Sejak kejadian pertengkaranku dengan mas Toni aku sudah nggak pernah mau menegurnya lebih dulu. Aku menganggap nggak pernah mengenal laki-laki itu. Mas Toni berulang kali meminta maaf entah itu di kantor, bahkan dia sampai menghampiriku di kosan. Namun perasaanku terlalu sakit untuk bisa menerima ucapan mas Toni hari itu. Terlepas dari yang ia ucapkan sepenuhnya benar, tapi rasa tersinggung akibat ucapan mas Toni bikin mau lompat dari lantai atas kantor ini rasanya. Melihat aksi perang dingin yang kulancarkan pada mas Toni--yang syukurnya nggak ada satu pun yang tahu penyebabnya apa--Mbak Fitri dan mas Amran terus bertanya apa ada masalah antara aku dan mas Toni, aku bilang kami berdua nggak ada masalah apa-apa, dan meminta pada mas Amran dan mbak Fitri untuk nggak membahas apa pun yang b

