Pembantaian di Ruang Rapat

1514 Words
​Lantai 22 gedung pusat Addison Group pagi itu terasa seperti zona perang yang diselimuti kemewahan. Udara di lorong menuju ruang rapat utama terasa statis, seolah-olah oksigen pun enggan bergerak bebas. Para staf divisi hukum dan keuangan berdiri kaku di meja mereka, berpura-pura sibuk namun mata mereka tak lepas dari pintu ganda mahoni besar di ujung lorong. ​Di dalam ruangan itu, tujuh anggota dewan direksi pria-pria tua yang telah mengabdi pada keluarga Addison selama puluhan tahun duduk dengan wajah tegang. Di tengah-tengah mereka, Gavin Cavanaugh tampak seperti bom waktu yang siap meledak. Wajahnya merah padam, tangannya gemetar saat membolak-balik lembaran laporan audit yang dikirimkan Gaby kemarin sore. ​"Ini tidak masuk akal!" Gavin berteriak, suaranya menggema di ruangan kedap suara itu. "Dia memanipulasi data! Gaby hanya ingin menjatuhkanku karena rasa dendam pribadinya!" ​Salah satu direktur senior, Tuan Hendrawan, berdeham. "Gavin, data ini sangat spesifik. Ada aliran dana ke vendor 'Citra Konstruksi' yang setelah kami cek, alamatnya adalah sebuah ruko kosong di pinggiran kota. Itu vendor yang kamu tanda tangani." ​"Itu kesalahan administrasi! Bukan penggelapan!" Gavin membela diri dengan suara serak. ​Tepat saat itu, pintu mahoni besar itu terbuka dengan dentuman pelan namun tegas. ​Seluruh ruangan seketika hening. Edgar Addison melangkah masuk dengan aura otoritas yang begitu berat hingga membuat beberapa direktur secara otomatis berdiri dari kursi mereka. Namun, yang membuat napas semua orang tertahan adalah sosok wanita di sampingnya. ​Gaby Addison. ​Gaby mengenakan setelan blazer berwarna abu-abu arang yang dipotong sempurna, menunjukkan siluet tegas dan profesional. Rambutnya disanggul rapi tanpa cela. Ia tidak lagi tampak seperti konsultan muda dari firma kecil; ia tampak seperti seorang algojo yang membawa surat kematian di tangannya. ​Edgar menarik kursi di kepala meja, lalu dengan gerakan yang sangat posesif namun elegan, ia membantu Gaby duduk di kursi di sebelah kanannya posisi yang biasanya kosong atau diisi oleh penasihat hukum utama. Edgar sendiri duduk di kursi kepemimpinan, menatap putra tunggalnya dengan mata sedingin es. ​"Silakan lanjutkan, Gavin," ujar Edgar, suaranya tenang namun mengandung ancaman yang nyata. "Aku dengar kamu menyebut istriku melakukan manipulasi?" ​Gavin menelan ludah, nyalinya menciut sesaat melihat tatapan ayahnya, namun egonya yang terluka kembali mengambil alih. "Ya! Papa, lihat siapa dia! Dia dulu hanya analis rendahan! Bagaimana mungkin dewan direksi mempercayai laporan dari seorang wanita yang baru dua hari masuk ke perusahaan ini hanya karena dia... dia tidur denganmu?!" ​ ​Gaby tidak menunjukkan tanda-tanda kemarahan. Ia justru tersenyum kecil, jenis senyum yang biasanya diberikan oleh seorang guru kepada murid yang paling bodoh di kelasnya. Ia membuka laptop tipisnya dan menyambungkannya ke proyektor raksasa di dinding ruangan. ​"Tuan-tuan yang terhormat," suara Gaby tenang, merdu, namun memotong setiap argumen Gavin dengan presisi bedah. "Mari kita beralih dari narasi emosional Tuan Gavin ke realita numerik." ​Layar besar itu menampilkan bagan rumit yang menunjukkan aliran cash flow Proyek Grand Tower. ​"Gavin menyebutkan tentang kesalahan administrasi pada vendor Citra Konstruksi," lanjut Gaby, berdiri dan berjalan menuju layar dengan laser di tangannya. "Namun, analisis saya terhadap ledger umum selama tiga bulan terakhir menunjukkan bahwa aliran dana sebesar $1,5 juta bukan sekadar salah ketik. Dana tersebut ditarik dalam bentuk tunai melalui tiga lapis perusahaan cangkang." ​Gaby menoleh ke arah Gavin, matanya tajam seperti belati. "Dan yang menarik, Gavin, tanda tangan digital yang menyetujui penarikan ini berasal dari IP Address apartemen pribadimu. Apakah apartemenmu juga mengalami 'kesalahan administrasi'?" ​Ruangan itu kembali sunyi senyap. Para direksi mulai berbisik-bisik, menatap Gavin dengan pandangan menghina. ​"Ini... ini jebakan!" Gavin berdiri, memukul meja. "Gaby, kamu sengaja meretas akunku! Kau ingin menghancurkanku karena aku memilih Luna!" ​"Jangan bawa-bawa urusan domestikmu ke ruang rapat ini, Gavin," potong Edgar dengan nada yang sangat rendah namun membuat seluruh ruangan bergidik. "Nyonya Addison sedang mempresentasikan temuan profesionalnya. Duduk, atau keluar dari ruangan ini dengan pengawalan keamanan." ​Gavin perlahan duduk, tubuhnya gemetar karena amarah dan ketakutan yang luar biasa. ​Gaby melanjutkan presentasinya seolah tidak terjadi interupsi. "Bukan hanya itu. Markup pada biaya logistik mencapai 25% di atas harga pasar. Selama lima tahun saya bekerja sebagai analis di firma sebelumnya, saya telah melihat ratusan pola seperti ini. Ini bukan ketidaksengajaan. Ini adalah upaya sistematis untuk menguras aset Addison Group demi kepentingan pribadi atau... mungkin untuk membiayai gaya hidup mewah seseorang di luar sana." ​Gaby mematikan proyektor dan menatap para direksi satu per satu. "Sebagai Analis Strategis Utama, rekomendasi saya adalah pembekuan sementara jabatan COO Gavin Cavanaugh selama investigasi audit forensik dilakukan secara menyeluruh. Kita tidak bisa membiarkan kebocoran ini terus berlanjut." ​Para direksi mengangguk setuju. Tuan Hendrawan angkat bicara, "Kami setuju dengan Nyonya Addison. Risiko reputasi perusahaan jauh lebih besar daripada masalah suksesi keluarga saat ini." ​Gavin merasa dunianya runtuh. Ia menatap Gaby, wanita yang dulu ia remehkan, yang dulu ia pikir akan menangis memohon di kakinya setelah dikhianati. Sekarang, wanita itu justru sedang membacakan surat pemecatannya dengan senyum yang sangat sopan. ​ ​Tepat saat Edgar hendak mengetuk palu untuk meresmikan keputusan dewan, pintu ruangan kembali terbuka dengan kasar. Kali ini tanpa izin sama sekali. ​Luna Fritzyara masuk dengan langkah terburu-buru. Wajahnya tidak lagi tenang dan anggun seperti biasanya. Ia tampak kacau, matanya sembap, namun ada kilat keputusasaan yang berbahaya di sana. Ia mengabaikan tatapan tajam para direksi dan langsung berjalan ke arah Gavin, lalu menatap Gaby dengan kebencian yang mendalam. ​"Berhenti!" Luna berteriak. "Kalian tidak bisa melakukan ini pada Gavin! Kalian tidak tahu apa yang sedang terjadi!" ​"Nona Fritzyara, ini adalah rapat tertutup dewan direksi," ujar Kafi, asisten Edgar yang mencoba menahan Luna di pintu, namun Luna meronta. ​Edgar mengangkat tangannya, memberi isyarat agar Kafi membiarkannya. "Biarkan dia bicara. Aku ingin tahu drama apa lagi yang ingin dimainkan oleh calon menantuku yang... gagal ini." ​Luna menarik napas dalam-dalam. Ia menggenggam tangan Gavin yang gemetar, seolah ingin memberikan kekuatan, lalu ia menoleh ke arah Gaby dengan senyum kemenangan yang dipaksakan. ​"Gaby, kamu pikir kamu sudah menang?" suara Luna kini merendah, namun penuh dengan racun. "Kamu pikir dengan posisi analis dan status istrimu itu, kamu bisa menyingkirkan Gavin begitu saja? Kamu