Panggilan telepon dari papa terus berdering, aku yang merasa jengah memilih menonaktifkan ponselku.
Papa hanya mengingatku saat butuh saja. Fakta yang terlalu menyakitkan untukku terima.
Sesampainya di rumah, aku tersentak kaget melihat mobil papa. Begitu masuk, orang tuaku yang duduk di ruang tamu langsung menghampiriku.
"Camelia, katanya kamu kecelakaan. Bagaimana kondisi kamu?" tanya mama.
"Gagar otak ringan," jawabku datar.
"Tapi sekarang sudah baikan kan?" sela mama lagi.
"Hm, kalian kenapa ke sini?" tanyaku balik.
"Camelia, Levian sedang membangun bisnis. Tapi kami masih kekurangan modal. Bagaimana jika kamu bilang pada suamimu untuk kerja sama?" bisik papa.
Selalu seperti ini, demi Levian mereka membuat aku seolah-olah banyak hutang terhadap keluarga Sinclair.
"Maaf, Pa. Aku tidak bisa. Kita selama ini sudah menjadi parasit," tolakku.
"Parasit bagaimana, kamu ini istrinya! Sudah kewajiban suamimu untuk membantu keluarga kamu!" geram papa tersulut emosi.
"Papa tidak melihat berita yang tersebar? Orion akan menikah dengan Serra, aku ini hanya istri yang tidak dianggap. Jadi mulai sekarang papa jangan mengandalkan aku lagi untuk mencari keuntungan, karena aku dan Orion akan bercerai!" balasku dengan dingin.
"Kamu ini payah sekali, bisa-bisanya tidak bisa menjaga suami sendiri. Meski pernikahan kalian tidak diumumkan tapi kamu adalah istri sahnya! Lagi pula dibanding Serra masih cantikan kamu!" gertak Papa.
"Apa menurut papa bagi orang kaya memiliki istri cukup hanya sekedar cantik saja? Selama ini keluarga Sinclair menganggap kita sebagai benalu. Sementara Serra? Dia dari keluarga yang setara. Yang bisa memberikan keuntungan balik untuk keluarga Sinclair. Sudahlah, papa tidak akan pernah mengerti bagaimana sulitnya hidupku selama ini. Sebaiknya kalian pulang saja!" usirku dengan tegas.
Secara kebetulan, Orion muncul bersama Serra. Perempuan itu menggandeng tangan Orion dengan mesra.
"Orion, jadi benar kamu mau menikah dengan Serra dan menceraikan Camelia?" tanya mamaku.
Orion nampak terkejut, segera melepaskan tangan Serra.
"Ma, jangan dengarkan gosip di media. Aku dan Serra hanya berteman," jawab Orion yang membuat wajah Serra jadi bersedih.
"Iya, kami hanya berteman. Kami memang sejak kecil sangat akrab sudah seperti kakak beradik," timpal Serra.
Papa langsung tersenyum lebar.
"Tuh kan, mereka hanya berteman. Kamu jangan salah paham terhadap Orion," bujuk Papa.
"Papa mendengar dari siapa kalau aku mau menceraikan Camelia?" tanya Orion pada papaku.
"Camelia, tapi sekarang salah paham sudah terselesaikan," jawab papa.
Orion langsung melirik ke arahku, tatapan matanya seolah berkata jika aku membangkang maka akan mendapat hukuman seperti semalam lagi.
Aku segera memalingkan wajah, menarik tangan mama dan papa untuk keluar dari rumah ini.
"Ma, Pa, sebaiknya kalian pulang!"
"Kamu berani mengusir kami?" sergah papa.
"Iya, memangnya kenapa? Saat aku sakit kalian dimana? Kalian tetap pergi bersenang-senang dengan Levian di luar negeri. Tapi begitu kalian butuh, kalian baru mencariku. Pokoknya mulai detik ini jangan hubungi aku lagi!" tegas ku lamgsung menutup pintu.
Orion dan Serra masih berdiri di tempat yang tadi, mereka melihat kejadian barusan. Aku tak peduli jika terlihat konyol di hadapan mereka, penilaian orang lain sudah tak penting lagi bagiku.
Tanpa menyapa mereka, aku langsung lewat dan berjalan menuju ke kamar. Orion menyusulku dari belakang. Ia lalu menarik tanganku dengan kasar.
"Kenapa kamu bilang pada orang tuamu jika aku akan menceraikan kamu?" tanya Orion dengan ekspresi dingin.
"Lepaskan, sakit!" rintihku.
Orion melirik pergelangan tanganku, memerah. Ia langsung melepaskan.
Aku menghirup napas dalam, menahan rasa nyeri di hati. Memang benar aku istri Orion, memang benar Orion cintanya hanya untuk mantan kekasihnya yang telah tiada. Tapi hampir setiap hari Orion selalu bersama Serra, memberi perhatian padanya. Semakin mengingat pernikahan kami lima tahun ini, napasku semakin sesak.
"Orion, kita bercerai!" ucapku dengan tenang.
Kedua mata Orion langsung terbelalak, ia menggendongku ke kamar mandi. Memasukkan aku ke bathtub dan menyiramkan dengan air padaku.
"Orion, hentikan!" pekikku kesal bukan main.
"Berani sekali kamu bilang cerai padaku!" heran Orion mulai melepaskan pakaiannya jas dan kemejanya.
"Aku hanya memberimu jalan, agar kamu bisa menikah dengan Serra!" pekikku.
"Siapa yang mau menikah dengan Serra, kami ini hanya teman! Hanya teman!" gertak Orion semakin keras.
Aku tersentak, bentakan dari orang yang paling dicintai memang seperti pedang yang tajam.
"Terus aku ini apanya bagimu?" tanyaku dengan lirih.
Orion memegang kedua pundakku, mencengkram cukup erat. Ia menatapku dengan tajam!
"Kamu ini kenapa sih? Biasanya kamu tidak pernah bikin masalah seperti ini?" tanya Orion mulai merendahkan suaranya.
Aku membalas menatap mata Orion, kali ini tidak dengan emosi yang meledak.
"Secara hukum aku istrimu, tapi dalam kehidupan sehari-hari kamu begitu dingin padaku. Bahkan tak pernah ada saat aku butuh. Lima tahun pernikahan, perlakuanmu padaku tidak lebih baik dari perlakuanmu terhadap Serra yang katanya kamu sebut sebagai teman. Dan sadarkah kamu, saat di ranjang sekalipun yang kamu sebut adalah nama Ariel. Aku juga manusia Orion, aku punya perasaan. Aku ingin mengakhiri semua ini, mari bercerai secara baik-baik!" pintaku dengan tenang dan jelas.
Orion tercengang, ia lalu melepaskan aku.
"Oke, kamu mau cerai kan? Tapi bayar dulu semua hutang papamu. 20 Milyar!"
Air mataku langsung menetes, sudah kuduga aku ini hanya dianggap sebagai tawanan karena hutang itu.
"Lima tahun aku menjadi istrimu, aku melayanimu dengan setulus hati. Kamu tidak mungkin akan mendapat pelayanan dariku secara gratis bukan? Minimal aku juga harus mendapatkan gajiku sebagai pembantu dan pemuas nafsumu," balasku.
"Apakah menurutmu kamu semahal itu sampai seharga 20 Milyar?" sinis Orion.
"Oke, kita hitung pakai mahar dan jatah bulanan Kak Anna biar adil. Mahar Kak Anna 5 Milyar, dia perbulan diberi jatah 100 juta. Berarti selama lima tahun seharusnya aku dapat 11 Milyar. Jadi sisa hutang yang aku bayar 9 Milyar bulan?" ucapku serius.
"Kamu mau kerja berapa tahun dapat 9 Milyar hah? Sementara kamu hanya lulusan SMA?" ejek Orion.
"Aku memang tidak berpendidikan tinggi, tapi aku punya wajah cantik dan badan yang bagus. Kamu juga tahu sendiri bagaimana pelayanan aku ketika diranjang bukan? Menurutmu... Jika aku mendekati para bos-bos konglomerat apakah mereka rela membayar 9 Milyar untuk diriku?" jawabku tak mau kalah.
Orion mengepalkan tangannya hingga otot-ototnya menegang. Ia nampak marah sekali.
Tapi beberapa detik kemudian Orion tersenyum smirk. Hal itu justru membuat tubuhku gemetar karena ketakutan.
"Camelia, kamu mulai nakal ternyata. Sepertinya hukuman aku yang semalam tidak membuat kamu kapok, seharusnya aku membuat kamu tidak bisa bangun dari ranjang biar kedepannya kamu gak berani menguji kesabaranku lagi," gumam Orion sembari menarik rambutku.
"Kau mau melakukan kekerasan padaku? Kamu pikir aku akan diam saja?" tantang ku.
Orion melepaskan tangannya pada rambutku, tapi menarik leherku dan mendekatkan wajah kita.
"Ini namanya kesenangan suami istri, Camelia. Bagaimana jika aku bantu untuk merekamnya, nanti tinggal kamu berikan ke polisi sebagai bukti?" tantang Orion menyeringai.
"Kamu gila!"