Pagi itu di Addison Mansion, udara terasa dingin dan kaku, meskipun sinar matahari sudah menyaring masuk melalui jendela setinggi langit-langit di ruang makan utama. Gaby dan Edgar turun bersamaan dari lantai atas, sebuah adegan yang sudah mereka latih hanya melalui asumsi. Gaby mengenakan kemeja sutra yang elegan dan rok pensil, pakaian yang lebih pantas untuk rapat dewan direksi daripada sarapan santai.
Di sampingnya Edgar tampak sempurna dalam setelan bisnisnya. Mereka berjalan dengan jarak fisik yang profesional, tetapi aura team yang mereka pancarkan jelas terasa. Mereka tidak berpegangan tangan, tetapi ada sinkronisasi dalam langkah mereka, sebuah image yang dirancang untuk meredakan bisikan dan mengukuhkan status Nyonya Addison.
Namun saat mereka tiba di ruang makan, sebuah kejutan dingin menyambut mereka.
Di salah satu kursi, tepat di seberang kepala meja yang biasanya diduduki Edgar, Gavin Cavanaugh sudah duduk.
Wajah Gavin tampak kusut, tatapannya lelah dan penuh kecemasan. Rupanya, setelah konfrontasi di kantor dan di rumah keluarga Fritzyara, Gavin memilih untuk menghabiskan malam di rumah utama Addison, mungkin mencari tempat berlindung atau mencoba melobi ayahnya sebelum hari kerja dimulai.
Gaby dan Edgar sama-sama terkejut. Edgar hanya menunjukkan kerutan tipis di dahinya, sementara Gaby langsung mengaktifkan mode Analis: variabel tak terduga telah masuk ke dalam persamaan.
Gavin bangkit berdiri, matanya terpaku pada Gaby. Ia menatap Gaby dari ujung rambut hingga ujung kaki mencoba mencari celah, bukti bahwa Gaby hanya tamu semalam. Tetapi pakaian mahal Gaby dan cincin berlian yang mencolok di jarinya adalah bukti yang tak terbantahkan.
"Gaby?" suara Gavin terdengar serak, dipenuhi nada meremehkan dan upaya untuk mereduksi status Gaby. Ia tidak bisa menerima kenyataan bahwa Gaby sedang berjalan bersisian dengan ayahnya, seolah-olah itu adalah hal yang paling alami di dunia.
Gavin menatap Gaby, dan tatapannya turun ke kursi yang baru saja ditarik Edgar untuk Gaby kursi yang diletakkan di sisi kanan Edgar, sebuah posisi yang secara tradisional adalah milik Nyonya Rumah.
"Urusan apa yang membawamu ke sini sepagi ini, Gaby?" tanya Gavin, memilih untuk mengabaikan Edgar dan mengarahkan pertanyaannya langsung pada Gaby. Ia sengaja tidak menyertakan gelar Nyonya Addison, sebuah penolakan halus terhadap pernikahan itu. "Apakah kamu diundang Papa untuk makan sarapan setelah meng audit file-nya?"
Gavin mencoba mendekat, seolah ingin melihat lebih dekat ekspresi Gaby, atau mungkin memecahkan image yang dingin itu dengan kontak fisik. Dia melangkah ke samping Gaby, seolah ingin meraih bahu Gaby dengan gestur akrab yang salah.
"Kamu pasti lelah setelah konfrontasi kemarin," lanjut Gavin, pura-pura peduli, padahal tujuannya adalah memprovokasi. "Jangan terlalu memaksakan diri, Gaby."
Gaby menahan napas. Ia bisa merasakan aroma parfum Gavin yang dulu ia kenali. Ia bisa merasakan kedekatan fisik yang ia benci. Ini adalah momen yang ia tunggu: kesempatan untuk menghancurkan Gavin di panggungnya sendiri.
Gaby tidak menghindar dari sentuhan yang mungkin akan datang itu, melainkan berbalik menghadap Gavin sepenuhnya, matanya yang tajam menatap lurus ke dalam mata putus asa itu.
"Tanganmu tidak perlu menyentuhku," ujar Gaby, suaranya sangat tenang, namun menusuk. "Dan aku tidak tahu kenapa kamu masih mempertanyakan kehadiranku di sini."
Gaby tersenyum sinis. Ini adalah saatnya.
"Bukankah saat ini aku adalah Nyonya Addison, Gavin?" tanya Gaby, menekankan gelar Nyonya. "Aku tidur di kamar utama, aku duduk di kursi ini, dan aku adalah istri sah dari Papamu."
Gavin terhuyung mundur selangkah. Ia tahu Gaby telah bersiap untuk serangan verbal ini, tetapi ia tidak menduga serangan Gaby akan datang secepat dan setajam ini.
"Jadi," lanjut Gaby, melangkah maju dan menutup jarak, memaksakan dominasinya. "Mulai saat ini, tolong bicara yang baik. Jangan asal Gaby, Gaby saja. Panggil saya itu Mama."
"Brak!"
Suara itu adalah suara sendok yang jatuh ke piring kristal, dilepaskan oleh Gavin yang mematung.
Gavin menatap Gaby, kemudian ke Edgar, mencoba mencari tawa atau isyarat bahwa ini hanyalah lelucon yang buruk. Wajah Gavin memucat, terkejut oleh tuntutan Gaby yang sangat kejam. Gaby tahu tidak ada yang lebih menghancurkan status Gavin di mata ayahnya selain fakta bahwa Gaby sekarang adalah Nyonya Besar.
"Mama?" Gavin mengulangi kata itu, suaranya dipenuhi kebencian dan keheranan. "Kamu pikir kamu pantas dipanggil Mama? Kamu hanya Analis licik yang memanfaatkan Papa! Kamu seumuran denganku!"
"Usia tidak masalah dalam bisnis, Gavin, hanya status yang penting," Gaby membalas. "Kamu adalah putraku melalui pernikahan. Bukankah begitu? Kamu ingin aku tetap menjadi bagian dari hidupmu? Ini konsekuensinya."
Gavin mengepalkan tangannya di samping tubuhnya, giginya gemeletuk menahan amarah. Minta Gaby dipanggil 'Mama' adalah aib yang lebih besar daripada pernikahan itu sendiri. Itu adalah pengakuan bahwa ia telah gagal total, bahwa posisinya telah direbut oleh wanita yang ia campakkan, dan kini ia harus menundukkan kepala.
Edgar, yang sepanjang waktu hanya mengamati, akhirnya memutuskan untuk masuk ke dalam drama yang Gaby ciptakan. Ia melangkah mendekati Gaby, dan melakukan hal yang tak terduga: ia meletakkan tangannya di pinggang Gaby, sebuah gestur posesif dan mesra yang ia lakukan secara publik untuk pertama kalinya.
"Sayang," ujar Edgar, suaranya tenang, tetapi memiliki kelembutan palsu yang mematikan.
Panggilan "Sayang" yang tiba-tiba dari Edgar membuat Gaby dan Gavin terkejut secara bersamaan. Itu bukan bagian dari kontrak, dan itu melanggar batasan yang mereka sepakati. Jantung Gaby berdebar kencang, campuran antara kejutan dan ketidaknyamanan.
Edgar tersenyum tipis ke arah Gavin, senyum yang dingin dan penuh kemenangan. Ia menoleh ke Gaby, tetapi matanya berbicara kepada Gavin.
"Sayang, aku tidak setuju jika anak ini memanggil kamu dengan sebutan Mama," kata Edgar. Ia membiarkan jeda dramatis itu menggantung di udara, membuat Gavin dan Gaby semakin tegang.
Gaby mendongak ke arah Edgar, bingung. Apakah Edgar akan merusak serangan balasan yang sudah ia rencanakan?
Edgar melanjutkan, tatapannya kembali tertuju pada Gavin. "Panggil Tante saja. Lebih baik kamu dipanggil Tante saja, Gaby."
Gavin menarik napas lega. Tante meskipun merendahkan jauh lebih bisa diterima daripada 'Mama'.
Namun, jeda itu segera diikuti oleh pukulan telak yang membuat Gavin dan Gaby sama-sama membeku.
"Karena nantinya," lanjut Edgar, suaranya tenang, nadanya seolah mengumumkan laporan keuangan yang prospektif. "Yang memanggil Mama itu dari anak kita, Gaby."
Hening.
Jika tuntutan Gaby untuk dipanggil 'Mama' adalah bom, maka kalimat Edgar barusan adalah rudal balistik.
Gavin terhuyung mundur dua langkah, wajahnya kini tidak lagi hanya pucat, tetapi benar-benar putih, seolah semua darah telah terkuras dari tubuhnya. Kepalanya menggeleng tak percaya. Anak mereka? Ini berarti pernikahan mereka bukan hanya kontrak balas dendam jangka pendek, tetapi sesuatu yang serius, sesuatu yang melibatkan masa depan.
Gaby sendiri sang Analis yang selalu tenang merasakan kejutan yang luar biasa. Ia menoleh ke Edgar, mencari jawaban. Mata Gaby menunjukkan keterkejutan, ketakutan, dan pertanyaan. Mengapa Edgar mengatakan itu? Itu sama sekali tidak ada dalam kontrak. Kontrak mereka menjamin tanpa ikatan emosional dan bisnis murni. Edgar baru saja menghancurkan salah satu batasan paling penting mereka di hadapan musuh utama mereka.
"Mas?" bisik Gaby, suaranya tercekat. Ia mencoba mengingatkan Edgar akan janji mereka melalui isyarat mata.
Edgar menatap Gaby, matanya memancarkan ketegasan yang tak terbantahkan. Tidak ada keraguan, tidak ada penyesalan. Dia bersungguh-sungguh dengan pengumuman itu, atau setidaknya bersungguh-sungguh dengan kebutuhan strategisnya.
Gavin adalah yang paling hancur. Bukan hanya Gaby telah menikah dengan ayahnya, tetapi mereka juga merencanakan masa depan masa depan yang seharusnya menjadi miliknya bersama Gaby. Mimpi terburuk Gavin adalah melihat Gaby bahagia, dan Edgar baru saja mengumumkan potensi kehidupan keluarga dengan Gaby.
Gavin menunjuk jari telunjuknya yang gemetar ke arah mereka berdua. "Kalian... kalian tidak bisa melakukan ini! Ini gila! Kamu tidak mencintai Papa! Kalian tidak punya hak untuk—"
Edgar memotongnya dengan nada yang paling tenang dan mematikan. "Kami punya hak hukum, Gavin. Kami adalah suami istri yang sah. Dan jangan khawatir," ujar Edgar, kini suaranya kembali ke mode CEO. "Kamu akan menjadi kakak yang baik untuk anak-anak Papa dan Tantemu ini. Sekarang, jika kamu sudah selesai mengganggu sarapan Nyonya Addison, kembalilah ke kantormu. Aku perlu berkonsentrasi pada jadwal sarapanku."
Pernyataan itu mengakhiri konfrontasi dengan kemenangan telak di pihak Edgar. Gaby, meskipun terguncang, segera menyadari efektivitas strategis dari "ancaman" anak itu. Itu adalah pukulan telak yang tak tersembuhkan bagi Gavin.
Gavin berdiri di sana, hancur, dikalahkan, dan dilecehkan. Ia tidak memiliki argumen lagi. Ia menatap Gaby yang kini duduk di samping ayahnya, memegang cangkir kopi, tampil sebagai Nyonya Addison yang baru.
Gavin berbalik, tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Ia berjalan gontai keluar dari ruang makan, meninggalkan sarapan yang belum ia sentuh, dan meninggalkan Gaby serta Edgar dalam keheningan yang dipenuhi oleh pertanyaan Gaby yang tertahan dan rencana masa depan Edgar yang mengejutkan.
Gaby menoleh ke Edgar, matanya menuntut jawaban. "Mas, apa maksudnya tadi? Anak? Itu tidak ada di dalam kontrak kita."
Edgar tersenyum kecil, memancarkan aura misterius. Ia menyentuh tangan Gaby di atas meja, sentuhan yang kini terasa seperti ikatan yang lebih kuat daripada kontrak yang mereka tandatangani.
"Itu adalah detail, Nyonya Addison," bisik Edgar. "Gavin perlu tahu bahwa kita serius. Dan kamu tahu, Gaby... Rencana terbaik adalah rencana yang memiliki variabel tak terduga yang menguntungkan kita."
Edgar melepaskan sentuhannya dan kembali ke sarapannya. "Sekarang, sarapan. Kita punya Proyek Grand Tower yang harus kita hancurkan sebelum jam sepuluh."
Gaby menatap Edgar, Analis di dalam dirinya mulai bekerja keras, mencoba membedah arti di balik kata-kata itu.