Raka menggelengkan kepala. Dia tak percaya jika Tiara masih berpikir bahwa dia hanya memanfaatkan gadis itu. Selain tidak peka, gadis itu juga bodoh. "Lepasin nggak!" bentak Tiara, pengalihan ekspresi untuk menutupi hatinya yang sendu. Semakin ia berusaha melepaskan pegangan itu, semakin kuat pula cengkeraman tangan Raka. "Nggak!" jawab Raka singkat. Infus yang menusuk tangan kanannya bukan kendala yang berarti untuk tetap menahan gadis itu di sini. Dia harus meluruskan semuanya sekarang juga. "Mau kamu apa, sih?" tanya Tiara setengah berteriak. Tetes-tetes bening itu semakin berkumpul dan siap menganak sungai hanya dengan satu kedipan mata saja. "Kamu! Aku mau kamu!" ucap Raka tegas dan menusuk. Netranya menatap mata Tiara yang sudah berkaca-kaca. "Aku jauh-jauh ke sini dan udah

