Kinar menutup kembali wadah keramik yang berisi kepingan kaca itu. Kinar sebenarnya ingin menolong wanita yang selalu berbisik padanya, yang Kinar yakini sebagai Selir Wangi, namun Kinar sendiri juga butuh pertolongan setelah hatinya hancur berkeping-keping. Kinar membungkus rapat-rapat wadah keramik itu lalu memasukkannya ke dalam travel bag. Pagi ini Kinar sudah berada di ruang makan lengkap membawa travel bag-nya. Kinar sedang menggenggam tangan Bu Ningsih yang sangat bersedih dengan rencana kepindahan Kinar. “Sebenarnya ada apa to, Nduk? Kenapa pindahnya begitu mendadak? Ibu senang dan nyaman kamu tinggal di sini. Kenapa harus pergi? Kamu ndak sayang sama Ibu?” Arya yang baru saja turun dari tangga mendengar Ibunya berkeluh kesah pada Kinar. Arya duduk di hadapan Kinar dan Ibunya

