Intervensi Nyonya Baru

722 Words
​​​Tiga hari berlalu sejak adegan kehancuran di rumah orang tua Gaby. Gaby kini berada di sebuah restoran pribadi duduk di hadapan Edgar. Di atas meja mahoni, terletak selembar kontrak. ​Gaby diam karena dia menunggu Mantan Papa mertuanya berbicara terlebih dahulu. "Kamu ingin balas dendam kan Gaby?, Aku juga menginginkan ketenangan, dan alasan yang sah untuk membersihkan Addison Group dari kebodohan dan aib publik," ujar Edgar. ​Gaby masih diam karena dia belum mengerti arah pembicaraan dari mantan Papa mertuanya. Edgar kelihatan menatap Gaby dengan dalam. "Menikahlah denganku Gaby?, Kamu akan ku jadikan Nyonya Addison. Secara hukum sah, secara emosional kontrak. Kamu mendapat perlindungan, status, dan kekuatan untuk menghukum mereka. Aku mendapatkan Analis yang loyal di sisiku. Ini adalah kontrak bisnis murni." ​Gaby tentunya langsung kaget dengan ucapan Edgar, tapi sebelum Gaby memeberikan protes Edgar langsung mendorong map. Gaby mengambil map itu dan membaca kontrak itu. ​Perjanjian itu berisi nikah dengan durasi lima tahun, tunjangan fantastis, posisi Analis Keuangan Utama di Addison Group, dan hak penuh atas balas dendam yang ia kendalikan. ​"Bukankah itu tawaran yang sangat menarik?," tanya Edgar saat melihat expresi wajah Gaby yang tadinya kaget kini terlihat tersenyum puas. ​"Tapi saya mau satu syarat," Gaby berkata. ​"Bilang saja." jawab Edgar santai. ​"Saya ingin memastikan Gavin sepenuhnya berada di bawah pengawasan saya. Dia harus merasakan kehancuran dari dalam." ​Edgar tersenyum tipis. "Tentu. Semua aset dan laporannya akan berada di bawah due diligence internal mu. Pernikahan akan dilakukan secara tertutup, hanya perwakilan hukum. Namun, untuk image perusahaan, kita perlu foto pernikahan mewah dan bukti visual lainnya untuk menutupi skandal putus tunanganmu." ​"Oke saya setuju." jawab Gaby. ​Gaby menandatangani kontrak itu. Ia tidak lagi menjadi Gaby Fritzyara. ​Dua hari kemudian, Gaby Addison lahir dalam pernikahan yang sah secara perdata. Tepat setelah upacara, ia mengenakan gaun putih rancangan khusus yang sangat elegan dan mahal. Ia dan Edgar menjalani sesi foto mewah yang sangat tertutup. Gaun itu, yang seharusnya dikenakan Gaby untuk Gavin, kini menjadi seragam perangnya. ​ ​Enam Minggu Kemudian. ​Pagi ini, Gaby Addison tiba di Addison Group, diantar sopir pribadi Edgar, langsung menuju lift CEO. Ia mengenakan setelan kantor navy blue yang mahal. Di jari manisnya, cincin berlian putih Edgar berkilauan, dan hatinya sedingin baja. ​Gaby duduk di meja kerja Analis Keuangan Utama, yang diletakkan persis di sebelah meja besar Edgar. Ia sudah berada di sini sejak dua hari setelah pernikahan, mempelajari dan menganalisis file tebal "GAVIN: KINERJA & KEUANGAN". ​Pukul 09:30 pagi, telepon intercom di meja Edgar berdering. ​Edgar mengangkatnya. "Ya, aku tahu. Tidak, jangan ganggu dia, katakan aku ada pertemuan penting. Tiga puluh menit lagi." ​Edgar menutup telepon dan menatap Gaby. "Itu adalah Sekretaris Gavin. Dia baru saja kembali dari urusan 'pribadi'. Aku tahu dia pasti akan datang ke sini untuk melobi dan membersihkan namanya setelah kita membatalkan pertunangan kalian. Dia tidak tahu kau sudah menjadi pengendaliku." ​ ​Tepat tiga puluh menit kemudian, pintu utama kantor CEO terbuka tanpa diketuk, dan Gavin Cavanaugh masuk. Wajahnya menunjukkan campuran rasa bersalah, panik, dan kemarahan. ​"Papa! Apa maksudnya semua ini? Membatalkan pernikahan, membekukan kartu kreditku, dan mengirim surat ancaman ke Luna? Papa tidak bisa melakukan ini!" teriak Gavin, suaranya sedikit gemetar. ​Gavin berdiri terpaku. Matanya menyapu ruangan, mencari keberadaan Edgar. Kemudian, pandangannya tertuju pada satu titik—meja kerja di sebelah Edgar—dan wanita yang duduk di sana. ​Gavin: "Gaby? Apa yang kau lakukan di sini? Kau datang untuk memohon job dari Papa?" ​Gaby tidak bergerak. Ia menutup file "GAVIN: KINERJA & KEUANGAN" di depannya, lalu menatap Gavin dengan tatapan dingin yang belum pernah dilihat Gavin sebelumnya. Tatapan seorang Analis yang kini memiliki semua data dan kekuasaan untuk menghancurkan subjeknya. ​Edgar berdiri dari kursinya, berjalan mendekati Gaby, dan meletakkan tangan kirinya dengan tegas di bahu Gaby. ​"Gavin, aku memperkenalkan mu," kata Edgar, suaranya penuh otoritas. "Wanita di hadapanmu bukan lagi 'Gaby Fritzyara' yang kamu buang. Dia adalah Nyonya Gaby Addison, istri sah ku." ​Gavin terhuyung mundur, matanya membelalak, tidak mampu memproses informasi tersebut. Di sana, di depannya, duduk Gaby, mengenakan cincin berlian Edgar, menempati tempat tertinggi di perusahaan yang seharusnya menjadi miliknya. Tahta yang terenggut. ​Gaby akhirnya berbicara. Ia tidak berteriak, tidak menangis, hanya berbisik, suaranya sedingin baja yang diasah. ​"Selamat datang, anakku."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD