Pukul sebelas malam, Addison Mansion terasa sunyi. Setelah pertunjukan yang sukses di Le Vrai, Gaby dan Edgar kembali ke kamar tidur utama.
Aura profesional dan kemesraan palsu yang mereka kenakan di depan publik telah dilucuti bersama gaun sutra dan setelan mahal mereka. Di dalam kamar, hanya ada dua orang asing yang terikat oleh kontrak dan tujuan balas dendam yang sama.
Gaby segera masuk ke kamar mandi untuk berganti pakaian. Ketika ia keluar, mengenakan piyama sutra yang sama seperti malam sebelumnya, Edgar sudah ada di sisi ranjangnya, membaca laporan di tablet seperti biasa.
Gaby berjalan ke sisinya, melintasi garis imajiner yang ditandai oleh bantal di tengah ranjang. Rasa deg-degan itu datang lagi, lebih kuat malam ini. Bukan karena gejolak romantis, melainkan karena kesadaran aneh: Edgar adalah mantan calon mertuanya. Pria yang dulu selalu ia hormati dan takuti sebagai atasan Gavin kini berbagi ranjang dengannya. Ketegangan aneh ini berakar pada pelanggaran tatanan sosial yang begitu mendalam.
Gaby segera membaringkan dirinya, menghadap ke dinding, berharap kelelahan bisa segera menariknya ke alam mimpi.
"Jangan langsung tidur, Gaby."
Suara Edgar terdengar lembut, tetapi memiliki otoritas yang tidak bisa Gaby bantah.
Gaby berbalik menghadap langit-langit. "Ada data Proyek Grand Tower yang harus kita diskusikan lagi, Mas?"
"Tidak ada data bisnis," jawab Edgar, meletakkan tablet-nya di meja samping. Ia berbalik dan menyandarkan dirinya ke bantal, menatap Gaby. "Malam ini, kita akan berbicara sebagai suami istri."
Gaby kaku. "Suami istri?"
"Ya. Mau bagaimana pun kita sudah menikah," ujar Edgar tenang. "Dan meskipun ini adalah kontrak, kita harus tinggal bersama, dan kita harus tampil meyakinkan. Untuk melakukan itu, aku harus mengenal Nyonya Gaby Addison yang asli. Bukan hanya Analis Strategis yang cerdas, tetapi Gaby yang di luar pekerjaan."
Edgar memindahkan bantal pembatas di ranjang, lalu meletakkannya kembali di posisi yang sama. Gerakan itu menegaskan batasan fisik sambil secara psikologis menarik Gaby ke dalam ruang pribadinya.
Edgar memandang Gaby, raut wajahnya santai, jauh dari sosok CEO kaku yang ia tunjukkan di kantor. Ia benar-benar terlihat seperti suami idaman bersedia meluangkan waktu untuk mendengarkan.
"Aku ingin mengenalmu lebih dekat, Gaby," ulang Edgar. "Apa hal-hal kecil yang membuatmu nyaman? Jenis musik apa yang kau dengar saat stres? Apakah kau lebih suka kopi hitam atau latte di pagi hari? Hal-hal yang akan ditanyakan suami pada istrinya."
Gaby terkejut. Pertanyaan ini jauh lebih pribadi daripada semua pertanyaan tentang margin keuntungan atau risiko likuiditas yang biasa ia hadapi.
"Saya... Kopi hitam, tanpa gula, di pagi hari," jawab Gaby kaku. "Dan saya mendengarkan musik classical atau instrumental saat bekerja. Itu membuat otak saya fokus."
"Bagus. Analitis," ujar Edgar, tersenyum kecil. "Apa yang kamu benci?"
Gaby berpikir sejenak. "Aku benci ketidakjujuran. Aku benci orang yang menggunakan emosi untuk memanipulasi fakta. Dan aku benci ketika orang meremehkan usahaku hanya karena aku perempuan."
Edgar mengangguk perlahan. "Aku mengerti. Aku bisa menghormati itu."
Perlahan, Gaby mulai merasa nyaman. Ia menyadari betapa berbeda sosok Edgar yang sekarang ini dibandingkan dengan sosoknya sehari-hari. Ia ingat betapa dulu Gavin selalu menghindari percakapan mendalam.
Dulu, saat Gavin ingin mengajak makan malam bersama Edgar, Gaby selalu menolak saat mereka pacaran. Alasannya sederhana: ia merasa Edgar terlalu serius dan dingin. Ironisnya, saat ini, Edgar yang kaku dan dingin itu justru yang paling tertarik mengenalinya, bahkan setelah mereka hanya terikat kontrak.
"Kamu tahu, Mas," Gaby nyeletuk, membandingkan tanpa sadar. "Aku selalu berpikir kamu adalah pria paling membosankan dan kaku di Addison Group. Gavin sering bilang kamu hanya hidup untuk angka."
