Sang Produser Tiba di Panggung Pengkhianatan

1319 Words
Tepat pukul 16:45 sore, lingkungan perumahan kelas menengah atas tempat keluarga Fritzyara tinggal kembali diguncang oleh kedatangan mobil mewah. Sebuah iring-iringan dua mobil hitam mengkilap, yang dipimpin oleh sedan custom Edgar, memasuki halaman rumah Gaby. Kali ini, tidak ada yang perlu buru-buru; kedatangan ini adalah sebuah pertunjukan kekuasaan yang terencana. ​Gaby dan Edgar turun dari mobil secara bersamaan, sebuah adegan yang dipentaskan sempurna. Gaby mengenakan blazer dress merah marun yang elegan, kontras tajam dengan setelan abu-abu Edgar. Cincin berlian itu menyambut sinar matahari senja, mencolok. ​Namun, kejutan menyambut mereka. ​Di beranda rumah, sudah berdiri dua sosok yang seharusnya tidak ada di sana: Gavin Cavanaugh dan Luna Fritzyara. ​Gavin tampak gelisah, wajahnya masih pucat karena konfrontasi di kantor. Sementara Luna, meskipun berusaha keras menampilkan aura percaya diri seorang model, terlihat gugup dan marah. Rupanya, setelah telepon dari Papa Wijaya, Gavin dan Luna dipanggil ke sana untuk 'memperkuat front keluarga' dan menghadapi Gaby. ​Gavin dan Luna terperanjat melihat kedatangan Edgar dan Gaby secara bersamaan. Edgar tidak menyia-nyiakan waktu. Ia mengaitkan lengan Gaby dan berjalan maju. ​Mata Gaby bertemu dengan mata Luna. Pandangan Gaby adalah kehampaan yang diremehkan; ia menatap Luna bukan sebagai adik, tetapi sebagai properti yang murah. Luna, merasakan pandangan itu, segera tersulut. ​"Kamu jalang!" desis Luna, mencoba melangkah turun dari beranda. "Kamu berani menikah dengan Papa-nya Gavin hanya untuk—" ​"Diam Luna!" Gavin dengan sigap meraih lengan Luna dan menariknya ke belakang. Ia tahu kekuasaan Gaby saat ini ada di tangan Edgar, dan Gavin tidak ingin memprovokasi kemurkaan CEO itu lagi. "Jangan memicu kemarahan Papa dan Gaby!" ​Edgar mengabaikan pertengkaran kecil itu. Ia menoleh ke Gaby. "Senyum Nyonya Addison. Kita datang sebagai pemenang." ​Gaby menarik sudut bibirnya. Itu bukan senyum kebahagiaan, melainkan senyum kejam seorang strategis yang melihat rencana berjalan sempurna. ​Mereka tiba di beranda. Papa Wijaya dan Ibu Risa bergegas keluar. Ibu Risa tampak kacau, sementara Papa Wijaya mencoba mempertahankan wajah tenangnya sebagai kepala keluarga. ​"Tuan Edgar! Ada apa ini? Kenapa kalian datang tanpa pemberitahuan?" tuntut Papa Wijaya, mencoba berlagak sebagai tuan rumah. ​"Saya sudah memberi tahu Anda lewat telepon, Tuan Wijaya," jawab Edgar dingin, tanpa melepaskan lengan Gaby. "Saya di sini untuk menegaskan status istri saya, dan menetapkan batas-batas yang tidak boleh Anda dan keluarga Anda lewati lagi." ​Ibu Risa menatap Gaby dari atas ke bawah, terkejut melihat aura kemewahan dan d******i yang terpancar dari putrinya yang dulu dianggap 'membosankan'. ​"Gaby! Kamu benar-benar keterlaluan! Kamu menghancurkan hidup Gavin dan Luna!" jerit Ibu Risa. ​"Aku hanya menghancurkan data yang sudah rusak, mah," balas Gaby datar. "Masuk. Aku tidak suka berdiskusi bisnis penting di teras." ​Gaby memimpin jalan masuk. Edgar, dengan senyum tipis kemenangan, mengikuti di belakangnya. Di ruang tamu yang sama di mana Gaby dicampakkan, kini ia kembali sebagai kekuatan yang tak terbantahkan. ​ ​Di dalam ruang tamu, Gavin, Luna, Papa Wijaya, dan Ibu Risa membentuk front pertahanan yang kaku. Gaby dan Edgar duduk di sofa utama, seolah mereka adalah penguasa yang sedang menerima audiensi. ​"Sekarang, bicara, Gaby!" perintah Papa Wijaya, suaranya naik. "Apa maksud dari semua ini? Kamu menikah dengan Tuan Edgar, Papa Gavin? Kamu ingin menghancurkan kami semua?" ​"Tidak, Papa," jawab Gaby, tenang. "Aku tidak ingin menghancurkan kalian. Aku hanya ingin membalas pengkhianatan yang kalian berikan padaku. Dan aku ingin keadilan untuk due diligence Gavin yang buruk." ​Ibu Risa langsung menyerang Gaby. "Keadilan? Kamu egois! Kamu tidak memikirkan perasaan adikmu, Luna! Kamu tidak memikirkan reputasi kami di mata masyarakat!" ​"Reputasi apa yang kalian khawatirkan, mah?" Gaby membalas. "Reputasi keluarga yang memilih uang dan kekayaan daripada anak kandung mereka sendiri?" ​Papa Wijaya tidak bisa menahan amarahnya lebih lama lagi. Ia merasa posisinya sebagai kepala keluarga diremehkan. Wajahnya merah padam. ​"Cukup, Gaby! Kamu sudah melampaui batas!" ​Papa Wijaya melangkah cepat, tangannya terangkat tinggi, berniat menampar Gaby untuk mendisiplinkannya seperti yang biasa ia lakukan di masa lalu. ​Namun, sebelum tamparan itu mendarat, sebuah tangan baja yang kuat menyambar pergelangan tangan Papa Wijaya di udara. Itu adalah Edgar. ​Edgar menahan tangan Papa Wijaya, matanya yang dingin memancarkan ancaman yang mematikan. Papa Wijaya merintih kesakitan, terkejut oleh kekuatan fisik dan otoritas yang tiba-tiba. ​"Jangan pernah berpikir untuk menyentuh istri saya," suara Edgar sangat rendah, nyaris berbisik, tetapi menguasai seluruh ruangan. "Anda tidak lagi memiliki otoritas atas dirinya, Tuan Wijaya. Jika Anda ingin berbisnis dengan Addison Group, Anda harus menghormati istri saya. Dia adalah Nyonya Addison, dan dia bukan lagi putrimu untuk kau pukul." ​Edgar melepaskan pergelangan tangan Papa Wijaya dengan sebuah dorongan keras yang membuat Papa Wijaya terhuyung mundur. Gavin dan Luna hanya bisa menyaksikan pemandangan itu dengan ngeri. ​"Sekarang, kembali ke inti masalah," kata Edgar, kembali duduk, seolah insiden tamparan itu hanyalah gangguan kecil. "Nyonya Addison, berikan bukti status Anda kepada mereka." ​Gaby mengangguk. Ia mengeluarkan dompetnya dan mengeluarkan kartu kecil yang sudah dilaminasi—Kartu Keluarga (KK) dan Surat Nikah yang difoto dan dicetak ulang sebagai bukti praktis. Ia meletakkannya di meja. ​"Ini," kata Gaby, suaranya penuh kemenangan. "Tertulis jelas: Gaby Addison, berstatus Istri dari Edgar Emiliano Addison." ​Ibu Risa mengambil dokumen itu, matanya dipenuhi air mata keputusasaan. "Ini gila! Ini semua permainanmu, Gaby! Kau pemain yang licik!" ​ ​Gaby tertawa kecil, melipat tangannya di d**a. ​"Kamu benar Mah. Kalian semua adalah pemain. Kalian semua memerankan peran: Papa sebagai ayah yang bijaksana, Ibu sebagai ibu yang peduli citra, Luna sebagai adik yang tidak bersalah, dan Gavin sebagai tunangan yang mencintai," ujar Gaby, nada bicaranya sinis. ​"Tapi ada satu perbedaan besar," lanjut Gaby, menatap intens ke arah Ibu Risa dan Papa Wijaya. "Kalian memang pemain. Tapi saat ini, aku yang menjadi Produsernya. Aku yang menulis naskah, aku yang menyusun adegan flash-forward dan aku yang menentukan kehancuran akhir setiap karakter. Kalian hanyalah pion yang melayani visiku." ​Wajah Luna menjadi merah karena marah. "Kamu menghina kami!" ​Gaby menoleh ke Luna, tatapannya kini berubah menjadi peringatan Analis yang mengancam sanksi. ​"Kamu Luna harusnya diam. Kamu terikat kontrak dengan anak perusahaan Addison Group," Gaby mengingatkan. "Sebagai Analis Strategis Utama, aku akan segera meninjau semua kontrak talent untuk memastikan integritas moral. Kau tahu, skandal perselingkuhan dengan COO bisa menjadi alasan sah untuk pembatalan kontrak, merusak reputasimu, dan membuatmu harus membayar denda besar." ​Luna menelan ludah, seketika takut. Ia menoleh ke Gavin, mencari perlindungan, tetapi Gavin sendiri tampak hancur dan tak berdaya. ​Papa Wijaya mencoba serangan terakhir, menggunakan satu-satunya kartu yang ia pikir masih dimilikinya: kekayaan keluarga. ​"Baiklah! Kalau begitu, jangan pernah kembali ke sini! Kami tidak akan mengakui pernikahan ini!" seru Papa Wijaya. "Kamu telah menghina kami, kamu menghina darah yang mengalir di badan kamu! Mulai hari ini, kamu tidak akan mendapatkan sepeser pun warisan! Aku tidak akan menganggapmu lagi sebagai putriku!" ​Gaby memiringkan kepala, ekspresi di wajahnya menunjukkan rasa geli yang tulus. ​"Warisan?" Gaby tertawa. "Papa, aku menikah dengan Edgar Addison, CEO Addison Group. Berapa nilai warisanmu dibandingkan dengan nett worth suamiku? Warisanmu adalah data yang tidak signifikan dalam portofolioku." ​Gaby berdiri, dan Edgar juga berdiri di sampingnya. Gaby menatap Papa Wijaya. ​"Aku sangat senang mendengarnya, Papa," jawab Gaby dengan kepuasan yang dingin. "Aku setuju sepenuhnya. Tolong kirimkan surat resmi pembatalan warisan itu ke alamat kantor Addison Group untuk legalisir. Aku tidak mau ada ikatan apa pun, baik darah maupun uang, dengan kalian semua. Kalian sudah membuat keputusan bisnis yang salah dengan memilih Luna dan Gavin. Dan sekarang, kalian harus menanggung konsekuensinya." ​Gaby menoleh ke Edgar. "Mas, kurasa urusan keluarga ini sudah selesai. Kita punya laporan audit yang harus diselesaikan." ​Edgar mengangguk, sorot matanya bangga. "Tentu, Nyonya Addison. Mari kita pergi." ​Mereka berbalik dan berjalan keluar, meninggalkan Papa Wijaya, Ibu Risa, Gavin, dan Luna yang hancur dalam keheningan total. Gaby tidak pernah sekalipun menoleh ke belakang. Di halaman rumah Fritzyara, ia telah mendapatkan penutupan dan kekuatan yang ia butuhkan. Balas dendamnya baru saja dimulai.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD