bc

Dinikahi Ayah Sang Pengkhianat

book_age18+
2
FOLLOW
1K
READ
contract marriage
family
HE
age gap
forced
arranged marriage
stepfather
like
intro-logo
Blurb

Lima tahun pengabdian Gaby Fritzyara dibalas dengan pengkhianatan ganda: oleh tunangannya, Gavin Cavanaugh, dan oleh keluarga kandungnya sendiri. Ketika ia berdiri di puncak kehancuran, Ayah sang pengkhianat muncul.​Edgar Emiliano Addison, CEO berkarisma dengan wajah awet muda dan mata penuh dendam, mengajukan tawaran yang menggelegak: Nikahi aku.​Edgar butuh senjata yang sah untuk menghukum anak yang ia benci. Gaby butuh kekuasaan tertinggi untuk melakukan balas dendam yang elegan. Status barunya sebagai Nyonya Addison, istri dari pria yang dua puluh tahun lebih tua, adalah tiket emasnya.​Perkawinan mereka adalah kontrak paling kejam: Balas dendam Gaby, melawan obsesi Edgar.​Di kantor, Gaby duduk sebagai Nyonya CEO, mengendalikan arus informasi yang bisa menghancurkan karir Gavin. Di rumah, ia harus tidur di ranjang yang sama dengan pria yang melihat dirinya sebagai bayangan mantan kekasih yang mati.​Konflik memanas ketika Gavin, si pengkhianat, justru berubah menjadi korban yang tersakiti di mata publik.​Pertanyaannya bukan lagi: Siapa yang akan menang dalam permainan balas dendam ini?​Tetapi: Bisakah Gaby menghancurkan Gavin tanpa harus menyerahkan hatinya yang beku kepada Edgar, pria yang mencintainya hanya karena ia mirip hantu masa lalu?​Novel ini akan membuktikan: Tidak ada balas dendam yang sempurna tanpa harga diri yang terkoyak.

chap-preview
Free preview
Janji Palsu di Tengah Persiapan Pernikahan
Enam Minggu Kemudian ​Gaby duduk di kursi Nyonya Addison, di sebelah Edgar. Gavin masuk, dan matanya bertemu Gaby. Dia menyadari kekalahan mutlaknya. Gaby, mantan tunangan yang baru dibuangnya kini justru bersanding di sebelah ayah kandungnya?! Ada apa ini? ​"Aku tidak datang ke sini untuk makan malam, Gavin. Aku datang untuk menyaksikan kehancuranmu." batin Gaby tersenyum sinis. ​Enam Minggu Sebelumnya ​ ​Pukul delapan malam, penthouse Gavin Cavanaugh di Sudirman terasa dingin dan mewah. Gaby Fritzyara, 27 tahun, berusaha mematikan naluri logisnya demi menikmati ilusi kebahagiaan. ​Gavin duduk di hadapannya tetapi rahangnya menegang. ​"Kamu terlihat sempurna malam ini, Sayang," ujar Gavin, senyumnya tidak mencapai mata. "Kamu membuatku bangga. Ini adalah citra yang harus kita jaga menjelang pernikahan." ​"Selalu citra lima tahun bersamamu, dan kita masih membahas citra di depan CEO Addison Group?." batin Gaby menekan pertanyaan itu. Ia berusaha tersenyum, mengabaikan fakta bahwa Gavin tidak pernah memujinya atas hasil kerjanya, hanya pada citra dirinya. Ia meyakinkan diri bahwa di lingkaran elit Addison Group, ini adalah cara cinta beroperasi. ​"Aku baru saja menutup kesepakatan klien Cemerlang Gavin. Mungkin aku bisa membantumu menganalisis beberapa angka proyek Grand Tower sebelum kita..." Gaby mencoba membantu dengan kecerdasannya. ​"Tidak Gaby jangan bawa pekerjaan ke sini," potong Gavin cepat. "Aku sudah cukup stres dengan Papa ku. Kamu tahu dia itu diktator. Aku butuh ketenangan darimu. Kamu hanya perlu fokus pada gaun dan peranmu sebagai calon Nyonya Cavanaugh." ​Gaby berjalan ke balkon. "Aku sudah menentukan katering dan detail bunga. Aku bahkan sudah mengamankan vila di Maldives untuk bulan madu..." ​Gavin bergabung ke balkon ekspresinya kini terjebak. "Bulan madu? Tidak sekarang Gaby. Kita punya masalah yang jauh lebih besar. Pernikahan ini sudah cukup memakan waktu kerjaku, aku tidak bisa memikirkan bulan madu." ​Gaby menggunakan logikanya. "Aku bisa membantumu mengatasi tekanan Papamu Gavin. Aku sudah menyiapkan dokumen proposal dana talangan dari Bank Syariah..." ​Gavin: "Tidak! Tidak perlu! Aku sudah mengurusnya! Kamu tidak akan mengerti, Gaby! Ini adalah politics internal!" Nada suara Gavin meninggi. ​Tiba-tiba Gavin mengubah topik. "Aku baru saja menyelesaikan meeting dengan marketing untuk campaign baru soal Luna." ​Gaby menoleh cepat. "Luna? Adikku?" ​Gavin: "Ya, Luna Adikmu itu sangat berbakat. Dia berhasil mendapatkan kontrak campaign kosmetik yang sangat besar. Aku harus mengawasi langsung Gaby. Aku harus memastikan angle kameranya tepat. Dia sangat menuruti semua saranku. Dia itu aset, Gaby, aset yang harus kita jaga citranya." ​Gavin membahas Luna dengan antusiasme yang ia tahan dari Gaby. Analis dalam dirinya berteriak: Pola ini menunjukkan anomali yang harus diverifikasi. ​"Gavin, Luna punya manajer. Pekerjaanmu adalah mengawasi operasional," ucap Gaby. "Kamu menghabiskan waktu yang berharga untuk angle foto, bukan untuk menyelamatkan proyek Grand Tower." ​Gavin tertawa kecil yang palsu. "Kamu selalu Analis Gaby. Aku hanya bersikap baik pada calon adik iparku. Jangan cemburu aku minta maaf. Sekarang, aku akan pergi dan aku akan antar kamu pulang dulu." ​"Tidak perlu." Gaby menolak diantar. ​Gavin tidak mempermasalahkan dan keduanya mengemudi mobil masing-masing. Gaby memaksakan logikanya untuk menang, Tidak ada bukti mutlak. Hanya kecurigaan. ​Saat sedang mengemudi mobil ponsel milik Gaby berdering. Itu adalah panggilan dari Safa sahabatnya. Gaby langsung meminggirkan mobilnya dan langsung menjawab panggilan dari Safa. ​"Gaby kamu di mana? Dengar aku baru saja melihat story Asti yang buru-buru dihapus. Dia melihat Gavin di kawasan SCBD bersama seorang wanita. Mereka masuk ke lobi hotel yang mewah. Asti hapus karena takut salah, tapi... itu bukan kamu, kan?" Suara Safa penuh kekhawatiran. ​"Aku baru saja bertemu dan aku sengaja menolak ajakan di antar pulang karena takut menganggu Gavin. Dia tidak mengantarku." Gaby menjawab dengan suara tercekat, meskipun ia berusaha terdengar tenang. Batin Gaby: Dia tidak mengantarku... Hotel. SCBD. Wanita glamour. "Data Asti menguatkan anomali malam ini. Aku Analis. Aku harus memverifikasi. Jika itu bukan aku, siapa wanita yang bersamanya?." batin Gaby ​"Aku... aku pulang sendiri, Safa," lanjut Gaby. "Jangan khawatir. Aku akan menanyakan ini besok." ​Gaby memutus panggilan. Ia meremas kemudi. Kepercayaan buta telah berakhir. Ia harus mencari tahu siapa wanita itu, dan ia akan menggunakan semua kemampuan analitisnya untuk membongkar kebenaran. Keesokan paginya pukul 07:15, Gaby Fritzyara telah memarkir sedan hitamnya di bahu jalan kecil yang memberikannya pandangan tak terhalang ke pintu masuk basement utama Addison Group. Fokus ni adalah investigasi data. ​Tepat pukul 07:48 pagi, mobil Gavin, Mercedes-Benz S-Class plat nomor B 77 GVN, melesat masuk ke basement. Gaby mencatatnya. Gaby segera memindahkan mobilnya ke spot parkir berbayar yang strategis. ​Pukul 08:30 pagi. Ponsel Gaby berdering keras. Itu adalah Bapak Haris, Senior Partner. ​"Selamat pagi, Gaby. Aku butuh revisi cepat proposal klien Cemerlang. Aku tahu kau work from home, tapi aku butuhmu di kantor hari ini." ​"Selamat pagi, Pak Haris maaf saya sedang berada di luar kota karena urusan keluarga mendesak dan urgent," jawab Gaby. "Saya akan kirim revisi proposal sebelum jam makan siang tanpa gagal. Saya pastikan output saya tidak terganggu." ​Batin Gaby: "Urusan keluarga mendesak. Ya, urusan keluarga. Adiknya sedang bercinta dengan tunangannya. Itu sangat mendesak." ​Dua jam berlalu. Gaby terus menatap pintu basement. Perjuangan batinnya adalah perang antara Analisis Data yang jujur dan Penolakan Emosional yang menghibur. ​ ​Pukul 09:55 pagi, sebuah mesin hitam mengkilap berputar keluar dari terowongan basement. Itu adalah sedan Gavin. ​Jantung Gaby berdebar kencang, sebuah detak abnormal yang menusuk. Anomali. Data terkunci. Lima tahun adalah kesalahan kalkulasi. Gaby segera membanting persneling. Mobil Gavin tidak bergerak menuju proyek, melainkan ke arah Kebayoran Baru, menuju galeri seni kontemporer di sebuah jalan yang tenang. ​Pukul 10:15 pagi, sedan Gavin berhenti. Gavin keluar. Pintu kaca galeri terbuka. Sosok wanita itu muncul. Luna Fritzyara. ​Melihat adiknya Gaby merasa dunianya terbelah. Pengkhianatan itu kini berlipat ganda, merobek ikatan darah dan ikatan cinta secara bersamaan. ​Gaby mengamati detail interaksi mereka: Luna memancarkan arogansi dan kemenangan, seolah ini adalah klaim yang sah. Gavin menyambut dengan Sentuhan kepemilikan yang intim, menarik pinggang Luna. ​Batin Gaby: "Dia memeluknya di tempat yang seharusnya aku peluk. Dia menghabiskan waktu yang seharusnya dia habiskan untukku untuk Luna. Dia berbohong tentang pekerjaan, tapi dia tidak berbohong tentang hasratnya." ​Kemarahan Gaby adalah kemarahan yang dingin dan analitis. Gavin dan Luna kemudian memasuki mobil SUV putih Luna dan melaju kencang. Gaby memutuskan mengekor. ​Pengejaran berakhir di depan The Monolith Hotel, sebuah hotel butik mewah. Pukul 11:05 siang. ​Gaby memarkir agak jauh. Ia melihat Gavin dan Luna turun dari mobil. Di porte-cochère hotel, Gavin mencium kening Luna. Mereka berdua tersenyum penuh rahasia dan gairah, lalu menghilang di balik pintu lobi. ​Gaby mengeluarkan ponselnya, mengaktifkan kamera. Batin Gaby: "Tidak ada lagi penolakan. Hanya bukti." Ia memotret berulang kali. Pukul 11:07 siang, Hari Rabu, dua minggu menjelang pernikahan. Foto itu, dengan time stamp yang jelas, mengunci kisah kehinaan itu. ​Gaby menyimpan ponselnya. Ia merasakan kekosongan total. Ia tidak menangis. Analis dalam dirinya mengambil alih sepenuhnya. Data telah lengkap. Sekarang saatnya menyusun strategi. Ia memutar mobilnya, namun tidak langsung ke rumah. Ia menghubungi Asti. ​"Aku butuh kopi, Asti," jawab Gaby, suaranya datar. "Aku berada di dekat kafe langganan kita di Kemang. Aku akan menunggumu di sana, sekarang." ​Pukul 11:45 siang, Gaby tiba di kafe yang sunyi. Asti datang dan langsung memeluknya. ​"Aku tidak menangis, Asti," bisik Gaby di bahu Asti. ​"Aku tahu. Tapi biarkan aku memelukmu, Gaby. Kau hancur, dan itu bukan salahmu," balas Asti. ​Gaby menarik diri, dan menunjukkan dua foto yang ia ambil di hotel. Asti terdiam melihat foto Gavin dan Luna. ​"Luna... Astaga, Gaby. Mereka berdua? Bagaimana bisa?" ​"Aku tidak tahu 'bagaimana bisa', Asti," jawab Gaby, suaranya dingin. "Aku hanya tahu 'data-nya' benar. Luna, yang kupikir membutuhkan bantuanku. Gavin, yang kucintai. Sekarang, aku tahu ke mana uangku mengalir." ​"Lalu, apa rencanamu?" tanya Asti, suaranya pelan dan tajam. ​"Aku tidak akan menelepon Gavin. Dia tidak layak. Aku akan pulang," jawab Gaby, matanya dingin. ​"Ke rumah orang tuamu? Gaby, kamu yakin? Bibi dan Paman mereka akan membalikkan fakta dan mengatakan ini salahmu, bahwa kamu tidak bisa membuat Gavin nyaman," Asti memperingatkan. ​Batin Gaby: Mereka akan membela Luna. Mereka akan mengatakan aku terlalu fokus pada karier. Tapi aku harus pulang pengkhianatan tidak hanya terjadi di hotel itu. Pengkhianatan dimulai di rumah itu. ​Gaby mengambil keputusan final. Ia menegakkan punggungnya. "Aku tahu. Aku Analis, Asti. Aku tahu probabilitas reaksiku. Tapi aku harus menghadapi mereka semua sekaligus. Aku akan mendapatkan kejelasan penuh sebelum aku mengambil langkah strategis berikutnya." ​Asti hanya bisa mengangguk. "Baiklah. Aku dan Safa bersamamu. Telepon aku begitu semuanya selesai. Apapun yang terjadi, Gaby, jangan pernah meminta maaf," ucap Asti. ​

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
192.2K
bc

Terpaksa Menjadi Istri Kedua Bosku

read
20.9K
bc

Kali kedua

read
220.3K
bc

TERNODA

read
200.7K
bc

Dinikahi Karena Dendam

read
235.5K
bc

Hasrat Meresahkan Pria Dewasa

read
32.8K
bc

Setelah 10 Tahun Berpisah

read
82.1K

Scan code to download app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook