Garis yang Kabur di Pagi Hari

978 Words
​Cahaya matahari pagi menyelinap melalui celah gorden sutra di kamar utama Addison Mansion, menyinari lantai marmer yang dingin. Namun, di atas ranjang king size itu, suasana terasa sangat berbeda. Hangat dan menyesakkan. ​Gaby terbangun perlahan, kesadarannya masih tertinggal di alam mimpi. Hal pertama yang ia rasakan bukanlah dinginnya pendingin ruangan, melainkan beban berat dan hangat yang melingkar di perutnya. Gaby tertegun, matanya langsung terbuka lebar. ​Ia menunduk dan jantungnya seakan berhenti berdetak sesaat. ​Sebuah lengan yang kokoh dan berurat lengan Edgar Addison melingkar erat di pinggangnya, memeluk perutnya dari belakang. Gaby bisa merasakan punggungnya menempel sempurna pada d**a bidang Edgar. Posisi mereka begitu intim, sebuah pelukan spooning yang seharusnya hanya dilakukan oleh pasangan yang saling mencintai. ​Gaby membeku. Napas Edgar yang teratur dan hangat menyapu tengkuknya, mengirimkan gelombang listrik yang aneh ke seluruh tubuhnya. ​Kontrak, batin Gaby berteriak. Klausul tanpa keintiman fisik! ​Gaby mencoba menggeser tubuhnya perlahan, berniat melepaskan diri sebelum Edgar terbangun. Namun, alih-alih terlepas, pelukan itu justru semakin mengencang. Edgar menggumam rendah dalam tidurnya, menarik Gaby lebih rapat seolah-olah wanita itu adalah bantal guling yang paling nyaman di dunia. ​"Mas..." bisik Gaby, suaranya gemetar. "Mas Edgar, bangun." ​Gaby merasa sangat kacau. Di satu sisi, otaknya sebagai Analis Bisnis sedang menghitung pelanggaran kontrak yang dilakukan pria ini. Namun di sisi lain, sisi manusianya yang sudah lama tidak merasakan kehangatan setelah dikhianati Gavin, merasa sangat aman di dalam dekapan ini. Dan fakta bahwa pria ini adalah mantan calon mertuanya membuat situasi ini terasa sepuluh kali lebih memusingkan. ​ ​Edgar perlahan membuka matanya. Ia tidak langsung menarik lengannya. Sebaliknya, ia membiarkannya di sana selama beberapa detik, membiarkan Gaby merasakan kehadirannya sepenuhnya. ​"Selamat pagi, Nyonya Addison," suara Edgar terdengar berat khas orang baru bangun tidur raspy dan sangat maskulin. ​Edgar melepaskan pelukannya perlahan dan duduk di tepi ranjang, menyisir rambutnya yang berantakan dengan jari. Gaby segera duduk dan menarik selimut untuk menutupi tubuhnya, wajahnya memerah padam. ​"Mas melanggar garis pembatas," protes Gaby, menunjuk bantal yang entah sejak kapan sudah jatuh ke lantai. "Di dalam kontrak kita—" ​"Gaby," potong Edgar, ia menoleh ke arah Gaby dengan tatapan yang tenang, tidak merasa bersalah sedikit pun. "Tadi malam aku bertanya apa yang membuatmu nyaman. Dan tadi malam, saat kamu tidur, kamu tampak gelisah. Kamu menggigil. Aku hanya memastikan istriku tidak jatuh sakit sebelum audit besar hari ini." ​Gaby terdiam. Benarkah? Apakah ia memang gelisah semalam? Ataukah itu hanya alasan Edgar untuk mengklaim wilayahnya? ​"Lagipula," lanjut Edgar sambil berdiri, memamerkan tubuhnya yang tegap meskipun hanya mengenakan celana tidur. "Jika Gavin tiba-tiba masuk yang mana dia punya kunci cadangan rumah ini dia harus melihat kita seperti ini. Pelukan pagi hari adalah detail kecil yang membuat sandiwara ini menjadi nyata." ​Gaby menatap punggung Edgar yang berjalan menuju kamar mandi. "Tapi tidak ada orang di sini, Mas. Tidak ada Gavin. Kenapa masih harus berakting?" ​Edgar berhenti di ambang pintu kamar mandi, ia menoleh sedikit. "Siapa bilang aku berakting? Aku suamimu, Gaby. Secara hukum dan secara agama. Garis pembatas itu... hanya ada jika kamu yang memaksakannya." ​Kata-kata itu membuat Gaby terdiam seribu bahasa. Edgar benar-benar sedang menjalankan misi untuk menghapus jarak di antara mereka. Edgar yang sekarang sangat berbeda dengan sosok dingin yang dulu ia lihat dari kejauhan saat masih bersama Gavin. ​Sambil menunggu Edgar mandi, Gaby duduk di meja rias, mencoba menenangkan diri. Ia teringat masa-masa ia berpacaran dengan Gavin. ​Gavin selalu menjadi pihak yang menuntut perhatian. Gavin yang ingin dimengerti, Gavin yang ingin dimanja. Dulu, saat Gavin mengajak Gaby makan malam bersama Edgar, Gaby selalu menolak. Ia merasa Edgar adalah sosok yang terlalu berwibawa dan kaku, seseorang yang akan menghakiminya karena tidak cukup baik untuk putra tunggalnya. ​Siapa sangka, pria yang dulu ia hindari itu sekarang justru menjadi pria yang memeluknya di pagi hari dan berjanji tidak akan pernah melepaskannya? ​Gaby menggelengkan kepalanya, mencoba mengusir pikiran itu. Ia harus fokus. Hari ini adalah hari penting. Hasil audit yang ia kirim kemarin pasti sudah meledak di tangan dewan direksi. ​Ponsel Gaby bergetar. Sebuah pesan dari Gavin masuk. ​Gavin: Gaby, kamu gila! Laporan audit macam apa itu?! Kamu mencoba menghancurkanku demi Papa?! Aku akan ke kantor sekarang. Jangan harap kamu bisa duduk tenang di kursi Nyonya Addison-mu itu! ​Gaby tersenyum licik. Amarah Gavin adalah nutrisi baginya. ​Tepat saat itu, Edgar keluar dari kamar mandi dengan handuk yang melilit pinggangnya, memercikkan sisa air ke lantai. Ia melihat Gaby yang sedang menatap ponsel. ​"Gavin?" tanya Edgar singkat. ​"Iya. Dia mengamuk," jawab Gaby, menunjukkan layar ponselnya. ​Edgar berjalan mendekat, mengambil ponsel Gaby, dan meletakkannya kembali ke meja rias. "Biarkan dia mengamuk. Dia hanya seekor semut yang mencoba melawan gajah. Yang harus kamu lakukan sekarang adalah bersiap. Pakai pakaian terbaikmu. Kita akan menunjukkan padanya bahwa Nyonya Addison tidak hanya punya otak, tapi juga punya kuasa yang tidak bisa dia sentuh." ​Edgar membungkuk, wajahnya sejajar dengan wajah Gaby di cermin. "Dan satu lagi, Gaby. Jangan pernah takut padanya. Kamu punya aku." Gaby tersenyum dan Edgar memegang kepala Gaby dengan sayang. "Kamu mandi gih." ucap Edgar. Gaby langsung mengangguk dan berlari ke arah kamar mandi dengan cepat. Hal itu membuat Edgar juga tersenyum dan melihat kearah telapak tangan yang tadi digunakan untuk mengelus kepala istrinya. Beberapa saat kemudian Gaby sudah siap dan juga sudah memakai pakaian yang tentunya mahal. ​Gaby berdiri di cermin dan tiba-tiba Edgar juga ikut berdiri di belakang Gaby dan memeluk perut rata Gaby. Gaby menatap pantulan mereka di cermin. Pasangan yang aneh, penuh rahasia, dan terikat kontrak yang ternyata tidak punya akhir. Namun, di bawah tatapan tajam Edgar, Gaby merasa dirinya bukan lagi konsultan muda dari firma kecil. Ia adalah pemain utama dalam permainan ini. ​"Ayo, Mas," ujar Gaby, akhirnya menggunakan panggilan itu dengan lebih alami. "Mari kita lihat bagaimana Gavin hancur hari ini." ​
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD