kakek penyelamat

1007 Words
Sesampainya di depan sebuah ruangan, Aji mengetuk pintunya dan membukanya perlahan setelah mendapatkan ijin dari dalam. Di dalam ruangan tersebut, Aji dapat melihat winarto bersama 4 orang lainnya sedang tertawa seolah tanpa beban telah membantai anak dan istrinya. "Kau sudah kembali rupanya, Aji. Apa kau mau ditugaskan lagi?" Winarto tersenyum untuk menutupi kejahatan yang tadi di lakukannya. Aji mengangguk "Aku ingin merampok bersamamu, Ketua!" Winarto mengernyitkan dahinya Winarto tersenyum simpul, "Baiklah, nanti kita berangkat. Aku mendengar kabar katanya akan ada juragan besar yang melintas di hutan sabrang, " Jawabnya. Waktu berlalu begitu cepat bagi Aji yang masih menyimpan api dendamnya. Menjelang malam tiba, Aji, Winarto dan 7 orang lainnya bergerak menuju hutan sabrang. Namun sebelum mereka sampai, Aji tiba-tiba berhenti dan turun dari kudanya. Winarto dan yang lainnya bingung dengan sikap yang ditunjukan Aji. "Kau kenapa berhenti?" Tanya Winarto Aji menarik pedangnya "Apa yang kau lakukan kepada keluargaku tadi, Ketua b*****t!?" Winarto sedikit terkejut saat Aji mengetahui perbuatannya yang membunuh anak dan istri anak buahnya itu, namun dia tidak berusaha menutupinya dan malah mengakuinya. "Oh... Tentang istri dan anakmu itu? Aku sebenarnya tidak ingin membunuh mereka, jika istrimu mau dengan suka rela berhubungan intim denganku, " Jawab Winarto dengan enteng. "Bajingan... Aku bunuh kau!" Hardik Aji Dengan pedang Terhunus di tangan, Aji menyerang Winarto yang masih duduk diatas kudanya, 7 orang anak buah Winarto dengan sigap melompat dari kudanya dan melindungi Winarto. Pertarungan tidak seimbang pun terjadi. Dengan yang waktu singkat, beberapa luka tebasan pedang mendarat di tubuh Aji. Darah segar mulai membasahi pakaiannya. Namun dia tidak berniat menyerah, karna hidup atau mati baginya adalah sama saja. Darah yang mengucur dari Luka-lukanya semakin deras. Harapannya untuk membalas dendam pun tampaknya tidak akan mungkin kesampaian, jika melihat kondisinya yang semakin melemah. Pandangan Aji memudar karna sudah terlalu banyak kehilangan darah. Gerakannya bahkan sudah tak seimbang lagi dan hanya bisa bertumpu pada pedangnya saja. Aji pasrah akan kematian yang sebentar lagi akan menimpanya, Dia hanya bisa tersenyum tipis ketika bayangan senyum ceria anak dan istrinya muncul dipikirannya. "Sebentar lagi ayah akan kembali berkumpul dengan kalian di Nirwana, " Ucapnya dalam hati. "Bunuh dia...!" Teriak Winarto kepada 7 orang bawahannya. Ketujuh anak buah Winarto secara bersama-sama mengayunkan pedangnya ke setiap bagian tubuh Aji yang sudah tak berdaya. Namun mereka semua dibuat terkejut karena serangannya hanya menerpa ruang kosong, Dan tubuh Aji sudak tidak ada di tempatnya lagi. "b*****t, siapa yang sudah menyelamatkannya!?" Hardik Winarto Sekelebat bayangan hitam yang bergerak sangat cepat, menyelamatkan Aji dari kematian di detik-detik terakhir. Waktu berlalu begitu cepat, semalaman Aji terbaring pingsan tak berdaya, hingga keesokan paginya dia sudah kembali siuman. Kondisi gua yang gelap temaram membuat pikiran lelaki itu serasa berada di dalam kuburan. "Berarti aku sudah mati sekarang? Istriku, anak-anakku, di mana kalian sekarang?" Ucapnya pelan seraya memandang ke langit-langit gua yang gelap temaram itu. "Mati gundulmu! Kalau aku tidak menyelamatkanmu, kau mungkin sudah mati sekarang!" Sebuah suara yang sedikit keras mengagetkan Aji, lelaki tampan itu menolehkan kelapanya tertuju ke sumber suara. Samar-samar dilihatnya seorang lelaki tua yang sedang duduk bersila tidak jauh darinya. "Kenapa kakek menyelamatkan aku? Aku sudah tidak punya siapa-siapa lagi di dunia ini, buat apa aku hidup?" Lelaki tua itu menghela napas berat sebelum menjawab pertanyaan Aji, "Kau belum ditakdirkan untuk mati, anak muda! Kau mempunyai tubuh istimewa yang hanya ada 500 tahun sekali. Darah murni yang ada di tubuhmu membuatmu menjadi manusia pilihan. Kau akan mewarisi ilmu kanuragan yang tiada bandingannya. Tapi harus kau gunakan dijalan kebenaran," paparnya. "Manusia pilihan apanya? Kalau aku manusia pilihan, aku pasti bisa menyelamatkan anak dan istriku!" Bantah Aji pelan namun penuh tekanan. Pandangan matanya tetap lesu seperti kemarin setelah kehilangan anak dan istrinya. "Anak muda, aku tahu kau akan sangat sulit menerima kenyataan ini. Tapi, apa kau tidak ingin membalas dendam kepada pembunuh istri dan anakmu? Apa kau ingin membiarkan mereka hidup dan terus melakukan kejahatan kembali? Kalau kau membiarkan mereka hidup, itu sama saja kau membantu mereka berbuat kejahatan!" Berondong lelaki tua itu. Aji mengangkat wajahnya yang tertunduk sedari tadi. Bola matanya berkaca-kaca menatap lelaki tua yang sudah menyelamatkannya. "Tapi, kek... Aku juga bukan orang baik-baik." Aji mulai meneteskan air matanya. Bayangan orang-orang yang telah dirampoknya, bahkan ada yang dibunuhnya, menghantui di pelupuk matanya. Bayangan jerit tangis mereka menari-nari di pikirannya. "Aku adalah perampok dan juga pembunuh. Apakah pantas bila aku balas dendam?" Sambunya bertanya. Lelaki tua itu menggaruk kepalanya yang tidak gatal, "apa kau sedang mengigau, anak muda?" "Tidak, kek. Aku sudah sadar. Memang benar aku adalah perampok dan pembunuh juga," jawab Aji. "Bukan itu, tapi setelahnya! Apa kau kemarin tidak berniat balas dendam kepada mereka?" Aji menganggukkan kepalanya pelan tanpa daya. "Lalu kenapa kau bertanya apakah kau pantas bila membalas dendam?" Aji terkekeh pelan teringat kebodohannya. Entah kenapa, harapan besar yang diberikan lelaki tua itu sedikit demi sedikit membuat semangatnya untuk hidup menjadi semakin besar. "Apa kakek benar-benar ingin melatihku?" Tanyanya penuh harap, sebesar keinginannya untuk membunuh Winarto dan semua anak buahnya. "Lalu untuk apa aku menyelamatkanmu jika tidak ingin melatihmu? meski bukan ilmu terkuat yang akan kau miliki, tapi kalau untuk mengalahkan para pembunuh anak dan istrimu saja, aku rasa bukan hal yang sulit untuk dilakukan!" Sahut lelaki tua itu cepat. Aji tersenyum lebar. Tapi sedetik kemudian, senyumannya itu menghilang dan berganti kerutan di dahinya. "Apa maksud kakek dengan bukan ilmu terkuat yang aku miliki?" "Dengarkan baik-baik! Jadi begini, anak muda... Memang aku akan melatihmu, tapi ilmu kanuragan yang akan aku berikan padamu, bukanlah ilmu kanuragan terkuat yang akan kau miliki nantinya. Kau masih harus berlatih lagi kepada orang lain, yang nantinya akan menyempurnakan darah murni yang ada di tubuhmu." Lelaki tua itu memandang langit-langit gua dan kemudian menghembuskan napas panjangnya. "Darah murnimu nasih kotor akibat perbuatanmu sendiri yang mengotorinya. Hanya orang itu yang sanggup memurnikannya, tapi tentunya itu harus di dukung dengan niat yang ada di dalam hatimu." Tambahnya. Aji mengangguk memahami ucapan lelaki tua itu, "Baiklah, kek. Kalau begitu aku akan menuruti saran kakek, jadikan aku pendekar yang kuat. Aku akan membuat mereka yang sudah membunuh istri dan anakku menyesal karena telah dilahirkan di dunia ini!" Tekadnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD