Biasanya aku bangun paling awal dari semuanya. Menyiapkan pakaian kerja suamiku setelah itu membuatkan sarapan untuk semua orang.
Tapi kali ini aku tidak mau melakukannya, enak saja mereka semua tidur nyenyak bangun-bangun tinggal makan sementara aku bersusah payah. Itupun mereka sama sekali tidak menghargai pengorbanan aku. Selalu mengkritik setiap masakan aku.
Aku juga tidak mau membangunkan Orion, aku tak peduli lagi kalau dia terlambat bekerja. Toh selama ini aku tidak pernah mendapatkan jatah bulanan. Karena yang memegang uang adalah mama mertua.
Kalau dipikir-pikir aku memang bodoh, seperti pelayan dan wanita penghibur gratisan. Aku muak sekali jika memikirkan semua ini.
Tidak lama kemudian Orion bangun, dia buru-buru mandi. Setelah itu dia menbangunkan aku dengan cukup menyebalkan.
"Camelia, dimana seragam kerjaku?"
"Tidak bisakah kamu ambil sendiri? Aku masih sakit," jawabku tetap memejamkan mata.
Orion mendengus kesal, dia pun segera menuju ke walk in closet.
Aku juga segera mandi, aku tak sabar ingin segera menemukan jati diriku.
Selama ini karena aku hanya di rumah saja makanya berpakaian biasa dan tidak pernah dandan.
Tapi kali ini aku ingin menjadi Camelia yang dulu. Aku memakai gaun pendek, aku juga memakai make up.
Makanya saat aku turun ke tangga, keluarga suamiku kaget saat melihat penampilan aku.
Termasuk Orion, dia yang biasanya tak peduli padaku juga melirikku seperkian detik.
"Bukannya masak malah dandan, memangnya mau kemana?" protes Mama mertua.
"Mencari pekerjaan, Ma," jawabku dengan santai.
"Kerja? Kerja apa memangnya? Kamu hanya lulusan SMA paling-paling jadi tukang bersih-bersih," ejek mama mertua.
Kak Anna menahan tawa.
"Maaf, Camelia. Kami tidak bermaksud untuk mengejekmu. Tapi kalau orang-orang tahu menantu keluarga Sinclair bekerja apa kata mereka?" sela Kak Dante.
"Kalian tidak perlu khawatir. Yang mereka tahu, putra pertama keluarga Sinclair punya istri bernama Anna. Dan putra kedua masih single yang sebentar lagi ditunggu kabar baiknya undangan pernikahan dengan artis papan atas, Serra!" jawabku dengan santai.
Mereka nampak terkejut, karena biasanya aku tak pernah membalas setiap ucapan mereka. Bahkan Orion yang biasanya mengabaikan aku kini mulai bereaksi.
"Jangan sembarangan, aku dan Serra hanya teman masa kecil!"
"Tak peduli apa hubungannya kalian, yang jelas semua orang tidak tahu aku adalah istrimu. Jadi apa yang aku lakukan di luar sana sama sekali tidak mempengaruhi keluarga Sinclair!" jawabku dengan tegas.
Orion nampak kesal, tapi dia hanya diam saja.
"Buat apa kamu kerja?" sela papa mertua.
"Aku ini masih muda, Pa. Usiaku baru 23 tahun. Aku ingin gaun yang indah, tas, make up. Aku juga ingin seperti teman-temanku yang lain hidup bahagia dan kecukupan!" jawabku sengaja memasang wajah memelas.
"Memangnya Orion tidak memberimu uang?" pekik Papa kaget.
"Aku sudah memberimu kartu ATM kan, setiap bulan aku transfer uang! Salahmu sendiri malah uangnya diberikan ke orang tuamu!" serah Orion tidak terima.
"Kartu ATM yang mana? Selama lima tahun aku mau beli apa-apa dari sisa belanja harian yang diberi mama mertua!" sarkas ku.
Semua orang menatap Mama mertua, " Kenapa melihatku? Kartunya memang aku yang pegang. Dari pada dibawa Camelia nanti malah diberikan ke orang tuanya."
Orion semakin terkejut. Tapi sebelum ia membuka mulut sudah keduluan papa mertua.
"Mama tidak boleh begitu, Camelia dan Anna sama-sama menantu kita jadi jangan pilih kasih!"
Aku hanya tertawa lirih. "Tidak perlu khawatir, Pa. Aku bisa cari uang sendiri. Aku tidak ingin merepotkan kekuarga sinclair lagi!"
"Bagus kalau kamu sadar diri. Dulu orang tuamu punya hutang sangat banyak terhadap kami, sudah baik kami tidak memintanya!" cibir mama mertua.
"Ma, jangan begitu," bujuk Papa mertua.
"Mahar untuk Anna, itu hanya 25 persen dari hutang papanya Camelia. Kalau sekarang aku Anna dapat yang lebih iu wajar bukan?" sergah mama mertua mulai emosi.
Aku terdiam, karena memang itu yang menjadi kelemahan aku.
"Pa, mama mertua memang benar. Dan aku tidak punya hak untuk menuntut lebih. Jadi tolong izinkan aku bekerja," pintaku.
"Camelia, kamu yakin mau bekerja?" tanya Papa mertua memastikan.
"Iya, Pa," jawabku tanpa ragu.
"Baiklah kalau itu memang keputusan kamu, jika kamu ingin bekerja tidak apa-apa. Biar Orion bantu kamu mendapat posisi yang bagus di kantornya," timpal papa mertua.
"Tidak perlu, Pa. Aku akan bekerja bersama Rose," tolakku.
Kami pun mulai sarapan bersama-sama. Di tengah makan, ponsel Orion berdering. Dia segera menjauh untuk mengangkatnya. Setelah menutup pembicaraan, Orion pamitan pergi.
"Orion, kamu bisa mengantar Camelia sekalian," tutur papa mertua.
"Aku ada urusan penting, Pa!" tolak Orion langsung pergi.
Mama mertua dan Kak Anna menahan tawa, mereka mengejekku karena tidak pernah dipedulikan oleh Orion. Tapi aku hanya diam, karena hal seperti ini sudah seperti makanan sehari-hari.
Usai makan, aku menelpon Rose. Tak lama kemudian dia menjemputku.
"Nah, ini baru Camelia sahabat aku. Kalau dandan cantik gini kan enak dilihatnya," sapa Rose.
"Mulai sekarang, aku akan menyayangi diri sendiri," jawabku.
Rose langsung menggandeng tanganku menuju ke mobilnya. Dia mengajak aku ke sebuah rumah megah di kawasan elit.
"Ini rumah siapa?" tanyaku penasaran.
"Bos Jason, atasan aku di perusahan. Jam segini dia belum berangkat ke kantor, makanya aku ajak kamu kemari. Tapi santai saja, semalam aku udah ngobrol dengannya kok. Katanya kamu cukup diaudisi pribadi olehnya, kalau dia cocok maka kamu bisa diberi latihan selama beberapa bulan lalu debut deh!" ucap Rose panjang lebar.
"Semudah itu?" tanyaku keheranan.
"Ya nggak semua orang yang pengen jadi penyanyi bisa instan begini. Itu karena kita jalur orang dalam."
Saat aku hendak turun dari mobil, aku melihat mobil suamiku yang barusan lewat di jalan.
"Kenapa?" tanya Rose.
"Itu seperti mobil Orion," jawabku." Dan aku lihat di dalam mobilnya ada perempuan, tapi aku tidak melihat dengan jelas siapa."
"Siapa lagi kalau bukan Serra, dia kan juga tinggal di kawasan ini."
Meski aku sudah berniat untuk tidak berharap pada Orion, tapi tetap saja aku masih merasa sakit. Lima tahun, aku mencintainya. Tapi yang aku dapatkan hanya rasa sakit dan kecewa.
"Cemburu?" goda Rose.
"Tidak," jawabku mengelak.
"Sudah terlihat tuh dari wajah kamu. Makanya jangan di rumah terus menjadi perawat mama mertuamu. Keluarlah dan lihat betapa dunia ini luas sekali. Di dunia ini lelaki bukan hanya Orion saja, apalagi kalau kamu sudah masuk ke dunia industri hiburan, kalau cuma cowok ganteng mah banyak," bujuk Rose.
Aku hanya terkekeh saja, aku sama sekali tidak ada niatan untuk mencari lelaki lain. Bukan karena aku terlalu mencintai Orion, tapi aku sadar jika ingin bahagia aku tak boleh menggantungkan harapan pada lelaki.
Saat Rose memencet bel, tak lama kemudian pintu terbuka. Lalu muncul seorang pemuda yang sangat tampan.
"Kamu Camelia?" sapa lelaki itu degan sopan.
"Iya," jawabku menunduk malu.
"Aku Jason, mari masuk!"