"Baik-baik di sana, jangan lupa sholat sama makan. Mama nggak mau kalau nanti kamu pulang malah tambah kurus." Ibu Dina menasehati anaknya yang sebentar lagi akan terbang ke Swiss.
"Iya, Ma." jawab Raka lemah.
Mendengar suara Raka yang tak semangat seperti dulu jika akan pergi ke luar negeri, ibu Dina lantas meraup wajah anaknya itu. Beliau menarik Raka agar sedikit menunduk dan mengamati wajah lemas Raka. "Kamu sakit?"
"Nggak ...."
"Kok lemes?"
Raka menegakkan tubuhnya kembali. Ia mengembuskan napas lelah. Benar kata ibunya, dia lemas, letih dan lesu. Ini semua gara-gara Tiara. Gadis itu tak menggubris semua panggilan ataupun pesannya. Pun saat Raka datang mengunjunginya tadi malam, Tiara tak membukakan pintu sedikitpun padahal lampu masih menyala terang. Raka yang tak sabaran juga menggedor pintunya dan itu membuat para tetangga Tiara keluar dan mengeluarkan u*****n untuknya. "Raka nggak apa-apa kok. Mama jaga diri di rumah. Nanti seminggu lagi Papa pulang."
"Iya, kamu juga jaga diri. Nanti kalau Kakakmu datang, bilang kalau Mama kangen. Suruh pulang." pesan Ibu Dina yang air mukanya berubah sendu.
"Iya, nanti Raka bilang. Mama nggak usah sedih-sedih, nanti sakit lagi." ucap Raka lalu memeluk Sang ibu.
×××
Raka membuka aplikasi w******p di ponselnya. Ia ketuk nama Tiara disana. Centang dua itu belum berubah warna menandakan bahwa semua pesannya belum ada yang dibaca. Online, begitu tulisan di sisi atas di bawah nama. Secercah harapan itu muncul ditandai dengan senyumnya yang terkembang. Raka dengan semangat mengetik beberapa kata. Namun, saat akan mengirimkan pesan tersebut, tanda online sudah berubah menjadi terakhir aktif.
Menyenderkan punggungnya di sandaran kursi di dalam pesawat. Raka tak jadi mengirimkan pesan untuk Tiara. Ia meraup wajahnya sendiri, mengusapnya seperti sedang mencuci muka. Dadanya merasa sesak. Beginikah rasa cinta mengendalikan hati manusia. Baru tak bertemu semalam saja rasanya sudah serindu itu. Akankan ia kuat sampai satu tahun kedepan?
×××
Tiara buru-buru keluar dari aplikasi w******p nya saat dibawah nomer yang tak ia beri nama itu terdapat tulisan sedang mengetik. Palingan mau nyuruh-nyuruh aku lagi, batinnya dalam hati. Dia sengaja tak membuka semua pesan Raka dan mengabaikan panggilannya. Tiara tidak mau ribet, lagipula sebentar lagi dia akan sidang skripsi. Dia tidak mau waktunya banyak terbuang sia-sia hanya karena Raka.
×××××××××××××
Waktu berjalan cepat hingga Tiara selesai wisuda. Terhitung sudah empat bulan Raka tak mengganggunya lagi. Gadis itu bersyukur, tentu saja, hidupnya jauh lebih tenang dan damai sama seperti sebelum Raka datang.
Sebenarnya, bukan seratus persen tidak mengganggunya. Raka masih sering mengiriminya pesan. Menghubunginya lewat panggilan suara dan video. Namun, sebanyak apapun Raka mencoba, maka sebanyak itu pula Tiara akan mengabaikannya.
×××××
"Ka...."
"Raka!"
Raka terkesiap ketika Sang kakak memanggil namanya. "Iya, kenapa?"
Sang kakak, Raga Abyakta menggeleng saat Raka tergagap menjawab panggilannya. "Kenapa?" tanyanya sebelum menyeruput jus jeruk yang baru diantarkan oleh pramusaji.
"Kenapa apanya?" tanya Raka bingung lalu meletakkan ponselnya di permukaan meja kayu berbentuk lingkaran itu. Mereka tengah berada di cafe di dekat proyek pembangunan untuk santap siang. Kakaknya datang menyusul tiga hari yang lalu.
"Kenapa kamu?" tanya pria dengan mata yang tak kalah sipit dari milik Raka itu.
"Kenapa gimana sih, Kak?" tanya Raka lagi, tambah bingung.
Raga menarik napasnya dalam-dalam, mencoba sabar menghadapi adiknya yang satu ini. "Kamu ngelamun dari tadi, kenapa? Kamu nggak enak badan?"
"Oh, nggak kok." jawab Raka lalu mencicipi kopi caramel pesanannya sendiri.
"Perempuan?"
Uhuk.
Raka tersedak hingga batuk-batuk. Bagaimana bisa kakaknya itu tahu tantang kegundahannya?
"Kak Dewi udah jadi penulis."
"Nggak usah ngomongin dia." sahut Raga saat Raka ingin mengalihkan pembicaraan. "Kamu juga nggak direstuin mama?" tanyanya ingin mengembalikan topik pembicaraan. Pembicaraan tentang Raka, bukan tentangnya dengan mengungkit nama Dewi.
Raka menggeleng lemah. "Nggak, bukan itu masalahnya Kak. Mama bahkan belum tahu."
Dahi Raga berkerut. "Kamu ditolak cewek?" tebaknya dengan sedikit senyum mengejek.
"Terus aja ketawa." kata Raka lalu meminum kopinya lagi. "Gini banget ya rasanya jatuh cinta." lanjutnya sambil mengawang membayangkan wajah galak Tiara.
Sedang apa Tiara saat ini?
Bagaimana keadaanya sekarang?
Apa dia sudah punya pacar?
Apa dia sudah wisuda?
Apa dia masih ada di Jakarta?
"Rasanya memang berat." ujar Raga kembali serius, pikirannya ikut mengawang, entah memikirkan siapa. "Nggak bisa bareng-bareng sama orang yang kita sayang. Udah kayak kena kutukan."
"Lebay." timpal Raka saat pramusaji kembali datang membawakan pesanan makan siang mereka.
"Kalau kamu mau pulang, pulang aja. Biar di sini aku yang handle." ucap Raga kemudian.
Seketika Raka berhenti mengaduk spagethinya. Ia mendongak memastikan ucapan sang kakak dengan tatapan. Apa kakaknya itu sedang bercanda?
"Kejar cinta kamu. Jangan jadi pengecut kayak aku."
×××××
Atas restu dan dukungan dari Sang kakak. Dua hari kemudian, Raka sudah menginjakkan kaki kembali di Indonesia. Sengaja ia tak memberi tahu Tiara, karena toh sebanyak apapun dia menghubungi gadis itu, pasti akan tetap diabaikan. Biarlah ia mendekati Tiara dengan segala ancamannya seperti dulu.
Raka menarik napasnya dalam-dalam. Menghirup hangatnya udara pagi yang menyambut kepulangannya. Bibirnya mengulas senyum, serindu itu ia pada Indonesia, pada Jakarta, pada Tiara.
Raka Aditya
[- Gua pulang gaesss....]
Pria itu mengirim pesan di grup chat setelah ia duduk manis di dalam taksi yang akan mengantarnya pulang. Sembari menunggu balasan, kedua matanya melihat ke arah luar dari kaca mobil. Jalanan yang basah pertanda usai turun hujan. Beruntung saat ia keluar dari bandara tadi sudah ada sinar matahari yang menampakkan terangnya.
Dean Ganteng
[- Belum juga setahun, udah pulang aja.
- Balik sono.]
Raka Aditya
[- Asem lo]
Dean Ganteng
[- Wkwkwk, canda Boss]
Elyassss
[- Oleh2nya manaaaaaaa....]
Raka Aditya
[- Tenaaaaanggggggg....]
Dean Ganteng
[- buat dedeq juga ada kan qa...]
Raka Aditya
[- Adaaaa....]
Dean Ganteng
[- Asique]
Raka Aditya
[- Revisi desain interior kamar hotel.]
Dean Ganteng
[- Bukan jatah gue dodol]
Raka Aditya
[- Rio nggak bisa dindelin, lo aja yang pegang.]
Dean Ganteng
[- Ogah]
Elyassss
[- Udah pada gede masih aja berantem]
Dean Ganteng
[- Bukan aku yang mulai qaqa. Tuh raka sableng.]
Raka Aditya
[- Gue ke kantor besok, cape mau istirahat dolo]
Dean Ganteng
[- Bodo amat]
Elyassss
[- Amat aja nggak bodo. Masa elo bodo]
Dean Ganteng
[- elyasableng]
Elyassss
[- asem]
××××
Tiara menarik resleting jaketnya sampai sebatas d**a. Melindungi tubuhnya dari dingin ibukota yang dilanda musim penghujan. Dimana-mana banjir, beruntung Tiara sudah pindah kos yang lebih dekat dengan tempatnya bekerja dan juga bebas banjir.
Kembali, Tiara mematut dirinya di cermin lemari. Memastikan jika penampilannya tidak memalukan. Kedua sudut bibirnya ditarik keatas. Senyumnya menguar indah. Salah satu kegiatan yang ia lakukan setiap pagi untuk menyemangati diri sendiri.
×
"Makasih, Pak." ucap Raka pada sopir taksi yang telah mengantarnya sampai di depan rumah. Sopir itu juga turun dari mobil dan menurunkan barang bawaan Raka. Setelah menerima ongkos, sopir itu langsung melajukan mobilnya kembali.
"Kok pulang nggak bilang-bilang, Den? Kan bisa dijemput." Seorang pria tua berseragam satpam membukakan pintu gerbang setelah melihat Raka keluar dari taksi. Beliau lalu membantu Raka membawakan barang-barangnya.
"Emang Bapak bisa nyetir mobil?" canda Raka dengan logat jenaka.
Pak Satpam menggelengkan kepala sambil tersenyum. "Nggak sih, Den." jawabnya jujur karena ia memang tak bisa menyetir mobil. Pria setengah baya itu lalu memilih diam dan mengikuti anak majikannya di belakang.
"Lho, kok udah pulang kamu, Ka?" tanya Ibu Dina yang sedang menyiram tanaman bunga di halaman rumah. Beliau meletakkan selang airnya lalu menyambut kedatangan Sang anak tengah. "Kamu sakit?"
"Mama kok tanyanya gitu terus, sih? Mau berangkat ditanya sakit, pulang juga ditanya sakit." jawab Raka berpura-pura sebal. Ia tahu bahwasanya sang ibu memang khawatir dengan keadaannya karena biasanya ia akan mengabari jika ingin pulang.
"Bukan gitu, kamu aneh aja pulang nggak kabar-kabar dulu."
Raka tersenyum lalu memeluk Sang bunda. "Raka baik-baik aja kok. Kak Raga nyuruh Raka pulang biar bisa cariin Mama mantu secepatnya." ucapnya diakhiri tawa sumbang.
"Dewi?"
Raka sedikit berjengit mundur. "Ya nggak lah, Ma. Masa Raka sama Kak Dewi."
Ibu Dina menunduk. Terlihat air mukanya berubah sedih. "Mungkin kalau dulu Mama nggak rewel, sekarang Mama udah gendong cucu, ya, Ka."
Raka menarik napasnya dalam, lagi. Selalu saja ibunya akan bersedih jika mengingat Raga dan Dewi. Mungkin jika waktu bisa diulang kembali, ibunya itu pasti tak akan menolak Dewi sebagai menantu pertama di keluarga Widjaya. Mungkin beliau akan merestui sepenuh hati.
Bersambung.