bc

STAY WITH ME

book_age18+
2.1K
FOLLOW
18.4K
READ
goodgirl
powerful
police
student
drama
sweet
bxg
campus
city
first love
like
intro-logo
Blurb

COVER : MENGGUNAKAN APLIKASI AUTODESK SKETCHBOOK & BANNER MAKER 2019

CERITA LENGKAP HANYA ADA DI DREAME/INNOVEL.

JANGAN MEMBACA CERITA BAJAKAN...

_________

Blurb :

Ini kisah Rinda—si pendiam yang menyukai sosok Arjun yang gagah dan berwibawa. Arjun adalah teman SMA-nya, laki-laki yang sejak awal masuk kuliah menjadi idola karena kegantengannya. Karena itu semua, Rindi merasa dirinya tidak pantas untuk Arjun. Sehingga Rindi menahan perasaannya sendiri dan berusaha untuk menyembunyikan perasaannya.

Arjun pun sama, dia juga menyimpan perasaannya untuk Rindi. Tetapi Arjun selalu menunggu waktu yang tepat untuk menyatakan perasaannya. Sampai akhirnya dirinya harus berangkat pendidikan di sekolah kepolisian karena lolos tahun ini. Mau tidak mau Arjun harus berangkat dan meninggalkan Rindi.

Lalu apa yang akan terjadi kepada keduanya? Apakah mereka bisa saling jujur kepada perasaan masing-masing atau merelakan semuanya?

TEMUKAN JAWABANNYA DI "STAY WITH ME".

_____

chap-preview
Free preview
PROLOG

"Jadi, aku itu pacar abang atau babu abang sih? Heran," ketus seorang perempuan dengan menggunakan jas almamater warna hijau dengan logo salah satu universitas swasta di sebuah kota dengan julukan kota pendidikan serta kota budaya itu. Matanya melotot ke arah sang kekasih yang ada di depannya dengan tajam.

Bagaimana mungkin, dia yang notabene pacar dari laki-laki dengan seragam abu-abu di depan sana malah mirip seorang pembantu yang membawakan barang-barang si laki-laki. Apa ini semacam penyiksaan secara serius yang dilakukan oknum tidak bertanggung jawab seperti pacarnya itu?

Laki-laki dengan name tag di dadanya bertuliskan deretan namanya itu hanya bisa memasang wajahnya acuh. Sesekali dia melirik sang pacar yang membawakan kardus besar sebelum berjalan lebih dulu untuk masuk ke dalam sebuah tempat makan yang tak jauh dari tempat mereka berdiri.

Arjuna Patria Dewangga atau biasa disapa Arjun atau bisa juga disapa pak jika sedang bertugas adalah salah satu anggota polisi yang sudah bertugas selama satu tahun lebih sedikit. Postur tubuh tinggi dan juga wajahnya yang kaku membuat perempuan-perempuan di sekelilingnya tidak mudah memalingkan mata. Apa lagi ditunjang dengan seragam abu-abu ketat yang seakan sudah memperlihatkan betapa perut kotak-kotaknya tercetak.

Bruk. Perempuan dengan wajah kesal itu juga langsung menaruh kardus besar itu di atas meja. Mereka berdua memang sedang berada di rumah makan lesehan yang biasanya menyediakan makanan laut. Dia benar-benar kesal dengan laki-laki bernama Arjun yang selalu menjadi pusat perhatian sedangkan dirinya hanya sebagai upik abu yang mengintil di belakangnya. Menyebalkan! Memang sih, itu resiko punya pacar yang super gantengnya kebangetan.

Segala sumpah serapah sudah dia lontarkan di dalam hati karena tidak mungkin dirinya ucapkan secara live di depan sang pacar. Adanya dia akan kena ceramah tujuh hari tujuh malam. Benar-benar pacar kurang ajar! Walaupun gantengnya kebangetan.

Srikandi Dewi Palwita atau biasa disapa dengan Rindi itu hanya bisa mendengus sebal. Jika saja dia tidak mencintai seorang Arjun yang tegas dan juga punya sikap dingin itu, pasti hidupnya tidak akan semalang ini. Tapi apa tidak salah, harusnya Arjun yang tertekan berpacaran dengan Rindi yang memang selalu melakukan semuanya secara ceroboh, tergantung dengan orang lain, tidak mau mengalah, dan cengeng. Padahal jika dilihat dari namanya, harusnya Rindi punya sikap yang kuat mirip tokoh Srikandi dalam pewayangan. Bukannya malah sifatnya terbalik semuanya, Rindi perempuan yang tidak sekuat tokoh wayang itu. Sama sekali tidak mencerminkan Srikandi sama sekali.

Arjun melepas headset dari telinganya dan fokus memesan makanan karena waiters cantik itu sudah berdiri di depan mereka. Arjun sontak membuka buku menu meski sang pacar yang ada di depannya hanya bisa cemberut. Mungkin kesal padanya. Ah, Arjun tidak terlalu peduli karena Rindi memang tidak pernah marah secara serius padanya. Jadi, Arjun tidak terlalu ambil pusing. Toh, sebentar lagi baik sendiri.

"Saya pesan udang balado dua porsi, terus ca kangkung, terus minumnya es jeruk dua." ucap Arjun menginstruksi waiters yang sedang mencatat pesanannya.

"Baik, ditunggu sepuluh menit ya mas," ucapnya sopan dan berlalu setelah selesai mencatat pesanan yang sudah dipesan oleh keduanya, atau lebih tepatnya Arjun saja. Karena Rindi memilih diam membisu.

Keduanya kembali tenggelam dalam suasana yang canggung. Rindi yang sibuk dengan game di ponselnya dan Arjun yang sibuk mendengarkan musik. Keduanya hanya sesekali saling melirik, tapi akhirnya mereka tetap diam dalam kesibukan masing-masing. Tidak ada pembicaraan sama sekali, sampai makanan mereka datang. Arjun mencuci tangannya di wastafel yang ada di dekat meja mereka. Sedang Rindi tetap diam dalam acara ngambeknya.

Arjun yang sudah duduk dengan bersila langsung menarik paksa ponsel sang pacar yang memang sedang marah padanya. Kedua mata hitam milik Arjun sempat membuat Rindi merasakan rasa terintimidasi, bukankah dia juga selalu kalah dengan perintah Arjun yang seakan tidak mau dibantah.

"Makan!" suara Arjun seakan menjadi perintah untuk segera Rindi lakukan. Namun saat ini, ego Rindi sedikit tinggi dan membuat perempuan itu tetap keukeh dengan tak bergeming dari tempatnya. Wajahnya pun sudah menekuk sempurna ditambah dengan lipatan tangannya di d**a.

Arjun menghembuskan napasnya kasar, "makan sayang!" ucapnya selembut mungkin untuk meruntuhkan ego sang pacar. Walaupun Arjun termasuk dalam deretan laki-laki yang suka mengatur seenaknya, bukan berarti dia mudah emosi atau dengan mudah memerintah pacarnya dengan membentak. Adakalanya dia harus berlaku lembut agar Rindi juga mau menurut padanya. Ya, sedikit bermain cantik untuk membuat Rindi tidak merasa tertekan atau terintimidasi jika berada di dekatnya.

Rindi menggeleng pelan karena dia tidak tahu apa yang harus dia katakan lagi. Matanya hanya fokus kepada seragam dinas sang pacar yang belum sempat Arjun tanggalkan karena buru-buru datang untuk menemui Rindi di kampusnya sore ini. Rindi memang tidak suka jika Arjun memakai seragamnya saat datang ke kampusnya. Bukan apa-apa, dia hanya berusaha menghindarkan pacarnya dari mata-mata perempuan di sana.

"Kenapa abang tiba-tiba ngasih aku kardus isinya kaya gini? Inikan semuanya dari mantan tersayang abang itu, kan? Yang dulu suka morotin abang jaman SMA! Kesel tahu nggak waktu aku tahu ternyata dia sekarang sering ngirim pesan seintens itu sama abang. Emang dia siapa? Cuma mantan aja belagu," ketus Rindi dengan berapi-api karena kesal mengingat kardus yang ada di bawah meja yang agak jauh karena Arjun sudah memindahkannya.

Arjun kembali menghela napas kasar, "kamu yang minta aku buang barang-barang dari dia kan? Makanya aku kasih kamu supaya kamu juga tahu kalau sekarang aku buang. Lagian aku nggak inget sama sekali, kapan dia kasih barang kaya gitu. Yang jelas aku udah taruh semuanya di gudang. Nggak tahu kalau ternyata malah ditemuin sama ibu," ucap Arjun santai sambil memasukkan satu suap nasi dengan tangannya.

Rindi mendengus, selalu saja dia kalah jika berdebat dengan polisi satu itu. Pasti ada saja alasannya jika sudah bicara begini, maka dari itu dia tidak pernah kalah dengan para pengguna jalan yang dia tilang karena selalu saja menyulitkan dirinya dalam mengatur lalu lintas. Memangnya enak jika setiap hari harus memberi surat cinta—surat tilang, kepada orang-orang yang berpergian tapi tidak membawa surat-surat kelengkapan kendaraan, ditambah tidak memakai helm, dan lagi, lampu tidak menyala. Ah, Arjun lelah!

Sesekali laki-laki dengan wajah ganteng itu hanya bisa tertawa pelan jika mengingat bagaimana ekspresi dari Rindi yang hanya bisa melongo saat dirinya ke kampus gadis itu lalu dengan cepat memberikan kardus berisi barang mantan yang tidak sengaja Rindi ketahui saat sang ibu mencari pakaian-pakaian bekas yang Rindi minta untuk disumbangkan ke panti asuhan. Lalu tiba-tiba gadisnya itu langsung marah via telepon dan beberapa saat kemudian menangis.

Baiklah, jika dalam urusan menangis, Rindi memang jagonya. Bahkan tanpa sebab dia juga suka sekali menangis dan merengek pada Arjun bahkan saat laki-laki itu sedang bertugas di jalanan. Tapi entah mengapa, selama satu tahun ini Arjun bukannya bosan, malah semakin merasa sayang. Rindi memang susah ia dapatkan, walau hanya gadis itu satu-satunya yang rela menunggu tanpa kepastian saat dirinya pendidikan bintara dulu.

Arjun bahkan tidak paham mengapa Rindi bisa tahu kenapa mantan pacarnya di jaman SMA dulu menghubungi dirinya. Yang jelas, semua itu cukup membuat Rindi ketakutan setengah mati. Takut jika Arjun akan berpaling dan banyak alasan lainnya. Kadang, Arjun merasa tidak dipercaya walaupun maksud Rindi sebenarnya baik. Namun, Arjun memaklumi sikap Rindi padanya, karena setahunya, Rindi memang tidak pernah memiliki kisah cinta yang baik.

"Makan deh, nanti kita buang barang-barang itu ke tempat sampah. Abang nggak mau ya, kamu nanti pulang nangis-nangis terus ngadu sama mas Bima kalau aku aneh-aneh," ucap Arjun dengan tampang lempeng dan membuat Rindi kembali mendongak ke arahnya.

"I love you," ucap Rindi tanpa dosa sama sekali. Wajahnya yang manis begitu membuat Arjun tergila-gila. Walaupun katanya, Rindi tidak secantik perempuan-perempuan yang mendekatinya, namun Rindi tetap perempuan terbaik yang rela dia perjuangkan disaat banyak perempuan yang susah payah memperjuangkan dirinya.

"Nggak nyambung," jawab Arjun yang menyembunyikan rasa panas di pipinya akibat ucapan pacarnya itu. Rindi memang tahu di mana titik kelemahannya. Baru dibilang begitu saja, dia sudah panas dingin. Hanya karena Rindi sedikit tersenyum dan egonya runtuh dalam hitungan detik.

Rindi menatap Arjun yang sibuk dengan makanannya, "bang, aku mau makan tapi nggak mau cuci tangan. Gimana dong?" tanya Rindi dengan wajah sok bingung. Dia hanya sedang menguji kepekaan Arjun yang kini menyeruput es jeruk miliknya.

"Pakai sendok kalau gitu," jawab Arjun santai. Sedangkan Rindi mencibir dan langsung saja mengambil sendok. Buru-buru makan dan membuat Arjun hanya bisa tertawa. Inilah pacar seorang Arjun! Perempuan menyebalkan yang selalu saja bergantung padanya setiap saat. Tapi sayangnya dia juga suka dengan cara gadis itu bicara padanya. Begitu manis dan membuat dirinya semakin jatuh pada pesonanya. Walau kadang sikapnya aneh dan membuat dirinya malu. Tapi, Arjun tetap mencintai gadis di depannya itu. Katakan saja jika ini memang cinta buta.

"Ngapain liat-liat, kalau demen bilang! Aku tahu kalau aku cantik, baik, dan sexy lahir batin," ketus Rindi yang kian membuat Arjun spontan tertawa dengan keras karena mendengarkan kata sexy diujung kalimat gadisnya itu. Akhirnya dia juga lupa dengan makanan yang belum selesai dia telan.

"Uhukk.." Arjun tidak sengaja tersedak karena lepas kontrol tertawa keras dengan ucapan pacarnya itu. Membuat gadis itu langsung memberikan es jeruknya pada Arjun yang buru-buru dihabiskan oleh laki-laki itu dengan cepat.

Rindi menatap gelasnya yang sudah kosong karena diminum oleh Arjun, "lah kok diabisin bang? Aku minum apaan dong? Aku kan butuh minum untuk mengembalikan cairan yang hilang," Arjun mengelus dadanya pelan. Hampir saja dia mati tersedak, untung dia masih diberikan kuota hidup sekarang. Jadi, hanya hidungnya saja yang sedikit nyeri. Efek nasi nyasar!

"Pesen lagi sana nggak masalah. Mau kamu minum empat gelas juga aku sanggup," sombong Arjun yang kembali fokus dengan makanannya.

"Lah sombong! Hati-hati bang, kalau dapat teguran lagi. Nasi yang tadi aja masih nyangkut, masa sekarang nyangkut lagi. Nanti pas udah selesai makan, nasinya keluar dari hidung." ucap Rindi dengan menaik-turunkan alisnya. Membuat Arjun memberhentikan acara makannya.

"Jorok!" ketus Arjun memasang wajah sangar. Walaupun dia tidak benar-benar marah. Tawa Rindi seakan terselip diantara godaannya pada Arjun yang kembali khidmad dengan acara makannya.

"Bodo amat," ketusnya yang beranjak dan kemudian mencuci tangan di wastafel karena tidak bisa makan yang pedas-pedas pakai sendok. Katanya kurang nikmat. Dan itulah sekilas kisah percintaan antara Rindi dan Arjun yang kelewat aneh jika dibandingkan dengan gaya pacaran orang jaman sekarang.

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

Dosen Killer itu Suamiku

read
262.2K
bc

My Boss And His Past (Indonesia)

read
218.0K
bc

Oh My Kaisar

read
23.0K
bc

The Unwanted Bride

read
100.6K
bc

POSSESIVE - END (Indonesia)

read
39.0K
bc

LUKA DI ATAS LUKA

read
78.6K
bc

DOKTER VS LAWYER

read
1.1M
dreame logo

Download Dreame APP

download_iosApp Store
google icon
Google Play