Pengumuman Nyonya Addison dan Kejatuhan Gavin

1450 Words
​Ruangan CEO Addison Group terasa seperti medan magnet dengan dua kutub berlawanan: otoritas dingin Edgar dan keputusasaan panas Gavin. ​Gavin berdiri mematung. Kata-kata Gaby, "Selamat datang, anakku," bagaikan palu godam yang menghantam seluruh kerangka logikanya. Matanya yang membelalak terpaku pada cincin berlian di jari Gaby. Cincin itu bukan sekadar perhiasan; itu adalah meterai kepemilikan. ​"Tidak, ini lelucon," suara Gavin bergetar, lebih seperti bisikan ketidakpercayaan daripada raungan marah. "Ini tidak masuk akal. Papa, apa maksud dari sandiwara ini? Gaby, kamu.. kamu pasti mengarang cerita. Ini pasti taktikmu untuk membuatku cemburu!" ​Gavin segera melangkah maju, tangannya terangkat seolah ingin meraih Gaby untuk memaksa Gaby menjelaskan, atau mungkin untuk menyangkal realitas yang ia lihat. ​Namun, sebelum Gavin bisa mencapai meja, Edgar dengan sigap memasang badan. Ia menempatkan dirinya di antara putranya dan Gaby. Tubuhnya yang tegap dan berwibawa berfungsi sebagai tembok pemisah yang tak terlewati. ​"Jaga jarakmu Gavin," perintah Edgar, nadanya datar namun mematikan. "Dia adalah istriku. minimal kamu mempunyai rasa hormat atau kamu tidak akan pernah lagi menginjakkan kaki di lantai ini." ​Gavin terhenti, napasnya memburu. Ia menatap tajam Gaby, matanya penuh tuduhan dan kemarahan. ​"Gaby, kamu manipulatif! Kamu menggunakan pengkhianatanku sebagai alasan untuk... untuk memeras Papa!" seru Gavin, menunjuk ke arah Gaby. "Kamu pikir dengan menikahi Papa, kamu akan mendapatkan posisiku? Kamu salah! Pernikahan kalian tidak sah! Kamu dan Papa bahkan belum putus dari pertunangan kami secara resmi!" ​Gaby tersenyum tipis. Senyum itu tidak menjanjikan kehangatan, melainkan perhitungan yang kejam. ​"Tentu saja kami sudah putus Gavin," jawab Gaby, suaranya tenang. "Kamu sendiri yang memilih adikku, dan keluargaku mendukung pilihan itu. Keputusan untuk mengakhiri pertunangan kita telah ku ambil pada pukul 12:55 siang, hari Rabu, di ruang tamu orang tuaku. Itu adalah data yang sangat jelas." ​Gavin menggeleng liar. "Surat nikah kalian mana?! Tunjukkan padaku!" tantangnya. ​Edgar menghela napas panjang, seolah menghadapi kenakalan anak kecil. Ia menoleh ke mejanya dan menekan intercom. ​"Kafi, tolong bawa dokumen yang aku minta," kata Edgar. ​Tak lama kemudian, pintu kantor terbuka, dan Kafi, asisten pribadi senior Edgar, masuk dengan langkah tenang, membawa amplop kulit cokelat. Kafi melirik Gaby dengan hormat, mengangguk singkat, dan menyerahkan amplop itu kepada Edgar. ​Edgar membuka amplop itu tanpa tergesa-gesa. Ia mengeluarkan selembar dokumen yang dihiasi stempel resmi. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Edgar melemparkannya ke atas meja kopi di hadapan Gavin. ​Dokumen itu terhampar di atas marmer. Judul di bagian atasnya sangat jelas: SURAT NIKAH SAH. Di bawahnya, tertera nama Edgar Emiliano Addison dan Gaby Fritzyara, dengan tanggal yang hanya berselang dua hari dari hari konfrontasi di rumah orang tua Gaby. ​Gavin meraih dokumen itu, membacanya cepat, lalu meremasnya dalam genggaman. Wajahnya yang semula pucat kini memerah karena malu dan kemarahan. Ia menggeram. "Kamu... kalian merencanakan ini semua?!" ​"Kami hanya menyelesaikan urusan bisnis yang tidak pernah kamu selesaikan," jawab Gaby, matanya berkilauan kemenangan dingin. "Dan kini, aku tidak hanya mengawasimu sebagai tunangan Gavin. Aku mengawasimu sebagai Istrinya." ​Edgar mengangguk ke arah Kafi, memberi isyarat bahwa konfrontasi pribadi ini telah berakhir. ​"Kafi, sudah siapkah pengumpulan karyawan untuk pengumuman pagi ini?" tanya Edgar. ​"Sudah Tuan Addison. Seluruh karyawan inti di Lantai 30 dan 31 telah berada di Executive Lounge. Saya juga sudah mengirimkan foto resmi pernikahan Anda ke seluruh internal mailing list Addison Group." Kafi melaporkan dengan efisiensi sempurna. ​Mata Gavin membelalak horor. "Foto? Papa! Kamu akan mempermalukanku di hadapan semua orang?" ​"Bukan mempermalukanmu, Gavin," koreksi Edgar, merapikan dasinya. "Aku hanya mengumumkan status Analyst baruku, dan sekaligus Nyonya di perusahaan ini." ​Edgar mengabaikan raungan marah Gavin. Ia mengaitkan lengannya ke lengan Gaby. Sentuhan itu tidak romantis; itu adalah demonstrasi kekuatan. Gaby menerima sentuhan itu. ​"Gavin, aku memberimu waktu lima menit untuk menenangkan diri dan kembali bekerja. Atau laporanku akan dimulai dengan warning keras dariku," ujar Gaby, suaranya kini kembali pada nada Analis Bisnis yang profesional. ​Gavin berdiri terhuyung. Ia menyadari kekalahan totalnya. Ia tidak lagi menghadapi mantan tunangan yang rapuh, melainkan Nyonya Addison seorang Ratu yang baru dinobatkan, yang kini mengendalikan kunci kehidupannya. Ia melangkah keluar dari kantor CEO dengan langkah kaki yang berat dan penuh kehinaan. ​Edgar dan Gaby kemudian berjalan menuju Executive Lounge. Lorong lantai eksekutif yang biasanya sunyi kini penuh bisikan. Sejak Gaby pertama kali tiba di kantor, semua orang sudah tahu. ​"Itu nona Gaby, kan? Calon istrinya tuan muda Gavin?" "Tidak, bodoh! Dia baru saja menikah dengan Pak Edgar! Foto mereka beredar di internal mail setengah jam yang lalu!" "Astaga, bukankah dia baru putus tunangan dengan Gavin?" "Mereka terlihat sangat mesra, padahal dia adalah Analis di firma konsultan kecil..." ​Gaby merasakan tatapan ratusan mata, tetapi ia tidak menunjukkan emosi apa pun. Ia memasang topeng yang sama dinginnya dengan cincin di jarinya. ​Mereka memasuki Executive Lounge. Ruangan itu dipenuhi oleh puluhan wajah, dari manajer senior hingga kepala divisi. Semua orang terdiam saat melihat kombinasi yang tak terduga ini: Edgar Addison yang kaku berjalan mesra dengan Gaby, mantan calon menantunya. ​Edgar melangkah ke podium. Gaby berdiri tegak di sisinya. ​"Selamat pagi," suara Edgar menggelegar, mengisi ruangan. "Saya tahu kalian pasti sudah menerima internal memo pagi ini. Namun, saya ingin secara pribadi mengumumkan dua hal penting terkait struktur kepemimpinan dan masa depan Addison Group." ​"Pertama, perkenalkan Nyonya Gaby Addison, istri sah saya," kata Edgar, tangannya melingkari pinggang Gaby, menariknya lebih dekat, sebuah gesture yang memproyeksikan keintiman dan kepemilikan. ​Seluruh ruangan berdengung. Bisikan yang tadinya pelan kini meledak dalam keterkejutan. ​"Nyonya Addison tidak hanya akan berbagi nama keluarga saya, tetapi juga visi saya untuk perusahaan ini," lanjut Edgar, suaranya menguat. "Nyonya Addison, dengan latar belakangnya sebagai Analis Bisnis berpengalaman, segera akan menjabat sebagai Analis Strategis Utama yang akan melapor langsung kepada saya. Tugas pertamanya adalah melakukan due diligence internal terhadap semua proyek besar dan struktur keuangan, terutama Proyek Grand Tower." ​Wajah-wajah di ruangan itu mulai menunjukkan campuran keterkejutan dan ketakutan. Semua orang tahu, Proyek Grand Tower adalah wilayah kekuasaan Gavin. Ini adalah pengumuman perang yang dibalut pengumuman pernikahan. ​Edgar melanjutkan, mengantisipasi gosip yang beredar mengenai transisi mendadak ini. Ini adalah bagian yang paling krusial Edgar harus melindungi citra Gaby untuk menjadikannya alat yang efektif. ​"Saya tahu banyak dari kalian memiliki pertanyaan mengenai waktu pernikahan ini, terutama setelah skandal putus tunangan yang melibatkan putra saya Gavin dan model Luna Fritzyara," kata Edgar, menggunakan kata "skandal" dengan penekanan dingin. ​Semua orang terkejut karena Edgar berani menyebut skandal itu secara terbuka. ​"Saya ingin menegaskan," lanjut Edgar menatap mata audiensnya, "bahwa Gaby Fritzyara adalah korban dari pengkhianatan yang tidak termaafkan. Dia adalah wanita dengan harga diri, kecerdasan dan integritas yang luar biasa, yang memilih untuk tidak menoleransi kebodohan dan aib publik. Keputusan untuk menikah dengan saya adalah keputusan bisnis dan pribadi yang saya dukung penuh, untuk memastikan Analis yang brilian ini tetap berada di sisi yang benar dalam pasar." ​Gaby menahan napas. Kata-kata Edgar telah menanggalkan semua tuduhan bahwa ia adalah pemeras atau wanita simpanan, dan malah memberinya jubah pahlawan yang terkhianati. ​"Oleh karena itu," Edgar menambahkan, suaranya berubah menjadi ancaman tersembunyi, "siapa pun di perusahaan ini yang mencoba menyebarkan gosip tak berdasar, meremehkan integritas istri saya, atau meragukan posisinya sebagai Analis Strategis Utama, akan segera berhadapan dengan HRD dan saya sendiri." ​Ancaman itu jelas: Menyerang Gaby sama dengan menyerang Edgar. Ruangan kini dipenuhi keheningan absolut. ​Edgar kemudian melunak, menoleh ke Gaby. "Sayang ada yang ingin kamu sampaikan kepada tim?" ​Gaby maju selangkah. Ia menatap ke arah kerumunan, matanya bertemu dengan beberapa manajer yang dulu memandanginya sebagai "calon istri Gavin" yang cantik tapi "lemah". ​"Selamat pagi semuanya," suara Gaby tenang, profesional, dan berwibawa. "Saya bukan Nyonya Addison yang datang untuk beramah tamah. Saya di sini untuk bekerja. Sebagai Analis Strategis Utama, saya akan menuntut transparansi data penuh dan efisiensi maksimal. Saya tidak tertarik pada politik kantor. Saya hanya tertarik pada angka dan kinerja." ​"Dan mengenai Proyek Grand Tower," lanjut Gaby, melontarkan pukulan telak yang pasti akan sampai ke telinga Gavin, "Saya akan segera meminta laporan quarterly yang tidak pernah saya dapatkan saat menjadi tunangan COO. Saya akan mulai audit internal segera. Mari kita pastikan bahwa setiap biaya yang dikeluarkan dibenarkan oleh data." ​Pengumuman Gaby mengakhiri acara tersebut dengan atmosfer yang tegang. Saat Edgar dan Gaby berjalan keluar, mereka tidak hanya meninggalkan karyawan yang terkejut, tetapi juga pernyataan perang resmi terhadap kekuasaan Gavin. ​Di luar Lounge, Gaby merasakan kepuasan dingin. Rencana itu berjalan sempurna. Ia kini memiliki kekuatan, dan ia sudah memulai kehancuran Gavin hanya dengan beberapa kalimat. ​"Kerja bagus Nyonya Addison," bisik Edgar, matanya memancarkan persetujuan yang jarang ia berikan. ​Gaby hanya mengangguk. "Terima kasih juga Tuan Addison. Sekarang, saatnya saya melihat data Proyek Grand Tower."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD