jika kita sedang di bawah tidak ada yang akan membantu naik.” Ujar Krisna.
“ pintar juga bahasamu.” Ujar Bram.
“ engga juga Bang, kan biasanya kalau kita lagi mengobrol , kita malah saling berbalas guyon saja, nah sekarang kita sedikit serius nih.” Ujar Krisna.
“ Kau tidak lihat muka Ku ini sudah menerapkan mode serius.” Ujar Bram.
Setelah mereka saling melepas candaan, Krisna terlihat sudah sangat mengantuk , Bram pun menyuruhnya untuk tidur, dn Bram pun meminta ijin untuk mandi dan membersihkan badannya di rumah itu.
“ Kris, sudah Kau Tidur saja, Aku Mau mandi dulu, dari tadi siang aku belum mandi.” Ujar Bram.
“ Ia Bang , jika perlu handuk , ambil saja di kamarku .” Ujar Krisna yang sudah sangat mengantuk.
Bram pun naik ke atas untuk mengambil handuk di kamar Krisna, saat Bram masuk ke kamar Krisna, Bram mencium bau yang kurang sedap, Bram pun mengacuhkan Bau itu.
“ Bau sekali kamar kau Kris, macam bau busuk.” Ujar Bram.
Bram tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi, Bram langsung mengambil handuk dan turun untuk mandi, Saat Bram melepaskan semua pakaian, Bram kembali mencium bau itu, dan saat itu juga Bram melihat gayung untuk mandi bergerak sendiri, Bram awalnya tidak takut dan menganggap gayung itu hanya terbawa oleh riak air, tapi saat Bram melihat gayung itu terlempar ke depan dirinya, dia sadar jika itu bukan karena riak air, tapi di gerakan oleh makhluk yang tidak bisa ia lihat.
Bram langsung loncat dan berlari ke luar, betapa malunya Dia keluar kamar mandi tanpa sehelai kain pun, Dan tepat di sana sudah ada Pak Yaya yang baru pulang dari toko.
“ Bram , Kau ini sedang apa?” Tanya Pak Yaya.
“ Ada itu Pak.” Ujar Bram panik.
“ Ada apa?’’ Tanya pak Yaya.
“ Dan kenapa Kau keluar tidak memakai apa – apa, tidak punya malu.” Ujar Pak Yaya.
“ Bukan tidak punya malu Pak, tadi saya kaget gayung untun mandi terlempar sendiri.” Ujar Bram.
“ Sudah tutupi dulu badan mu dengan kain lap di dapur.” Ujar Pak Yaya.
“ Yang benar saja Pak, Masa pakai kain lap.” Ujar Bram.
“ Ya terus masa kamu mau terus seperti ini.” Ujar Pak Yaya.
“ IA Pak, baju dan celana saya masih ada di kamar mandi, saya masih takut Pak.” Ujar Bram.
“ Ya sudah tunggu di sini.” Ujar Bram.
Pak Yaya langsung melihat keadaan kamar mandi, meskipun Pak Yaya sedikit trauma dengan kejadian saat bersama Ijam, tapi Pak Yaya memberanikan dirinya untuk masuk, dan di sana tidak terjadi apa – apa, memang kondisi gayung sudah ada di lantai kamar mandi, tapi memang tidak ada apa – apa di sana, Pak Yaya langsung membawa baju Bram dan memberikannya.
“ Bram, Tidak ada apa – apa di kamar mandi.” Ujar Pak Yaya sambil memberikan baju milik Bram.
“ Tapi betul Pak, Untuk apa saya berbohong, saya juga dulu kan sudah lama tinggal di rumah ini, dan tidak pernah ada hal – hal anh.” Ujar Bram.
“ Ia memang tidak ada apa – apa Bram, sudah pakai bajumu, untung saja di rumah ini laki – laki semua, kalau tidak kau akan malu seumur hidup.” Ujar Pak Yaya.
“ Ya sudah Pak, Saya mandi di rumah saja, Saya langsung pulang ya Pak.” Ujar Bram pamit.
Bram pun akhirnya memutuskan untuk pulang, Pak Yaya pun sedikit curiga dengan kelakuan Bram, sebab sebagaimana tengilnya Bram, dia tidak pernah berbohong, Krisna pun terbangun mendengar keributan itu.
“ Ada apa Pak, kemana Bram?” Tanya Krisna.
“ Kenapa bangun Mas Kris, Itu Bram ijin pulang barusan, kata dia Ada yang mengganggunya di kamar mandi.” Ujar Pak Yaya.
Mendengar kata kamar mandi , Krisna saat itu juga merasa ingin buang air kecil, tapi yang ada di pikiran Krisna adalah sosok yang berada di kamarnya, dan mungkin juga yang telah mengganggu Bram, Krisna pun menahan rasa ingin buang air kecilnya itu, Krisna takut dengan pandangannya sekarang makhluk itu bisa terlihat dengan jelas.
Krisna berjam – jam menahan rasa sakit untuk membuang air kecil, hingga pada puncaknya ia tidak tahan dan memutuskan untuk ke kamar mandi dengan menutup mata.
Keadaan Krisna sangat tersiksa, karena rasa takutnya yang berlebih membuat Dia tertekan , dan kesulitan untuk melakukan kegiatan sehari - hari, hingga akhirnya Yuda pun menyadari jika Krisna memang sengaja membuka mata batinnya.
Tepat jam 9 malam, yuda saat itu baru pulang bekerja.
“ Kris, gimana kondisi mu?” Tanya Yuda.
“ Sudah mendingan Pak, terima kasih juga, sudah menyuruh Bram untuk menemani saya di sini.” Ujar Krisna.
“ Gak papa Kris, Bram juga tahu jika kamu sedang sakit , ya makannya sekalian saja saya suruh pulang lebih awal." Ujar Yuda.
" Lantas kemana sekarang anak itu?” Tanya Yuda .
“ Bram sudah pulang pak.” Ujar Krisna.
“ Kenapa Dia sudah pulang, dia padahal berjanji akan menunggu saya.” Ujar Yuda.
“ Dia tadi sedang mandi Mas, Lalu tiba – tiba keluar, katanya gayungnya loncat sendiri.” Ujar Pak Yaya, yang baru keluar dari arah dapur.
Mendengar kata – kata Pak Yaya, sepertinya makhluk yang ada di kamar Krisna yang mengganggu Bram.
“ Oh Ia Kris, jawab dengan jujur, Kamu apa bisa melihat makhluk halus?’’ Tanya Yuda.
Krisna hanya terdiam.
“ Jawab Saja Kris, saya di sini ingin membantumu.” Ujar Yuda.
“ Ia Pak, menurut mitos jika memotong bulu alis maka kita bisa melihat yang tidak terlihat, dan ternyata memang benar, Saya pun sedikit tertekan dengan keadaan saya sekarang, saya belum siap menerima kenyataan , dan saya tidak siap untuk melihat mereka.” Ujar Krisna.
“ Jadi Kamu memotong bulu alis kamu Kris?” Tanya Yuda.
Krisna mengangguk.
“ Untuk apa kamu Kris melakukan itu, Kamu tahu sendirikan Kalau kamu itu penakut.” Ujar Yuda.
Krisna berbohong.
“ Saya hanya ingin membuktikan saja Pak, apa benar atau tidaknya mitos itu." U”ar Krisna.
“ saya tidak melarang Kris, hanya saja jika mata batin mu sudah di buka, maka susah untuk menutupnya.” Ujar yuda.
“ Lalu Bagaimana Pak?’’ Tanya Krisna.
“ YA kamu harus beradaptasi.” Ujar Yuda.
“ Caranya seperti apa Pak, karena jika saya boleh jujur saya sangat takut Pak.” Ujar Krisna.
“ Kamu harus acuh Kris jika melihat mereka, jika Kamu melihat mereka pura – pura saja tidak melihat, jangan panik, jangan menunjukkan ekspresi takut, berperilaku saja yang wajar ketika melihat mereka.” Ujar Yuda.
“ Jadi saya harus berpura – pura, tapi jika kita menunjukkan rasa takut, memangnya nanti akan terjadi apa Pak?” tanya Krisna.
“ Jika Kamu seakan melihat mereka dan mereka tahu, makhluk seperti itu akan ikut dan jika kamu takut, makhluk seperti itu akan semakin senang dan betah tinggal dekat dengan kamu Kris.” Ujar Yuda.
Krisna hanya terdiam, dan akhirnya Yuda menanyakan inti masalah yang seang di hadapi Krisna.
“ Kris ada satu lagi yang saya ingin tanyakan.” Ujar yuda.
“ Apa Itu Pak?’’ Tanya Krisna.
“ apa kamu memiliki pengikut.” Tanya Yuda.
“ Bapak sudah bertanya itu lagi.” Ujar Krisna.
“ memang Kris, sebab jika kamu tidak jujur , kamu sendiri yang akan terkena akibatnya, dan satu lagi Kris, saya hanya ingin membantu kamu Kris.” Ujar Yuda.
“ Saya sebenarnya tidak tahu Pak, hanya saja memang dulu saya seperti ada yang mengikuti dari benda yang pernah saya bawa, dan sekarang benda itu telah saya musnahkan.” Ujar Krisna.
“ Memang Benda apa Kris.” Ujar Yuda.
“ Seperti jimat Pak, pemberian orang pintar di kampung saya.” Ujar Krisna.
“ Memang kampungmu di mana Kris.” Ujar Yuda.
“ dekat ujung hutan Pak.” Ujar Krisna.
“ orang pintar maksudmu, Dia tinggal di ujung hutan , yang rumahnya sangat besar, Itu Bukan?’’ Tanya Yuda.
“ Rumahnya memang besar, dan kenapa Bapak bisa tahu?” Tanya Krisna.
“ Yang mengirimkan teror ke pada saya dia juga tinggal di ujung hutan itu Kris, jadi rumah kamu dekat dengan orang pintar itu.” Ujar yuda.
“ Ia Pak, Orang pintar itu bernama Pak Sugeng, Dia juga sama melakukan peneroran terhadap ijam, sehingga Ijam kemarin sempat tinggal di rumah ini.” Ujar Krisna.
“ Berarti kita memiliki musuh yang sama Kris.” Ujar Yuda.
“ Bukan Hanya kita Pak, tapi seluruh warga kampung saya pun mempunyai pemikiran yang sama dengan Kita.” Ujar Krisna.
Setelah Krisna mendapat saran dari Yuda, hati dan pikirannya pun terbuka, semua yang telah terjadi tidak untuk di sesali, hal itu justru akan membuat kita berpikir lebih keras dan akhirnya tertekan.
Krisna pun perlahan – lahan sembuh dan mencoba saran dari Yuda , Jadi saat dia di suatu tempat dan melihat makhluk halus, dia akan berpura – pura tidak melihatnya , meskipun jantungnya serasa ingin copot.
Krisna pun akhirnya sembuh total, Dia bisa beraktivitas seperti biasa, yuda sangat berperan penting dalam membangkitkan mentalnya dan bisa kembali bekerja.
“ Kris, sudah sembuh Kau?” Tanya Bram.
“ Ia Bang, sudah mendingan.” Ujar Krisna.
“ Kenapa luka di alismu itu belum sembuh juga?” tanya Bram.
“ Gak Tahu Bang, biarkan saja, nanti juga sembuh sendiri.” Ujar Krisna.
Mereka pun bekerja seperti biasa, hingga sampai Krisna dan Bram masuk ke area lantai 3b.
“ Bang kenapa kita ke lantai 3b, bukannya jadwal kita besok?” tanya Krisna.
“ Besok itu jadwal kita istirahat Kris, makannya kita harus selesaikan hari ini.” Ujar Bram.
“ Istirahat?, Maksudnya gimana Bang?” Tanya Krisna.
“ Besok itu kita semua satu kantor bakal liburan Kris, ah Kau ini terlalu lama Kau di rumah, jadi tidak tahu info.” Ujar Bram.
“ yang betul bang?’’ Tanya Krisna.
“Betul Kris, kalau kau tak percaya tanya saja yang lain.” Ujar Bram.
“ Seru tuh Bang, liburan ke mana kita?” tanya Krisna.
“ Katanya dekat sini, di Hotel daerah ujung kota, udaranya sejuk dan pemandangannya masih asri.” Ujar Bram.
“ Ya sudah Bang, ayo kita bereskan tempa ini.” Ujar Krisna.
Mereka berdua sangat bersemangat membersihkan area lantai 3b, hingga mereka pun mengambil lembur untuk membereskan pekerjaannya itu, Bram fokus pada pekerjaannya, sedangkan Krisna selalu melihat ke arah sekitar.
Tiba – tiba saja terlihat seorang perempuan yang sedang memperhatikan mereka, sesuai saran dari Yuda, jika melihat mereka Krisna harus pura – pura tidak melihatnya, Krisna terus saja bekerja tanpa menoleh ke atas di mana perempuan itu duduk.
“ Bang Sudah beres belum?” Tanya Krisna.
“ Sedikit lagi Kris, Lantai di sini sangat kotor.” Ujar Bram.
“ Aku sudah beres.” Ujar Krisna.
“ Tunggu Aku sebentar, cepat sekali kau membersihkan area itu, nanti aku lihat kerjamu dulu." Ujar Bram.
Bram Langsung melihat area Kerja Krisna, Bram sangat teliti terhadap kebersihan, tapi sayangnya pekerjaan Krisna saat itu menurut Bram masih sangat jauh dari kata bersih, hingga akhirnya Krisna harus membersihkan area itu sekali lagi.
Krisna melihat ke arah perempuan itu, dan terlihat perempuan itu masih menatap tajam ke arah Krisna, Krisna berpura – pura tidak tahu, hingga akhirnya saat Krisna menoreh ke atas wanita itu sudah tidak ada, dan saat Krisna berjalan ternyata wanita itu sudah ada di hadapannya, Krisna pun hanya terdiam dan berpura -pura acuh dan mengabaikan perempuan itu, lututnya sudah terasa lemas, pikirannya sudah tidak bisa fokus, yang hanya Krisna lakukan adalah menyapu lantai secara tidak jelas, kesana dan kemari, dan yang terjadi bukannya bersih alah area itu semakin kotor .
Krisna lalu mendekat ke arah Bram, ternyata wanita itu mengikuti Krisna, Bram tidak sadar dan tidak tahu apa yang terjadi terhadap Krisna.
“ Kenapa Kau Ini Kris.” Ujar Bram.
“ Sudah lah Bang kita turun saja.” Ujar Krisna.
“ kau ini melihat apa Kris, muka kau pucat , kau sakit lagi?’ Tanya Bram.
Krisna memberikan isyarat bahwa di belakangnya ada yang mengikuti dengan mengedipkan mata dan mengarahkannya ke belakang, Bram Tidak tahu apa arti isyarat Krisna, tapi yang jelas Bram pun sudah menyadari ada yang aneh.
Dan tiba – tiba suara tangisan perempuan terdengar samar – samar, dan tanpa pikir panjang, Bram berlari mendahului Krisna dan Krisna Pun pergi menyusul Bram.
Hingga di lantai bawah pun ternyata perempuan itu masih mengikuti Krisna, Krisna membaca doa yang ia bisa, perlahan – lahan wanita itu menjauh dan akhirnya hilang.
“ Kris kenapa Kau tidak bilang dari tadi, jika kita sedang di ikuti wanita adi.” Ujar Bram.
“ Itu bukan wanita Bang, itu makhluk halus, Aku kan tadi sudah memberikan isyarat, tapi Abang tetap saja tidak menggubris” Ujar Krisna.
“ sudah dua kali kita di permainkan seperti ini, jika kalau bukan besok liburan mana mau aku lembur lagi.” Ujar Bram.
“ ya sudah kita pulang saja.” Ujar Bram.
Bram dan Krisna memutuskan untuk pulang dan bersiap untuk liburan besok, Krisna saat itu bertanya kepada Yuda sesampainya di rumah.
“ Kris dari mana kamu?” Tanya Yuda.
“ Awalnya saya mau ambil lembur pak, tapi malah di ganggu.” Ujar Krisna.
“ di ganggu siapa?” tanya Yuda.
“ Di lantai 3b Pak.” Ujar Krisna.
“ Pantas saja Kris, Di sana itu memang sedikit jahil , hanya saja biasanya tidak mengganggu kepada orang yang sudah di kenalnya.” Ujar yuda.
“ jadi saya harus kenalan?” Tanya Krisna.
“ Ya tidak seperti itu juga , mungkin dia melihat Kamu bisa di ajak interaksi Kris, atau mungkin kamu punya sesuatu yang dia suka.” Ujar Yuda.
“ saya sudah ikuti saran dari Pak Yuda, memang awalnya dia tidak merespon, tapi setelah itu dia malah ada di belakang saya Pak.” Ujar krisna.
“ Itu atinya Kamu menunjukkan jika kamu takut, ya sudah banyak berdoa saja , itu juga cukup untuk mengusir hal yang seperti itu.” Ujar yuda.
“ Ia Pak, setelah Saya bisa melihat mereka memang awalnya saya stres, tapi berkat Pak Yuda saya tidak terlalu tertekan lagi, terima kasih ya pak.” Ujar Krisna.
“ ia Kris, sama – sama, oh Ia besok kamu jangan ngantor, besok siap – siap pakai baju bebas.” Ujar Yuda.
“ Ia pak saya sudah tahu dari Bram besok kita akan pergi liburan Pak.” Ujar Krisna.
“ Bagus lah jika Kamu sudah tahu, sekarang kamu istirahat, besok kita liburan.” Ujar yuda.
“ waduh dengar – dengar ada yang mau liburan.” Ujar Pak Yaya yang datang dari dalam rumah.
“ ia nih Pak, biasa Pak acara dari kantor.” Ujar Yuda.
“ Di rumah sepi berarti, bapak sendirian.” Ujar Pak Yaya.
“ Pak Yaya mau Ikut?” Tanya Yuda.
“ Kan Bapak bukan karyawan Mas.” Ujar Pak Yaya.
“ Tidak apa- apa pak, Dari pada Pak Yaya di sini sendiri, mending ikut ke sana." Ujar Yuda.
" Ia Pak, dari pada di sini sendiri mending ikut saja pak, Jika ada yang bertanya bilang saja pak Yaya itu bapaknya Pak Yuda.” Ujar Krisna.
“ Boleh kalau mau kaya gitu juga Pak.” Ujar Yuda.
“ Yang betul Mas? Kalau di ajak ya boleh, Bapak mau.” Ujar Pak Yaya.
“ Boleh Pak, besok kita berangkat pagi. Pak Yaya ikut sama saya pakai mobil kantor, kalau Krisna naik bis berbarengan sama anak – anak yang lain.” Ujar yuda.
“ Ok Pak siap.” Ujar Krisna pada Yuda.
Krisna sangat bersemangat untuk menjalani harinya esok, Krisna bergegas pergi ke kamarnya.
Krisna saat akan masuk ke kamarnya, seperti mencium bau yang tidak sedap, saat pintu kamar di buka, sedang berdiri sosok hitam menghadap jendela, Krisna mengurungkan niatnya masuk ke kamar, Dia kembali ke bawah dan memanggil Yuda.
“ Pak Yuda, boleh bicara sebentar.” Ujar Krisna.
“ Boleh Kris, kenapa tidak bicara di sini.” Ujar yuda.
“ Penting Pak.” Ujar Krisna.
Yuda mendekati Krisna.
“ Kenapa Kris?” Tanya Yuda.
“ Di Kamar saya makhluk itu selalu diam Pak, membuat saya tidak nyaman.” Ujar Krisna.
“ Lalu?” Tanya yuda.
“ Untuk mengusirnya gimana ya pak?” Tanya Krisna.
“ Itu sepertinya tidak bisa di usir sembarangan, dia bisa di usir atau pergi ketika yang mengirimnya itu menyuruhnya untuk pergi.” Ujar Yuda.
“ Lalu saya harus seperti apa pak?” tanya Krisna.
“ atau tidak, dia bisa di usir ketika dia mendapat majikan baru dan tempat tinggal baru.” Ujar Yuda.
“ caranya seperti apa pak?” Tanya Krisna.
“ Saya juga kurang tahu, tapi akan saya cari tahu Kris, saya punya teman beberapa, yang paham tentang ini, intinya kamu harus bersabar dulu, dan yakin jika makhluk itu akan pergi.” Ujar Yuda.
“ Apa dia akan mencelakakan saya Pak?” tanya krisna.
“ Saya tidak tahu Kris, maksud dan tujuannya apa. ya sudah sekarang kamu sebaiknya tidur dulu di luar, kan biasanya pak Yaya juga nonton tv sampai larut malam, bahkan sampai tertidur di kursi, jadi setidaknya kamu ada teman.” Ujar Yuda
“ YA sudah Pak, saya tidur di luar saja.” Ujar Krisna.
Krisna pun memutuskan untuk tidur di ruang tamu, ketika Ia akan mengambil pakaian ganti makhluk itu terlihat masih berdiri di depan jendela, Krisna berusaha acuh dan mengabaikan nya, hanya saja pandangannya tetap ingin melihat Dia.
Dengan kehidupan barunya Krisna sudah mulai terbiasa, meskipun rasa takut itu manusiawi, tapi Krisna mencoba untuk lebih kuat dan pada akhirnya menemukan cara terbaik untuk keluar dari permasalahan hidupnya.