6. Karena aku peduli

1968 Words
Sejak tadi, mereka hanya diam dengan pikiran masing-masing. Arjun yang menyandarkan diri pada sandaran sofa dan Rindi yang berada disampingnya. Keduanya memang sedang berada di unit kesehatan kampus yang biasanya digunakan untuk melakukan pertolongan pertama jika ada yang sakit. Dan kali ini, Rindi termasuk yang harus masuk ke ruangan ini karena maag-nya kambuh. Kemarin Rindi memang tidak makan karena memikirkan foto Arjun dengan perempuan cantik yang notabene adalah anak psikologi itu. Keringat masih mengalir di pelipisnya karena Arjun memang berlari-lari dari parkiran sampai ruangan itu karena takut terjadi apa-apa dengan kondisi Rindi. Sampai-sampai dia rela meninggalkan tugasnya dengan anak-anak BEM hanya karena seorang Rindi yang saat ini masih membungkam bibirnya. "Kenapa nggak balas pesanku? Dan kenapa kamu seakan-akan menjauh dariku?" pertanyaan itu membuat Rindi sedikit melihat ke arah Arjun. Matanya sudah terfokus pada wajah Arjun dari samping. Sedangkan mulutnya hanya membuka tanpa bicara apapun. Rindi juga bingung akan bilang apa soal kejadian kemarin padahal Rindi juga sadar, dia tidak berhak untuk marah. Rindi menggeleng pelan lalu naik ke arah ranjang untuk tiduran kembali. Perutnya masih cukup nyeri, namun setelah meminum obat dan makan sedikit bubur, setidaknya dia lebih baik. Arjun yang awalnya diam di sofa kini ikut beranjak dan duduk disamping ranjang yang sudah ditiduri Rindi. Membuat detak jantung Rindi berdetak dua kali lipat karena berdekatan dengan Arjun yang fokus ke arahnya. Sesekali laki-laki itu menatap ke arah Rindi yang mendiamkan dirinya sejak datang. Padahal Rindi jelas-jelas menelepon Arjun, tapi kenapa gadis keras kepala ini malah mengabaikan dirinya begitu saja. Membuat Arjun sedikit kesal, namun dia juga paham jika Rindi sedang sakit. Mungkin pertanyaannya hanya akan menambah beban pikiran perempuan itu. "Kamu, kenapa datang?" tanya Rindi hati-hati dengan sedikit menggigit bibir bawahnya. Dia tidak tahu harus bertanya apa lagi untuk mencairkan suasana yang sudah terlanjur membeku itu. Sedangkan Arjun melirik Rindi sekilas lalu menatap ke arah lain. "Karena aku peduli," jawabnya singkat yang membuat kedua bola mata Rindi membulat. Sejak awal Arjun memang terlihat suka padanya, namun tiba-tiba seperti orang yang acuh dan tidak peduli dan itu membuat Rindi sedikit bingung dengan perubahan sikap Arjun yang tiba-tiba. Arjun hanya bisa membeku saat kedua lengan perempuan itu sudah memeluk pinggangnya dan menaruh kepalanya di dadanya. Perempuan itu benar-benar memeluknya. Seorang perempuan yang bahkan tadi mendiamkannya, sekarang malah memeluknya seerat ini. Ditambah dengan suara detak jantung mereka yang tidak mau pelan, seakan menjadi sebuah lagu pengiring yang indah. Dan pada akhirnya, Arjun membalas pelukan Rindi dengan memeluk Rindi dengan lengan kanannya dan lengan kiri untuk mengelus kepala gadis itu. Tidak ada yang keluar dari mulutnya atau mulut Rindi karena saat ini mereka menikmati pelukan yang entah kapan sudah membuat Rindi semakin nyaman dengan Arjun. Air matanya tiba-tiba mengalir karena dia benar-benar jatuh cinta pada temannya itu. Tidak tahu lagi apa yang bisa membuat Rindi menghapus rasanya yang terlanjur tumbuh subur tanpa diminta. Sesekali Rindi melihat ke atas agar bisa melihat wajah Arjun yang tampan dengan sikap cueknya yang selalu membuat Rindi merasa jika Arjun memang tidak pernah jauh darinya. Dan hanya Arjun yang bisa membuat dia kembali merasakan cinta. "Tetaplah seperti ini, bersamaku dan menjadi perempuan yang akan menjadi tepat untukku pulang," ucap Arjun lirih namun bisa Rindi dengarkan dengan sangat jelas. Tiba-tiba jantungnya berdetak sangat kencang hanya karena seorang Arjun bilang itu padanya. Baginya, suara Arjun adalah sebuah angin segar untuk dirinya. Sejak masuk kuliah, Rindi tidak pernah benar-benar mencari sosok teman yang bisa dia jadikan sebagai seorang sahabat yang bisa diajak berbagi keluh kesah atau keceriaan. Trauma karena terlalu percaya dengan teman, membuat Rindi memilih untuk menutup rapat semua pertemanannya. Entah hanya sekedar teman jalan atau teman yang lainnya. Beberapa diantara teman satu kampusnya memang tidak terlalu dia anggap penting karena sebagian dari mereka memang tidak terlalu peduli dengan Rindi. Bukankah, teman harusnya ada disaat dia membutuhkan? Tapi pada kenyataannya, semua orang yang katanya temannya itu, tidak pernah benar-benar ada untuk dirinya. Selama ini, hanya Arjun yang selalu memperlakukan dirinya dengan baik. Laki-laki ganteng yang harusnya malu karena menemuinya, malah selalu ada disaat dia butuh. Tak banyak yang Rindi mau, dia hanya tidak suka diperlakukan berbeda. Memangnya apa yang salah darinya? Semua teman-temannya dulu seakan membuat jarak bahkan sok tidak melihat padahal dia sedang lewat. Rindi benci dengan semuanya yang selalu membuat dia menjadi sosok yang tidak pernah punya teman di dalam hidupnya. Mungkin itu hanya anggapan dari dirinya sendiri. Tapi, apakah mereka semua juga memperlakukan dirinya dengan wajar. Kadang, banyak orang yang sudah men-judge dirinya tanpa mengenal terlebih dahulu. Kadang, dia juga berpikir jika perempuan biasa-biasa saja sepertinya memang akan sulit mendapatkan teman. Dia juga ingin merasakan punya teman-teman yang bermain dan saling bercanda bersama. Ingin keluar dari zona nyamannya dan sibuk bergabung dengan organisasi seperti yang Arjun katakan. Tapi, semua terasa sulit baginya. Dia tidak sepopuler itu, dan dia merasa sangat ketakutan untuk menghadapi orang lain. Arjun mengeratkan pelukannya seraya memejamkan matanya. Berusaha menikmati setiap waktu yang ada, "aku minta maaf kalau misalnya aku ada salah sama kamu. Tapi jangan jauhin aku cuma karena sebuah masalah. Aku nggak tahu harus lakuin apa kalau kamu nggak bilang. Aku peduli sama kamu, sangat peduli. Makanya aku datang untuk kamu," ucap Arjun lagi yang membuat hati Rindi kembali menghangat. "Aku nggak marah kok sama kamu. Aku cuma merasa enggak pantas aja selalu dekat sama kamu Ar. Selalu minta tolong kamu ini dan itu, bikin kamu susah, dan semua yang udah aku lakuin karena aku memang takut dengan semuanya." ucap Rindi yang mendongak menatap mata Arjun dari bawah. Air matanya berceceran, membuat jemari Arjun refleks menghapusnya. "Sejauh aku bisa bantu dan aku ada, aku pasti nggak keberatan sama sekali." jawabnya dengan penuh penekanan agar Rindi paham jika dirinya memang benar-benar peduli dengan gadis itu. Apapun alasannya, Arjun tetap akan berada disampingnya meski harus menggadaikan banyak waktu atau meladeni semua kemanjaan Rindi hanya agar membuat perempuan itu bahagia. Rindi tersenyum lalu kembali memeluk Arjun, "aku suka wangi kamu. Jadi nggak mau lepasin kalau udah gini. Aku memang terlalu nyaman di dekat kamu, jadinya semua prioritasku tertuju sama kamu semuanya," ucap Rindi yang membuat Arjun tertegun sejenak. Lalu kembali tersenyum karena ucapan Rindi yang kelewat polos. Setelah saling melepas pelukan satu sama lain, Rindi kembali berbaring di ranjang. Matanya fokus pada langit-langit ruangan yang penuh dengan tirai hijau sebagai sekat diantara ranjang. Arjun masih setia duduk di pinggir ranjang sambil bermain ponselnya. Dia harus segera laporan pada Dirga dan juga memberikan pernyataan maaf kepada semua teman-teman satu organisasinya lewat grup chat. Ada yang menanggapi dengan prihatin lalu mendoakan agar Rindi cepat sembuh, dan sebagian ada yang bilang jika Rindi hanya pura-pura sakit untuk meminta perhatiannya. Namun, yang menjadi fokusnya saat ini adalah sebuah story yang dibuat teman satu kampusnya yang memperlihatkan fotonya dengan Lusia saat mereka akan dijadikan sebuah sampul dalam pembukaan suatu acara yang berhubungan dengan BEM. Dan yang membuatnya kaget adalah captions yang dibubuhkan di bawah sana membuat Arjun hanya bisa menahan kesal. Jadi, ini yang membuat Rindi marah dan sampai sakit begini. Walau Rindi bilang telat makan karena begadang mengerjakan tugas, setelah melihat foto ini, Arjun jadi berpikiran lain. Dewa sialan! Rutuk Arjun dalam hati dengan wajah kesalnya. Dia hampir saja ditinggalkan hanya karena foto kurang ajar ini. Tapi setidaknya dia bisa melihat Rindi dengan wajah tenangnya saja sudah membuat dirinya sangat bahagia. "Aku mau tidur dulu lah, masih pusing juga. Kalau kamu mau pulang, hati-hati di jalan ya. Nanti kabarin kalau udah sampai kost," pesan Rindi yang membuat Arjun hanya bisa tersenyum. Setidaknya Rindi tidak akan marah dan cuek padanya lagi. "Aku bakalan di sini juga. Nanti aku yang anterin kamu pulang daripada kamu naik trans, kamu sekarang kan juga lagi sakit. Aku nggak mau kamu kenapa-napa," jawab Arjun dengan senyuman manisnya. Bagaimana bisa dia tidak jatuh cinta dengan laki-laki ini jika begini ceritanya. "Makasih ya," Rindi mulai sedikit memejamkan matanya. Mungkin Rindi memang lelah karena semalaman dia menangisi Arjun yang dia pikir sudah ada yang punya. "Rin," "Hm," "Aku nggak punya pacar," Rindi membuka matanya lalu tersenyum sekilas, "aku percaya," jawabnya yang ditutup dengan anggukan lalu Rindi kembali memejamkan matanya. "Karena aku sudah jatuh cinta padamu lebih dari yang kamu rasakan," ### Dirga menaruh dua gelas kopi panas di atas meja. Di depannya ada Arjun yang sibuk dengan laptopnya karena dirinya harus membuat LPJ—Laporan Pertanggungjawaban yang akan dia laporkan setelah kegiatan beberapa hari lalu. Sedangkan Dirga yang notabene adalah ketua, hanya duduk manis sambil menemani Arjun yang begadang di ruangan sekre Sabtu malam ini. Keduanya memang sudah mirip duo jomblo yang tidak punya acara lain. Selalu mendedikasikan diri hanya untuk terjun dalam organisasi. Dirga menyeruput kopinya dan mengabaikan Arjun yang beberapa kali mengernyitkan dahinya lalu kembali mengetik dengan cepat. Beberapa saat kemudian, laki-laki dengan kaos abu-abu itu menutup laptopnya yang sudah panas karena dia gunakan sejak siang. Hanya karena kejar target, dia harus begadang untuk menyelesaikan tugasnya yang lainnya. Maklum, Arjun memang terkenal orang sibuk. "Minum Jun, harusnya kamu nggak usah sampai begadang kaya gini. Lagian deadline-nya kan besok hari Senin," ucap Dirga yang menatap Arjun sambil menaruh gelasnya yang isinya sudah berkurang setengah. Arjun mengangguk dan langsung saja menyeruput kopinya yang sudah mulai dingin dengan cepat. Beberapa hari ini Arjun memang menjelma bagaikan robot yang selalu saja sibuk. Dia harus kesana-kemari hanya untuk menyelesaikan laporan atau studi banding untuk menggarap laporan. Setelah itu dia harus menyelesaikan tugas kuliahan yang menggunung. Arjun mendekat ke arah di mana Dirga duduk, "gini bang, aku ada rahasia tapi abang enggak boleh ngomong sama siapa-siapa. Ini rahasia antara laki-laki," Arjun mulai terlihat mendramatisir keadaan, membuat Dirga yang awalnya tenang menjadi was-was. "Jangan-jangan kamu melakukan hal yang enggak-enggak tadi sama Rindi? Kalian begituan apa gimana?" ceplos Dirga tanpa saringan sama sekali. Membuat Arjun mendelik karena ucapan ketua BEM-nya yang kelewat negatifnya. Memangnya dia sudah gila apa? Begini-begini, Arjun anak baik-baik. Jangan salah, dia juga sering ikutan grup hadroh di kampungnya jika dia tidak ada kegiatan di kampus. "Abang mikirin apa sih? Aku ini anak polos lho ya. Mana mungkin aku melakukan hal yang tidak senonoh kaya gitu. Emang muka-muka ku kaya cowok kurang belaian apa?" gerutu Arjun kembali dengan wajah kesal. Sedangkan Dirga hanya mengangguk, membuat kekesalan Arjun dua kali lipat. "Ah, serah lah serah! Intinya aku udah daftar polisi dan ternyata aku lolos ujian pertama. Aku nggak bilang sama siapa-siapa karena malu kalau nanti gagal kaya tahun kemarin. Sebenarnya aku mau ngasih Rindi surprise kalau aku lolos nanti. Jadi, bang doain ya biar aku bisa lolos dan dapetin Rindi untuk masa depan nanti. Jadi, aku mulai besok udah nggak bisa aktif bareng anak BEM dan soal aku tolong banget abang rahasiakan ya," mohon Arjun dengan menangkupkan kedua tangannya. "Hm, oke aku bakalan rahasiain dari semuanya. Kamu tenang aja dan fokus sama ujiannya. Siapa tahu kamu memang berjodoh tahun ini. Emang tujuan kamu dari awal emang untuk masuk polisi kan? Jadi, tetap fokus aja lah intinya. Tapi, setidaknya kamu kasih tahu perempuan yang kamu suka itu biar dia juga nggak bingung kamu di mana. Kasian kan dia, apalagi dia cuma bisa ngeluh sama kamu aja." ucap Dirga yang menasehati Arjun. Arjun terdiam sejenak, dia juga bingung dengan cara apa dia memberi tahu Rindi dengan semua keputusannya. Awalnya Arjun memang tidak berencana ikut tes POLRI kembali tahun ini. Namun karena beberapa bulan lalu Rindi menanyakan soal itu lagi, akhirnya dengan banyak pertimbangan, Arjun ikut lagi. Tapi dia memang tidak bilang siapa-siapa soal dirinya yang mendaftar lagi termasuk dengan Rindi. Arjun tahu jika Rindi sangatlah menyukai sosok abdi negara, entah itu TNI atau POLRI. Walau Rindi memang lebih condong menyukai TNI. Kadang dia juga iri saat Rindi lebih memilih menatap mobil TNI yang lewat daripada mendengarkan Arjun yang bercerita. Tapi selama ini, Arjun juga tidak protes karena Rindi belum benar-benar menjadi miliknya. Tapi setelah ini, Arjun akan memastikan jika Rindi akan segera menjadi miliknya. Ya, dia akan melakukan apapun demi kebahagiaan gadisnya itu. Apapun! Rindi : selamat tidur Arjun. Have A nice dreams. 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD