Galau 24.1

1764 Words

  Aku nggak mengerti angin apa yang mengantarkan om Hamka bisa sampai di tempat ini sekarang. Padahal aku belum melakukan drama seperti yang disarankan oleh eyang Ninik tempo hari. Atau jangan-jangan eyang Ninik benar-benar kepepet lalu melakukan aksi drama itu tanpa persetujuan dariku. Tidak, tidak. Eyang Ninik bukan tipe yang seperti itu. Dia selalu bisa menghormati dan menghargai keputusan orang lain. "Kok sedikit makannya mbak?" tanya om Hamka setelah aku menandaskan nasi di piringku yang sebelumnya sudah kualihkan sebagian isinya ke piring om Hamka. "Lagi nggak mood makan, om." "Kenapa? Banyak pikiran?" "Ya gitu lah." "Apa yang jadi beban di pikiran kamu? Keluarga? Pekerjaan? Pacar?" Aku mengedikkan bahuku. Aku sendiri juga nggak tahu apa yang membuatku seperti kehilangan seler

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD