Gaby melaju meninggalkan rumah orang tuanya, meninggalkan teriakan kemarahan Ibu Risa dan wajah panik Ayah Wijaya. Ia tidak lagi melihat ke cermin spion.
Pandangannya lurus ke depan, fokus pada satu-satunya tujuan: kekuatan. Ia menyadari bahwa balas dendam harus dilakukan dari posisi yang lebih tinggi, dan ia hanya memiliki satu kartu liar yang tersisa kartu yang paling berisiko.
"Aku tidak punya uang Gavin. Aku tidak punya status Luna. Aku tidak punya belas kasihan keluarga. Yang kumiliki hanya kecerdasan dan koneksi yang belum terpakai." Batin Gaby
Ia memutar mobilnya menuju kafe bukan untuk menemui Asti lagi, melainkan untuk duduk sendiri menganalisis. Gaby membuka laptopnya tetapi bukan laporan klien yang ia susun, melainkan profil Edgar Emiliano Addison. Ia sudah sering menelitinya untuk Gavin, namun kali ini, ia meneliti Edgar sebagai senjata potensial.
Data Analisis Cepat:
Edgar membenci kelemahan, kemalasan, dan aib publik.
Edgar sangat bangga dengan Addison Group dan nama keluarganya.
Skandal perselingkuhan Gavin dengan Luna (seorang model yang terikat kontrak dengan anak perusahaan Addison) adalah aib ganda di mata Edgar.
Gavin adalah COO, namun posisinya tergantung pada persetujuan Ayahnya.
Gaby mengambil keputusan. Ia membutuhkan perlindungan, dan Edgar membutuhkan alasan yang sah untuk menghukum putranya. Mereka memiliki musuh bersama.
Gaby mencari kontak pribadi Edgar. Ia ingat Gavin pernah menyimpannya di e-mail lama. Setelah beberapa menit meretas dan menggali, ia menemukan nomor telepon itu. Tangannya yang memegang ponsel tidak bergetar. Emosinya telah dibekukan.
Pukul 13:45 siang. Gaby menekan tombol panggil. Nadanya bergetar dua kali, lalu diangkat. Suara di seberang sana dalam dingin, dan penuh otoritas yang mutlak.
Edgar: "Ya? Siapa ini? Saya sedang rapat."
Gaby: "Selamat siang, Tuan Addison. Ini Gaby Fritzyara."
Ada keheningan panjang di ujung telepon. Gaby bisa mendengar suara gesekan kertas di latar belakang. Rapat Edgar pasti terhenti.
Edgar suaranya kini lebih tajam. "Calon menantuku? Aku sedang tidak tertarik dengan urusan pernikahan. Ada apa? Kamu mengganggu rapat penting."
"Maaf mengganggu waktu Anda yang berharga, Tuan Addison. Tapi saya menelepon bukan mengenai pernikahan, melainkan mengenai stabilitas Addison Group dan reputasi Putra Mahkota Anda." ucap Gaby
Keheningan kembali melanda. Gaby tahu ia berhasil menangkap perhatian Edgar. Ia telah menggunakan bahasa Edgar: bisnis, reputasi, dan stabilitas.
Edgar: "Bicara yang jelas, Gaby."
"Gavin tidak sedang bekerja Tuan Addison. Pukul 11:07 siang tadi, ia berada di The Monolith Hotel bersama Luna Fritzyara, adik kandung saya, yang kebetulan adalah model yang terikat kontrak dengan salah satu anak perusahaan Anda. Masalah ini bukan hanya perselingkuhan Tuan. Ini adalah aib yang melibatkan potensi penyalahgunaan dana dan jam kerja perusahaan oleh Direktur Operasional. Saya baru saja meninggalkan rumah orang tua saya setelah mereka dan Gavin memilih untuk memihak Luna dan menyalahkan saya." ucap Gaby
Gaby menahan napas. Ia telah memaparkan semua data secara ringkas dan kejam.
Edgar suaranya berubah menjadi sangat tenang, yang jauh lebih menakutkan. "Kamu punya bukti time stamp?"
"Saya seorang Analis, Tuan Addison. Saya tidak akan menelepon Anda tanpa bukti fisik." jelas Gaby.
Edgar: "Aku mengerti. Kamu ingin aku melakukan apa? Menghukumnya?"
"Tidak Tuan. Saya ingin Anda datang ke rumah orang tua saya sekarang. Saya ingin Gavin dan keluarga saya melihat bahwa pengkhianatan ini tidak akan selesai hanya dengan kata maaf. Saya ingin mereka semua tahu, bahwa ketika mereka membuang saya, mereka telah membuat keputusan bisnis yang salah." ucap Gaby
Ada jeda lagi. Lalu, Edgar tertawa kecil, tawa yang dingin dan penuh ironi.
Edgar: "Menarik. Kamu sangat berani. Berikan aku alamat lengkapnya Gaby. Tunggu aku di sana. Aku akan menyelesaikan 'masalah bisnis' putra ku ini."
Gaby segera mengirimkan alamat lengkap rumah orang tuanya. Ia tahu ia tidak boleh kembali ke sana sendirian. Ia memutar mobilnya, kembali ke neraka yang baru saja ia tinggalkan.
Sementara itu, di rumah orang tua Gaby, suasana masih kacau. Ibu Risa meraung-raung, Ayah Wijaya mencoba menenangkan istrinya, dan Luna terlihat ketakutan. Gavin, yang tadinya merasa lega karena Gaby telah pergi kini berjalan mondar-mandir di ruang tamu.
Gavin: "Aku harus menghentikan Gaby. Dia tidak boleh merusak reputasiku! Dia terlalu cerdas, dia bisa membocorkan ini ke media."
Ayah Wijaya: "Dia tidak akan berani, Gavin. Dia punya harga diri. Dia tidak akan menjatuhkan dirinya sendiri. Kau harus segera mengurus Luna, pastikan dia bungkam."
Tiba-tiba, ponsel Gavin berdering. Wajahnya yang tegang semakin memucat saat ia melihat nama yang tertera: Edgar (Ayah).
Gavin menjawab dengan suara bergetar. "Papa? Ada apa?"
Edgar di telepon suara menggelegar, tanpa salam. "Kamu dimana? Jangan bohong. Aku tahu kau tidak di kantor. Aku sedang menuju ke alamat ini... alamat rumah orang tua Gaby. Aku ingin kamu tetap di sana. Kamu baru saja menciptakan krisis reputasi terbesar yang pernah kamu lakukan. Jangan bergerak sampai aku tiba."
Gavin menjatuhkan ponselnya. Wajahnya berubah menjadi hijau. Kepanikan total.
Gavin: "Dia tahu! Gaby meneleponnya! Ayah tahu semuanya. Dia... dia bilang dia akan datang ke sini."
Kepanikan Gavin segera menular ke seluruh ruangan. Ayah Wijaya dan Ibu Risa terdiam, menyadari konsekuensi dari pilihan mereka. Mereka tidak hanya mengkhianati Gaby, tetapi kini mereka harus menghadapi CEO Addison Group yang terkenal kejam, yang datang ke rumah mereka karena aib putranya.
Tepat pukul 14:30 siang, sebuah auman mesin yang dalam memecah kesunyian perumahan. Sebuah iring-iringan dua mobil hitam, yang dipimpin oleh sedan custom Edgar, berhenti di depan rumah Gaby.
Gaby tiba beberapa menit sebelum Edgar, memarkir di balik mobil Edgar. Ia berdiri di pintu masuk, menyaksikan Gavin dan Ayah Wijaya berlarian ke pintu depan dengan wajah memohon.
Edgar keluar dari mobil. Edgar Emiliano Addison, 47 tahun, tampil dalam setelan jas yang sempurna, memancarkan aura kekuasaan yang kejam. Kehadirannya mematikan
.
Ia tidak melirik Gavin yang ketakutan. Mata Edgar mencari satu-satunya orang di sana yang tidak menunjukkan rasa takut Gaby. Gaby berdiri di ambang pintu. Edgar melihat kekosongan dan kekuatan di mata Gaby bukan seorang calon menantu yang menangis, melainkan seorang sekutu yang dihancurkan.
Edgar melangkah masuk, mengabaikan Ayah Wijaya. Ia melihat Luna yang meringkuk, Ibu Risa yang ketakutan, dan Gavin yang pucat. Edgar berhenti di depan Gavin.
Edgar: "Kamu membuatku meninggalkan rapat Board of Directors yang bernilai miliaran hanya untuk melihat sampah ini?"
Gavin gemetar. "Pah aku bisa jelaskan. Luna... Luna hanya..."
Edgar: "Diam!" Raungan Edgar mengisi ruangan. Ia menatap ke arah Luna, lalu ke Ibu Risa. "Kalian semua tidak tahu dengan siapa kalian bermain. Dan kamu, Gaby," Edgar menoleh ke Gaby, suaranya kembali tenang, namun penuh ancaman, "Kamu telah membuat pilihan yang tepat. Masalah ini, aku yang akan menyelesaikannya."