Tiba di rumah agam Addison, Gaby disambut oleh tim stylist pribadi yang sudah dipesan Edgar. Malam ini, Gaby tidak hanya harus menjadi Nyonya Addison, ia harus menjadi Nyonya Addison yang tak tertandingi lambang kesuksesan yang direbut, bukan yang diwariskan.
Di depan cermin besar, Gaby melihat transformasinya. Rambutnya, yang biasanya diikat ekor kuda rapi saat bekerja, kini diurai dengan ikal lembut yang mengalir elegan, membingkai wajahnya yang semakin menajam karena tekanan dan ambisi. Gaun malam yang dipilih Edgar adalah mahakarya: silk crepe berwarna zamrud gelap, memeluk siluet Gaby dengan anggun, tetapi memiliki celah tinggi yang menunjukkan kepercayaan diri yang mematikan.
"Ini bukan gaun Nyonya Addison yang lama, bukan?" tanya Gaby pada dirinya sendiri, menyentuh material dingin gaun itu.
"Nyonya," suara stylist berbisik kagum, "Ini adalah gaun Nyonya Addison yang baru. Gaun yang mengatakan, 'Aku mengendalikan segalanya, termasuk kebahagiaanku."
Perhiasan yang dikenakannya adalah set berlian dan safir biru tua aset keluarga Addison, bukan perhiasan baru. Setiap kilauan berlian berteriak tentang legalitas posisinya, memproklamasikan bahwa ia adalah pemilik sah, sementara Luna hanya pernah menjadi aksesori.
Saat Gaby turun ke lobi utama, Edgar sudah menunggunya. Ia mengenakan setelan navy yang dibuat khusus, tampak gagah dan berwibawa, seperti seorang raja yang siap menyambut ratunya.
Mata Edgar meneliti Gaby dari ujung rambut hingga ujung kaki. Tatapannya bukan tatapan penuh nafsu, melainkan tatapan seorang kolektor yang puas melihat mahakarya terbarunya.
"Sempurna, Gaby," ujar Edgar, suaranya pelan dan dalam, tanpa emosi yang berlebihan. "Kamu terlihat seperti wanita yang tidak hanya memenangkan perang, tetapi juga menikmati setiap detik kemenangan itu."
Gaby membalas tatapan itu, menarik napas dalam-dalam, dan memberikan senyum yang telah ia latih manis, tetapi dengan lapisan baja. "Terima kasih, Mas. Kalau begitu, mari kita kirimkan undangan pemakaman sosial untuk mantan tunangan saya."
Edgar mengulurkan tangannya, dan Gaby menyambutnya. Kontak fisik pertama mereka di luar kantor atau rumah, dan kali ini, demi pertunjukan.
Restoran Le Vrai adalah kuil sosialita Jakarta, terkenal akan suasana intimnya, dan yang lebih penting, privasi yang dibeli oleh mahalnya harga. Gaby dan Edgar tiba sepuluh menit lebih lambat dari jadwal, strategi kecil untuk memastikan semua mata tertuju pada pintu masuk saat mereka melangkah.
Saat mereka masuk, sepasang mata segera mengenali Gaby. Ada bisikan tertahan. Bukan bisikan simpati, melainkan bisikan kejutan dan kekaguman akan kecepatan comeback-nya.
Gaby dan Edgar dipandu ke Meja Nomor 7, meja favorit Gavin dan Luna. Meja yang berada di sudut, menawarkan pemandangan terbaik ke seluruh restoran, memastikan pasangan yang duduk di sana adalah pusat perhatian yang ingin dilihat.
Saat Gaby duduk, ia merasakan gelombang kepuasan dingin. Ini adalah meja di mana Gavin pernah melamarnya, dan kemudian merencanakan pesta pertunangan mereka. Sekarang, ia duduk di sana sebagai Nyonya Addison, ditemani pria yang seharusnya menjadi mertuanya.
"Pesan yang sama," bisik Edgar kepada pelayan, merujuk pada meja dan tata letak yang sudah diatur sebelumnya.
"Gaby," kata Edgar, meninggikan suaranya sedikit untuk didengar oleh meja terdekat. Ia meraih tangan Gaby yang diletakkan di atas meja, mengusapnya dengan ibu jarinya. "Kamu belum memberitahuku, kamu menyukai set perhiasan Safir ini? Aku ingat ini adalah set pertama yang dibeli Nyonya Addison Senior."
Gaby membalas senyumnya, menyandarkan tubuhnya sedikit ke depan. "Saya menyukainya, Mas. Rasanya... sesuai. Cocok dengan segala hal baru dalam hidup saya."
Ia kemudian memanggil kepala pelayan. "Tolong, anggur Chateau Haut-Brion 2005. Dan tolong kirimkan sebotol yang sama, yang terbaik yang Anda punya, ke alamat ini. Untuk Tuan dan Nyonya Cavanaugh." Gaby menyebutkan alamat yang ia tahu adalah apartemen baru Gavin dan Luna.
Edgar hampir tersedak air yang diminumnya, tetapi ia menahan diri dan memberikan senyum formal. Tindakan Gaby mengirimkan anggur yang melambangkan kemewahan dan masa lalu mereka adalah provokasi yang elegan dan kejam. Itu adalah cara Gaby berkata: Saya minum anggur terbaik di meja Anda, sementara Anda minum racun dari kehancuran Anda.
Makan malam berjalan dalam skema profesional yang mesra. Mereka membahas saham, audit, dan rencana masa depan Addison Group, dengan sesekali diselingi sentuhan singkat di tangan atau tawa kecil yang dipaksakan. Itu adalah pertunjukan yang meyakinkan.
Saat main course disajikan, ponsel Gaby bergetar. Sebuah nomor tak dikenal.
"Angkat saja, Nyonya Addison," ujar Edgar. "Tunjukkan pada mereka bahwa kita tidak menyembunyikan apa pun."
Gaby menekan speaker kecil di telinganya dan mengangkat telepon itu.
"Halo?"
Suara di ujung sana terdengar frustrasi, tetapi tertahan oleh kesopanan sosial yang dipaksakan. Itu adalah Mama Wijaya, ibu Luna.
"Gaby? Apa kabar, Sayang? Mama dengar kamu dan Edgar... sedang bahagia di Le Vrai? Mama hanya ingin mengucapkan selamat. Aku yakin kalian pantas mendapatkan yang terbaik."
Gaby menyeringai, ini jauh lebih baik daripada yang ia harapkan. Pesan itu sudah sampai.
"Terima kasih atas perhatiannya, Tante," jawab Gaby dengan suara yang lembut dan tenang, memastikan Edgar mendengarnya. "Saya sangat bahagia. Mas Edgar benar-benar suami yang sempurna, dan Anda tahu, Le Vrai selalu menjadi tempat yang penuh kenangan indah bagi saya."
Mama langsung kaget dengan panggilan Tante yang du sematkan oleh Gaby dan sedikit kesal dengan Gaby tentunya.
Ia melirik Edgar yang kini menatapnya dengan pandangan tidak terbaca.
"Ngomong-ngomong, Tante," lanjut Gaby, sengaja memainkan perannya. "Saya baru saja memesan sebotol wine yang enak, dan saya kirimkan ke alamat Gavin. Tolong sampaikan salam hangat saya. Semoga mereka menikmati malam mereka, sebahagia malam kami."
Gaby mengakhiri panggilan tanpa menunggu balasan, meletakkan ponselnya di atas meja.
"Selesai, Mas," kata Gaby, menatap Edgar dengan mata berbinar. "Pesan telah terkirim. Kita berhasil."
Edgar tersenyum tipis. "Sempurna. Sekarang, kita bisa kembali ke mode 'Profesional Analis'. Jadi, bagaimana menurutmu tentang saham yang akan kita akuisisi di kuartal berikutnya?"
Gaby kembali tegap, mengambil gelas anggur mahalnya. Sentuhan dan kata-kata mesra itu lenyap. Malam itu adalah kemenangan bagi citra mereka, sebuah pembalasan yang manis. Namun, di balik semua kepalsuan ini, Gaby tahu perannya sebagai Nyonya Addison baru saja dimulai, dan ia harus terus fokus pada tujuan utamanya, apa pun variabel tak terduga yang mungkin dilemparkan suaminya kepadanya.