“ Navendra?” Sapa Farzan memegang pundak pemuda itu. Sontak, pemuda yang memakai setelan serba hitam itu menoleh, wajah Adinda terlihat pucat melihat Farzan berada di hadapannya. Bagaimana jika ketahuan? Beralih ke lain tempat Nayara menangis sedih di bangku taman, meluapkan kesal yang menyeruak di hatinya. Kenapa ia justru merasa takut kehilangan di saat ia siap untuk membalaskan dendam? Di saat selangkah lagi ia menggapai keberhasilan. Tatapan Farzan tadi benar benar mengintimidasi mentalnya. Bahkan dinginnya hujan sama sekali ia hiraukan. Hingga... “ Kakak, hujannya sangat deras. Pakai payung ini, nanti kakak sakit.” Nayara mengangkat wajahnya, menatap sosok anak berusia 9 tahunan yang terlihat menyodorkan sebuah payung ke hadapannya. Di punggungnya, terdapat sebuah keranjang yang

