Pukul sembilan malam dua hari setelah konfrontasi dramatis di rumah Fritzyara, Gaby Addison berdiri di depan pintu kamar tidur utama kediaman Edgar Emiliano Addison.
Rumah itu, sebuah mahakarya arsitektur modern minimalis di kawasan elit, terasa asing dan dingin. Itu adalah simbol kekuasaan yang ia dapatkan, namun juga kandang emas tempat ia kini terperangkap dalam kontrak.
Gaby baru saja selesai mengurus barang-barangnya. Ia telah menjual apartemennya sebuah langkah tegas untuk memutus semua ikatan masa lalu, termasuk kenangan lima tahun bersama Gavin.
Di dalam kamar utama, Edgar sedang membaca dokumen di atas kursi beludru besar. Ruangan itu luas, didominasi warna monokrom mewah, dengan pemandangan kota Jakarta yang gemerlap dari dinding kaca.
Gaby menutup pintu, menciptakan keheningan yang tegang. Ia menyadari satu hal krusial yang belum mereka bahas: pengaturan tidur. Kontrak mereka sangat jelas tentang tidak adanya keintiman, tetapi tidak merinci pengaturan tempat tinggal.
"Tuan Addison," Gaby memulai, menjaga jarak dan formalitas, meskipun ia tahu Edgar lebih menyukai panggilan 'Mas'. "Mengenai kamar... Saya akan meminta Kafi untuk menyiapkan kamar tamu di lantai bawah. Saya rasa itu akan lebih efisien untuk menjaga batasan kontrak kita."
Edgar meletakkan dokumennya di meja samping. Matanya menatap Gaby dengan perhitungan yang biasa ia tunjukkan di ruang Board of Directors.
"Tidak perlu Nyonya Addison," jawab Edgar tenang, suaranya mengandung otoritas yang tidak bisa diganggu gugat. "Kamu akan tidur di sini."
Gaby terkejut. "Tapi... Mas, saya rasa itu melanggar batasan yang kita sepakati. Saya tidak nyaman jika..."
"Batasan emosional dan fisik kita tetap terjaga, Gaby. Saya menjamin itu," potong Edgar. "Namun, kita berada di rumah utama Addison. Di sinilah Gavin dibesarkan, dan meskipun jarang, dia memiliki kebiasaan pulang ke rumah ini sewaktu-waktu."
Gaby mengerutkan dahi. Ia mulai menggunakan naluri Analisnya untuk membedah motivasi Edgar.
"Apa hubungannya dengan Gavin, Mas?" tanya Gaby.
"Ini adalah bagian dari strategi damage control," jelas Edgar, nadanya berubah menjadi pelajaran bisnis. "Jika Gavin datang dan melihat kita tinggal terpisah apalagi jika dia melihatmu di kamar tamu dia akan memiliki data untuk meragukan keabsahan pernikahan kita. Dia akan menuduh kita hanya melakukan sandiwara konyol untuk membalasnya."
Edgar berdiri, berjalan perlahan menuju walk-in closet. "Kamu adalah Nyonya Gaby Addison, istri sah CEO. Kau harus tinggal di kamar utama. Ini bukan tentang kenyamanan pribadi Gaby, ini adalah tentang proyeksi citra dan keabsahan data di mata Gavin dan publik. Setiap keraguan sekecil apa pun akan menjadi celah baginya untuk menyerang mu, dan juga saya."
Edgar kembali dari closet, memegang bantal kecil. "Tempat tidur ini cukup besar. Kita akan tidur di sisi yang berlawanan. Ada pembatas fisik yang bisa kita letakkan jika kamu mau. Kamu akan diatur di sisi jendela, dan saya di sisi kamar mandi."
Gaby menatap ranjang king size itu. Rasa aneh menjalari dirinya. Tinggal di bawah satu atap adalah satu hal, tetapi berbagi kamar dengan mantan calon mertua sekarang suaminya adalah tekanan psikologis yang sangat berbeda.
"Aku Analis Gaby. Aku mengerti ketidaknyamanan ini," lanjut Edgar, seolah membaca pikiran Gaby. "Tetapi ini adalah cost yang harus kamu bayar untuk mendapatkan akses tak terbatas ke data Gavin dan otoritas penuh untuk menghancurkannya. Bayangkan ini sebagai team bonding yang tidak nyaman demi mencapai target perusahaan."
"Dan jika Gavin benar-benar pulang dan melihat kita?" tanya Gaby, menguji skenario terburuk.
"Dia tidak akan melihat apa-apa selain image suami-istri yang sah. Jika dia bertanya, kamu akan menjawab, 'Tentu saja kami tidur bersama, dia adalah suamiku.' Sesederhana itu," kata Edgar, menyandarkan bantal yang ia bawa di tengah-tengah ranjang, tepat di garis imajiner pemisah.
"Ini adalah batas aman kita. Kamu di sana, aku di sini. Batasan ini tidak boleh kamu langgar, dan tidak akan ku langgar," tegas Edgar.
Gaby menatap garis pemisah bantal di tengah ranjang. Analis dalam dirinya berteriak: Data yang diberikan Edgar logis dan menguntungkan strategi. Emosinya berteriak: Ini gila.
"Baiklah, Mas," jawab Gaby, mengiyakan, menggunakan panggilan 'Mas' yang kini menjadi penanda aliansi intim mereka dalam rencana balas dendam. "Saya setuju. Demi efisiensi data Gavin."
"Bagus," Edgar mengangguk puas. "Mulai besok pagi, kamu akan menerima jadwal rutin saya, termasuk jam makan malam. Kamu harus menemaniku, bukan karena romansa, tetapi karena penampilan. Kita adalah tim sekarang."
Gaby berjalan ke sisi ranjang yang telah ditetapkan. Ia mulai mengeluarkan pakaiannya dari tas dan memasukkannya ke dalam walk-in closet yang terasa sangat asing. Ia menemukan bahwa sebagian besar sisi closet itu kosong, seolah sudah dipersiapkan untuknya.
"Apakah Mas sudah menyiapkan semua ini sebelum kita menikah?" tanya Gaby, berbalik.
Edgar menatapnya. "Aku Analis Gaby. Aku tidak membuat keputusan tanpa mempersiapkan semua variabel yang mungkin terjadi. Sejak kamu meneleponku dan menyerahkan data pengkhianatan Gavin, aku tahu ini adalah satu-satunya solusi. Kamu adalah variabel yang ku butuhkan."
Malam merayap. Gaby dan Edgar menyelesaikan jadwal malam mereka dalam keheningan yang awkward. Mereka makan malam di meja makan besar yang hanya diisi oleh suara dentingan sendok. Gaby mencoba membedah Edgar selama makan malam, tetapi pria itu tertutup seperti peti baja yang terkunci. Ia hanya membahas pekerjaan, politik dewan direksi, dan masa depan Proyek Grand Tower.
Setelah mandi, Gaby kembali ke kamar. Ia mengenakan piyama sutra yang ia beli khusus untuk hidup barunya bukan untuk menggoda, tetapi untuk merasa nyaman dalam lingkungan yang tidak nyaman.
Edgar sudah berada di ranjang, bersandar ke bantalnya, membaca laporan keuangan. Ia mengenakan kaos gelap dan celana training pakaian yang sangat santai, namun ia tetap memancarkan aura CEO yang siap memimpin rapat kapan saja.
Gaby mematikan lampu di sisinya dan naik ke ranjang. Ia berbaring miring, punggungnya menghadap Edgar, menghormati garis bantal pembatas yang kini terasa seperti Tembok Besar Tiongkok.
Ketegangan di antara mereka begitu nyata hingga hampir bisa disentuh. Gaby bisa mendengar napas teratur Edgar, dan sesekali, suara kertas laporan yang dibalik. Ia memejamkan mata, memaksakan dirinya untuk tidur, menganalisis bagaimana ia bisa tidur di samping suaminya yang juga mantan calon mertuanya, dan musuh terberat Gavin.
Setelah beberapa menit, Edgar berbisik pelan dalam kegelapan.
"Kamu tidak perlu takut, Gaby. Saya tidak akan melanggar kontrak," kata Edgar. "Batasan emosional dan fisik kita sangat jelas. Tugasmu saat ini adalah fokus pada kehancuran Gavin, bukan pada saya. Tidurlah."
Gaby merasa sedikit lega dengan jaminan itu. Ia membiarkan dirinya rileks.
"Mas," balas Gaby pelan, suaranya nyaris berbisik. "Jika Gavin pulang... dan dia menanyakan kamar yang terpisah?"
Edgar menghela napas, menutup laporan di tangannya.
"Dia tidak akan bertanya. Karena di mata Gavin, ini adalah tempat kekuasaannya, dan di mata image yang ku ciptakan, kamu adalah milikku yang sah. Keraguan terbesarnya adalah mengapa kamu memilihku, bukan bagaimana kita tidur. Tapi jika dia bertanya..."
Edgar menjeda, suaranya menjadi lebih rendah dan sedikit lebih dekat, meskipun ia tidak melanggar garis.
"... Kamu hanya perlu mengatakan bahwa 'Mas' adalah suamimu. Aku akan mengurus sisanya. Sekarang, tidurlah. Kita akan mulai audit besar besok pagi."
Kata-kata Edgar, yang kembali menegaskan posisi dan perlindungan Gaby, berhasil meredakan kekhawatiran Gaby. Ia memejamkan mata, membiarkan dirinya hanyut dalam tidur di kamar yang ia bagi dengan suaminya yang dingin dan kejam, suaminya yang memegang kunci untuk membebaskannya dari masa lalunya yang pahit.
Gaby Addison tertidur, siap menghadapi data Gavin esok hari.