Pukul 07:15 pagi, Gaby Fritzyara telah memarkir sedan hitamnya di bahu jalan kecil yang memberikannya pandangan tak terhalang ke pintu masuk basement utama Addison Group di Sudirman. Gaby mengunci napasnya, menenangkan tremor halus yang menjalar dari perutnya. Fokus. Ini adalah investigasi data. Abaikan emosi.
Tepat pukul 07:48 pagi, mobil Gavin, Mercedes-Benz S-Class plat nomor B 77 GVN, melesat masuk ke basement. Gaby mencatatnya, meyakinkan dirinya bahwa, Gavin menepati jadwal. Semua baik-baik saja.
Gaby segera memindahkan mobilnya ke spot parkir berbayar yang strategis di seberang jalan. Ia membuka laptop dan mengenakan kacamata hitam. Dua jam berikutnya, ia habiskan di sana.
Pukul 08:30 pagi. Ponsel Gaby berdering keras. Itu adalah Bapak Haris, Senior Partner di firma konsultannya.
"Selamat pagi, Gaby. Kamu benar-benar deep work? Aku butuh revisi cepat proposal klien Cemerlang. Aku tahu kau work from home, tapi aku butuhmu di kantor hari ini."
Gaby menarik napas dalam, memaksakan nada suara yang ceria dan profesional.
"Selamat pagi, Pak Haris Maaf. Saya sedang berada di luar kota karena urusan keluarga mendesak dan urgent dan sangat mendesak. Saya akan kirim revisi proposal sebelum jam makan siang, tanpa gagal. Saya pastikan output saya tidak terganggu."
"Ya sudah saya tunggu ya semoga urusan kamu cepat selesai Gaby." jawab pak Haris
"Iya pak." jawab Gaby lagi dan panggilan telfon di matikan oleh pak Haris.
"Urusan keluarga mendesak. Ya, urusan keluarga. Adiknya sedang bercinta dengan tunangannya. Itu sangat mendesak. Kebohongan profesional itu terasa hambar, tetapi ia harus menjaga citra Analis yang sempurna. Setelah memutus panggilan, ia kembali fokus ke pintu basement." batin Gaby
Setiap mobil mewah yang keluar membuat Gaby menahan napas. "Jika mobil itu keluar, maka lima tahun cintaku, semua yang ku rancang, adalah omong kosong. Jika mobil itu tetap di dalam, aku hanya paranoid." Perjuangan batinnya adalah perang antara Analisis Data yang jujur dan Penolakan Emosional yang menghibur.
Pukul 09:55 pagi, sebuah mobil hitam mengkilap berputar keluar dari terowongan basement. Itu adalah sedan Gavin.
Jantung Gaby berdebar kencang, sebuah detak abnormal yang menusuk.
"Anomali Data terkunci. Lima tahun adalah kesalahan kalkulasi." Batin Gaby.
Gaby segera membanting persneling. Mobil Gavin tidak bergerak menuju proyek, melainkan ke arah Kebayoran Baru, menuju galeri seni kontemporer di sebuah jalan yang tenang.
Pukul 10:15 pagi sedan Gavin berhenti. Gavin keluar, kemeja birunya santai.
Pintu kaca galeri terbuka. Sosok wanita itu muncul. Luna Fritzyara.
Melihat adiknya, Gaby merasa dunianya terbelah.
"Luna Adikku, mereka tidak selingkuh kan?, jika memang selingkuh kenapa harus Luna?." Batin Gaby. Pengkhianatan itu kini berlipat ganda, merobek ikatan darah dan ikatan cinta secara bersamaan.
Gaby mengamati detail interaksi mereka:
Luna memancarkan arogansi dan kemenangan, seolah ini adalah klaim yang sah.
Gavin: Sentuhan kepemilikan yang intim, menarik pinggang Luna.
"Dia memeluknya di tempat yang seharusnya aku peluk. Dia menghabiskan waktu yang seharusnya dia habiskan untukku, untuk Luna. Dia berbohong tentang pekerjaan, tapi dia tidak berbohong tentang hasratnya." batin Gaby.
Kemarahan Gaby adalah kemarahan yang dingin dan analitis, kini dipicu oleh rasa sakit yang membakar.
Gavin dan Luna kemudian memasuki mobil SUV putih Luna dan melaju kencang. Gaby memutuskan mengekor, walaupun tadi ada perdebatan batin untuk Gaby.
Pengejaran berakhir di depan The Monolith Hotel, sebuah hotel butik mewah.
Pukul 11:05 siang
Gaby memarkir agak jauh. Ia melihat Gavin dan Luna turun dari mobil. Di porte-cochère hotel, Gavin mencium kening Luna. Mereka berdua tersenyum penuh rahasia dan gairah, lalu menghilang di balik pintu lobi.
Gaby mengeluarkan ponselnya, mengaktifkan kamera.
"Tidak ada lagi penolakan. Hanya bukti." batin Gaby. Ia memotret berulang kali.
Pukul 11:07 siang, Hari Rabu, dua minggu menjelang pernikahan. Foto itu, dengan time stamp yang jelas, mengunci kisah kehinaan itu.
Gaby menyimpan ponselnya. Ia merasakan kekosongan yang total, di mana cinta pernah bertahta. Ia tidak menangis. Analis dalam dirinya mengambil alih sepenuhnya. Data telah lengkap. Sekarang saatnya menyusun strategi. Ia memutar mobilnya, tidak menuju kantor atau apartemennya, tetapi menuju rumah orang tuanya. Ia harus menghadapi iblis-iblisnya, karena ia tahu, kehancuran ini tidak hanya diatur oleh Gavin dan Luna.