Pintu Kantor CEO telah terkunci, menjauhkan mereka dari mata-mata dan bisikan di Lantai Eksekutif. Suasana di antara Gaby dan Edgar kini dipenuhi dengan keheningan yang tebal, jauh lebih intens daripada ketegangan yang mereka tunjukkan di hadapan Gavin dan Luna.
Edgar berdiri di depan display besar, di mana data keuangan Proyek Grand Tower yang memerah masih terpampang. Gaby, duduk di kursinya, segera kembali ke mode profesional, tetapi pikirannya masih berputar pada dua kata: "anak kita."
"Kita hanya berdua Mas," ujar Gaby, mencoba menstabilkan suaranya. "Mari kita lupakan dulu penampilan tadi. Kita harus segera mengeksekusi full report ini ke dewan direksi sebelum Gavin bisa menyusun pembelaan yang meyakinkan."
Edgar menoleh senyum tipis masih menghiasi wajahnya. "Aku suka profesionalismemu, Nyonya Addison. Tapi ada satu hal yang harus kita bereskan sebelum kita kembali ke angka."
Edgar berjalan santai ke meja Analis Gaby, menyandarkan tubuhnya di tepi meja, mencondongkan sedikit tubuhnya ke arah Gaby. Jarak fisik mereka sangat dekat, tetapi Gaby tahu, batasan profesional adalah satu-satunya hal yang menahan mereka.
"Kamu terkejut pagi ini," ujar Edgar, matanya mengunci mata Gaby. "Sangat terkejut, sampai kamu melupakan semua script yang kamu rencanakan untuk Gavin."
Gaby menahan napas. "Tentu saja saya terkejut, Mas! Ucapan itu tidak ada dalam kontrak! Kontrak kita jelas menjamin tidak adanya keintiman. Mengapa kamu harus melontarkan ancaman sedramatis itu?"
"Ancaman?" Edgar mengangkat alisnya. "Aku hanya memberikan data masa depan Gaby. Data yang tidak bisa Gavin lawan dengan emosi atau logistik. Kamu telah memberinya pukulan bisnis dengan audit, tetapi aku memberinya pukulan psikologis terhadap masa depannya."
"Tapi dampaknya juga ke masa depanku, Mas," protes Gaby, suaranya sedikit meninggi. "Luna dan Gavin mungkin percaya itu hanya sandiwara, tetapi Dewan Direksi dan, yang lebih penting, aku tidak tahu apa yang kamu maksud. Apakah kamu menambahkan klausul baru secara sepihak?"
Edgar tertawa kecil, suara yang jarang Gaby dengar. "Tenang. Tidak ada perubahan kontrak. Itu adalah variabel tak terduga yang menguntungkan kita, seperti yang ku katakan."
Edgar mendekat sedikit lagi. "Pikirkan secara Analitis Gaby. Apa yang paling Gavin takuti? Bukan kehilangan uang, tapi kehilangan warisan dan posisi di garis suksesi. Dengan mengumumkan potensi 'anak kita', kita tidak hanya memamerkan pernikahan yang sah, tetapi kita juga menciptakan penantang baru yang sah untuk warisan Addison. Itu adalah penanda kekuasaan yang tak bisa dia sangkal."
Gaby menghela napas, logikanya mulai menerima penjelasan itu. Dari sudut pandang bisnis, itu adalah senjata pemusnah massal yang sangat efektif.
"Jadi, itu hanya strategi untuk menyingkirkannya dari garis suksesi secara permanen?" tanya Gaby, meredakan ketidaknyamanannya dengan fokus pada pekerjaan.
"Tepat," jawab Edgar. "Dan itu juga menjelaskan mengapa kita harus tidur di kamar yang sama. Tidak ada keraguan, Gaby. Kita harus tampak solid."
Ketegangan di ruangan itu sedikit mereda, digantikan oleh fokus pada Proyek Grand Tower. Gaby dan Edgar menghabiskan dua jam berikutnya, membongkar setiap angka. Gaby dengan keahliannya sebagai Konsultan Muda yang terasah dalam efisiensi, menunjukkan di mana saja Gavin telah membuang anggaran untuk vendor yang tidak efisien vendor yang kemungkinan besar adalah teman-teman Gavin.
"Lihat ini Mas," Gaby menunjuk pada spreadsheet. "Vendor konstruksi A dibayar 20% lebih tinggi dari harga pasar. Jika kita ganti vendor ini dengan vendor B yang memiliki track record lebih baik kita bisa memotong $5 juta dari budget segera. Ini bukan hanya ketidakmampuan, ini... ini seperti sengaja memberikan uang tunai kepada pihak ketiga."
Edgar mengangguk. "Tepat. Ini adalah indikasi dari mismanagement yang disengaja. Kau melihatnya lebih cepat dari Analis internalku. Itu sebabnya kau ada di sini."
Saat Gaby terlalu fokus pada spreadsheet yang kompleks, tangannya tanpa sengaja menyenggol cangkir kopi panas di mejanya. Cangkir itu bergoyang, nyaris tumpah ke keyboard laptop mahalnya.
Refleks Edgar jauh lebih cepat. Ia dengan sigap meraih lengan Gaby dan menahan cangkir itu dengan tangan kirinya, mencegah tumpahan yang fatal.
Momen itu singkat, tetapi intens. Tangan Edgar yang kuat mencengkeram lengan Gaby, dan wajah mereka kini hanya berjarak beberapa inci. Gaby bisa merasakan panasnya napas Edgar, dan ia mencium aroma aftershave mahal Edgar, berbeda dengan aroma parfum maskulin Gavin yang dulu ia kenal.
Edgar segera melepaskan cengkeramannya, tetapi sentuhan itu meninggalkan sensasi panas yang tidak nyaman di kulit Gaby. Gaby terkejut, tidak hanya karena hampir menumpahkan kopi, tetapi karena kontak fisik yang melanggar batas yang tidak terduga itu.
"Hati-hati," ujar Edgar, suaranya kembali datar. Ia mengambil cangkir kopi itu dan memindahkannya ke tempat yang lebih aman.
"Maaf, Mas," bisik Gaby. Pipinya terasa sedikit memanas. Ini adalah kedua kalinya hari ini Edgar melanggar batas fisik di saat tidak ada orang lain di sekitar.
"Gaby," Edgar memulai, melunak. "Aku tahu kamu masih memproses semua yang terjadi. Kamu baru saja meninggalkan satu pengkhianat, dan kamu masuk ke dalam pernikahan kontrak yang dingin dengan pria tua yang kaku. Aku tidak akan memintamu untuk mencintaiku, atau bahkan menyukaiku. Fokuslah pada pekerjaan. Itu adalah senjata terkuat mu."
Edgar mengambil jeda, lalu menatap Gaby dengan tatapan yang lebih personal daripada sebelumnya. "Dan jangan biarkan emosi, atau kenangan masa lalu, mengganggu kinerjamu. Aku tidak ingin melihat ada jejak Luna atau Gavin dalam data ini. Hanya logika."
Gaby mengangguk kaku, berusaha menenangkan detak jantungnya yang berlebihan. "Tidak ada emosi, Mas. Hanya data. Aku akan pastikan laporan ini adalah hukuman mati berbasis angka bagi Gavin."
Gaby dan Edgar menghabiskan sisa sore itu, menyusun Executive Summary yang mematikan. Gaby merangkum temuan auditnya: penyalahgunaan dana, mismanagement, dan potensi kerugian yang akan segera terjadi. Laporan itu disajikan dengan bahasa Analis yang profesional, tetapi isinya sangat jelas: Gavin Cavanaugh tidak kompeten dan telah merugikan perusahaan.
Tepat pukul 16:00, full report itu dikirim ke semua anggota Dewan Direksi Addison Group, dengan cc kepada Gavin.
"Selesai," ujar Gaby, menutup laptopnya dengan rasa puas yang dingin. Ia telah menunaikan tugas pertamanya dengan sempurna.
Edgar berdiri, merapikan setelannya. "Sekarang bagian kedua dari pekerjaan kita: citra."
"Apa rencananya malam ini, Mas?" tanya Gaby, kembali ke panggilan 'Mas' dengan profesional.
"Malam in, kita akan makan malam di Restoran Le Vrai," jawab Edgar. "Itu adalah tempat favorit Gavin dan Luna. Mereka sering berfoto di sana. Kita akan memesan meja yang sama."
Gaby tersenyum licik. "Tentu. Dan aku akan pastikan aku memesan anggur yang sama yang pernah aku pesan untuk perayaan pertunanganku dulu."
Edgar mengangguk. "Aku sudah memanggil personal stylist ke rumah. Kamu harus terlihat seperti Nyonya Addison yang paling bahagia dan paling berkuasa malam ini. Malam ini bukan tentang kit, Gaby. Ini tentang mengirimkan pesan yang tidak bisa dibantah kepada seluruh jaringan sosialita dan bisnis: Gaby telah menang, dan sekarang dia duduk di tahta Gavin."
Gaby berdiri, aura Analis Strategisnya sepenuhnya tergantikan oleh aura Nyonya Addison yang haus balas dendam. "Baiklah, Mas. Mari kita penuhi peran kita. Kita akan berikan penampilan yang tak terlupakan."
Gaby dan Edgar meninggalkan kantor CEO, Gaby berjalan di depan. Meskipun mereka baru saja melalui momen ketegangan fisik dan pengakuan strategi yang mengejutkan, fokus Gaby tidak pernah goyah. Malam ini, ia akan menggunakan kemesraan palsu dan kemewahan untuk menusuk Gavin dan Luna tepat di tempat yang paling mereka banggakan: citra sosial.