"Aku memang hidup untuk angka, Gaby. Angka yang pasti, angka yang jujur," jawab Edgar. "Tapi angka juga yang membawaku padamu. Angka pengkhianatan Gavin. Aku tidak bisa memimpin Addison Group dengan baik jika aku tidak mengerti Analisis yang ada di sampingku."
"Kamu tahu, kami harus tampil sebagai pasangan bahagia. Aku harus tahu bagaimana meletakkan tangan di pinggangmu, bagaimana berbicara tentangmu di depan dewan. Aku tidak ingin terlihat canggung di depan Gavin. Itu adalah kelemahan dan Analis tidak boleh menunjukkan kelemahan."
Gaby tertawa kecil, sebuah tawa tulus yang jarang ia berikan. "Jadi, sesi ini adalah training untuk akting?"
"Lebih dari itu," kata Edgar. "Ini adalah pembangunan database pribadi yang akan memastikan kita tidak saling menghancurkan secara tidak sengaja."
Setelah beberapa menit percakapan santai yang mengejutkan, Gaby menjadi lebih berani. Ia sudah merasa cukup aman dalam batasan yang ditetapkan.
Ia kembali ke pertanyaan bisnis yang selalu ada di pikirannya, pertanyaan yang menentukan masa depan Gaby.
"Mas," ujar Gaby, nada suaranya kembali serius. "Aku merasa sangat nyaman dengan aliansi ini, dan kita sukses menghancurkan Gavin. Tapi... Aku ingin tahu. Sampai kapan pernikahan ini berjalan?"
Gaby menunggu jawaban yang logis dua tahun, tiga tahun, sampai Gavin dan Luna benar-benar bangkrut.
Edgar menatap Gaby. Kehangatan yang tadi ia tunjukkan seketika menghilang, digantikan oleh ketegasan mata CEO. Ekspresi Edgar kali ini sangat dingin, jauh lebih dingin dari ekspresi kaku di ruang rapat.
"Aku sudah menduga pertanyaan ini akan muncul," jawab Edgar. Ia bergeser sedikit lebih dekat, melanggar batas bantal pembatas itu untuk pertama kalinya. Jantung Gaby berdetak semakin kencang.
"Jawabannya, Gaby, adalah: Tidak akan ada perpisahan."
Gaby terkejut, tubuhnya menegang. Shock total. "Apa? Tapi... Kontrak kita..."
"Tunjukkan padaku di mana ada pembahasan mengenai tanggal kontrak habis, Gaby," potong Edgar, suaranya mengandung tantangan.
Gaby tergagap, pikirannya langsung mengulang kembali memori saat ia menandatangani kontrak itu. Ia ingat ia terlalu fokus pada klausul hukuman untuk Gavin dan klausul batasan keintiman untuk Edgar. Ia ingat Edgar menjanjikan ia bisa pergi setelah misinya selesai.
"Aku... Aku pikir... kamu bilang kita akan berakhir setelah Gavin hancur dan Addison Group stabil."
"Aku bilang, 'kita akan mengevaluasi ulang status pernikahan kita setelah Gavin hancur dan Addison Group stabil'," koreksi Edgar dengan presisi yang mematikan. "Itu adalah istilah bisnis, Gaby. Aku tidak pernah menjanjikan perceraian. Aku hanya menjanjikan review terhadap perjanjian itu."
Edgar mencondongkan tubuhnya ke atas Gaby. Ia tidak menyentuh, tetapi kedekatan itu sudah cukup untuk membuat Gaby merasa terdesak.
"Lagipula mengapa harus berakhir, Gaby?" tanya Edgar, nadanya kini persuasif, tetapi menakutkan. "Kamu adalah Analis Strategis Utamaku yang paling berharga. Kamu adalah Nyonya Addison yang sempurna. Kamu adalah tameng yang tak bisa ditembus Gavin. Dan... Aku sudah mengumumkan kita akan punya anak. Jika kita bercerai dalam waktu dekat, seluruh image yang kita bangun akan runtuh dan Gavin akan kembali menyerang. Kita tidak bisa membiarkan itu terjadi."
Gaby menatap mata Edgar, melihat bayangan dirinya yang terperangkap. Ia adalah Analis Bisnis yang cerdas, tetapi ia telah gagal melakukan due diligence terhadap kontrak pernikahannya sendiri. Ia menyadari: Edgar Addison tidak pernah merencanakan perpisahan. Kontraknya adalah pernikahan seumur hidup.
"Gaby," bisik Edgar, kembali ke mode suaminya. Ia memindahkan bantal pembatas ke samping Gaby, menghapus garis pemisah mereka. "Tidurlah. Kamu adalah Nyonya Addison. Selamanya."
Gaby memejamkan mata. Ia baru saja menyadari bahwa ia tidak hanya terikat kontrak pernikahan, ia terperangkap di dalam rencana jangka panjang seorang CEO yang tidak pernah kalah. Ia sudah menikah, dan ia mungkin tidak akan pernah bisa keluar.