Bab 7

1382 Words
"Maaf, saya terlambat" ucap Raka saat ia sampai di ruang rapat, di kantornya. Meleset 20 menit dari jadwal yang sudah ia tetapkan sendiri. Sekilas ia melirik Dean yang menggeleng-gelengkan kepala seraya tersenyum miring, mengejeknya. Rapat berjalan cepat dan menghasilkan keputusan akhir yang mengharuskan Raka untuk turun langsung menangani proyek baru di Swiss. Hotel bintang lima yang akan dikembangkan oleh grupnya itu bukan proyek main-main. Raka harus ada di sana dari awal mulai pembangunan sampai selesai. Dan itu bisa memakan waktu 10 hingga 12 bulan kedepan. Lusa, dia harus berangkat. "An, lo aja ya yang berangkat." tutur Raka yang masih duduk di kursinya. Dean yang masih membereskan kertas-kertasnya lalu menyerobot. "Ogah!" "Gue kasih bonus tiga kali lipat." tawar Raka sambil tersenyum, optimis jika Dean tak akan mampu menolak. Sahabatnya yang satu itu sangat suka uang. "Lo jangan pura-pura amnesia, ya, lusa gue udah masuk cuti 2 minggu. Gue harus pulang ke Wonogiri." kata Dean mengingatkan hal yang sedikitpun tak dilupakan Raka perihal cuti kerja. "Absen dulu lah." Dean menggeleng samar. "Uang bisa dicari, Bro, tapi kebersamaan sama keluarga itu nomor satu. Keluarga besar gue ngumpul cuma kalau ada acara kayak gini. Lagian, masa gue nggak dateng di acara nikahannya adik sepupu gue sendiri." lanjutnya seraya melirik Raka yang mengangguk-angguk, tapi dengan raut muka yang sangat memprihatikan. "Lo kenapa telat?" tanyanya saat pandangan Raka seolah kosong menatap permukaan meja yang panjang. "Lo beneran nggak ngapa-ngapain cewek itu, kan?" tanyanya lagi, menyelidik. "Hah?" Raka tergagap ketika sebuah pulpen mengenai tangannya. "Apa?" Dean menggeleng lagi. "Awas lo kalau cewek itu sampai bunting." ancamnya dengan jari telunjuk yang mengarah tepat ke wajah Raka. "Gue nggak ngapa-ngapain dia." cuma nyicip dikit, jawabnya dengan lanjutan kata didalam hati. "Serah lo, Gue sedikit yakin lo sedikit lebih waras dari Arya." "Asem." umpat Raka mengiringi Dean yang keluar dari ruang rapat. ×××××××× Tiara menyugar rambutnya, mengumpulkannya menjadi satu dan mengikatnya dengan ikat rambut scrunchie. Untung hari ini dia libur kuliah, jadi dia bisa membawa semua baju dari Raka ke laundry. Sebenarnya Tiara bisa saja mencucinya sendiri. Tapi ia sekarang sedang cukup malas melakukan itu. Dua jas pria, satu dress pesta dan satu dress wanita yang harganya pasti mahal. Tiara tidak mau jika baju-baju itu sampai rusak dan malah memberi kesempatan pada Raka untuk mengancamnya lagi. Gadis itu mengemas jas dan baju ke dalam paper bag, lebih cepat lebih baik, begitu pikirnya. Namun, kegiatannya berhenti ketika dress bunga-bunga itu ada di tangannya. Pikirannya kembali mengawang, kenapa bisa ada baju perempuan di apartemen seorang pria? Memang tidak banyak, tapi bukankah itu adalah hal yang mencurigakan. +62812******** [- p] Tiara melihat layar ponselnya, sebuah pesan masuk dari nomor yang tidak ia beri nama. +62812******** [- udah nyampe rumah belum ay....] Udahlah, emang dikira aku mau mampir kemana belum sampai rumah, batin Tiara sambil memasukkan baju pesta ke paper bag. +62812******** [- Jangan lupa makan siang....] Jam berapa Bambang? Gadis itu melihat jam dinding yang baru menunjuk pukul 10.30 siang. +62812******** [- Kok aku udah kangen lagi yaa...] Blusshh. Tiara merasa pipinya menghangat, begitu pula dengan dadanya yang mendadak berdebar. +62812******** [- Nanti makan malam bareng yaaa....] Buru-buru Tiara membuka aplikasi berlogo gagang telepon warna hijau tersebut. Jika tadi dia hanya membaca pesan dari notification bar di sisi atas layar, maka kali ini ia mau tak mau harus membuka chat tersebut yang berarti akan mengubah tanda centang dua menjadi warna biru. Tiara Herlinda [- NGGAK USAH!!!] ××× "Dasar galak." gumam Raka lalu meletakkan gawainya di atas meja. Dia belum pindah ke ruang kerjanya sendiri. Sejak Dean pergi, dia masih betah berada di ruang rapat. Entahlah, mengingat keputusan rapat tadi dia menjadi tidak semangat. Pria itu menangkup seluruh wajahnya dengan kedua telapak tangan. Menarik napas dalam-dalam lalu membuangnya. Dadanya merasa sesak. Seperti ingin marah, tapi ia tak ada alasan untuk marah. Lusa ia harus meninggalkan Indonesia, meninggalkan Tiara si gadis manis yang sudah mencuri hatinya itu. Dia sendiri juga heran, mengapa ia bisa jatuh cinta pada seorang gadis galak seperti Tiara yang sudah memukulinya secara brutal. Bagaimana dia bisa jatuh cinta secepat itu? Raka bimbang di antara dua pilihan. Tidak pergi dan tetap mengejar Tiara atau membiarkan proyek besar itu digenggam oleh perusahaan lain. Dia tidak mau menyiksa hatinya, tapi dia juga tidak mungkin mengecewakan Sang ayah. ××××××× Tiara sedikit menyibak tirai yang menutupi jendelanya. Matanya menyipit kala sinar matahari menyapa. Gadis itu mengamati keadaan di luar, kalau-kalau si setan itu sudah ada di depan pintunya lagi. Raka adalah pria yang tak bisa ditebak, atau memang Tiara sendiri yang terlalu polos hingga tak bisa menebak pria itu. Raka selalu mengancamnya dan juga membuatnya berbunga di waktu yang sama. Tiara tak menampik jika ada sedikit bagian hatinya yang terpesona akan kehadiran Raka. Namun, sekuat tenaga ia akan berusaha menghapus sedikit bagian itu. Tujuannya ke Jakarta untuk menuntut ilmu, bukan untuk mencari labuhan hati. Tiara Herlinda, dia dulu sebenarnya adalah anak yang sangat manja. Sebagai anak bungsu dari empat bersaudara, dia memang yang paling disayang oleh kedua orang tua dan juga kakak-kakaknya. Semasa sekolah di kampung, apa yang ia minta pasti dikabulkan. Saat temannya yang lain masih naik bus untuk sampai di sekolah, ia sudah mengendarai motor matic sendiri. Sangat terlihat wah di mata anak lain. Semasa berseragam putih abu-abu, dia adalah anak yang populer karena kecantikan dan fasilitas yang diberikan oleh orang tuanya. Tangannya yang tidak pernah menyentuh pekerjaan rumah membuat kulitnya berseri. Pulang sekolah, makan lalu bersantai. Tak pernah ia membantu kakak pertama dan ibunya yang selalu membereskan rumah dan memasak. Segala kebutuhannya sudah terpenuhi. Saat lulus Sekolah Menengah Atas, ia bersikeras ingin melanjutkan pendidikan di ibukota. Sifat sombongnya lebih mendominasi kala itu, kala temannya yang lain melanjutkan kuliah di kota kabupaten, ia yang tak mau tersaingi berpikir harus kuliah di tempat yang lebih daripada teman-temannya. Terjadilah pertengkaran hebat. Ayahnya marah besar, begitu pula dengan Sang ibu. Lalu Kakaknya yang pertama mengejeknya dengan nada candaan. Menyebut anak manja seperti Tiara tak mungkin bisa hidup sendirian di Jakarta. Lalu dengan jumawanya, Tiara berkata tidak akan pulang dengan tujuan untuk menetap jika ia belum lulus dan mendapat pekerjaan di Jakarta. Tiara tidak akan pulang sebelum ia sukses. Hingga di Jakarta ia dipertemukan dengan Kinanthi Khairani. Gadis cantik dari Jogja yang mendapat beasiswa karena kepintarannya. Bersama Kinan ia melewati hari-hari yang mencekam disepanjang ia hidup di dunia. Mencekam karena jatah uangnya untuk satu bulan sudah habis dalam waktu seminggu pertama ia berada di ibukota. Lidahnya yang suka mencoba jajanan baru benar-benar tak bisa di-rem. Ia jadi lapar mata saat ada diskonan besar-besaran dari toko fashion di dekat kos-kosan. Dan saat menyadari bahwa uangnya sudah menipis, ia hanya bisa gigit jari saat itu. Ingin menangis, ingin pulang dan juga meruntuki kebodohannya sendiri. Dia tidak mungkin meminta uang kiriman sebelum waktunya. Beruntung ada Kinan di sampingnya, perempuan itu yang menjamin makannya selama tiga minggu sampai uang kiriman dari kampung tiba. Tiga minggu yang menurutnya sangat lama. Tiga minggu yang mencekiknya karena hanya makan dengan lauk tempe goreng dan sambal bawang. Tiga minggu yang membuatnya harus memutus urat malu karena saat makan selalu dipanggil Kinan ke kamar kosnya. "Maaf ya, lauknya tempe lagi. Aku harus irit sampai dapat pekerjaan sampingan." Begitu ucap Kinan kala itu sambil tersenyum dan seketika membuat Tiara menangis tersedu-sedu. Saat itu juga dia sadar, seharusnya ia bisa bersikap dewasa seperti Kinan. Bisa mandiri dan bisa mengatur uang. Dia jadi sadar bahwa sifatnya yang manja, malas, sombong dan suka menghambur-hamburkan uang adalah sifat yang sia-sia dan sangat merugikan dirinya sendiri. Sampai pada liburan hari raya di tahun pertama, ia pulang ke kampung. Sampai di rumah ia duduk bersimpuh kepada kedua orang tua dan kakak-kakaknya. Tiara menangis, ia meminta maaf atas segala kesalahannya selama ini. Kinan lah guru yang mengajarinya banyak hal tentang hidup. Bersama Kinan ia belajar caranya mencuci baju, membersihkan rumah dan juga memasak. Bagaimana cara manghargai orang lain sekalipun orang itu adalah peminta-minta dan juga cara bersyukur kepada Allah. Maka saat keadaan berbalik tak berpihak pada Kinan, saat sahabatnya itu ditimpa masalah besar. Tiara berjanji pada dirinya sendiri, dia akan terus ada untuk Kinan seperti saat Kinan ada untuknya. Dia harus membalas jasa Kinan yang sudah membawanya keluar dari dunianya yang merugi. Bersambung.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD