Esok harinya saat terbangun rasanya pinggangku mau patah. Semalam aku sampai menangis meminta berhenti, tapi Orion yang mode marah sangat mengerikan.
Aku seperti kelinci yang dimakan tanpa sisa oleh serigala kelaparan. Tapi ada satu hal yang berbeda, semalam dia menyebut namaku. Biasanya yang ia sebut adalah nama Ariel, mantan tercintanya.
Saat aku melihat ke samping, suamiku sudah tidak ada di ranjang. Tapi ada suara gemericik air dari kamar mandi.
Kartu warna hitam yang semalam aku tolak Orion letakkan di atas nakas samping bantalku.
Tiba-tiba ponselku berdering. Ada panggilan dari Rose.
"Hallo."
[Hallo, kamu kenapa dari tadi aku telpon tidak diangkat?]
"Maaf, aku baru bangun. Ponselnya mode hening."
[Tumben jam segini baru bangun?]
"Semalam aku dan Orion berdebat, lalu dia menyiksaku sepanjang malam."
[b******k, ayo kita visum lalu laporkan ke rumah sakit]
"Ehm, maksud aku bukan siksa itu. Tapi siksa hubungan suami istri."
[Sialan, kenapa nggak bilang dari tadi? Aku kira kamu dipukul. Tumben kamu punya keberanian untuk berdepat, memangnya kalian berkelahi karena apa?]
"Dia memberiku kartu warna hitam, melarang aku bekerja."
[Wah, Orion mulai perhatian padamu. Biasanya dia tak pernah peduli apapun denganmu. Yaudah, terima aja kartunya. Selama ini kamu sudah banyak menderita. Anggap saja sebagai bayaran kamu, PSK saja habis ditiduri dapat bayaran]
"Tapi dia melarang aku kerja."
[Bodo amat, kamu lawan balik lah. Kamu mulai sekarang harus jadi istri yang pembangkang!"
"Baik, kalau gitu aku mandi. Nanti kita ketemu di kantor agensi saja, aku mau naik taksi."
[Oke]
Tepat setelah sambungan telepon terputus, Orion keluar dari kamar mandi. Suamiku memang memiliki wajah yang sangat tampan dan badan yang atletis, makanya tidak heran pada pandangan pertama aku langsung jatuh cinta padanya.
Tanpa menatap ke matanya, aku berusaha ingin bangun dari ranjang dan menuju kamar mandi. Mataku langsung terbelalak saat lihat diriku sendiri di depan cermin.
Banyak bekas kissmark pada leherku, hari ini memakai banyak foundation agar tidak kelihatan. Kan nggak lucu pertama masuk kerja sudah menjadi bahan gosip.
Gaun-gaun yang Rose belikan semalam sangat sesuai dengan seleraku. Aku mengenakan gaun warna peach, lalu aku gerai rambut panjangku agar leherku tdak terlihat.
Saat aku menatap diriku sendiri ke kaca, aku merasa begitu puas. Benar kata Rose, aku punya anugerah wajah yang cantik. Tanpa operasi plastik bentuk wajahku terlihat menarik dilihat dari berbagai sisi. Apalagi segelah melakukan perawatan, wajahku nampak semakin cerah dan sehat.
Sesuai saran Rose, aku mengambil kartu hitam milik suamiku dan menyimpannya.
Saat aku kekuar dari kamar dan bergabung ke ruang makan, mereka kembali memperhatikan aku. Bahkan kali ini tatapan Orion padaku berdurasi lebih lama, tatapan yang sulit diartikan.
"Wah, Cemelia. Kamu semakin cantik saja," sapa Kak Anna nampak jelas irinya.
"Terima kasih," jawabku tetap tersenyum manis.
"Camelia, kamu kerja di mana?" tanya Papa mertua.
"Luminary Entertainment, Pa," jawabku.
"Itu agensi hiburan milik Jason kan?" sela Kak Dante.
"Iya, Kak Dante mengenal Bos Jason?" tanyaku balik.
"Tentu, kami dulu satu universitas," balas Kak Dante.
Aku hanya menganggukkan kepala saja.
"Dengan ijazah Camelia memangnya bisa kerja apa? Paling cuma tukang bersih-bersih," cibir mama mertua.
"Ma, jaman sekarang kalau punya orang dalam semua jadi muda. Kan di perusahaan itu ada Rose," timpal Kak Anna.
"Mau ada orang dalam pun juga harus dilihat kemampuannya," sela mama mertua melirik sinis ke arahku.
Aku tidak merespon, melainkan aku fokus makan dengan lahap setelah semalam kehabisan tenaga.
Usai makan, papa mertua meminta Orion untuk sekalian mengantarkan aku. Tapi sesampainya di luar rumah, aku berhenti berjalan.
"Kenapa? Ayo ini sudah mepet waktunya," sela Orion.
"Aku naik taksi saja," jawabku.
"Kamu ini kenapa ribet banget sih, tinggal naik saja!" sergah Orion tak sabar.
"Aku cuma merasa tidak nyaman, seumur hidup aku belum pernah naik mobil mewah seperti milikmu. Lagian aku hanya karyawan kecil, kalau rekan kerja melihat aku diantar mobil mewah hanya akan menimbulkan kehebohan!" tolakku dengan lembut.
Orion melirikku, dia terdiam dengan tatapan yang tak bisa aku artikan. Tapi aku merasa puas karena telah menolaknya.
"Camelia, kamu sedang menjauhiku? Dulu kamu selalu berusaha untuk mencari perhatianku," tanya Orion memicingkan sebelas matanya.
"Biasa saja, untuk apa aku berusaha menjauhimu? Karena kita juga tidak pernah dekat selama ini, kecuali di atas ranjang saja," sarkasku.
Orion nampak kesal, tapi aku buru-buru menimpalinya. " Oh iya, kamu harus segera berangkat. Bukankah biasanya kamu menjemput Serra? Kasihan dia kalau kamu telat menjemputnya," sindirku lagi.
Aku pun berjalan cepat meninggalkan Orion, apalagi taksi online yang aku pesan sudah datang.
Sementara aku lihat Orion masih bengong di tempat yang tadi. Entah apa yang sedang dia pikirkan.
Perusahaan Luminary Entertainment sangat besar, dan benar kata Rose jika yang bekerja di sini memiliki visual yang memanjakan mata.
"Busyet, yang bukan artis saja tampan dan cantik," bisikku pada Rose.
"Apa aku bilang, nanti aku kenalkan dengan teman-temanku yang para artis. Pokoknya kamu tidak rugi jika ikut denganku," jawab Rose.
"Hebat banget kamu bisa kerja di sini," pujiku.
"Orang dalam," bisik Rose.
Lalu kami berdua tertawa bersama.
Saat Rose mengajakku masuk ke lift, aku menjadi pusat perhatian.
"Kenapa mereka melihat kita? Apakah foundation di leherku luntur?" tanyaku panik.
"Enggak kok, itu karena kamu naik lewat lift ini. Jadi lift yang sedang kita naiki ini khusus untuk para petinggi, bahkan para aktor papan atas saja tidak bisa lewat sini," jawab Rose.
"Heh, terus aku kenapa kamu ajak lewat sini?" pekikku syok.
"Ya karena kamu bersamaku. Aku kasih tahu ya, papa aku punya saham besar di sini. Makanya papanya Bos Jason selalu menyuruh aku lewat sini, dan soal kamu aku sudah minta izin ke Bos Jason. Dia mengizinkan kok," bujuk Rose.
"Luar biasa, aku semakin kaget. Ternyata kamu memiliki banyak kejutan," ucapku.
Aku benar-benar terkejut, sebab dulu saat SMA Rose merupakan murid yang kekurangan dan tinggal di panti asuhan. Makanya dulu aku selalu membantu dia sebisaku.
Baru setelah lulus SMA aku mendapat kabar, jika Rose bertemu dengan orang tuanya. Yang tidak aku sangka jika orang tua Rose akan sekamembant
Sesampainya di ruangan Bos Jason, aku disambut baik olehnya. Lalu aku diperkenalkan dengan beberapa pelatih yang akan melatih vocal dan perform aku.
Pukul enam sore aku selesai latihan, saat dalam perjalanan pulang dari telepon dari papaku. Biasanya aku langsung mengangkat, tapi kali ini aku abaikan. Percuma aku jadi anak yang berbakti karena yang selalu dimanjakan adalah adikku.