Konfrontasi dan Pengkhianatan Keluarga

1020 Words
Pukul 12:55 siang, Gaby memarkir sedannya di depan rumah orang tuanya. Lingkungan perumahan kelas menengah atas itu tampak sunyi. Rumah itu memiliki fasad yang terawat, namun Gaby kini melihatnya sebagai benteng yang asing. Ia telah menghabiskan sebagian besar waktu dewasanya untuk mandiri, hanya sesekali pulang untuk kunjungan formal. Ia keluar dari mobil, mengenakan kembali kacamata hitamnya perisai terakhir sebelum menghadapi badai. ​Saat Gaby membuka pintu depan dengan kunci cadangan, ia merasakan gelombang kejutan yang kedua. Di ruang tamu utama, bukan hanya Ibunya, Ibu Risa, yang duduk dengan wajah cemas, tetapi juga Ayah Wijaya, yang seharusnya masih di kantor. Dan yang paling mengejutkan sekaligus mengkonfirmasi niat jahat mereka: Gavin Cavanaugh dan Luna Fritzyara sudah ada di sana. ​Luna duduk di samping Ibu Risa, tampak pucat tetapi dengan tatapan menantang. Gavin duduk di sofa tunggal, wajahnya yang tampan tampak gelisah dan panik. Kedatangan Gaby yang tak terduga telah mengubah suasana menjadi medan perang yang sunyi. ​Gaby melepas kacamata hitamnya tatapannya dingin dan terarah, seperti laser yang fokus pada titik target. Ia melangkah maju, meletakkan kunci mobilnya dengan sengaja di atas meja kopi marmer, menghasilkan bunyi denting yang tajam. Semua mata tertuju padanya. ​"Selamat siang, semuanya," sapa Gaby, suaranya terkontrol dan datar. "Sebuah kejutan melihat Direktur Operasional Addison Group dan model exclusive Addison Group berkumpul di sini sepagi ini. Apa ada pemotretan mendadak, Gavin?" ​Gavin segera berdiri, wajahnya memucat, mencoba mengambil inisiatif sebelum Gaby berbicara. "Gaby, Sayang, dengarkan aku. Ini tidak seperti yang kamu pikirkan. Aku bisa jelaskan, sungguh. Luna hanya..." ​"Duduk, Gavin," potong Gaby, suaranya sangat tenang, tetapi perintah itu mutlak. Gavin terdiam, terpaksa duduk kembali karena otoritas yang dipancarkan Gaby. ​Gaby mengambil tempat di kursi yang paling jauh dari Ibu Risa dan Luna, seolah menegaskan jarak yang sudah ada. Ia mengeluarkan ponselnya dan membuka folder 'Data Error'. ​"Pukul 11:07 siang tadi," Gaby memulai, berbicara seperti seorang analis yang mempresentasikan kasus yang gagal, "Aku mendapat data visual dan time stamp yang jelas. Itu adalah kamu Gavin, di The Monolith Hotel, bersama Luna. Dan ini bukan pertemuan bisnis. Foto itu menunjukkan keintiman yang tidak salah lagi." ​Gaby melempar ponselnya ke atas meja kopi. Ponsel itu mendarat di hadapan Ayah Wijaya. ​Ayah Wijaya segera mengambil ponsel itu, matanya menyipit saat melihat foto Gavin dan Luna di lobi hotel. Wajahnya menunjukkan keterkejutan sesaat, tetapi ekspresi itu cepat sekali digantikan oleh kemarahan yang ditujukan pada Gaby. ​Ibu Risa menjerit kecil dan langsung mendekap Luna. "Luna sayang, katakan ini tidak benar. Tapi Gaby kenapa kau memata-matai tunanganmu sendiri?" ​Luna, yang tadinya pucat, kini mengangkat dagunya, menunjukkan arogansi yang sudah Gaby prediksi. "Kak Gaby, aku bisa jelaskan. Itu adalah..." ​"Jangan bohong Luna," potong Gaby lagi. Ia menatap adiknya lurus-lurus. "Jangan lagi berbohong Aku melihat mobil dia, aku melihat raut wajahnya. Dan aku dengar bagaimana Gavin memujimu semalam, di apartemen yang seharusnya menjadi milikku bersamanya. Aku lelah dengan kepalsuan." ​Keheningan melanda ruang tamu. Ayah Wijaya meletakkan ponsel itu, menggesernya ke samping seolah foto itu menjijikkan. Namun, dia tidak melihat ke arah Gavin atau Luna. Dia menatap tajam ke arah Gaby. ​Ayah Wijaya: "Cukup, Gaby! Sudah kuduga ini akan terjadi. Kamu kembali ke sini hanya untuk membuat keributan." ​Gaby menatap Ayahnya, terkejut. "Keributan? Aku? Aku yang dikhianati, Ayah! Gavin selingkuh dengan Luna!" ​Ibu Risa mulai menangis, tapi tangisannya diarahkan untuk membela Luna. "Kamu selalu saja membuat masalah, Gaby! Kamu selalu menuntut, kamu selalu kaku. Luna hanya... hanya mencari kenyamanan. Kamu ini calon Direktur Operasional, Gaby, kenapa kamu tidak bisa membuat tunanganmu bahagia? Lima tahun! Dan ini balasanmu, memata-matai?" "Inilah pukulan terberat. Bukan pengkhianatan Gavin, tapi penolakan dari orang yang mengaku punya hubungan darah, bahkan terang-terangan membedakan darah daging nya sendiri. Mereka memilih status dan potensi kekayaan daripada keadilan." batin Gaby ​Ayah Wijaya."Dengar, Gaby. Gavin adalah aset Dia adalah kunci untuk masa depan keluarga kita. Kamu sudah dewasa dan cerdas, kamu seharusnya mengerti strategi ini! Luna lebih lembut, Luna lebih tahu bagaimana menyenangkan Gavin. Itu adalah kelemahanmu, Gaby! Kamu selalu fokus pada pekerjaanmu, kamu selalu mengedepankan logika. Kamu tidak membuat pria nyaman! Itu salahmu. ​Luna memanfaatkan momen itu. Air mata palsunya keluar. "Kak Gaby, aku tidak bermaksud. Tapi Gavin bilang kamu terlalu sibuk dengan laporan dan angka. Dia merasa diabaikan. Aku hanya... Aku ada di sana saat dia butuh didengarkan. Maafkan aku." ​Gavin, yang melihat keluarganya membela dirinya, merasa lega dan kini berani angkat bicara. "Ya, Gaby. Ayahmu benar. Aku merasa kamu melihatku seperti data yang harus kamu kelola. Luna... dia melihatku sebagai seorang pria. Aku akan meminta maaf. Aku akan mengakhiri dengan Luna. Tapi kau harus janji, Gaby, kamu harus menjadi istri yang lebih baik, lebih fokus padaku, bukan pada kariermu." ​ ​Kata-kata Gavin adalah percikan api terakhir. Gaby kini sepenuhnya dingin. Ia melihat empat wajah: tunangan yang egois, adik yang pengkhianat, dan orang tua yang transaksional. Cinta mereka semua telah mati. ​Gaby berdiri, tangannya terkepal di samping tubuhnya. Ia menatap Ayah Wijaya, Ibu Risa, Luna, dan terakhir Gavin. ​"Aku Analisa dan kamu benar, Ayah. Aku salah membaca data kalian," ujar Gaby, suaranya penuh otoritas yang belum pernah ia gunakan sebelumnya. "Kalian semua tidak melihatku sebagai keluarga atau tunangan. Kalian melihatku sebagai transaksi. Dan aku Analis yang baik. Aku tidak akan pernah menyelesaikan transaksi yang merugikan." ​Gavin terkejut. "Apa maksudmu, Gaby?" ​"Aku tidak akan memaafkan mu, Gavin. Aku tidak akan kembali padamu. Dan aku tidak akan menjadi Nyonya Cavanaugh," tegas Gaby. Ia menoleh ke Ayah Wijaya. "Ayah, Ibu, kalian sudah memilih aset yang kalian pikir lebih berharga. Selamat menikmati hasil pilihan kalian." ​Gaby mengambil ponselnya, mengantonginya, dan menatap Gavin untuk terakhir kalinya. "Kamu ingin aku menjadi istrimu? Kamu ingin aku membuatmu nyaman? Kamu ingin aku menempatkanmu di atas segalanya? Terlambat. Aku sudah memutuskan untuk menempatkan diriku sendiri di atas segalanya. Dan aku tidak akan pernah kembali." ​Tanpa menoleh lagi, Gaby berjalan keluar dari rumah itu, meninggalkan teriakan marah Ibu Risa dan tatapan panik Gavin yang menyadari bahwa ia baru saja kehilangan bukan hanya seorang tunangan, tetapi potensi aksesnya ke Addison Group melalui pernikahan. Babak pengkhianatan telah usai. Babak balas dendam akan dimulai. ​
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD