Bab 3

1054 Words
Bos Jason orang yang asyik dan menyenangkan, dia bisa mengimbangi karakterku yang pemalu jika tidak disenggol duluan. Audisi berjalan lancar, bahkan Bos Jason nampak senang karena aku juga bisa membuat lagu sendiri. "Sungguh mengesankan, Camelia. Aku yakin kamu akan menjadi penyanyi terkenal!" puji Bos Jason saat kami selesai audisi. "Terima kasih, Bos." "Mulai besok, kamu sudah bisa masuk agensi. Untuk proses pendaftaran semuanya akan diurus oleh Rose. Kamu hanya perlu fokus latihan untuk lebih percaya diri lagi, dan untuk selebihnya biar nanti Rose yang membimbingmu!" "Siap, Bos Jason." "Oke, kalau gitu kalian boleh pulang. Aku juga mau segera berangkat ke kantor," ucap Bos Jason. Sebelum kami pergi, Pak Jason berbicara dengan Rose. Samar-samar aku mendengarnya, tentang aku yang masih membutuhkan perawatan karena menjadi penyanyi juga butuh visual. Makanya setelah keluar dari rumah Bos Jason, aku tidak bertanya lagi ketika Rose mengajak aku ke pusat perawatan kecantikan. Aku menjalani perawatan dari ujung kaki sampai ujung rambut. "Rose, bukankah debutku masih lama?" tanyaki heran. "Kata Bos Jason suara kamu sudah matang, jadi kamu tak perlu menjalani proses pelatihan seperti para pemula lainnya. Cukup dipoles sedikit, Bos Jason menginginkan kamu menjadi versi dirimu sendiri. Biasanya kan image para penyanyi maupun aktor adalah buatan agensi," jawab Rose. "Percayalah padaku, Camelia. Aku akan membuat kamu jadi penyanyi terkenal, okey?" Aku langsung memeluk Rose. Aku benar-benar bersyukur memiliki sahabat sepertinya. Usai melakukan perawatan, Rose mengajak aku jalan-jalan untuk belanja. Dia membelikan aku banyak pakaian, make up dan gitar yang bagus. "Rose, dompetmu bisa jebol jika begini terus. Aku tidak punya uang untuk membayar loh," peringatku cukup panik. "Kamu tak perlu khawatir, ini semua sudah ditanggung agensi. Bisa dianggap seperti hutang dulu dibayar ketika kamu sukses. Karena kamu sudah mau menjadi penyanyi, maka setiap keluar dari rumah kamu harus mulai memperhatikan penampilan kamu," jawab Rose meyakinkan. Akupun menganggukkan kepala. Bagi seorang wanita, keliling mall yang sangat luas untuk belanja bukan sesuatu yang melelahkan. Apalagi sejak menikah aku memang tidak pernah jalan-jalan sebebas ini. Saat kami mampir makan malam di sebuah restoran, tanpa sengaja kami bertemu dengan Serra dan Orion. Dadaku lagi-lahi terasa sesak, karena sekalipun aku tidak pernah diajak makan keluar berduaan seperti itu. "Jangan pindah yuk? Aku tidak selera makan kalau di sini," sela Rose yang paham dengan pikiranku. "Iya," jawabku patuh. Untuk beberapa detik, aku dan Orion saling bertemu mata. Dia nampak kaget, tapi kali ini akulah yang memalingkan wajah terlebih dahulu seolah-olah aku tidak mengenalnya. "Camelia, bagaimana perasaan kamu hari ini?" tanya Rose usai kami selesai makan malam. "Luar biasa, aku tidak pernah merasa sebahagia dan semerdeka ini," jawabku berterus terang. "Setelah kamu debut, kita berdua bisa berpetualangan bersama melakukan konser-konser besar. Kau tahu, Camelia? Dulu saat aku melihat kamu menyanyi di sekolah aku selalu merasa kamu akan menjadi penyanyi yang terkenal. Aku selalu menantikan saat-saat seperti ini, dimana kita tetap bersama untuk mengejar mimpi kita!" tutur Rose. "Aku kira cita-cita kamu adalah Jaksa dulu," balas ku terkekeh geli. "Iya, dulu itu impian aku. Tapi otakku tidak secerdas itu untuk masuk jurusan hukum. Sekarang aku lebih tertarik menjadi manager artis, tapi sejauh ini tidak ada talenta alami sepertimu, Camelia. Saat kamu bernyanyi, itu seperti kamu sedang bercerita tentng hidupku. Contohnya lagu dadakan yang kamu buat tadi, aku bisa merasakan perjuangan seorang perempuan untuk menemukan jati dirinya yang lama hilang," ujar Rose panjang lebar. "Aku tak tahu harus bicara apa lagi, Rose. Terima kasih banyak," ucapku dengan mata berkaca-kaca. "Oh iya, gitarnya dibawa kamu saja ya? Saat ini aku masih mau merahasiakan dulu kalau aku mau menjadi penyanyi." "Beres." Pukul sembilan malam, aku baru pulang ke rumah. Aku agak was-was, karena mama mertua pasti akan ngomel-ngomel. Tapi lampu ruang tamu sudah mati, berarti mereka sudah masuk ke kamar masing-masing. Aku pun berjalan secara perlahan menuju ke kamarku sendiri, di sana sudah ada Orion yang duduk di ranjang sembari mengotak-atik laptopnya. Aku tidak menyapanya, menganggap dia tidak ada. Sama persis yang seperti ia lakukan padaku selama ini. Tapi aku tidak menyangka, justru dia yang akan mengajakku bicara duluan. "Dari mana saja jam segini baru pulang?" tegur Orion dengan nada rendah tapi dingin. "Kamu lihat sendiri kan tadi? Aku jalan bersama Rose," jawabku santai. "Aku tak suka kamu bermain bersama dia!" tegas Orion. Aku tak mau ambil pusing, ini adalah hidupku. Siapapun tak akan aku izinkan untuk mengekangku sekalipun itu suamiku sendiri. Usai meletakkan belanjaan ke lemasiku sendiri, aku masuk ke kamar mandi. Tapi siapa sangka Orion menyusulku ke dalam. "Ngapain kamu ke sini? Aku mau mandi!" pekikku kaget bukan main. "Kamu sudah sembuh, kan? Jadi laksanakan tugasmu sebagai istri!" sergah Orion dengan tatapan laparnya. "Atas dasar apa kamu menagih kewajiban aku sebagai isyri? Sementara kamu sebagai suami saja tidak pernah melakukan kewajiban kamu!" bantahku. "Kau mulai berani melawan aku, Camelia?" tanya Orion keheranan. "Aku hanya muak denganmu! Aku sudah capek. Kalau kamu hanya ingin mencari pemuas nafsu, di club malam banyak wanita penghibur!" pekikku tak mampu mengontrol emosi lagi. Lima tahun, lima tahun akun memendam beban dihatiku akhirnya bisa terlepas juga. "Jaga bicaramu, Camelia! Tidak pantas bagimu berkata seperti itu padaku!" sergah Orion mulai emosi. "Lalu bagimu aku ini apa, hah? Hanya pemuas nafsu saja kan? Selebihnya kamu tidak peduli padaku. Mau aku ditindas mama dan kakak iparmu, bahkan aku kecelakaan saja kamu juga tidak peduli. Menikah denganmu adalah hal paling terburuk dalam hidupku, Orion! jawabku menatap Orion penuh kebencian. Orion tak bisa berkata-kata, lalu aku segera mendorongnya untuk keluar. Aku mengunci pintu kamar mandi dari dalam. Setelah mandi aku keluar lagi, Orion masih belum tidur. Tiba-tiba saja ia mengeluarkan sebuah kartu. "Ini untukmu, kamu bisa membeli apapun yang kamu mau. Mulai besok kamu tak perlu bekerja!" titah Orion. "Terima kasih, tapi maaf aku tidak bisa menerima. Aku mau mencari uang sendiri," tolakku sebagai baik-baik. Mata Orion langsung melotot. "Mau kamu apa? Kamu kerja karena ingin uang kan? Yang aku berikan, itu lebih banyak dari kamu bekerja bertahun-tahun!" pekik Orion milai emosi. "Ini bukan hanya tentang uang, Orion. Tapi tentang harga diri. Aku tidak akan membiarkan diriku diinjak-injak lagi!" jawabku menahan kesabaran. "Kamu marah karena aku bersama Serra? Dia cuma teman masa kecilku!" geram Orion. "Apa menurutmu aku punya hak untuk marah? Aku saja hanya istri di atas kertas," balasku sinis. Orion sudah habis kesabaran, dia langsung menarik ku ke ranjang. "Persetan kamu mau bilang apa, yang jelas kamu tak bisa menolakku!" jawab Orion mulai melampiaskan nafsunya padaku secara brutal.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD