Sudah 2 minggu dari insiden ciuman itu,tetapi efek nya masih terasa sampai saat ini di pikiran Winter,dia terus memikirkan bagaimana bisa ciuman pertama dia diambil oleh orang yang dia tidak sukai terutama orang itu ada Axel !.
Winter memegang bibir nya,diri nya masih begitu ingat bagaimana Axel menyatukan bibir mereka dengan lembut bahkan tidak ada penolakan sama sekali dari Winter.
“heh melamun?” Sabila tiba tiba datang dan mengejutkan Winter dengan menepuk bahu nya.
“bibir kamu kenapa?” tanya Sabila lagi saat Winter tak henti memegang bibir nya
Winter dengan cepat melepaskan tangan dari bibir nya saat dia sadar
“eh? Sejak kapan kamu disini?” tanya Winter
Sabila menyandarkan badannya ke kursi kerja nya “sejak kamu pegang pegang bibir dan senyum sendiri” ucap nya,dia membuka botol minuman starbucks nya.
“btw kamu kemana selama 3 minggu ini?”
Winter terdiam,dia memutar otak nya untuk mencari jawaban yang masuk akal
“aku sakit tipes dan harus masuk rumah sakit” bohong Winter sambil tersenyum,dia yakin alasannya kali ini masuk akal.
Sabila mengangguk “tapi kenap-“
“hem Sabila,aku pergi keluar dulu ya ingin memberikan laporan ke pak Devan” ucap Winter,dengan cepat dia bangkit dan keluar dari ruangannya sebelum Sabila memberikan pertanyaan yang lain.
Winter memasuki ruang Devan saat mendapat izin masuk,dia terkejut saat melihat Devan dan Axel yang berada di ruang yang sama sedang membahas sesuatu.
“maaf menganggu,saya akan datang lain kali”
“tunggu sebentar disini” balas Devan sebelum Winter keluar dari ruangannya.
Winter kembali berjalan dan berdiri di sudut ruangan,sambil menunggu Axel dan Devan selesai.
“Winter” tidak berapa lama menunggu,Axel dan Devan berhenti,Winter langsung berjalan mendekati Devan dapat dilihat dari sudut pandang mata nya Axel yang sedang duduk di sofa sedang menatap tajam kepada nya.
“ini pak laporan bulan kemarin,maafkan saya baru bisa memberikan sekarang” ucap Winter,dia menyerahkan laporannya kepada Devan dan berniat untuk kembali.
“tunggu,ada yang ingin ku tanyakan” ucap Devan,Winter berhenti dan memutar badannya kembali dan mendekat.
“iya pak?”
“selama 3 minggu ini saya dengar kamu sedang sakit,sakit apa?” tanya Devan
“Cuma sakit tipes biasa pak” balas Winter sambil tersenyum sopan,walau terkadang dia memanggil Devan dengan nama saja,tetapi di situasi sekarang tidak sopan rasanya dia memanggil Devan dengan nama saja.
“kenapa ngggak bilang? Aku bisa jenguk”
“hm,kemarin itu saya tidak sempat ingin menghubungi bapak,lain kali saya pastikan akan menghubungi bapak” balas Winter lagi dengan sopan
“tidak ada lain kali” celetuk Axel di seberang sana,Winter yang mendengarnya pun sambil membelalakkan kedua mata nya terkejut.
“kamu bilang apa tadi Xel?”tanya Devan
“ini di grafik nya terus menurun dan keterangannya lain kali akan lebih meningkat,makanya tadi aku bilang tidak ada lain kali” alasan Axel,Devan mengangguk dan menatap Winter kembali sedangkan Winter dia hampir berkeringat dingin mendengar perkataan Axel.
“kamu malam ini ada waktu? Kita makan malam bersama ya” tanya Devan,Winter terdiam sebentar dia ingin menolak tetapi dia tidak enak hati.
“ada pak” ucap Winter akhirnya
“oke,nanti aku jemput di Apartemen kamu ya”
“eh,nggak usah pak biar nanti saya saja yang menunggu di depan jalan”
“kenapa? Bukannya jauh?”
“nggak papa pak,saya kebetulan ada yang di cari sebentar” ucap Winter
**
Winter memandang penampilan di cermin,dengan gaun panjang merah muda dan belahan sedikit di kaki tidak terlihat berlebihan bukan? Sebenarnya Winter ingin memakai hoodie tetapi Devan memberitahu nya untuk memakai gaun yang bagus,untuk apa tujuannya Winter tidak tahu Devan hanya memberi tahu hal itu.Winter cepat cepat keluar dari koss nya dia tidak ingin membuat Devan menunggu di depan.
“pak,buah mangga nya 1 kg” selain dia tidak ingin kediamannya di ketahui Devan,dia juga ingin membeli buah untuk cemilan di koss nya.
“15 ribu neng” ucap penjual itu,Winter menerima nya dan menyerahkan uang kepada penjual itu,dia kembali membalikkan badannya untuk mencari keberadaan Devan.
Trit..
Winter memberikan senyumannya saat melihat mobil Devan yang menghampiri nya,dia melambaikan tangan dan memasuki mobil Devan.
“kamu beli apa?” tanya Devan saat melihat Winter membawa kantong plastik besar.
Winter menepuk jidat nya,dia lupa untuk meletakkan mangga ini ke koss dia sebelum berangkat.
“ini mangga,buat cemilan nanti” ucap Winter tidak enak “kamu nggak papa kalau aku membawa ini?” tanya Winter lagi
“no problem,lagipula itu bukan durian yang bau menyengat” jawab Devan.
**
Winter menatap Devan sekali lagi,dia tidak percaya Devan membawa nya ke restoran yang terkenal akan mewah dan mahal,bahkan untuk 1 makanan nya saja kata nya paling murah 1 juta tetapi ini sebanding dengan pelayanan yang bakal di terima.
“kamu serius kesini?” tanya Winter,dia ragu mengikuti langkah Devan.
Devan mengangguk “itulah alasan kenapa aku minta kamu pakaian seperti ini.”
“kita bisa makan di restoran lain,di sini terlalu mahal” ucap Winter,dia tidak ingin Devan menghabiskan uang yang banyak hanya demi makanan.
“masuklah,sepuluh kali lipat dari sini pun aku masih bisa bayar” Devan berusaha meyakinkan Winter,Winter menatap wajah Devan yang nampak yakin.
Winter berjalan di samping Devan,dia mengamati beberapa interior di restoran ini,tidak heran jika orang orang kaya selalu pergi ke sini.
“kamu mau pesan apa?”
Winter melihat daftar menu nya dan hanya bisa meneguk air liur nya,harga makanannya bahkan lebih mahal dari perkataan orang orang,bagaimana bisa harga makanan setara dengan gaji dia 1 bulan”
“terserah kamu saja” balas Winter,dia bingung menentukan makanannya dengan harga yang tidak ramah di kantong nya.
“kamu mau coba steak? Disini steak nya sangat enak”
Winter mengangguk
“steak wagyu A5 nya 2 dan the winston cocktail 2”
Winter mengerutkan kening nya saat mendengar nama minuman yang terdengar asing di telinga nya.
“wait,itu alkohol?”
“bukan tapi cocktail”
“bisa di ganti? Toleransi alkohol aku rendah” ucap Winter
“kandungan cocktail di dalam nya nggak tinggi kok,mereka menyesuaikan untuk hidangan bukan seperti di bar yang kandungan cocktail nya tinggi” balas Devan,Winter mengangguk mungkin saja yang di katakan Devan benar.
Baik Winter maupun Devan kedua nya asik berbicara satu sama lain,tetapi ada satu hal yang membuat Winter terganggu sedari tadi dia melihat seorang pria yang selalu menatap nya lurus dengan tajam.
“Devan,aku pergi ke toilet dulu ya” ucap Winter dan Devan mengangguk.
Winter berjalan di samping lelaki itu dengan sengaja,dia ingin melihat siapa yang menatap nya tajam sedari tadi dan betapa terkejut nya dia,orang uyang menatap nya sedari tadi adalah Axel !
Winter melewati Axel seolah dia tidak melihat apa apa,sedangkan Axel menatap Winter dengan tajam sedari Winter menatap dia,Axel bangkit dan mengikuti Winter pergi ke toilet.
Winter mempercepat langkah nya saat melihat Axel yang mengikuti nya,dia berharap semoga ada satu atau dua orang di toilet untuk mencegah Axel masuk.Winter bisa bernafas lega saat melihat kumpulan ibu ibu yang sedang asik merumpi di depan toilet,setidak nya Axel tidak akan berani masuk.
“permisi bu” ucap Winter ramah kepada kumpulan ibu ibu itu.
Winter masuk ke dalam toilet dan bisa menarik nafas nya,dia tidak menyangka akan bertemu Axel restoran ini dan parah nya pria itu sendirian,tidak ada klien atau kolega yang menemani nya.
Setelah di rasa cukup lama,akhir nya Winter memberanikan diri untuk keluar dia membuka pintu nya sedikit dan melihat keadaan yang sunyi tidak ada seorang pun sekarang,dirasa aman Winter perlahan keluar.
Brak..
“akh”
Baru beberapa detik Winter keluar dari toilet dia langsung di kejutkan dengan Axel yang mendorong badannya sampai ke dinding.
“Axel lepas” ucap Winter kesal,punggung nya terasa sakit sekarang,Axel mendorong nya terlalu kuat.
“Axel l-“
Belum sempat Winter menyelesaikan kalimat nya,Axel mencium nya dengan ganas,memaksa lidah untuk masuk dan menjelajah mulut Winter.
Berulang kali Winter berusaha melepaskan tubuh nya,tetapi sia sia malah membuat Axel semakin mudah mengunci tubuh nya.
Winter hampir kehabisan nafas,Axel benar benar tidak membiarkan diri nya untuk bernafas sekali pun,sampai kesadarannya hampir hilang barulah Axel melepaskan ciuman mereka.
“kenapa?” tanya Axel,dia tidak benar benar melepaskan Winter,dia malah mencium leher Winter sebagai ganti nya.
“lepas” ucap Winter sekali lagi.
“sudah aku bilang untuk menolak permintaan Devan,kenapa kamu malah menerima nya?” tanya Axel tenang,tapi dalam ketenangannya itu mengandung kata kemarahan.
“kamu milikku dan kamu harus mengikuti apa yang aku katakan” ucap nya lagi.
Winter hanya diam,tangannya sekarang dikunci Axel dan dia tidak bisa melakukan apa apa.
“Xel stop,ini toilet kalau ada yang melihat nanti”
Tapi Axel tidak peduli dia bahkan meninggalkan jejak di leher mulus Winter.
Axel tersenyum puas saat melihat karya nya,sekarang semua orang akan tahu kalau Winter sudah ada pemilik nya termasuk si sialan Devan itu,Axel yakin Winter tidak akan sadar dengan karya nya.
“sekarang kamu kembali dan katakan ke Devan katakan ada urusan mendadak,aku tunggu di meja tadi” ucap Axel lalu melepaskan cengkraman tangannya lalu pergi.
**
Winter berjalan tergesa gesa mendekati Devan,wajah nya nampak kebingungan untuk menyusun alasan untuk pulang lebih dulu.
“Winter sudah selesai?” tanya Devan dia lalu meraih tangan Winter dan menarik nya untuk duduk.
Devan mengamati Winter dengan dalam lalu tersenyum misterius “yang menyerang kamu ganas juga ya” ucap nya sambil tertawa
“hah?” tanya Winter tidak mengerti,tapi Devan hanya menggeleng
“steak nya sudah datang,cobalah aku yakin kamu bakal suka”
Winter terdiam,dia ingin pamit tapi Devan tidak memberi nya kesempatan.
“Devan”
“hm,steak nya lembut banget dengan kematangan medium rare” potong Devan,dia memotong steak nya sedikit lalu memberikan steak nya untuk Winter.
Winter menatap Devan dan Devan membalas nya seakan meminta nya untuk menerima suapan dari Devan.
“enak kan?” tanya Devan saat Winter menerima suapannya,Winter mengangguk Devan tidak berbohong rasanya memang sangat enak.
Winter memotong steak nya lalu memakannya dengan perlahan,dia menikmati kunyahannya dengan sungguh sungguh.
Baru saja dia menikmati makanannya,mata nya sudah melihat Axel yang berdiri di ujung pintu keluar menatap nya dengan tajam.
“Devan,maaf seperti nya aku harus pulang lebih dulu” ucap Winter dia bangkit tetapi tangannya malah di tahan oleh Devan
“kenapa?” tanya Devan dia memegang tangan Winter dengan erat
“maafkan aku tidak bisa beritahu sekarang,tapi lain kali aku janji traktir kamu makan” balas Winter,dia melepas tangan Devan dan setengah berlari menuju pintu keluar restoran.
Winter setengah berlari,dia tidak ingin menemui Axel,mengingat tatapan Axel tadi sungguh membuat bulu kuduk nya merindirng.
“mobil nya kelewatan” Winter terdiam saat dia mendengar suara Axel yang menggema di telinga nya.
“bukannya sudah aku bilang untuk segera pulang,tapi kamu tidak mendengarkan sama sekali” Axel berjalan mendekati Winter yang menatap nya dengan gugup
“aku tidak bisa pulang begitu saja,makanannya baru datang dan aku nggak bisa pergi begitu saja”bela Winter dia berjalan mundur perlahan mehindari Axel yang semakin mendekati nya.
“berhenti disana” ucap Winter lagi sekarang punggung nya menabrak mobil di belakangnya,Axel semakin mendekati nya dan membuat nya takut.
“sudah berapa kali aku bilang untuk menjauhi Devan,tapi kamu tidak pernah mendengarkannya” Axel mengatakannya dengan kalimat biasa tetapi pandangannya mengunci Winter.
Winter menutup mata nya menahan gejolak amarah yang meluap “sudah aku bilang berapa kali kita tidak punya ikatan apapun dan kamu tidak berhak mengaturku untuk bertemu dengan siapapun” ucap Winter marah
“kita punya ikatan yang membuat ku berhak melarang kamu untuk bertemu dengan siapapun” Axel semakin mendekati Winter hingga jarak diantara mereka hanya setengah meter.
“ikatan apa? Kamu selalu bilang bahwa kita punya ikatan tapi aku tidak pernah mengingat hal apapun yang membuat kita terikat” Winter mengatakannya dengan berani,dia menatap wajah Axel tajam.
Axel terdiam lalu menyunggingkan senyumnya sedikit,perlahan dia merapatkan diri nya ke Winter dan mengunci badan Winter,dia perlahan mendekatkan kepala nya kepada Winter
Bruk
Axel memegang sudut bibir nya yang berdarah,bukannya mendapatkan bibir Winter dia malah mendapatkan bibir nya yang berdarah.
“kamu nggak papa?”
Axel mengangkat kepala nya dan melihat Devan yang mendekati Winter,bisa di pastikan darah di bibir nya juga di sebabkan oleh diri nya.
Winter mengangguk
“syukurlah” ucap Devan lalu memegang bahu Winter untuk membawa nya menjauh dari Axel
“lepaskan dia” ucap Axel dingin
Devan berhenti dan membalikkan badannya dan menatap wajah Axel yang memar karena pukulannya
“tidak pantas seorang laki laki untuk melecehkan seorang wanita seperti itu” ucap Devan,dia menatap Axel dengan tajam juga
Axel menaikkan salah satu alis nya “melecehkan? Bagian mana nya aku melecehkan Winter?”
“aku sudah mengikuti Winter dari dia keluar restoran,jangan harap aku melewatkan semua kejadian tadi” ucap Devan
“aku berhak untuk melarang nya bahkan untuk melakukan hal seperti tadi”
Devan mengerutkan kening nya “atas dasar apa kamu bisa melakukan hal tadi?”
“dia istriku”
Winter mengangkat kepala nya tegak saat dia mendengar Axel mengatakan kalau dirinya adalah istri Axel,sama hal nya Winter Devan juga sangat terkejut saat mendengar perkataan Axel.
“Dia istriku dan aku berhak untuk melakukan apapun bahkan hal seperti tadi” tegas Axel lagi
Devan tercengang mendengarnya,diri nya tidak ingin mempercayai nya tetapi mendengar Axel mengatakannya dengan tegas membuat nya ragu.
“itu benar Winter?” tanya Devan ke Winter di samping nya.
“aku tidak mengetahui itu” balas Winter,Devan memandang Axel kembali dan tersenyum meremehkan,tanpa banyak bicara dia membawa Winter menjauhi Axel.
“Devan berhenti atau aku pecat” ancam Axel
Lagi lagi Devan tertawa mendengar perkataan Axel “silahkan jika kamu bisa tapi jangan lupa walau jabatan kamu lebih tinggi tapi di perusahaan kamu masih ada saham ku” ucap Devan
“ku rasa jika aku menarik saham itu sekarang bisa di pastikan perusahaan kamu berada di ambang kebangkrutan” ucap Devan lagi telak dan membuat Axel tidak bisa berkata kata lagi
Axel menatap Winter yang menajuhi nya dengan Devan dengan perasaan marah,bisa bisa nya dia kalah telak berdebat dengan Devan.
“ah sial” umapt Axel kesal.