Perang Darah dan Intervensi Suami

1269 Words
​Tegang dan sunyi. Pukul tiga sore, Lantai Eksekutif Addison Group berada dalam keadaan tegang pasca-pengumuman. Gaby duduk di meja Analis Strategis Utamanya, dikelilingi oleh tumpukan laporan Proyek Grand Tower. Ia bekerja tanpa henti, memanfaatkan adrenaline post-confrontation untuk membedah data Gavin. ​Ia tahu, kabar pernikahan ini tidak hanya menghancurkan Gavin di kantor, tetapi juga meledakkan bom waktu di rumah orang tuanya. Ia hanya menunggu. ​Tepat pukul 15:45, ponsel pribadinya yang tersimpan di laci bergetar keras. Layar menunjukkan ID pemanggil: Papa Wijaya. ​Gaby mengambil napas panjang, menenangkan dirinya. Ia memasang mode Analis yang dingin, siap mencatat setiap serangan verbal. Ia menjawab panggilan itu, tanpa salam. ​"Ya," jawab Gaby singkat. ​Suara Papa Wijaya meledak di ujung telepon, penuh kemarahan dan rasa malu yang meluap-luap. ​"Gaby! Apa-apaan ini?! Apa yang kamu lakukan?! Seluruh berita online dan grup chat pebisnis dipenuhi foto pernikahanmu dengan Edgar Addison! Kamu gila?! Kamu sudah putus dengan Gavin, lalu dalam dua hari kamu menikah dengan Papanya?! Kamu mau menaruh wajah kami di mana?!" ​Gaby tertawa, tawa yang kering dan tanpa humor. "Wajahmu? Bukankah itu yang paling kalian pedulikan sejak awal Papa? Image? Reputasi?" ​"Kamu tidak punya malu!" raung Papa Wijaya. "Kamu mencoreng nama keluarga Fritzyara! Kami membesarkanmu, Gaby, dan ini balasannya? Kamu menikah dengan pria yang pantas menjadi Papa-mu untuk merebut kekayaan yang seharusnya milik Luna dan Gavin!" ​Kata-kata itu menusuk Gaby, tetapi tidak lagi menyakitkan; mereka hanya menguatkan benteng kekecewaannya. Gaby menegakkan punggungnya, suaranya menjadi sangat tajam, mengiris seperti pisau. ​"Merebut? Kalian sudah memilih, Papa," balas Gaby. "Kalian memilih untuk membuangku demi Luna, demi janji kekayaan Gavin. Kalian bilang aku tidak tahu cara menyenangkan pria, bahwa aku terlalu fokus pada logika dan pekerjaan. Sekarang, logika itu membawaku ke kursi Nyonya Addison, tempat yang seharusnya diduduki Gavin." ​"Jangan angkuh, Gaby! Kamu hanya boneka yang digunakan Edgar untuk menyakiti putranya!" ejek Papa Wijaya, mencoba merendahkan status baru Gaby. "Semua orang tahu pernikahanmu hanya sandiwara! Kami tidak akan membiarkan ini! Kamu akan menceraikannya dan memohon ampun pada Gavin!" ​Gaby merasakan amarah yang sudah lama ia tahan, kini mendidih hingga ke ubun-ubun. Semua kekecewaan, rasa sakit pengkhianatan, dan penolakan orang tua meledak dalam satu kalimat. ​"Memohon ampun? Aku yang harusnya malu mempunyai orang tua yang berhati transaksional sepertimu dan Mama," ucap Gaby, suaranya rendah namun penuh kekuatan mematikan. "Aku lebih malu karena darahmu mengalir di tubuhku. Jika ada metode untuk mengganti golongan darah yang mengalir di badan Aku, aku lebih suka mengganti darah yang mengalir di badan aku, agar aku tidak punya ikatan apa pun dengan kalian!" ​Keheningan melanda di ujung telepon. Papa Wijaya pasti terkejut dengan keganasan balasan Gaby. ​"Kamu keterlaluan, Gaby! Jangan pernah berpikir kamu bisa berbicara seperti itu padaku! Aku Papamu! Kamu akan menyesali kata-kata ini! Aku akan datang ke kantor—" ​Tepat saat ancaman Papa Wijaya mencapai puncaknya, pintu kantor Gaby terbuka. Edgar Addison masuk dengan langkah tenang dan berwibawa, membawa dua cangkir kopi. ​Gaby yang membelakangi pintu tidak menyadari kehadiran Edgar sampai Edgar berdiri tepat di belakang kursinya. Edgar, dengan pendengaran tajamnya, pasti mendengar sebagian besar pertengkaran panas itu, terutama kalimat terakhir Papa Wijaya. ​Papa Wijaya di telepon masih mengancam: "... Kamu tidak akan bisa bersembunyi di balik nama Addison! Aku Papamu, dan aku akan menyeretmu pulang, kamu dengar itu, Gaby?!" ​Mata Edgar menajam. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, ia dengan cepat dan tegas merebut paksa ponsel dari tangan Gaby. ​"Berhenti mengganggu istri saya," suara Edgar terdengar tenang tetapi memiliki otoritas yang mutlak dan mengerikan. ​Ada keheningan total di ujung telepon. Papa Wijaya pasti tidak menyadari siapa yang baru saja merampas panggilan itu. ​"Siapa ini?! Jangan ikut campur urusan keluargaku!" seru Papa Wijaya. ​"Ini Edgar Addison," jawab Edgar. "Dan Nyonya Gaby Addison, Analis Strategis Utama saya, adalah urusan saya sepenuhnya. Jaga nada bicara Anda kepada istri saya. Saya dengar apa yang Anda katakan. Tuan Wijaya," ​Edgar sengaja menjeda, lalu memberikan perintah yang tidak dapat dibantah. "Tunggu kami di rumah. Jangan kemana-mana. Saya akan membawa Gaby ke sana sebentar lagi. Kita akan selesaikan urusan keluarga ini, dan kita akan menegaskan batas-batas Gaby yang baru." "​Klik!" ​Edgar memutus panggilan secara sepihak dan meletakkan ponsel Gaby di meja. ​Gaby yang terkejut karena intervensi yang tiba-tiba dan tegas itu, seketika merasa kesal karena Edgar berani mencampuri urusannya dan membuat keputusan kunjungan tanpa persetujuannya. ​"Kenapa kamu malah mau kita menemui Papa?" protes Gaby, ia berdiri dan berbalik, wajahnya menunjukkan kemarahan. "Kamu tahu Mas, aku ini benci dengan mereka! Kata-kata Mas tadi itu seperti angin sejuk yang Edgar rasakan!" ​Gaby seketika terdiam. Ia terkejut dengan kata-kata yang baru saja keluar dari mulutnya: "Mas". Selama ini ia hanya memanggil Edgar dengan sebutan "Tuan Addison" atau "Bapak Edgar", menjaga jarak profesional dan formalitas. Namun, intervensi Edgar yang tiba-tiba dan perlindungan yang ia berikan terhadap serangan Papa Wijaya membuat naluri Gaby yang rindu akan dukungan sejati melepaskan panggilan intim itu. ​Edgar, yang tadinya menatap tajam, sedikit menyipitkan mata. Bibirnya sedikit terangkat, ada sedikit nada geli. ​Gaby segera menarik diri dari emosionalitas yang sesaat itu. "Maksud saya, Tuan Addison. Kenapa Tuan Addison membuat keputusan ini? Saya tidak mau ke sana." ​Senyum tipis Edgar menghilang. Ia menyandarkan tubuhnya ke meja Gaby, mata cokelatnya menatap lurus ke mata Gaby. ​"Aku lebih senang dipanggil Mas daripada Tuan, Gaby," ujar Edgar, suaranya rendah dan penuh makna. "Kita sudah menikah, dan kamu baru saja membuktikan bahwa kamu butuh perlindungan, bukan formalitas kaku. Biarkan aku memainkan peran sebagai suamimu setidaknya di depan publik dan keluargamu." ​ ​Gaby terdiam, pipinya sedikit merona karena malu. Ia mengangguk kaku. ​"Baik, Mas. Tapi kenapa kita harus ke sana?" tanya Gaby, kembali ke mode Analis yang logis. "Mereka tidak pantas mendapatkan waktu kita." ​Edgar mengambil cangkir kopi Gaby dan menyerahkannya. "Kamu benar. Mereka tidak pantas mendapatkan waktu kita. Tapi ada dua alasan mengapa kita harus pergi, Nyonya Addison." ​Edgar mulai menjelaskan, suaranya kembali menjadi CEO yang berhitung. ​"Pertama, Penegasan Kekuasaan. Mereka meremehkanmu dan meragukan pernikahan kita. Jika kita menghindar, mereka akan berasumsi mereka bisa menyeretmu kembali ke masalah mereka. Kita harus pergi ke sana untuk menunjukkan bahwa kau tidak lagi milik mereka. Kau milikku. Dan aku tidak mengizinkan karyawan Addison Group (yang secara teknis kau adalah karyawan utama) diperlakukan seperti itu." ​"Kedua, Aib Gavin. Papamu adalah pebisnis. Dia akan melobi Gavin untuk mempertahankan posisinya, mencoba membersihkan nama Luna. Jika Papamu tidak melihat otoritasmu secara langsung, dia akan terus mengganggu. Kunjungan kita adalah peringatan langsung dan tegas: Gavin dan Luna tidak akan disentuh, kecuali melalui izinmu." ​Edgar menatap Gaby, matanya penuh perhitungan. "Kamu ingin kehancuran Gavin dari dalam? Maka orang tuamu harus melihat bahwa perisai itu kini ada di tanganmu. Kamu adalah gerbang antara mereka dan Gavin. Kamu adalah pemegang otoritas yang sah. Kau akan menjadi juri, dan aku adalah palunya." ​Gaby merasakan lonjakan kekuatan baru. Edgar benar. Menghindari mereka adalah kelemahan. Menghadapi mereka sebagai Nyonya Gaby Addison adalah hukuman yang paling kejam. ​"Kapan kita berangkat, Mas?" tanya Gaby, kali ini panggilan 'Mas' terasa lebih alami, diisi dengan niat balas dendam. ​Edgar tersenyum, senyum yang menunjukkan aliansi kuat. "Sekarang. Bersihkan mejamu. Bawalah cincin berlian itu dan aura Analis Strategis Utamamu. Kita akan membuat Grand Entrance di rumah Fritzyara." ​Gaby berdiri tegak. Ia mengangguk sekali, mengambil tas tangannya. Perasaan marah dan dendamnya kini telah dikemas menjadi tekad baja. Misi ini bukan hanya tentang menghukum Gavin, tetapi juga tentang membalas pengkhianatan dari orang yang seharusnya ia sebut keluarga. ​"Baiklah, Mas. Mari kita tunjukkan kepada mereka apa arti sebenarnya dari keputusan bisnis yang salah."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD