Krisna perlahan tapi pasti kini mulai beradaptasi dengan keadaannya sekarang, masukan – masukan terhadap dirinya yang membuat dirinya semakin belajar dan memahami apa yang sebenarnya harus Krisna lakukan, terutama dukungan dari sahabat dan orang – orang terdekat yang membuat Krisna semakin membaik.
Komunikasi dengan Ijam juga perlahan membaik, Krisna perlahan mulai membuka suara terlebih dahulu, dan hingga akhirnya hubungan mereka kembali membaik.
“ Jam, Aku Mau minta maaf .” Ujar Krisna.
Krisna mendekati Ijam yang sedang diam di teras rumah.
“ Minta maaf kenapa Kris?” Tanya Ijam.
“ Ia Aku sudah bersikap kurang baik.” Ujar Krisna.
“ Apanya yang tidak baik Kris, Aku tidak merasakan hal yang tidak baik?” Tanya Ijam.
“ Ia , Aku kemarin sempat mengacuhkan , dan bersikap kurang pantas.” Ujar Krisna.
“ Ia Kris, Tidak apa – apa jangan di ambil pikiran, yang penting Kondisimu semakin membaik, dan kita bisa melanjutkan usaha kita mencari jalan keluar untuk semua permasalahan kita.” Ujar Ijam.
“ Ia Jam, berkat kamu juga aku semakin membaik, memang aku sangat salah jika hanya menyalahkan keadaan dan kejadian di masa lalu, Aku sangat tertekan kemarin, apa lagi saat Kamu pulang ke kampung, aku tidak ada orang untuk bertukar pikiran.” Ujar Krisna.
“ Ia Kris, sebetulnya aku juga menyesal pulang ke kampung, tapi ya sudah lah, Yang lalu biarlah berlalu.” Ujar Ijam.
“ Oh Ia Jam, Aku bisa bertanya sesuatu ?” Tanya Krisna.
“ Apa Itu Kris?” Tanya Ijam.
“ Apa betul Bapak Ku yang, membawamu ke hutan?” Tanya Krisna.
“ Dari mana Kamu Tahu?” Tanya Ijam.
“ Aku Tidak sengaja mendengarkan pembicaraanmu dengan Pak Yaya, Aku Tahu Kamu menutupi Pak Dadang , Tapi Aku tahu sifatmu Jam, Kamu selalu menutupi kesalahan orang lain, agar orang lain tidak terlihat buruk.” Ujar Krisna.
“ memang betul Jam, Aku juga menyangka Jika Pak Dadang, terhasut oleh Pak Sugeng, sebab saat akan masuk ke hutan , dia tidak fokus, ketika aku mengajaknya mengobrol , dia kadang hanya terdiam dan melamun.” Ujar Ijam.
“ IA Jam , sepertinya kita harus membuat Bapak menjauhi Pak Sugeng, Tapi bagai mana caranya?” Tanya Krisna.
“ Mungkin kita harus mengajaknya ke sini Kris, jika kita mengobrol dengan Pak Dadang di kampung, yang ada Pak Dadang tidak akan jujur.” Ujar Ijam.
“ Tapi bagai mana dengan Ibu dan Ki Amin, Sebab jika Bapak Tidak ada bagaimana dengan mereka.” Ujar Krisna.
“ memang sepertinya, kita harus membawa mereka semua ke sini Kris, jika mereka di bawa ke sini, kita juga akan lebih nyaman untuk menanyakan semua yang pernah Keluarga Pak Dadang lakukan pada masa dulu.” Ujar Ijam.
“ Apa bisa dan apa mereka mau?” Tanya Krisna.
“ Kita harus coba Kris.” Ujar Ijam.
“ Bagaimana caranya kita membawa mereka dari kampung.” Ujar Krisna.
“ Sebaiknya kamu ke sana sendiri Kris, sebab kalau kamu pergi dengan Ku, mereka akan curiga.” Ujar Ijam.
“ Curiga?, Maksudnya?’’ Tanya Krisna.
“ mereka Pasti curiga Kris, pasti mereka menolak untuk ikut, coba kamu bujuk mereka, dan bilang mereka akan di ajak liburan atau apa.” Ujar Ijam.
“ dan jangan sampai pak Dadang tahu aku ada di sini bersamamu Kris.” Ujar Ijam.
“ Akan Aku coba jam, tapi aku harus meminta ijin dulu pada Pak Yaya dan Pak yuda.” Ujar Krisna.
“ kenapa?” Tanya Ijam.
“ Ia Kan Aku harus ijin dulu ke pak Yaya, agar orang tua ku semua bisa tinggal di sini, dan Aku harus ijin ke Pak Yuda untuk tidak bekerja beberapa hari.” Ujar Krisna.
“ Ia Kris, Secepatnya kalau bisa.” Ujar Ijam.
“ Pasti Jam.” Ujar Krisna.
Perbincangan mereka pun terus berlanjut , hingga waktu tidak terasa menunjukkan pukul 4 sore, Krisna yang sudah mulai merasa membaik dengan kondisinya, mulai perlahan menata hari – harinya kembali, sembari mempersiapkan cara dan rencana untuk memboyong keluarganya ke kota.
Perbincangan mereka semakin tidak karuan , hingga akhirnya sifat jahil Krisna pun muncul.
“ Jam, jangan berdiri!” Ujar Krisna.
Ijam pun menuruti perkataan Krisna.
“ Ada apa Kris?” Tanya Iajm.
“ diam!, ada sosok di belakangmu.” Ujar Krisna berbohong.
“ Sosok Apa Kris?’ Tanya Ijam cemas.
“ Sosok astral Jam.” Ujar Krisna sedikit tersenyum.
“ Astral?” Tanya Ijam.
“ Ia Jam, makannya kamu harus diam.” Ujar Krisna.
Ijam menuruti perkataan Krisna dan duduk terdiam tanpa bergerak sedikit pun, hingga akhirnya Krisna pergi meninggalkan Ijam di luar.
“ Kris, Kamu mau ke mana Kris?’ Tanya Ijam.
“ Aku Akan mengusirnya.” Ujar Krisna sabil meninggalkan Ijam.
Tidak terasa waktu pun sudah satu jam berlalu, posisi Ijam tidak berubah sama sekali, Krisna hanya tersenyum melihat Ijam yang terkena akal bulus Krisna yang jahil.
“ Ijam.” Ujar Krisna menakuti Ijam.
Ijam mulai curiga dengan hal Itu, badannya sudah pegal, bacaan doa pun terus ia ucapkan, tapi anehnya hatinya tidak merasakan apa- apa, akhirnya ijam pun menyadari jika Dia tengah di jahili oleh Krisna.
“ kurang ajar kamu Kris, tega sekali menjahili kawanmu.” Ujar Ijam.
Krisna hanya tertawa terpingkal – pingkal, hingga perutnya kesakitan.
“ Kamu Jam, mau – maunya Aku tipu.” Ujar Krisna.
“ Kalau Kau tidak sakit, sudah habis kau Kris.” Ujar Ijam.
“ Ia, maaf- maaf, sudah lama sekali Aku tidak tertawa seperti ini, rasanya nikmat sekali tertawa seperti ini.” Ujar Krisna.
“ Ya tapi caranya tidak begini Kris.” Ujar Ijam.
“ Ia maaf Jam, sebagai gantinya Aku akan memberikanmu uang untuk belanja baju, setiap hari Kau hanya memakai baju itu saja." Ujar Krisna.
" Jangan Kris, nanti saja jika kamu pulang, tolong sekalian bawakan bajuku.” Ujar Ijam.
“ Sudah besok siang kamu beli, beli yang murah saja, asal cukup untuk sehari – hari saja.” Ujar Krisna sambil masih tertawa kecil.
“ jahat kamu Kris, Mau ngasih saja harus pakai di jahili segala.” Ujar Ijam.
“ Maaf jam, Aku sudah kangen dari dulu, untuk menjahilimu.” Ujar krisna.
“ Ia, ia, gak sekalian sama beli celananya?” tanya Ijam.
“ Ia boleh sekalian saja, ya sudah ayo kita masuk, takutnya ada yang betulan.” Ujar Krisna.
Krisna masuk ke dalam rumah beserta Ijam, tapi Krisna hanya tersenyum melihat ke arah pohon yang ada di rumah Pak Yaya, dia melihat sedang ada yang duduk dan menatapnya tajam, meskipun Krisna takut, dia mencoba untuk tenang dan tersenyum, dan berpura – pura tidak melihatnya.
Permulaan yang baik untuk Krisna, dia mulai terbiasa dengan kemampuannya, hal itu sangat membantu untuk dirinya dan buat orang lain.
Perlahan Krisna pun mulai menceritakan apa yang ia lihat dan sering mengikutinya kepada Ijam, ijam pun mencari – cari artikel dan sumber jawaban, tentang apa yang tengah di cari makhluk itu, Krisna yang mulai tenang membuat Ijam sendiri lebih fokus dalam mencari jawaban untuk masalah Itu.
Semua tanda yang di berikan Krisna, dan gambaran tentang makhluk itu , awalnya membuat Ijam merinding, tapi sayangnya hanya sedikit artikel yang membahas tentang makhluk itu, sedikit jawaban yang Ia dapat, tapi mereka tidak menyerah dan terus mencari tahu tentang cara keluar dari belenggu makhluk itu.
“ tidak ada artikel yang menjelaskan rinci tentang makhluk itu Kris.” Ujar Ijam.
“ Lantas kita harus apa?” Tanya Krisna.
“ Kita harus mencari orang yang tahu banyak tentang hal seperti ini.” Ujar Ijam.
“ Aku tahu orangnya Jam.” Ujar Krisna.
“ Siapa Kris?” Tanya Ijam.
“ Kamu tahu tamu langganan Pak Yaya, dia selalu membeli barang – barang antik milik Pak Yaya.” Ujar Krisna.
“ Oh Ia Tahu Kris, hanya saja Aku lihat orang itu sepertinya sedikit angkuh.” Ujar Ijam.
“ Tidak apa – apa kita bisa minta tolong kepada Pak Yaya.” Ujar Krisna.
“ Apa Bisa Kris?” Tanya Ijam.
“ seperti katamu Jam, kita tidak akan tahu, jika kita tidak mencoba, makannya kita harus coba dan menjelaskan duduk perkara ini dengan Pak Yaya.” Ujar Krisna.
“ Baik Kris, Aku Ikut bagaimana bagusnya saja.” Ujar Ijam.
“ Besok pagi, Aku mulai bicara dengan Pak Yaya.” Ujar Krisna.
“ bukannya kamu besok kerja?” Tanya Ijam.
“ Besok Aku terakhir istirahat Jam, Jadi sepertinya besok Aku bisa mengobrol lebih lama dengan Pak Yaya.” Ujar Krisna.
“ Tapi Pak Yaya sepertinya sedang sibuk dengan urusannya di toko, karna sudah 2 hari dia jarang ada di rumah.” Ujar ijam.
“ Tidak apa -apa Jam, kita harus bisa, jangan menyerah , kan kamu yang selalu bilang seperti itu.” Ujar Krisna.
“ Ia Kris, Pasti.” Ujar Ijam.
Ijam sangat senang melihat semangat Krisna yang menggebu, dan merasa usaha ijam selama ini untuk membangkitkan semangat Krisna tidak sia – sia, meskipun ada proses yang harus di lalui.