"Manusia pilihan apanya? Kalau aku manusia pilihan, aku pasti bisa menyelamatkan anak dan istriku!" Bantah Aji pelan namun penuh tekanan. Pandangan matanya tetap lesu seperti kemarin setelah kehilangan anak dan istrinya.
"Anak muda, aku tahu kau akan sangat sulit menerima kenyataan ini. Tapi, apa kau tidak ingin membalas dendam kepada pembunuh istri dan anakmu? Apa kau ingin membiarkan mereka hidup dan terus melakukan kejahatan kembali? Kalau kau membiarkan mereka hidup, itu sama saja kau membantu mereka berbuat kejahatan!" Berondong lelaki tua itu.
Aji mengangkat wajahnya yang tertunduk sedari tadi. Bola matanya berkaca-kaca menatap lelaki tua yang sudah menyelamatkannya.
"Tapi, kek... Aku juga bukan orang baik-baik." Aji mulai meneteskan air matanya. Bayangan orang-orang yang telah dirampoknya, bahkan ada yang dibunuhnya, menghantui di pelupuk matanya. Bayangan jerit tangis mereka menari-nari di pikirannya.
"Aku adalah perampok dan juga pembunuh. Apakah pantas bila aku balas dendam?" Sambunya bertanya.
Lelaki tua itu menggaruk kepalanya yang tidak gatal, "apa kau sedang mengigau, anak muda?"
"Tidak, kek. Aku sudah sadar. Memang benar aku adalah perampok dan pembunuh juga," jawab Aji.
"Bukan itu, tapi setelahnya! Apa kau kemarin tidak berniat balas dendam kepada mereka?"
Aji menganggukkan kepalanya pelan tanpa daya.
"Lalu kenapa kau bertanya apakah kau pantas bila membalas dendam?"
Aji terkekeh pelan teringat kebodohannya. Entah kenapa, harapan besar yang diberikan lelaki tua itu sedikit demi sedikit membuat semangatnya untuk hidup menjadi semakin besar.
"Apa kakek benar-benar ingin melatihku?" Tanyanya penuh harap, sebesar keinginannya untuk membunuh Winarto dan semua anak buahnya.
"Lalu untuk apa aku menyelamatkanmu jika tidak ingin melatihmu? meski bukan ilmu terkuat yang akan kau miliki, tapi kalau untuk mengalahkan para pembunuh anak dan istrimu saja, aku rasa bukan hal yang sulit untuk dilakukan!" Sahut lelaki tua itu cepat.
Aji tersenyum lebar. Tapi sedetik kemudian, senyumannya itu menghilang dan berganti kerutan di dahinya.
"Apa maksud kakek dengan bukan ilmu terkuat yang aku miliki?"
"Dengarkan baik-baik! Jadi begini, anak muda... Memang aku akan melatihmu, tapi ilmu kanuragan yang akan aku berikan padamu, bukanlah ilmu kanuragan terkuat yang akan kau miliki nantinya. Kau masih harus berlatih lagi kepada orang lain, yang nantinya akan menyempurnakan darah murni yang ada di tubuhmu." Lelaki tua itu memandang langit-langit gua dan kemudian menghembuskan napas panjangnya.
"Darah murnimu nasih kotor akibat perbuatanmu sendiri yang mengotorinya. Hanya orang itu yang sanggup memurnikannya, tapi tentunya itu harus di dukung dengan niat yang ada di dalam hatimu." Tambahnya.
Aji mengangguk memahami ucapan lelaki tua itu, "Baiklah, kek. Kalau begitu aku akan menuruti saran kakek, jadikan aku pendekar yang kuat. Aku akan membuat mereka yang sudah membunuh istri dan anakku menyesal karena telah dilahirkan di dunia ini!" Tekadnya.
Lelaki tua itu menggelengkan kepalanya, "Aku tidak bisa menjadikanmu kuat, anak muda. Tapi hanya kau sendiri yang bisa menjadikan dirimu kuat. Aku hanya bisa mengarahkan saja."
Aji mengangguk mantap, "Aku paham apa yang kakek maksudkan."
"Baiklah, untuk sementara aku akan memulihkan tubuhmu terlebih dulu. Kau harus sembuh agar kau bisa menerima semua yang aku ajarkan kepadamu." Lelaki tua itu berdiri dan berjalan menuju sebuah lemari kecil dari kayu. Tangannya meraih sebuah pedang yang berwarna hitam kelam yang terletak diatas lemari kecil itu. Setelah itu dia memasukannya kedalam lemari.
"Namaku prayoga, siapa namamu anak muda?"
"Namaku Aji, kakek."
Hari demi hari dilalui mereka berdua untuk memulihkan tubuh Aji yang penuh dengan luka. Disaat prayoga pergi untuk mencari dedaunan obat-obatan, Aji tidak diam begitu saja. Dia belajar meramu obat meski luka-lukanya belum sembuh benar.
Ilmu pengobatan yang juga diajarkan Prayoga kepadanya, diserapnya dengan baik, meski dia sedikit kesulitan menghapal jenis dedaunan yang begitu banyak.
Dua minggu berlalu dengan cepat. Luka luar yang diderita Aji sudah menutup sepenuhnya. Kini dia sudah bisa dan siap untuk belajar ilmu kanuragan yang akan diajarkan Prayoga kepadanya.
Di suatu pagi, Aji yang baru bangun dari tidurnya, keluar dari gua dan berjalan mendekati Prayoga yang sedang membelah kayu bakar dengan kapak kecil di tangannya.
"Kau sudah bangun rupanya. Bagaimana keadaanmu sekarang?" Tanya Prayoga. Senyum kecil tersungging di bibirnya yang di penuhi keriputan.
"Luka di tubuhku sudah sepenuhnya sembuh, Kakek." Aji tersenyum lebar menunjukan bekas lukanya yang sudah menutup sepenuhnya.
"Untung saja kau hanya mengalami luka luar, jadi pemulihanmu bisa lebih cepat. Apa sekarang kau sudah siap untuk berlatih ilmu kanuragan?"
"Aku sudah sangat siap, Kakek. Bahkan aku sudah tidak sabar untuk segera berlatih di bawah bimbingan Kakek," jawab Aji. Anggukan kepalanya begitu mantap tanpa ada keraguan sedikit pun.
"Sabar, Aji. Belajar ilmu kanuragan ada tahapan-tahapan yang harus dilalui sebelum berlatih jurus." Prayoga mulai menjelaskan tahapan yang harus dilakukan Aji untuk bisa mempelajari ilmu kanuragan.
Lelaki tua itu melemparkan kapak kecilnya dengan cepat dan menancap di sebuah batang pohon, yang besar batangnya tiga kali rangkulan tangan orang dewasa.
Aji menatap dengan kagum melihat kecepatan dan ketepatan lelaki tua itu membidik sebuah pohon tanpa harus berkonsentrasi. Menurutnya, lelaki tua yang akan menjadi gurunya itu tentu memiliki kemampuan ilmu kanuragan yang tinggi.
"Tahap pertama kau harus berlatih fisik lebih dulu. Tujuannya selain untuk membuat tubuhmu yang kurus itu menjadi berotot, juga untuk memperkuat tulang-tulangmu. Tulang yang kuat akan membuat tenaga dalammu bisa kau tampung di dalamnya."
"Baik, kek. Latihan fisik apa yang pertama harus aku lakukan?" Tanya Aji penasaran.
"Tebanglah pohon besar itu dengan kapak yang menancap di batangnya. Buatlah dengan ukuran kecil-kecil agar aku tidak bersusah payah lagi untuk membelah kayu."
"Pohon sebesar itu harus aku potong dengan kapak sekecil ini?" Gumam Aji bertanya-tanya dalam hati. Dia menggaruk kepalanya berkali-kali karena tidak percaya dengan latihan pertama yang akan dia lakukan.
Tanpa membantah, Aji berjalan menuju pohon besar yang harus dia tebang. Dia menguatkan tekadnya agar tidak mengecewakan Prayoga.
"Kau mau kemana?" Tanya Prayoga.
Aji menghentikan ayunan tegap langkahnya, lalu membalikan badannya "mau menebang pohon itu, kek,"
"Makanlah dulu! aku tak mau melihatmu pingsan sebelum menyelesaikan latihan pertamamu." Prayoga melemparkan sebuah bungkusan daun pisang berisi ketela pohon yang sudah di bakar.
Dengan sigap Aji menangkap dan membuka bungkusan yang berisi ketela pohon itu. Perutnya yang memang lapar karena baru bangun dari tidur, membuatnya makan dengan sangat lahap.
Tak sampai berapa lama, ketela bakar yang masih hangat itupun berpindah ke dalam perutnya.
Selesai makan, Aji berlari menuju pohon besar itu dan mulai menebangnya dengan penuh semangat. Dalam bayangannya, pohon itu adalah Winarto dan anak buahnya yang menjadi sasaran kemarahannya.