Chapter 4 - Tidak Sendirian

1376 Words
Whitown, 21 Juni 2019 R  ==========================================   Sore itu, Arata mengejar gadis yang ia temui di stasiun paginya. Gadis itu berlari dan bahkan tak mau repot-repot memeriksa apakah Arata masih mengejarnya. "Hei! Tunggu! Aku hanya ingin bicara denganmu! Berhenti!" seru Arata. Gadis itu tetap berlari. Gadis itu sepertinya ingin membuat Arata berhenti mengejarnya. Mulai dari melewati g**g-g**g sempit, sampai masuk pekarangan orang lain. Tapi Arata tetap mengejarnya. "Astaga ya ampun... Gadis ini cepat sekali! Dia ini sebenarnya atlet lari, ya?" keluh Arata dalam hatinya sambil terus berlari mengejarnya. Gadis itu berlari sangat cepat, dan tidak ada tanda bahwa gadis itu akan berhenti. Karena itu Arata menyadari kalau sia-sia saja mengejarnya. "Astaga ya ampun... Gadis ini terlalu cepat. Ah! Sudahlah, aku kembali saja... Tunggu dulu, ini dimana?" katanya. Tempat itu sama sekali tidak dikenali olehnya. Arata benar-benar fokus mengejar gadis yang tadi. Karena itu saat Arata memutuskan untuk berhenti mengejarnya, dia malah tidak tahu dia ada dimana. "Astaga ya ampun... Aku pasti tersesat. s**l!" katanya. ________________________________________ Arata berpikir untuk bertanya pada orang lain dimana dirinya saat ini, tapi sia-sia saja kalau di tempat itu hampir tidak ada orang sama sekali. Tempat itu bahkan seperti sudah ditinggalkan oleh para penghuninya. Jendela setiap rumah pecah, tiang listrik sudah berkarat, dan di tempat itu tidak ada kendaraan bermotor yang lewat sama sekali. "Astaga ya ampun... Sudah jatuh, tertimpa tangga. Sudah gagal mengejar gadis yang tadi, tersesat pula. Mana di sini tidak ada sinyal lagi. Maksudku, ayolah! Kantor gubernur kan ada di sekitar sini! Kenapa malah tidak ada sinyal?" keluh nya. "Ngomong-ngomong, apa aku sedang diikuti?" tanyanya dalam hati. Dia melihat ke belakang dan melihat beberapa orang dengan penampilan yang terbilang "sangar" seperti mengikutinya. Karenanya, Arata mulai panik. "Oke, Arata... Tenangkan dirimu... Mereka mungkin hanya kebetulan searah denganmu. Tapi, untuk berjaga-jaga, biar aku uji mereka." batinnya berusaha menenangkan dirinya. Arata belok kanan, terus belok kanan sampai pada akhirnya dia kembali ke tempatnya semula. Benar saja, orang-orang tadi masih mengikutinya. "Sudah kuduga! Mereka mengikutiku! Mereka pasti berniat jahat padaku!" pikirnya. Arata panik dan malah berlari. Tentu saja orang-orang tadi mengejarnya. Arata dikejar oleh orang-orang tadi. "Anak setan! Sebenarnya apa yang mereka inginkan?" batinnya sambil berlari. Sungguh ironis, Arata baru saja mengejar seorang gadis yang tidak dia kenal dan malah berakhir diikuti oleh orang-orang yang tak ia kenal. Ternyata ada beberapa orang yang mencegat jalannya. Orang-orang tadi ternyata berpencar agar bisa mengepung Arata dari depan maupun belakang. Arata sudah terkepung, satu-satunya hal yang bisa ia lakukan hanyalah pasrah pada nasib. "Lari mu cepat juga, nak..." kata salah satu diantara mereka. "Tapi kali ini kau tak bisa lari lagi!" kata orang disebelahnya. "Avatar, dimana kau saat aku membutuhkanmu!" batin Arata. ________________________________________ "Hachi! Segala puji bagi Tuhan... EH! s**l!" kata Avatar. Termos kopi yang dia bawa terjatuh ke tanah, menumpahkan isinya." "Astaga naga... Apa Arata dalam bahaya? Sebaiknya aku mencarinya!" pikirnya. Avatar kemudian berdiri dan berlari mencari Arata. ________________________________________ Orang-orang itu hanya tertawa kecil, mereka mengepung Arata di jalan sepi itu. "Nak, kau tahu apa yang kami inginkan bukan?" tanya orang yang sepertinya adalah bos dari mereka. "Apa?" "Uangmu... Berikan pada kami, dan kami akan melepaskan mu," kata mereka serentak. "Ternyata dugaanku benar, mereka itu preman..." pikirnya. "Maaf, aku tak punya uang." kata Arata dengan santai. "Jangan bohong! Aku bisa membedakan tingkat kekayaan setiap anak. Aku yakin, kau pasti anak orang kaya!" "Sungguh, aku tak punya uang! Aku selalu menggunakan kartu kredit! Sekalipun kalian mengambilnya, kalian tak akan tahu cara menggunakannya!" kata Arata. GREB! BRAK!  Seseorang diantara mereka menarik kerah baju Arata dan mendorong badannya ke dinding. Setelah badan Arata menempel di dinding, orang itu mencekiknya. "JANGAN MACAM-MACAM DENGAN KAMI DASAR ANAK KURANG AJAR! KAU TAK MUNGKIN BISA MENANG MELAWAN KAMI! BERIKAN UANGMU PADA KAMI!" teriak preman itu. Arata hanya tersenyum kecil, kemudian mulai cekikikan, hingga akhirnya dia tertawa lepas. Hal itu tentu saja membuat sekumpulan preman tadi marah padanya. "APANYA YANG LUCU! KAU MAU KUBUNUH?" bentak salah satu temannya sambil menggenggam sebuah pisau. "Hehehe... Kalian tidak benar-benar berpikir aku tak akan melawan kan?" tanyanya sambil tersenyum. DUG!  Arata menendang perut preman yang mencekiknya. "ADUH!" orang itu mengerang kesakitan sambil memegang perutnya. Tidak terima teman mereka ditendang, preman-preman itu langsung menyerang Arata secara bersamaan. Hal itu benar-benar tak berguna, Arata bisa menghindari semua serangan preman-preman itu dengan mudah. "Semua serangan kalian itu tak ada gunanya." katanya. "Jangan bengong saja! Serang anak itu!" kata ketua mereka. Beberapa preman langsung menyerangnya. Ada yang berusaha menghajarnya, menendangnya, ada juga yang ingin menjatuhkannya. Arata berhasil menghindari semua serangan itu. "Aku sudah bilang, semua serangan kalian itu tidak ada gunanya!" kata Arata percaya diri. Preman-preman itu kelihatannya sudah kelelahan berusaha menyerang Arata. Nafas mereka mulai tak beraturan. "Kelihatannya kalian kelelahan, baiklah sekarang giliranku!" ucapnya. "JANGAN SOMBONG! DASAR BOCAH INGUSAN!" kata seorang preman sambil maju ke arahnya. Arata bergerak dengan cepat ke arah preman itu dan terlihat menekan ulu hati preman itu dengan dua jari. Preman itu jatuh tersungkur. "Astaga ya ampun... Kalian ternyata jauh lebih lemah dari dugaanku. Kenapa aku bisa panik saat kalian mengikutiku ya?" kata Arata. "Dengar nak... Pada awalnya kami hanya ingin uangmu, tapi sekarang... Kami ingin kau mati! Serang dia!" kata ketua preman itu. Tak tanggung tanggung, tujuh preman langsung menyerbunya bersamaan. "Tepat tujuh orang ya? Baguslah, aku jadi ingat tujuh titik fatal manusia." pikirnya dalam hati. Ketujuh preman itu mendekat dan mengepungnya dari segala sisi. Tiga di depannya, dua di belakangnya, dan dua di sampingnya. "Ulu hati," Arata menekan ulu hati preman di depannya. "Hidung," Arata menyikut preman di belakangnya tepat di hidung. "Bawah perut," Arata menendang preman kedua di depannya tepat di bawah perut. "Tepi leher," Arata menyerang tepi leher preman di sebelah kirinya dengan tepi tangannya. "Dagu," Arata menyikut dagu preman di sebelah kanannya. "Jakun," Arata menekan jakun preman ketiga yang ada di depannya. "Mata," Arata menusuk kedua mata preman yang ada di belakangnya. Ketujuh preman yang mengepungnya, semuanya berhasil dikalahkan dengan masing-masing satu serangan cepat dari Arata. "Astaga ya ampun... Itukah ketujuh orang terkuat diantara kalian?" kata Arata meremehkan preman-preman itu. "Bukan tujuh, tapi delapan..." kata ketua preman itu sambil tersenyum licik. TEP! TEP! TEP! Suara langkah kaki cepat terdengar di belakang Arata. Arata membalikkan badannya dan ia melihat satu preman berlari ke arahnya dengan pisau. Arata terkejut akan hal itu. Dia ingin menekan jakun preman itu dengan tangan kanannya. Namun terlambat, preman itu telah menusuk bahu kirinya. Arata jatuh tersungkur ke tanah dan tangan kanannya yang mengarah ke jakun preman itu meleset ke mata kirinya. Semua preman maju dan menendang badan Arata secara bersamaan. Kepala, punggung, kaki, tangan, perut, d**a, wajah, semuanya ditendang. Karenanya, Arata memuntahkan darah segar dari mulutnya. Saat itu Arata benar-benar mati kutu. Dia tak bisa bergerak sama sekali, dan darah tak mau berhenti mengalir dari bahunya. Arata merasa lemas. Pengelihatannya kabur, dan suara yang ia dengar hanyalah suara berdenging. Walaupun tampak kabur, Arata bisa melihat preman tadi akan menusuknya. "Jadi, ini akhirnya... Aku mati karena diserang sekelompok preman? Kenapa harus sekarang? Aku hanya ingin tahu siapa sebenarnya gadis yang tadi... Tapi malah berakhir mati karena ditusuk pisau? Kenapa? Aku bahkan belum minta maaf pada Avatar karena selalu memarahinya... Avatar, jika kau bisa mendengarku... Kumohon maafkan aku." pikirnya. Sebuah kilatan cahaya kabur terlihat, suara denging yang ia dengar semakin keras. "Ternyata begini ya? Rasanya kematian..." batinnya. "Healing Purification!" terdengar suara itu. Arata langsung merasa baik-baik saja. Pengelihatannya kembali jelas, dan suara berdenging dalam telinganya menghilang. Walaupun begitu, bahunya masih terasa sakit. Dia melihat para preman itu semuanya terjatuh. Ketua mereka bahkan sepertinya ketakutan. "Huh... Syukurlah kau baik-baik saja!" kata suara itu. Arata melihat asal suara itu. Suara itu berasal dari seorang gadis berambut pirang pendek dan berseragam SMA 3. Benar, itu adalah gadis yang tadi dia kejar. "Kau..." katanya. "Sekarang serahkan saja mereka padaku," kata gadis itu. "Semuanya! Habisi mereka berdua!" kata ketua preman. Hampir setengah dari preman yang ada disana maju menyerang gadis itu. Gadis itu mengarahkan kedua tangannya ke depan "Orang sebanyak itu, melawan seorang gadis? Kalian benar-benar pengecut! Rays of Chastity!" kata gadis itu. Sebuah sinar terpancar dari kedua tangan gadis itu. Pancaran sinar itu mendorong beberapa preman tadi kembali ke tempat mereka sebelumnya. Tapi tanpa disadari gadis itu. Satu preman menyelinap dari belakang untuk menikam gadis itu dengan pisau. Preman itu adalah preman yang sama dengan preman yang menusuk bahu Arata sebelumnya. "Matilah kau! Gadis s**l!" katanya. Gadis itu terkejut, tapi sia-sia saja... Dia sudah tidak sempat menghindar. BUG! Arata sambil duduk menendang preman itu tepat di bawah perutnya. "A-apa?" kata preman itu. "Ini untuk menusuk bahuku dan hampir saja membunuh gadis ini!" kata Arata. Preman itu terpental jauh. Karena rencana licik mereka gagal, preman-preman itu mengepung Arata dan gadis itu. Arata langsung berdiri memunggungi gadis itu sambil memegangi bahunya yang masih sakit. "Kau baik-baik saja?" tanya Arata pada gadis itu. "Daripada memikirkanku, pikirkanlah bahumu itu!" tegur gadis itu. "Bahuku masih sangat sakit... Tapi aku sangat senang!" kata Arata sambil tersenyum. "Senang? Kenapa?" tanya gadis itu. Tiba-tiba api muncul di kedua tangan Arata. "Karena aku tidak sendirian di dunia ini!" ucapnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD