Gaby melaju, tetapi ia tidak melihat jalan. Ia hanya melihat gambar di layar ponselnya, time stamp pukul 11:07 siang, yang membuktikan bahwa lima tahun hidupnya telah menjadi data yang salah. Tangan Gaby yang memegang kemudi terasa kebas, namun ia mengemudi dengan kecepatan yang tenang dan terukur, sebuah anomali psikologis; Analis yang terlatih mengambil alih fungsi motorik, sementara Gaby yang emosional telah mati rasa.
"Aku tidak boleh menangis. Air mata adalah kelemahan. Air mata tidak akan mengembalikan lima tahun atau menghentikan mereka di kamar hotel itu." batin Gaby
Gaby mulai memutar ulang kejadian itu, mencari data error yang terlewatkan. "Kapan ini dimulai? Apakah saat Gavin mulai memuji Luna terlalu sering? Apakah saat ia merasa Gavin terlalu fokus pada pekerjaan padahal ia hanya mencari alasan?
Aku adalah Analis. Aku seharusnya melihat pola." batin Gaby
Rasa bersalah karena kenaifannya kini berlipat ganda, lebih menyakitkan daripada pengkhianatan itu sendiri. Ia telah melanggar aturan terpenting dalam pekerjaannya: Jangan pernah percaya data tanpa verifikasi. Ia telah percaya pada Gavin. Ia telah percaya pada adiknya.
Gaby mengambil jalan tol menuju kawasan rumahnya. Ia harus menghadapi kenyataan bahwa ia tidak memiliki siapa-siapa. Keluarganya selalu memprioritaskan Luna karena kecantikan dan potensi kekayaannya melalui karir modeling. Sedangkan Gaby, meskipun cerdas dan mapan, ia dianggap sebagai anak yang mandiri dan tidak membutuhkan perhatian. Ia menyadari ia tidak bisa langsung ke rumah, ia membutuhkan buffer.
Ia meraih ponselnya, mencari nama di kontak yang tidak akan menuntut penjelasan, hanya dukungan dari sahabat nya Asti.
Ponsel Gaby berdering hanya sekali sebelum diangkat. Itu adalah Asti, sahabatnya yang seorang fotografer freelance, yang memiliki kepekaan emosional yang tinggi.
"Gaby! Aku lega kamu menelepon. Safa cemas sekali setelah telepon semalam. Kami tahu kamu pasti melihat status yang buru-buru ku hapus itu. Kamu baik-baik saja?" Suara Asti penuh khawatir.
"Aku butuh kopi, Asti," jawab Gaby, suaranya datar dan tanpa emosi. "Aku berada di dekat kafe langganan kita di Kemang. Aku akan menunggumu di sana, sekarang."
Asti tidak bertanya lebih lanjut.
Pukul 11:45 siang, Gaby tiba di kafe yang sunyi. Ia memilih meja di sudut yang tersembunyi. Tangannya tidak bergetar saat memesan espresso double shot. Ia membutuhkan boost kafein untuk menjaga benteng logikanya agar tidak runtuh.
Tidak lama kemudian, Asti datang wajahnya pucat. Asti tidak banyak bicara. Ia hanya melihat wajah Gaby yang kini tanpa ekspresi, yang bagi Asti jauh lebih mengkhawatirkan daripada air mata. Asti langsung memeluknya.
"Aku tidak menangis, Asti," bisik Gaby di bahu Asti, suaranya nyaris tidak terdengar.
"Aku tahu. Tapi biarkan aku memelukmu, Gaby. Kamu hancur, dan itu bukan salahmu," balas Asti.
Dalam pelukan itu, tembok yang dibangun Gaby selama dua jam di mobil mulai retak. Asti adalah satu-satunya saksi netral yang ia miliki. Gaby menarik diri, menghela napas panjang, dan menunjukkan dua foto yang ia ambil di hotel.
Asti terdiam melihat foto itu. Matanya membulat melihat sosok Gavin dan Luna.
"Luna... Astaga, Gaby. Mereka berdua? Bagaimana bisa?"
"Aku tidak tahu 'bagaimana bisa', Asti," jawab Gaby, menyentuh layar ponsel. "Aku hanya tahu 'data-nya' benar. Luna, yang kupikir membutuhkan bantuanku. Gavin, yang kucintai. Sekarang aku tahu ke mana uangku mengalir."
Gaby menceritakan detail daribagaimana Gavin terus mengalihkan pembicaraan, dan bagaimana ia bahkan memuji Luna di depan Gaby. Asti mendengarkan dengan kemarahan yang membara.
"Lalu, apa rencanamu?" tanya Asti, suaranya pelan dan tajam.
"Aku tidak akan menelepon Gavin. Dia tidak layak. Aku akan pulang," jawab Gaby, matanya dingin.
"Ke rumah orang tuamu? Gaby, kamu yakin? Bibi dan Paman mereka selalu memihak Luna. Mereka akan membalikkan fakta dan mengatakan ini salahmu, bahwa kamu tidak bisa membuat Gavin nyaman," Asti memperingatkan, menyuarakan ketakutan Gaby sendiri.
"Mereka akan membela Luna. Mereka akan mengatakan aku terlalu fokus pada karier, tidak cukup feminin, tidak cukup menyenangkan. Tapi aku harus pulang. Pengkhianatan tidak hanya terjadi di hotel itu. Pengkhianatan dimulai di rumah itu." batin Gaby
Gaby mengambil keputusan final. Ia menegakkan punggungnya, menarik dirinya keluar dari kursi, dan memasang wajah Nyonya Addison yang dingin.
"Aku tahu. Aku Analis Asti. Aku tahu probabilitas reaksiku. Tapi aku harus menghadapi mereka semua sekaligus. Pengkhianatan ini tidak akan ku sembunyikan. Aku akan menghadapi ibuku, ayahku, dan biarkan Gavin dan Luna melihatnya. Aku akan mendapatkan kejelasan penuh sebelum aku mengambil langkah strategis berikutnya." jelas Gaby
Asti hanya bisa mengangguk. Ia tahu Gaby yang dilihatnya saat ini bukanlah Gaby yang menangis atau memohon. Gaby yang ini adalah wanita yang akan berjuang untuk harga dirinya.
"Baiklah. Aku dan Safa bersamamu. Telepon aku begitu semuanya selesai. Apapun yang terjadi, Gaby, jangan pernah meminta maaf," ucap Asti, memeluk Gaby sekali lagi.
Gaby tersenyum tipis, senyum yang tidak mencapai matanya. Ia meninggalkan kafe pukul 12:30 siang. Ia telah memulihkan energinya, mengunci emosinya, dan siap untuk konfrontasi. Rumah orang tuanya adalah tujuan berikutnya, dan Gaby tahu, kehancuran sejati akan segera terjadi di sana.