Malam telah larut. Rumah itu sunyi. Di luar, suara jangkrik bersahutan, sementara angin malam meniup tirai tipis di jendela ruang tengah. Lampu temaram menyinari sudut ruangan, cukup untuk menyisakan bayangan di dinding. Qisya menuangkan teh hangat ke dua cangkir, lalu duduk di samping Emran yang tengah termenung di sofa. Tatapannya kosong menembus permukaan gelas bening yang belum ia sentuh sejak tadi. “Masih memikirkan hasil hipnoterapi tadi siang?” tanya Qisya pelan. “Aku tidak bisa berhenti memikirkan pria itu,” gumam Emran nyaris tak terdengar. “Aku tidak mengenalnya, tapi entah mengapa… aku merasa sangat membencinya.” Qisya menoleh, ekspresinya seperti menahan senyum. “Wajar, Mas. Toh matanya sudah membuat hidup Mas berubah sepenuhnya.” Emran mengangguk pelan. “Sya, sebenarnya a