lupa satu hal, Gaby. Ikatan darah dan masa depan jauh lebih kuat daripada selembar kertas kontrak pernikahan." ​Luna kemudian mengambil sebuah amplop cokelat dari tasnya dan melemparkannya ke tengah meja rapat, tepat di depan Edgar dan Gaby. ​"Lihat itu," ujar Luna, suaranya kini dipenuhi dengan keangkuhan yang kembali muncul. "Gavin mungkin melakukan kesalahan dalam bisnis, tapi dia adalah satu-satunya yang bisa memberikan apa yang perusahaan ini butuhkan untuk masa depan. Dan aku... aku yang memegang kuncinya." ​Gavin menatap Luna dengan bingung. "Luna, apa ini?" ​Luna mengabaikannya dan menatap Gaby lurus-lurus. "Di dalam sana ada hasil tes medis dari Rumah Sakit Pusat. Aku sedang mengandung, Gaby. Dan anak yang aku kandung adalah cucu pertama dari keluarga Addison. Darah daging Gavin." ​Seluruh ruangan sekali lagi terperangah. Para direksi saling pandang. Di mata mereka, skandal korupsi adalah masalah besar, tetapi keberadaan pewaris generasi ketiga adalah variabel yang bisa mengubah segalanya dalam politik keluarga seperti Addison Group. ​Luna mendekat ke arah Gaby, berbisik cukup keras agar didengar oleh orang-orang terdekat. "Kamu ingin aku dipanggil 'Tante', kan? Tapi bagaimana jika anak di rahimku ini yang nantinya akan menyebutmu sebagai 'wanita yang mencoba merebut harta ayahnya'? Kamu tidak akan pernah memiliki apa yang aku miliki, Gaby. Cinta Gavin dan... masa depan keluarga ini." ​Gavin tampak tersentak, wajahnya berubah dari pucat menjadi penuh harapan. "Luna... kau hamil? Papa! Kau dengar itu? Luna hamil!" ​Gavin menatap Edgar dengan penuh kemenangan. "Papa tidak bisa memecat ayah dari cucu Papa sendiri! Ini adalah pewaris Addison!" ​Suasana di ruang rapat menjadi sangat kacau. Beberapa direktur mulai berdiskusi tentang implikasi hukum dan citra perusahaan jika mereka membuang ayah dari calon pewaris. Luna berdiri tegak, dagunya terangkat, menanti kehancuran di wajah Gaby. Ia menanti Gaby menangis, atau setidaknya menunjukkan kemarahan yang meluap-luap. ​Namun, Gaby hanya duduk diam. ​Perlahan, Gaby menarik napas panjang. Alih-alih menunjukkan rasa sakit atau kekalahan, sudut bibirnya mulai terangkat. Gaby tidak tertawa, ia tidak berteriak. Ia hanya memberikan sebuah senyum sinis—senyum yang sangat dingin, sangat meremehkan, seolah-olah ia baru saja melihat sebuah pertunjukan komedi yang sangat murah. ​Gaby menoleh ke arah Edgar, yang ternyata sedang menatapnya dengan pandangan yang sama dinginnya. Lalu, Gaby kembali menatap Luna. ​Gaby meraih amplop cokelat itu, membukanya perlahan, dan hanya melihat sekilas tanpa minat, sebelum melemparkannya kembali ke meja. ​"Hamil, ya?" bisik Gaby, suaranya sangat rendah namun mematikan. "Menarik. Sangat menarik, Luna." ​Gaby menyandarkan punggungnya di kursi, melipat tangannya di d**a, dan menatap Luna dengan tatapan seorang predator yang baru saja melihat mangsanya masuk ke dalam jebakan yang paling jelas. ​"Kamu benar-benar tidak tahu siapa yang sedang kamu hadapi, bukan?" ​Gaby tidak melanjutkan kata-katanya. Ia hanya membiarkan senyum sinis itu tetap menggantung di wajahnya, menciptakan keheningan yang jauh lebih menakutkan daripada teriakan mana pun. Di matanya, ada sebuah rahasia besar yang siap meledak, sebuah variabel yang belum diperhitungkan oleh Luna maupun Gavin. ​Rapat itu berakhir menggantung dalam ketegangan yang menyesakkan, dengan Gaby yang tetap tenang di takhtanya sebagai Nyonya Addison. ​
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD