bc

Hanya Istri Di Atas Ranjang

book_age18+
0
FOLLOW
1K
READ
revenge
dark
love-triangle
family
HE
second chance
arranged marriage
arrogant
badboy
heir/heiress
drama
bxg
serious
bold
city
office/work place
disappearance
rejected
secrets
affair
friends with benefits
polygamy
actor
like
intro-logo
Blurb

"Kamu mau cerai kan? Tapi bayar dulu semua hutang papamu. 20 Milyar! Hanya lulusan SMA seumur hidup kamu kerja pun tak akan bisa mendapatkannya!"

"Aku memang tidak berpendidikan tinggi, tapi aku punya wajah cantik dan badan yang bagus. Kamu juga tahu sendiri bagaimana pelayanan aku ketika diranjang bukan? Menurutmu... Jika aku mendekati para bos-bos konglomerat pasti mereka mau membayar mahal bukan?"

* * *

Lima tahun pernikahan, Camelia hanya dianggap sebagai istri ketika di atas ranjang saja. Selebihnya Orion selalu dingin karena cintanya telah habis untuk mantan kekasihnya yang sudah meninggal dunia.Saat Camelia kecelakaan dan tak ada satupun yang peduli, ia baru sadar jika pengorbanannya selama ini sia-sia. Diapun memutuskan untuk menemukan kebahagiaannya sendiri dan menggapai impian sebagai penyanyi.Tapi ketika ia meminta cerai, Orion justru tidak mau melepaskannya. Semakin Camelia memberontak membuat Orion semakin terobsesi padanya.

chap-preview
Free preview
Bab 1.
'Artis papan atas Serra, terciduk di bandara Incheon bersama pengusaha muda Orion Sinclair. Ini sudah ke 3 kalinya mereka bepergian keluar negeri berdua, apakah undangan pernikahan akan segera tersebar mengingat mereka tidak pernah membantah kedekatan mereka?' Klik! Rose langsung melempar remot usai mematikan televisinya. "Dasar b******k! Istrinya kecelakaan bukannya menjaga di rumah sakit malah enak-enakan berduaan dengan perempuan lain!" Aku hanya tersenyum pilu saat mendengar umpatan sahabatku, tapi memang itulah kenyataannya. Jangankan menjagaku dirumah sakit, aku telpon saja tidak pernah diangkat. Namaku Camelia, sejak usia 18 tahun dikirim oleh papaku untuk menikah dengan Orion Sinclair sebab papa tak mampu membayar hutang. Selama lima tahun ini aku berusaha menjadi istri dan menantu yang baik, tapi aku tak pernah mendapatkan pengakuan. Orion hanya menatap mataku dan berbicara denganku ketika berada di atas ranjang saja. Setelah nafsunya terlampiaskan aku hanya dianggap orang asing. "Sialan, aku emosi sekali. Kalau aku jadi kamu, aku tidak sudi diperlakukan seperti ini. Semakin kamu bersabar, semakin kamu akan disepelekan oleh mereka!" geram Rose menatap tajam ke arahku. "Memangnya aku bisa apa? Papaku masih membutuhkan dukungan sumber daya keluarga Sinclair untuk bisnisnya. Lagipula Orion dan Serra hanya sebatas teman, cinta Orion telah habis untuk mantannya yang sudah meninggal dunia itu,"jawabku lirih. "Tak peduli Serra ada hubungan apa dengan Orion. Tapi setelah kamu berkorban selama ini apa yang kamu dapatkan hah? Orang tuamu tahu kamu di rumah sakit tapi mereka malah memilih merayakan ulang tahun adikmu di luar negeri tanpamu. Sadarlah, Camelia! Kamu itu hanya dimanfaatkan oleh mereka," gertak Rose menggebu-gebu. Aku mataku langsung menetes, membuat wajah Rose berubah sendu. "Maaf, Camelia. Akun tidak bermaksud untuk menyalahkan kamu. Tapi aku tidak ingin terus hidup menderita. Kamu berhak bahagia, kamu tidak pantas tidak perlakukan seperti ini!" bujuknya mulai dengan nada lembut. "Aku menangis karena menyadari, betapa selama lima tahun ini aku begitu bodoh. Aku menyia-nyiakan waktuku untuk sesuatu yang tidak berguna. Aku sampai kehilangan diriku sendiri," jawabku mulai mengutarakan apa yang selama ini aku tahan. "Baguslah kalau kamu mulai sadar. Ayo bangkitlah, jadilah Camelia seperti yang dulu aku kenal. Camelia yang selalu ceria, percaya diri dan bersinar!" balas Rose tersenyum cerah. Mungkin karena sudah terbiasa mengalah, sehingga aku tidak tahu lagi tujuan hidupku ini apa. "Kalau kamu jadi aku, apa yang akan kamu lakukan? Aku bahkan hanya lulusan SMA," tanyaku dalam keputusasaan. Mengingat hal itu aku kembali sedih, padahal aku dulu murid terpintar dan berprestasi. Tapi orang tuaku malah menikahkah aku. Sehingga hidupku sekarang jadi seperti ini, tanpa rasa percaya diri. Rose langsung memegang kedua pundakmu, matanya menatapku dengan penuh kasih. "Hey, manusia dilahirkan tidak hanya dengan kekurangan, tapi juga dengan kelebihan. Dan kamu diberi anugerah suara yang indah serta wajahmu yang sangat cantik. Takdirmu bukan bekerja kantoran, tapi sebagai penyanyi terkenal!" "Apakah aku bisa? Apakah tidak terlambat bagiku untuk memulai mengejar mimpiku?" tanyaku meragukan diri sendiri. "Kamu ini masih 23 tahun, jalan kita masih panjang. Kau lupa kalau aku ini bekerja di perusahaan hiburan? Aku mengenal baik dengan bosku, karena dia adalah adik sahabatnya papa. Aku bisa meminta bantuan dia, aku yang akan jadi manager kamu. Percayalah padaku, Camelia!" bujuk Rose menatap serius. Akun sudah lelah hidup tanpa harga diri, akupun langsung menganggukkan kepala. "Oh Camelia! Aku sangat senang sekali!" pekik Rose memelukku dengan erat. Untungnya kecelakaanku kali ini tidak terlalu parah, hanya gagar otak ringan. Dua hari aku dirawat di rumah sakit, akhirnya aku diizinkan untuk pulang. "Kalau kamu sudah baikan, janganlupa hubungi aku. Akan aku perkenalkan kamu kepada bosku!" tutur Rose saat kami sampaikan di rumah suamiku. "Iya, terima kasih banyak, Rose." "Kita adalah sahabat, dulu saat aku mengalami kesusahan kamu yang selalu ada untuk membantuku. Dan ingat, jangan mau ditindas lagi. Lawan mereka!" serah Rose. Aku menganggukkan kepala sambil tersenyum penuh haru, untungnya aku masih punya sahabat sebaik Rose. Setelah mobil Rose pergi, aku segera masuk ke rumah. Keluarga suamiku sedang berkumpul ruang tamu. Termasuk Orion. "Pamit pulang ke rumah orang tua cuma sehari, Ku kira tidak akan kembali lagi ke rumah ini," sarkas Mama mertua. "Sudah jangan memarahi Camelia lagi, Ma. Sekarang hampir waktunya makan malam. Biar Camelia memasak dulu," sela Anna, istri kakaknya Orion. "Aku tidak bisa memasak, aku baru keluar dari rumah sakit," tolak ku degan tenang. "Apa? Kamu dari rumah sakit?" pekik mereka nampak kaget, kecuali suamiku yang tidak bereaksi sama sekali. "Iya, saat turun dari bus aku tertabrak mobil. Aku tidak jadi ke rumah orang tuaku," jawabku apa adanya. "Bagaimana keadaan kamu, kenapa tidak bilang pada kami?" sela papa mertua khawatir. "Gagar otak ringan, selebihnya tidak kenapa-kenapa," jawabku."Aku hanya punya nomor Orion, saat aku telpon dia tidak mengangkatnya!" timpalku berusaha menjelaskan. Semua punya terdiam. Di rumah ini, hanya papa mertua yang masih memiliki rasa kemanusiaan. Setidaknya menganggap aku sebagai bagian dari keluarga. "Kalau tidak kenapa-kenapa, masih bisa masak kan? Mama ingin makan Suo iga," sela mama mertua. Aku meringis, sungguh menyedihkan. Tapi aku ingat kata Rose, agar aku berani melas saya ditindas seperti ini. "Ma, di rumah ini menantu Mama bukan cuma aku. Selama lima tahun aku yang memasak dan melani Mama, mulai sekarang gantian Kak Anna yang melakukannya!" balas ku dengan tegas. "Apa, aku? Aku tidak bisa!" tolak Anna terkejut. "Dulu saat masuk di sini usiaku baru 18 tahun, saat itu aku juga tidak bisa apa-apa. Tapi Mama mertua yang mengajariku. Jadi besok, biar Kak Anna diajari Mama!" jawabku. "Di rumah ini ada pelayan, kenapa harus ribut-sibut sih?" Sela Dante menengahi. Aku hanya menarik napas, merasa iri dengan Kak Anna yang selalu dilindungi oleh suaminya. Kalau saja Orion seperti kakak lelakinya itu, pasti di rumah ini aku tidak akan disepelekan. "Aku mau istirahat," ucapku langsung bergegas pergi. Sesampainya di kamar aku langsung mandi, rasanya tidak nyaman dua hari tidak keramas. Setelah mandi aku mengeringkan rambutku lalu rebahan ke ranjang. Baru beberapa menit memejamkan mata, aku merasakan ada yang mengecup bibirku. Seketika mataku terbuka, Orion sudah berada di atas tubuhku. Aku reflek mendorongnya. "Orion, aku masih sakit!" Orion nampak kaget, karena baru kali ini aku berani menolak bahkan menggunakan nada tinggi padanya. "Kenapa hari ini kamu aneh banget?" protes Orion. "Aku hanya menyadari sesuatu, jika selama 5 tahun ini aku begitu bodoh." "Maksud kamu apa?" "Selama lima tahun, setiap aku butuh kamu tapi kamu tak pernah ada. Sudahlah, semua itu tidak penting lagi. Aku mau tidur," jawabku kembali rebahan dengan posisi membelakanginya. Sementara Orion diam saja, mungkin dia tidur.

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

Unscentable

read
1.7M
bc

He's an Alpha: She doesn't Care

read
617.6K
bc

Claimed by the Biker Giant

read
1.2M
bc

Holiday Hockey Tale: The Icebreaker's Impasse

read
859.6K
bc

A Warrior's Second Chance

read
297.2K
bc

Not just, the Beta

read
306.9K
bc

The Broken Wolf

read
1.0M

Scan code to download app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook